Latest News

Wednesday, 17 June 2020

DRAKULA ABAD 21, SIAPA TAKUT?


DRAKULA ABAD 21, SIAPA TAKUT?
(Mengendus Pemikiran Kritis Pius Rengka)

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Saya baru selesai membaca. Menelusuri lembah ngarai pemikiran seorang Pastor Dr. Alexander Jebadu, SVD yang tertuang dalam buku terbarunya, “DRAKULA ABAD 21_Membongkar Kejahatan Ekonomi Pasar Bebas Tanpa Kendali Sebagai Kapitalisme Muthakir Berhukum Rimba dan Ancamam terhadap Sistem Ekonomi Pancasila”. Buku setebal 335 halaman ini tentunya membutuhkan waktu untuk membaca lebih teliti dan kritis. Ada sebuah sensasi tiada tara saat mengupas, mengunyah dan melahap ulasan yang renyah daLAM rangkaian fakta dan pristiwa yang nyata terjadi.

Buku ini membuat bulu kuduk merinding. Kita (pembaca) dibuat tercengang bahkan marah. Data dan fakta dipadukan secara berimbang dengan banyak pemikiran para peneliti, akedemisi, pengamat ekonomi sekaligus praktisi lingkungan hidup. Mereka bersaksi apa adanya. Singkatnya buku ini menggugat sekaligus menuduh korporasi atau perusahan transnasional sebagai drakula yang membunuh secara keji hidup dan kehidupan masyarakat kecil. Korporasi hadir dan siap menerkam sendi-sendi kehidupan masyarakat khususnya bidang ekonomi. Lantas, mampukah pemerintah Indonesia mempertahan paham ekonomi pancasila di tengah amukan drakula ciptaan manusia post modern ini. Atau justru pemerintah telah “bermain catur” dengan ikut berperan di belakang layar untuk “drakula” itu tetap hidup dan siap menghisap darah masyarakat kecil?

Jika sistem ekonomi global bisa diumpamakan dengan arena pertandingan bola kaki, maka mari kita menilai dan mengukur. Di manakah posisi kita. Apakah kita hanyalah penonton, pelatih, ofisial atau hanyalah sebagai pemain yang ikut menentukan ke mana bola harus di arahkan? Lalu? Pertanyaan tersisa, siapakah yang berperan sebagai penyelenggara permainan ini? Buku ini mengangkat berbagai peristiwa dan fakta yang menilai secara tegas bahwa rakyat (masyarakat) dibiarkan sebagai penonton yang tidak memiliki identitas dan prinsip hidup. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada pertandingan atau kompetisi. Justru yang terjadi adalah serangkaian sandiwara korporasi dengan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Korporasi itu adalah manusia artifisial. Sebagai seorang pribadi ciptaan hukum (a legal person). Ia (korporasi) bermain sendiri. Ia men-golkan seluruh ambisi dan kepentingan segelintir orang dengan merampas seluruh kekayaan yang merupakan hak masyarakat. Ia telah berubah menjadi manusia berwajah drakula.

Pertanyaan tersisa, siapakah yang menciptakan sekaligus mengendalikan drakula bernama korporasi itu. Hmmm … itu kan? Bulu kudukmu merinding. Membayangkan sebuah permainan yang diatur dan disandiwarakan. Miliaran jumlah masyarakat dunia dikendalikan oleh segelintir orang yang menjadi pemilik dan pengendali “drakula abad 21” itu. Masyarakat tetaplah menjadi penonton yang tanpa nama, wajah dan identitas. Ideologi bangsa bakal digadai dan pemerintah tampak tidak berwibawa serta kehilangan roh untuk membawa masyarakatnya menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Pada titik ini kita lantas bertanya? Apakah kita masih menganut (mengakui) sIstem ekonomi pancasila atau justru sudah diambil alih dalam nama neoliberalisme?
……………………………………………
Di teras pondokku, kami berdiskusi. Tema dan suasana boleh berbeda tetapi orangnya tetap sama. Adalah seorang Pius Rengka namanya. Untuk saya, dia adalah seorang filsuf yang mengembara sesukanya. Ia menjual ide dalam banyak cara diantaranya menulis dan berdiskusi. Seperti Sokrates di zaman Yunani kuno, ia membiarkan fenomena sosial dikupas dan dikunyah. Ia tidak menawarkan solusi tetapi seakan memberi jalan kepada pembaca atau pendengarnya untuk memberi kesimpulan sendiri atas situasi atau fakta sosial yang terjadi. Terkadang ia merana sendiri saat menemukan partner diskusi yang terlampau pragmatis. Jika kemudian tidak semua orang diajaknya berdiskusi, mungkin inilah alasannya. Bagi Pius, mutiara itu harus tiba pada mulut dan yang empunya pikiran yang sepadan. Walau demikian tidak berarti, Pius suka memilih atau memilah kawan berdiskusi. Ia tetap hadir dengan siapa saja termasuk orang yang tidak berpikir.

Sudah sering kami berdiskusi. Pius Rengka tidak gemar mengangkat tema diskusi yang “habis pakai” atau murahan seperti membicarakan persoalan pribadi seorang pemimpin atau calon pemimpin. Ia justru ingin membongkar isi pikiran dari seseorang dari cara ia berbicara atau mengambil keputusan yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan banyak orang. Untuk saya, Pius adalah “nabi” yang tidak pernah mau ikut arus. Ia memiliki telaga pikiran sendiri dan selalu penuh. Orang-orang di sekitarnya mungkin saja menertawakannya saat ia berbicara sesukanya saja tanpa memikirkan kalkulasi untung rugi. Begitulah Pius. Di sore ini kami duduk bersama lagi di pondok kecil, yang berada di sisi barat pemancar-cabang Tilong-Kabupaten Kupang.

Beginilah kami bercerita sambil tertawa dan sesekali mengerutkan dahi. Dua ekor ayam dibakar hingga matang dan renyah. Aromanya menyusup masuk dan berpadu mesra dengan aroma sopi Aimere beralkohor 40%. Malam yang sunyi ini terasa sangat sempurna. Kami berbicara sesukanya saja. Mulanya tentang sepak terjang seorang Viktor Laiskodat, seorang gubernur punyanya NTT. Ada polemik pembangunan pabrik semen di wilayah utara Kabupaten Manggarai Timur. Selain itu ada secuil kisah dramatis para ibu Besipae-TTS yang bertelanjang dada. Malam kian larut. Masyarakat yang mendiami wilayah seputaran pemacang cabang Tilong terlelap. Kami kembali ngakak saat Pius Rengka mengulang kembali komentar khasnya. “Kamu tahu? Apa yang saya sesali dalam hidup? Itu adalah peristiwa menutup mata dan tidur. Hampir sebagian besar waktu saya dihabiskan hanya untuk tidur. Padahal tanpa kita sadari, tidur adalah cara kita belajar untuk mati. Tidak ada yang bisa dibuat saat tidur selain mengorok dan menari-nari dalam mimpi yang juga tidak berguna”.

Malam kian larut. Sebagian besar ayam bakar dan sopi aimere itu, habis dinikmati. Nikmat benar. Apakah kami justru tertidur? Tidak. Diskusi kami akhirnya mengerucut pada satu tema. Berdiskusi tentang isi buku Pastor Dr. Aleks Jebadu, SVD. Saverinus Suhardin, dosen Stikes Maranatha yang kini sedang mengambil program magisternya di bidang kesehatan bertanya sesukanya. Benarkah drakula abad 21 itu nyata? Apa relevansi dengan polemik pembangunan pabrik semen dan tentang para ibu Besipae yang bertelanjang dada? Pertanyaan ini mungkin tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah apa jawaban kita atau pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan. Di manakan posisi gereja yang hadir sebagai nabi yang menyalakan lentera di siang bolong itu. Benarkah gereja peduli atau hanya ingin bernarasi untuk menegaskan bahwa isntitusi gereja masih bisa didengar? Sejauhmana gereja bersungguh-sungguh meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat atau justru umat hanya dijadikan ATM berjalan yang bisa dikeruk atas nama Tuhan dan surga?

Kami ngakak bersama. Pius Rengka ternyata adalah saksi hidup cerita Besipae. Ia (Pius) bercerita kalau Viktor Laiskodat sempat bertanya, apa komentarnya tentang peristiwa itu saat dalam perjalanan pulang dari Besipae ke Kupang. Dengan spontan Pius berkomentar kalau ada beberapa jenis susu yang masih indah dan layak dinikmati. Tentunya, cerita ini hanyalah lelucon dan tidak bermaksud merendahkan martabat perempuan atau meremeskan nilai perjuangan masyarakat Besipae. Ada poin penting sebenarnya yang mau diutarakan seorang alumni Universitas Gajah Mada ini. Menurut Pius, polemik pembangunan pabrik semen di Manggarai Timur dan soal kepemilikan lahan di Besipae-Kabupaten TTS adalah bagian dari demokrasi yang harus diakui, diterima dan dipertimbangkan. Dengan demikian, dinamika pembangunan memang demikian adanya. Satu hal yang penting adalah menempatkan persoalan itu secara rasional dan proposional dengan tidak merugikan menguntungkan segelitir orang tetapi merugikan sebagian besar masyarakat.

“Jujur di saat konstelasi politik pemilihan gubernur kemarin, saya tidak berpihak pada Viktor Laiskodat. Ia tahu itu. Jika saat ini saya selalu bersama beliau (Viktor) itu hanya karena saya menilai ada yang rasional dari cara ia memimpin. Saya sudah baca bukunya Pastor Aleks tentang drakula abad 21 itu. Kebetulan saja saya mempunyai pengalaman bekerja sebagai public relation di beberapa perusahan tambang. Mungkin saja isi buku ini memiliki benang merah tentang polemik pembangunan pabrik semen dan persoalan di Besipae. Tetapi beberapa point kita bisa petik. Semisal, waktu atau ruang diskusi yang diberikan pemerintah. Viktor Laiskodat hadir dan menemui masyarakat secara langsung. Ia menyapa masyarakatnya dan tidak mengambil jarak apalagi menghindar. Selain itu, ada sebuah tawaran yang sangat demokratis. Semisal memberi ruang kepada masyarakat untuk menimbang, apakah dengan membuka lahan pertanian jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan mendirikan pabrik semen di tempat yang sama. Jika kemudian pabrik semen berhasil dibangun, kira-kira apa kompensasi bagi masyarakat yang ada di sekitar wilayah tersebut? Sejauh ini, saya belum melihat ada wajah drakula dalam kebijakan pembangunan Viktor Laiskodat”.

Kami tertawa lagi. Bukan tentang diskusi seputar buku drakula abad 21 atau tentang cerita Besipae. Saya bercerita tentang cara orang menikmati sebotol sopi. Seseorang dimandatkan untuk menuangkan sopi ke gelas. Ia disebut Bandar. Atas nama persaudara, semua yang hadir wajib menghabiskan sopi itu. Pukul dua dini hari. Botol sopi aimere itu kosong. Rian Seong, seniman sekaligus guru di SMAN 4 Kupang membuka diskusi tentang pabrik sopi punyanya NTT bernama sophia. Namun sayang, hingga saat ini tidak seorangpun di atara kami yang pernah menikmati Sophia kebanggan NTT itu. Apakah nikmatnya sama atau berbeda dengan sopi aimere? Di manakah Sophia itu diproduksi dan kemanakah tempat pemasarannya. Dalam negeri atau luar negeri? Berapakah jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi NTT dari Sophia ini? Ada harapan sekaligus keluhaan para pengarajin moke. Kiranya hasil keringat mereka dibeli dan dilegalkan sehingga tidak “kucing-kucingan” dengan pihak kepolisian.
……………………………………………………………………
Drakula Abad 21 adalah cerita kehidupan. Sebuah ancaman serius yang dianggap biasa. Belum lagi, masyarakat dihantui rasa bersalah dan psimis pada situasi hidup. NTT miskin dan bodoh. Apakah oleh kebijakan pemerintahnya atau justru pada mental masyarakatnya. Pius Rengka berbicara di menit-menit terakhir. Menurutnya, jalan pulang menuju NTT bangkit dan sejahtera adalah dengan menata alur pikir masyarakatnya. Pemerintah dan gereja seharusnya berada pada satu arah yang sama. Kebaikan banyak orang adalah dasar pijaknya. Jangan sampai ada sikap mendua yang membingungkan masyarakat sebagai rakyat dan umat. Institusi pemerintah dan gereja seharusnya membangun sebuah habitus dialog yang saling melengkapi dan memberdayakan.

Buku Drakula Abad 21 adalah fakta yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Membelenggu dan menghancurkan drakula ini butuh sebuah sinergisitas dan kolaborasi dalam konsep dan aksi pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat umum. Sumber Daya Alam (SDA) seharusnya dikelola dengan tetap memperhatikan asas manfaat dan mempertimbangkan efek jangka panjangnya. Indonesia apalagi NTT terlalu kecil untuk dicabik-cabik. Pius Rengka sebagai ketua komisi informasi publik tentunya memiliki posisi sentral. Tugas komisioner komisi informasi sudah tertuang jelas sesuai UU No. 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

Pondok kecilku yang berada di sisi barat pemancar, cabang Tilong-Kabupaten Kupang ikut bersaksi. Tentang pentingnya intisari dari seluruh cerita kehidupan yang dibicarakan apa adanya. Biarkan suara “kenabian” Pastor Dr. Aleks Jebadu berpadu dalam satu bentuk yang lebih konkrit dari hadirnya Pius Rengka. Seorang yang selalu resah ingin berbicara apa adanya. Semuanya untuk satu arah. Kebaikan bersama. Kita sepakat. Drakula itu segera pergi dan atau lenyap di ini NTT.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …


comments

No comments:

Post a comment