Latest News

Tuesday, 23 June 2020

BAYANG-BAYANG PROSTITUSI ONLINE DI TENGAH PANDEMI



Gusty Rikarno
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT
Saya melajukan kendaraan (Motor Verza) lebih cepat dari sebelumnya. Kali ini saya terlambat lagi menuju kantor. Bukan karena tidak punya kebiasaan bangun pagi. Saya selalu bermasalah dengan waktu mandi. Entah mengapa, menikmati kesendirian di kamar mandi menjadi hal menyenangkan. Aneh. Yah, begitulah. Berada di kamar seakan membawa seluruh imajinasiku pada masa lalu. Masa kecil, tepatnya. Di saat itu, semunaya terasa nikmat. Air itu mengalir dan tidak terbayang rasa kwatir jika di akhir bulan nanti tagihan biaya air membengkak.

Istriku kadang mengerutu dan beberapa kali memanggilku dengan suara tinggi. Air kamar mandi itu mengalir hingga ke halaman depan dan saya begitu menikmati. Terkadang dalam canda, ia (istriku) meminta untuk membangun rumah di pegunungan, tepatnya dekat mata air. Di sana, tidak ada yang menganggu, kecuali (mungkin) beberapa makhluk halus yang terkaget-kaget melirikku dari jauh. Begitulah yang terjadi. Terkadang, saya menerimanya sebagai kekurangan. Harus mau bagaimana lagi. Kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak kecil. Bermain air hingga selesai. Saya pernah menulis ini dalam konteks Kota Kupang menuju Smart City, (Bdk. Jangan menghina guruku lagi, hal 128-134).

Lalu itu disebut tidak normal atau semacam kenormalan baru? Entahlah. Satu hal yang pasti, seperti air saya ingin mengalir apa adanya. Seperti pagi ini. Melaju Lebih cepat, lebih baik. Walau demikian, sesekali saya harus meramas kopling. Bukan karena ada hewan yang melintasi jalan atau ada pengendara nakal. Tapi nada pesan dari handphon(HP)-ku. Awalnya saya abaikan. Tapi rasa penasaran memburuku dan akhirnya saya menyerah. Menyalakan reting motor lajur kiri dan berhenti. Mematikan mesin motor dan membaca pesan yang dating dari layar HP itu. Dugaanku benar. Pesan itu seperti sebelumnya. Singkat. “aq disini km disana, kmu ga ada, aq merana. Tlp Rika dong ke no yg ini ya, 080912234100 aq tunggu (no sex, no sara) 18 +”. Sementara itu, bunyi pesan sebelumnya hampir sama. “knp sh janda itu paling sebel di rumah sendirian, kmu tau ga. Klo tau tlp Nana ya bang disni 080912234100 (no sex n sara) 18 +”. Di hari kemarin dan hari-hari sebelumnya, juga pesan yang sama. “spanjang waktu, Cuma nunggu abang, plis tlp kesni bang, 08091234100 mau kan ngobrol sm aq yg janda ini (no sex n s4r4) khusus 18 +”.

Jika ada yang belum pernah menerima pesan Short Message Service (SMS) seperti ini, mungkin bisa membayangkan rasa jengkel, marah dan menyesal yang kualami. Berhenti dan hanya mendapat pesan yang sama. Namun, coba perhatikan gaya SMS dan nomor HP yang diberi. Nomor HP itu sama. 080912234100. Saya tidak cukup mengerti, nomor itu dari wilayah mana. Selain itu, ia sering menyatakan diri sebagai seorang janda. Seorang yang kini sendiri karena ditinggal pergi suami. Secara psikologis, saya ikut sedih. Tetapi mengajakkku untuk menelphon dan menemaninya, membuatku bingung dalam marah. Dalam rumpun keluargaku, ada beberapa orang berstatus janda. Tetapi tidak bertingkah aneh seperti ini. Mereka menerima kenyataan dan menjalani hidup seperti biasa. Tidak “aneh-aneh”.

Saya menyalakan mesin motor lagi dan melanjutkan perjalanan. Di punggung motor ini, aneka fakta sosial di lingkaran pesan aneh itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Ada cerita tentang penutupan tempat “esek-esek” Karang Dempel yang berlokasi di wilayah Tenau-Kota Kupang dua tahun lalu. Ada kisah tentang “ayam kampus” dan beberapa hari lalu tentang oknum dosen di salah satu kampus di kota kupang yang menawarkan mahasiswi untuk “bermesum” di kosnya. Juga berbagai peristiwa seputar dunia “bisnis lendir” dan tempat pijat yang berfungsi ganda. Saya bersyukur, selalmat hingga tujuan walau pikiranku “liar” tentang dunia “gelap” itu.

Lalu, apa korelasi tentang pengalaman anehku di masa kecil yang terbawa hingga kini dengan SMS yang selalu muncul di layar HP dan dengan segala gejala sosial “bayang-bayang” dunia prostitusi? Di sebuah media group whatsapp “Floresta Forum For FGD” sedang hangat membicarakan hal ini. Group yang didominasi para politisi, akademisi dan para praktisi di bidangnya masing-masing. Temanya menohok. “NTT darurat prostitusi”. Saya pernah menulis gelaja sosial ini dibawah tema “ Ayam Kampus di Kota Kasih”. (Bdk. Buku, Jangan Mengina Guruku Lagi, hal 8-14). Saya menulis apa adanya. Juga tentang bagaimana tepat pijat berfungsi ganda.

Akhir-akhir ini, di tengah masa pandemi, bayang-bayang prostitusi didesain lebih canggih, praktis dan vulgar. Prostitusi online. Beberapa orang artis dikabarkan juga “terjerat” di dalamnya. Tetapi cerita itu beberapa tahun lalu untuk konteks Jakarta, kota mega metropolitan. Lalu akankan itu terjadi juga di NTT, provinsi yang “tertatih-tatih” karena PAD-nya sangat rendah? Ini pertanyaan penting. Yah, namanya juga online. Selagi ada prangkat dan akses seperti HP android dan data internet, sudah pasti bisa dijangkau. Hemat saya ini persoalan serius. Bukan hanya tentang selalu meningkatnya kasus HIV/AIDS dan menjamurnya tempat pijat berfungsi ganda yang hampir ada di seluruh ibukota Kabupaten di NTT tetapi tentang tergerusnya nilai religious dan moral masyarakt khusnya generasi penerus muda NTT. Apa yang terjadi jika gejala sosial yang memprihatinkan ini tidak diredam dalam satu bentuk aksi tertentu? Sebuah tamparan besar di dunia pendidikan, berita (fakta) oknum dosen itu. Peristiwa ini yang sempat terangkat di media, lalu mungkinkan ada peristiwa lain yang hanya menjadi konsumsi (rahasia) yang hanya diketahui mahasiswi itu sendiri atau sahabatnya atau neneknya saja?

Jujur, saya belum pernah menghubungi nomor 080912234100. Ada siapa di balik nomor akhir ber-angka genap 100 itu. Hemat saya, walau di setiap pesan ada  awasan “no sex, no sara” tetapi pesan lain seakan menegaskan prostisusi terselubung yang dilakukan secara online itu. Minimal “18 tahun dan aku ini janda. Tolong temani aku”. What? Maksudmu apa? Imajinasi saya sederhana saja. Semisal, Labuan Bajo sudah ditentukan sebagai salah satu fokus pariwisata nasional yang disebut pariwisata premium. Fakta selalu berbicara. Pariwisata mengandaikan adanya bisnis prostitusi (walau tidak legal). Dengan adanya prostitusi online, maka kapal-kapal pesiar dan atau kapal pribadi yang bersadar di sekitar dermaga Labua Bajo itu bisa digunakan untuk aksi a-moral ini. Bukan tidak mungkin, korbannya adalah gadis-gadis belia punyanya NTT khusunya di Kota Labuan Bajo. Demikian halnya di kota lain di NTT seperti Kota Kupang, Ende, Maumere, Sumba Barat Daya, Alor, Flores Timur dan beberapa kota lainnya.

Begitulah saya kalau menulis. Apa adanya. Hemat saya, ini bagian dari tugas dan tanggungjawab saya sebagai anak NTT. Membaca ini tentunya kita binggung bercampur marah. Benarkah oknum dosen kerap menjadikan mahasiswinya sebagai pemuas nafsu? Atau benarkan tempat pijat berfungsi ganda untuk memijat dan melakukan hubungan intim? Lalu, benarkan bisnis pariwista selalu mengandaikan adanya bisnis prostitusi? Juga aneka pertanyaan lainnya. Saya selalu ingin konsisten dan disiplin dalam menulis. Bersabar. Bakal saya kupas tuntas di lain kesempatan. Seperti halnya menikmati mangga (masak), yang harus dilakukan pada awal cerita adalah mengupas. Meletakkan secara utuh dan mengupasnya secara perlahan.

Saya tidak tahu, apakah tulisan ini berguna atau bagian dari sampah yang tidak perlu dibaca apalagi dipraktekkan. Terserahlah. Sekali lagi, hidup ini adalah pilihan. Jika kemudian tulisan ini sebagai awalasan, itu adalah hal yang pasti. Itulah yang saya maksudkan sebagai yang menulis. NTT didorong agar “kencang” di bidang ini. Pariwisata. Tetapi semua kemajuan selalu saja ada ikutannya baik positif maupun negatifnya. Semisal, meningkatnya Pendapatan Asli Darearah (PAD) itu pasti. Tetapi yakinlah, ada hal yang harus dikorbankan jika tidak diwaspadai dari sekarang.

………………………….

Air dari kamar itu terus mengalir, seperti perubahan dunia yang tidak bisa dibendung. Membendung kemajuan zaman adalah upaya menyimpang garam di laut. Tetapi upaya untuk air itu mengalir pada tempat yang tepat, adalah sebuah kepastian. Dengan demikian, perubahan (kemajuan zaman) itu tidak pernah terjadi secara kebetulan. Selalu didesain. Siapakah yang merancang atau mendesain? Kita (manusia) adalah kuncinya. Kita yang mengatur, apakah keran perubahan itu dibuka atau ditutup. Bukan seseorang atau sesuatu di luar diri kita.

Motor Verza yang saya bawa, memang didesain itu laju dan bergerak secepat mungkin. Walau demikian, saya yang menentukan untuk mengurangi kecepatan, reting kiri, berhenti dan berefleksi. Tujuan kita memang satu. Kebaikan bersama (bonum comune). Apa nilai sebuah kemajuan dengan PAD yang besar dan serba cangggir kalau yang digadai adalah sesuatu yang snagat berharga semisal nilai religius dan moral anak bangsa. Seperi saya, sejak kecil kita merindukan sebuah perubahan dalam hidup. Ada garis nasib keluarga yang perlu dirubah dan diluruskan. Ada kerinduan untuk “menjadi orang” nantinya. Itu wajar dan memang seharusnya. Walau demikian, tidak boleh mengabaikan proses. Proses yang baik dan matang bakal menghasilkan hal yang matang pula.

Salam Cakrawala, Salam Literasi



comments

No comments:

Post a comment