Latest News

E-MAGAZINE
HERE WE ARE

NEWS

HERE WE ARE

ARTICLE

E-MAGAZINE

Recent Posts

Monday, 24 February 2020

PENTAS SENI UNTUK PENUMBUHAN PENDIDIKAN KARAKTER


Kota Kupang, CAKRAWALANTT.COM – Pentas Seni yang digelar di tingkat sekolah merupakan kegiatan positif untuk penumbuhan pendidikan karakter di sekolah. Pentas Seni merupakan wadah untuk menggali, mengembangkan dan menampilkan bakat serta potensi yang dimiliki peserta didik. Hal ini di sampaikan Kepala SMAN 4 Kota Kupang, Agustinus Bire Logo, M.Si., dalam sambutannya ketika membuka Pentas Seni SMAN 4 Kota Kupang, Jumat (22/2/2020) di aula sekolah tersebut.

“Pentas Seni adalah wadah untuk menggali, mengembangkan dan menampilkan semua kebolehan dan kreatifitas siswa di sekolah. Saya mengapresiasi inisiatif guru dan siswa yang menggelar kegiatan pentas seni ini,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu koordinator kegiatan, Marianus Seong Ndewi, S.Pd. M..M., mengungkapkan, apreasiasi patut diberikan kepada peserta didik yang menampilkan budaya NTT dalam kegiatan tersebut. Namun, bukan hanya soal mengenakan busana daerah, lebih dari itu perlu ada nilai yang dipetik darinya.

“Kita harus apresiasi setiap teman kita yang tampil mementaskan budaya NTT. Ini sebagai cara untuk mengekspresikan cinta terhadap budaya NTT, dan sebagai sumber kekuatan karakter bangsa Indonesia. Namun cinta NTT bukan hanya sekadar gunakan busananya, tetapi bagaimana kita ikut tenggelam di dalamnya, tenggelam dalam setiap motif, lagu, tarian, dan lainnya,” ungkap guru Seni Budaya ini.

Pentas Seni SMAN 4 Kota Kupang dibuka dengan menampilkan ‘Natoni’ (sapaan adat masyarakat Timor Dawan) yang diperankan oleh peserta didik perwakilan kelas XII Bahasa. Dalam Pentas Seni tersebut tampil 14 kelompok siswa perwakilan kelas XII. Mereka menampilkan berbagai kretifitas dalam nuansa NTT. (Alex Natara/red)

PEMBELAJARAN PILAR KEBANGSAAN HARUS DITANAMKAN SEJAK DINI


TTU, CAKRAWALANTT.COM – Pembelajaran tentang pilar kebangsaan harus ditanamkan kepada generasi muda sejak dini. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dan negara terutama di tingkat daerah suatu ketika berperan memajukan bangsa. Wajib hukumnya pembelajaran tentang pilar-pilar kebangsaan terus diajarkan semua pihak terutama para pelaku pendidikan. Empat pilar bangsa tersebut yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal ini disampaikan Anggota DPR RI asal NTT, Kristiana Muki, S.Pd., M.Si., pekan lalu dalam Sosialisasi 4 Konsensus Dasar Pilar Kebangsaan di Desa Fafinesu B, Kecamatan Insana, Kabupaten TTU. Dijelaskannya, mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn), memiliki misi sebagai pendidikan nilai dan moral, penyadaran akan norma dan konstitusi UUD 1945, pengembangan komitmen terhadap NKRI dan penghayatan terhadap filosofi Bhineka Tunggal Ika.

Karena itu, ungkapnya, generasi muda TTU sebagai penggerak pembangunan harus menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, semangat Bhineka Tunggal Ika dan komitmen terhadap NKRI. Perubahan besar di era digital sekarang tidak berarti berdampak pada generasi bangsa, dasar dan falsafah negara yang diyakini kebenarnya harus terus terpatri dalam setiap insan masyarakat NKRI.  

“Berakhlak dan berbudi pekerti luhur sesuai doktrin empat pilar kebangsaan sudah tertanam dalam setiap kita. Orang tua dan para insan pendidik di tingkat dasar dan menengah harus mengimplementasikan nilai-nilai yang tertuang dalam empat pilar kabangsaan tadi kepada generasi muda. Itu artinya kita turut serta menjaga, memahami dan mengimplementasikan hal-hal positif pada anak-anak. Teknologi boleh berkembang akan tetapi nilai-nilai dasar dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar  harus kita junjung tinggi sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika menuju NKRI yang maju, bermartabat dan berdaya saing secara sehat,” tegasnya.

Dirinya menambahkan, kemajuan jaman dewasa ini membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak sudah dimanja dengan hand phone. Jika tidak diawasi secara baik, masa depan meraka akan hancur. Diharapkan adanya penguatan kapasitas kepada seluruh elemen bangsa serta kerja sama yang baik untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak.

Pantauan media, kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri ratusan anggota masyarakat dan sejumlah anggota DPRD antara lain Oktofianus Sasi, Paulus Naibesi, Arnoldus Rusae, dan camat Fafinesu Melkhianus Gawu. Kristiana Muki sendiri didampingi Ketua DPD Partai Nasdem TTU, Tasi Yosef, S.Sos., dan Anggota Komisi V DPRD NTT, Dolvianus Kolo. (Gervas Salu/red)


Friday, 21 February 2020

CERPEN THE ELLEN KRISTIN HARTMAN – TIGA TAHUN LALU

Ilustrasi (Gambar: mirifika.net)


Lagi-lagi aku menangis di kamarku. Aku mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Saat dimana kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang selalu kuingat. Kecelakaan yang telah merenggut nyawa keluargaku. Hanya aku yang selamat. Kini aku sebatang kara. Kejadian itu selalu melekat di benakku, tersimpan dalam memori dukaku. Selalu hadir ketika aku sendirian sambil menepi jagad tak menentu.

“Kenapa ini terjadi padaku Tuhan?” kataku sambil menangis. “Kenapa Engkau tidak mengambil nyawaku juga? Kenapa Engkau masih membiarkan aku hidup, Tuhan?” air mataku berderai membasahi bantal yang kupeluk.

Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Entah itu siapa, aku tetap tidak peduli. Aku hanya terus menangis,mengingat kejadian waktu itu. Tak kusadari, aku terlelap dalam tidurku. Aku bermimpi bertemu dengan keluargaku. Mereka sedang bahagia dan tertawa di sana. Sungguh aku merasa terpuruk.

“Nak, bangunlah.

Aku mendengar suara seorang wanita, tetapi aku yakin jika aku membuka mataku, aku akan pergi dari alam mimpi. Kupastiakan ku akan sangat merindukan mereka. Tapi, apa boleh buat? Wanita itu terus membangunkanku. Sungguh, aku merasa enggan untuk bangun. Hanya saja aku sudah terbangun dari tidurku. Dan akhirnya aku membuka mataku.

“Iya tanta, aku bangun,” kataku sambil mengucak mataku.
“Cepatlah mandi dan segera turun ke bawah untuk makan malam,” kata tantaku dari balik pintu kamarku.
“Iya tanta, aku akan segera mandi.

Selesai mandi aku segera ke bawah untuk makan malam bersama keluarga tantaku. Kadang aku merasa asing bersama keluarga mereka. Tetapi tantaku selalu membuatku agar tidak merasa terasingkan. Tantaku memiliki dua anak, yang pertama sudah duduk di bangku SMA, sedangkan anak keduanya duduk di bangku SMP, sama sepertiku. Keluarga tantaku yang menyekolahkanku. Memberikanku tumpangan tempat tinggal, memberiku makan, dan keperluan lainnya. Aku senang bisa tinggal bersama keluarga tantaku. Tetapi, tentunya seorang akan akan lebih bahagia apabila bisa tinggal bersama orang tua kandungnya.

Setelah makan, aku pamit kepada tantaku dan juga keluarganya. Aku segera ke kamar, dan mendengarkan lagu favoritku, Best Friend, yang dibuat oleh Ikon. Kim Hanbin adalah vokalis kebanggaanku. Selang beberapa menit, aku memutuskan untuk belajar materi besok. Materi pelajaran yang menurutku paling membosankan. Tetapi aku belajar, dan belajar. Hingga pada pukul 20.32 aku diperbolehkan bermain handphone. Saat yang tepat untuk melepas kepenatan tetapi juga terkadang membangunkan kenangan yang telah tertidur.

Aku melihat kenangan-kenangan manis itu. Saat dimana sebelum kecelakaan itu terjadi. Foto dimana saat aku masih berusia 9 tahun.Waktu aku yang masih sangat kecil. Tak kusadari, air mataku jatuh dan membasahi pipiku. Aku pun berkata dalam hatiku, “Ya Tuhan, aku sangat merindukan keluarga kandungku. Kapan aku bisa bertemu dengan mereka? Kapan aku bisa memeluk ayah, ibu, dan kakakku lagi? Kapan aku bisa bersama sama lagi dengan mereka, ya Tuhan?”. Setelah aku merasa puas dengan tangis dalam diamku, aku memutuskan untuk tidur. Tetap saja, aku masih teringat tentang kejadian itu. Setelah beberapa lama, aku pun tertidur lelap.

“Nak, bangun. Cepat mandi dan sarapan.

Kata-kata itu yang selalu membangunkanku. Aku pun segera menjawabnya dan sgera pergi untuk mandi.

“Baik tanta.

Keluar dari kamar mandi, aku segera memakai seragam sekolahku. Aku segera keluar dari kamarku dan pergi menuju meja makan. Aku menyapa tantaku dan keluarganya. Aku segera menghabiskan sarapanku. Aku berangkat ke sekolah bersama kakak sepupuku, salah seorang anak tantaku.

Aku segera ke sekolah dengan anak tantaku, dia bernama Vino. Vino selalu baik padaku. Orangnya sangat ramah, sopan ,dan peduli. Di kelasku hanya dia yang baik padaku. “Apa karena aku ini hanya numpang di rumah Vino sehingga mereka menjauhiku? Apa karena aku tidak memiliki keluarga kandungku lagi?”. Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu muncul di benakku ketika aku berada di sekolah. Tetapi Vino selalu menenangkanku dan memberikanku kekuatan. Ketika teman temanku menjauhiku, aku selalu berpikir, “Kenapa aku tidak ikut meninggal pada saat itu? Kenapa Tuhan? Kenapa?” Aku memberotak dalam hati.

Saat pulang sekolah, kakak sepupuku mengajakku ke sebuah toko yang juga menjual boneka. Katanya ia mau membelikanku boneka. Ia menyuruhku memilih sendiri boneka kesukaanku. Sifat perhatiannya membuatku rindu pada kakak kandungku. Setelah membeli boneka, dia mengajakku dan Vino ke taman. Di sana aku melihat banyak anak yang tampak sedang bahagia.

“Kak, ada apa kakak mengajakku ke sini?”
“Kata tanta, kamu dari semalam hanya menangis. Jadi kakak sama Vino mengajak kamu jalan jalan,” kata kak Marko.
“O ya, memangnya kakak sama Vino tidak keberatan?”
“Keberatan? Sungguh tidak. Kakak malah senang mengajak kamu dan Vino jalan-jalan. Kita bisa bersama-sama bertiga.

Aku hanya membalas perkataan kak Marko dengan senyuman yang menjadi salah satu warisan ibuku dan menjadi kekuatanku. Tetapi kejadian itu selalu saja ada di benakku sampai kapan pun. Aku pun pulang bersama Vino dan kak Marko. Di dalam mobil, kami hanya bercanda. Candaan mereka, lelucon mereka, cerita mereka membuatku tertawa. Tiba di rumah tantanku, suasana terasa sangat sepi, tidak seperti di taman tadi. Hanya sesekali terdengar deru kendaraan yang lewat.

“Kak, tanta sama om ke mana? Bukannya ini sudah sore?”

Aku kaget, kak Marko dan Vino tiba-tiba menghilang. Aku takut. Aku segera memberanikan diri untuk masuk. Aku segera menyalakan lampu. Sungguh terkejut, aku sangat terharu atas apa yang terjadi. Aku menangis.

“Happy Birthday,gemuruh suara orang-orang di dalam rumah itu segera terdengar.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, makin sopan, ramah, peduli dan bahagia terus ya,” kata tantaku.
“Selamat ulang tahun,” kak Marko dan Vino pun turut mengucapkannya.

Aku tersenyum bercampur rasa haru di hari ulang tahunku ini. Hari dimana kecelakaan itu juga terjadi, waktu itu. Aku menangis sesaat. Mengenang waktu itu. Ketika ajal hendak menjemputku namun Tuhan masih menggendongku lalu membiarkan keluargaku pergi tanpa kembali. Air mataku berderai membasahi pipiku. Tantaku segera mendekapku, menenangkanku.

“Sudahlah, bahagia saja. Pasti mereka di sana juga bahagia,” kata tantaku.



The Ellen Kristin Hartman_ Siswa Kelas VII K SMP Frater Maumere, Kabupaten Sikka





Videos