Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK TERHADAP MATERI PUISI

 


Oleh  : Yohanes Amsikan, S.Pd

(Guru SMAN 1 Kefamenanu –TTU)

 

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang berperan untuk mengekspresikan ide, gagasan, perasaan dan emosi seseorang (penyair atau pengarang) melalui kata atau diksi yang indah (estetik) dan memiliki makna (substansi) yang tersirat. Gaya bahasa yang terdapat di dalam karya puisi terkesan berbeda dari gaya bahasa pada umumnya, sebab para pengarang puisi cenderung mendorong para pembacanya untuk menyikapi serta mengintepretasikan maksud yang tersirat di dalamnya. Oleh sebab itu, sebagai sebuah karya sastra, puisi juga mampu membangkitan perasaan dan imajinasi seseorang lewat kata dan rima yang tersusun di dalamnya.   

 

Di dalam proses pembelajaran, materi tentang puisi adalah bagian penting pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi berkaitan erat dengan peran bahasa. Bahasa merupakan alat untuk mengemukakan sesuatu, baik pikiran, perasaan, dan pendapat mengenai realitas. Bahasa dan puisi adalah satu kesatuan yang integral, sebab puisi membutuhkan bahasa sebagai sarana untuk mengekspresikan serta memaknai semua substansi yang ada di dalamnya. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa puisi juga bersifat komunikatif karena mampu menyampaikan pesan tersirat seseorang kepada orang lain secara implisit.

 

Proses pengajaran materi puisi di dalam kelas kadang tidak berjalan sesuai tujuan pembelajaran. Para peserta didik selalu mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan karya sastra puisi. Pada dasarnya, puisi tidak mudah dipahami secara langsung, terutama dalam memahami maksud yang terkandung pada setiap untaian diksinya. Estetika dan substansi makna yang melingkari sebuah puisi menjadi kemasan tersirat yang membutuhkan interpretasi subyektif secara matang, kritis, dan imajinatif. Hal tersebut menjadi kendala utama bagi peserta didik, terutama pada tataran tingkat literasi yang belum memadai. Peserta didik akan cenderung menjadi pasif, sehingga minat dan motivasi belajar terhadap materi puisi akan menurun secara berkala.

 

Realita pembelajaran materi puisi tersebut juga terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Kefamenanu, terkhususnya pada Kelas X Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Hal tersebut tentunya juga menyulitkan guru dalam setiap kegiatan belajar dan mengajar (KBM). Dalam proses KBM, terdapat sejumlah besar peserta didik yang kurang berminat terhadap materi puisi. Para peserta didik akan cenderung lalai dan tidak menghiraukan setiap penjelasan yang diberikan. Bahkan, para peserta didik sering mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah seadanya tanpa adanya daya pemikiran yang kritis, analisis, dan imajinasi dalam memaknai sebuah puisi. Maka dari itu, pola berpikir, daya imajinasi, dan kekuatan analisis peserta didik harus terus diasah guna memahami segala bentuk pemaknaan yang terdapat di dalam sebuah puisi, terutama pada lambang dan simbol-simbol tertentu.   

 

Dalam menanggulangi persoalan tersebut, penulis mencoba untuk meningkatkan minat belajar peserta didik terhadap materi puisi melalui pemaknaan teks puisi Nyanyian Angsa Karya W. S. Rendra. Pertama, penulis membagikan teks puisi Nyanyian Angsa Karya W. S. Rendra serta mengajarkan contoh penggunaan teknik membaca puisi yang baik dan benar. Para peserta didik harus menggunakan daya imajinsi yang tepat secara berulang kali guna membangkitkan minat membaca puisi. Pengulangan pada proses membaca tersebut berguna untuk mendalami dan menafsirkan makna yang terkandung di dalam puisi tersebut.

 

Kedua, penulis mewajibkan peserta didik untuk menonton dan menyimak video Sastrawan W. S. Rendra melalui alat komunikasi, seperti; hand phone dan media lain yang dimilikinya. Melalui tontonan video tersebut, para peserta didik bisa melihat dan mempelajari mimik serta gestur sang sastrawan saat membacakan puisinya, sehingga bisa termotivasi untuk mengikuti pola tersebut. Setelah itu, penulis memberikan tugas mandiri kepada para peserta didik untuk membaca dan menafsirkan setiap makna yang ada di dalam puisi tertentu. Di samping itu, peserta didik juga diasah untuk mampu menciptakan puisi baru dengan tema dan pesan yang tersirat.     

 

Upaya peningkatan minat belajar peserta didik terhadap materi puisi tersebut tentunya harus digencarkan secara terus menerus. Para peserta didik harus didorong secara berkala dan mandiri untuk menumbuhkan motivasi serta semangat mereka dalam mendalami materi puisi. Dalam pengimplementasiannya, upaya tersebut juga harus didukung oleh pola pembiasaan (conditioning) melalui siklus apresiasi-sanksi (reward-punihsment). Apabila peserta didik mampu membaca, menafsirkan, serta menciptakan puisi dengan segala pesan dan makna tersirat di dalamnya, maka penulis selaku guru pengampu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia wajib memberikan apresiasi yang edukatif.

 

Begitupun sebaliknya, terdapat sanksi apabila terdapat peserta didik yang belum mampu mengaktualisasikan hal tersebut. Namun, sanksi yang diberikan harus bersifat edukatif, atraktif dan persuasif. Melalui proses pembiasaan tersebut, bukan tidak mungkin, proses peningkatan minat belajar peserta didik terhadap materi puisi bisa meningkat. Selain itu, proses KBM pun bisa berjalan secara efektf dan kondusif.

 

Editor : Mario Djegho (red)

Post a Comment

0 Comments