Latest News

Wednesday, 17 June 2020

‘TA ‘TOK FE


‘TA ‘TOK FE

(Menelusuri Hubungan Kekuatan Kata, pola Pikir dan Tingkah Laku)

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Di sini, di kintal berukuran 25 x 50 meter ini, saya ada dan berdiam. Ada sunyi dalam kata sekaligus kata yang ditiup dalam suara. Semuanya masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah di sini kecuali desahan nafasku yang terus memburu waktu. Saya adalah yang paling setiap menghitung setiap detik dan jalan yang akan kulalui. Kamar berukuran 4 x 4 meter adalah saksi dari seluruh doa yang kulambungkan pada dinding awan. Berharap sang pemilik cakrawala mendengar dan meneteskan berkatnya pada hati setiap insan yang terus mendamba sepertiku. Doaku satu. Kompor Rinnai RB-72SV itu tetap bernyala dan untukku dapat terus mengejar dan meraih mimpi-mimpi yang berlari dengan cepat.

Di kamar ini, hatiku terlelap. Sementara itu pikiranku terus melayang. Berjuang agar setiap insan mengerti arti kekuatan sebuah kata. Benar. Kata itu harus bernyawa agar sabda itu sungguh mendaging. Jika kata kehilangan makna maka sebenarnya pada saat yang sama tidak ada yang abadi di bawah matahari. Kata itu harus memiliki kekuatan ganda. Jalan untuk orang mengerti (memahami) sekaligus pijakan untuk ber-aksi. Di kintal ini, adakah yang lebih bermkana dari sebuah cara kami sekeluarga ber-kata dan bersikap? Hmm… di hari begini, terasa sulit untuk mengerti apalagi membahas manusia dan dengan segala persoalan rumit di dalamnya.

Lalu? Mari kita sederhanakan. Adalah seorang Pastor Petrus Salu, SVD. Imam Tuhan yang kini dipercayakan Serikat Sabda Allah sebagai kepala sekola SMA Katolik Arnoldus yang berada di jalan TDM IV, Oebobo-Kota Kupang. Ia menulis buku berjudul. “Dunia Tidak Selebar Daun Kelor”. Buku yang berhalaman 280 ini, menampilkan tentang keajaiban daun kelor. Sebuah pohon yang pernah booming di masa kepemimpinan Viktor Laiskodat dan Josef Naisoi sekarang ini. Kelor disebut dan dibanggakan dan menjadi spesial dari ribuan jenis pohon lainnya. Saya membaca buku ini dalam posisi setengah sadar. Ada narasi yang sengaja ditulis sangat spontan dan gamblang. Ternyata Marungga atau lazim disebut kelor ini adalah pohon ajaib yang dikenal dunia. Ia tumbuh di segala tempat dan musim. Bisa hidup di gunung Himalaya hingga di kintal pondokku yang berada di Cabang Tilong. Keajaiban pohon ini diakui oleh seluruh lapisan masyarakat. Singkatnya, kelor adalah cara Pastor Petrus Salu merasul dan mendidik masyarakat (umat) dilayaninya untuk menghargai hidup.

Saya tidak sedang mengulas keseluruh isi buku ini. Saya hanya terpesona pada satu kata di dalamnya. ‘Ta ‘Tok Fe yang secara harafiah berarti “duduk saja, bersantailah dulu”. Pastor Petrus menulis sekaligus bersaksi “saya bekerja sama adengan orang Timor yang hidup di kampung dan mereka yang berada di kota. Dalam berbagai bidang budaya, sosial, politik, agama, pertanian, peternakan, dan lain sebagainya, ajakan ‘ta’tok fe selalu saja terjadi. Saya sendiri akhirnya merasa tidak asing dengan ajakan ‘ta’tok fe itu. Ajakan ‘ta ‘tok fe akhirnya menjadi kebiasaan turun-temurun”.
…………………………………………………
Angin bertiup kencang. Saya tetap berada di tempatku. Duduk. Seperti hari sebelumnya, ketika menyelesaikan tugas rumah yang sifatnya wajib, seperti menyiram bungg dan tanaman lainnya, memberi makan untuk beberapa ekor ayam dan mencuci pakaian yang tersimpan begitu saja di mesin cuci, saya selalu mengambil jedah untuk duduk. Menari nafas lebih dalam dan menghembuskan secara perlahan. Tanpa disadari, pikiranku tertuju pada satu kalimat ajakan ini. “ta’tok fe. Jika dipadankan dengan istilah bahasa Manggarai, “asi di cekoen” maksudnya tetap sama. Bersantailah sejenak. Kata ini “asi di cekoen” dalam bahasa Manggarai ini juga bermaksud ajakan. Atau dengan maksud lain, buat apa terburu-buru. Waktu masih ada. Hidup ini adalah cara kita menikmati. Santai saja. Tidak ada yang mengejar aapalagi memaksa kita bekerja secara maksimal.

Tiba-tiba saya teringat dengan mama Margareta. Ibuku. Di pagi, siang atau sore hari, ia selalu menyapa setiap orang yang melintas di jalan umum. Dari pintu dapur, ia (mama) selalu berteriak menyapa dan sering disertai ajakan. “ngo nia/kole nia mai. Mai cenggo inung kopi di cekoen” (mau pergi ke mana/pulang dari mana. Mari singgah dulu untuk minum kopi). Saya adalah yang paling setiap dan teliti dengan seluruh kata/narasi yang dibuat mama serta sikap spontan yang terjadi sesudahnya. Walau ajakan itu sebenarnya hanyalah rutinitas basa-basi tetapi seringkali terjadi di luar prediskis. Orang yang diajak itu benar-benar berhenti dan memutar haluan menuju halaman rumah kami. Pada saat yang sama, mama biasanya kalang-kabut setelah menngteahui kopi dan atau gula tidak ada. Di saat-saat begitu, saya adalah yang paling menderita. Mama menyuruhku setengah berbisik untuk pergi ke rumah tetangga atau ke kios meminta atau membeli kopi dan atau gula. Anehnya, jika tetangga yang dimintai gula dan atau kopi itu, pasti bertanya. Siapa yang datang bertamu. Maka ia (tetangga) itu bakal meninggalkan pekerjaanya dan menyapa tamu dadakan itu. Mulailah mereka bercerita sampai lelah sendiri.

Sama halnya dengan bapa. Dalam benak saya, bapa dan mama itu sama. Berbaik hati dengan semua orang walau kadang tidak efektif dan sudah pasti tidak produktif. Mereka mengahabiskan banyak waktu untuk bercerita walau mereka sama-sama mengetahui alur ceritanya. Misalnya, semalam mereka sama-sama duduk dan menonton sinetron “Anak Jalanan” di SCTV. Saat pagi hari dan kebertulan bertemu di mata air, maka mulailah mereka bercerita melampaui episode sinetron itu. Kadang mereka berdebat, marah dan tertawa bersama. Begitulah mereka. Bapa/mama dan masyarakatku di kampung.

Singkat cerita, ta’tok fe (orang Timor), mai cenggo di cekoen inung kopi (orang Manggarai) dan berbagai kalimat ajakan dari wilayah lain di NTT mau menggambarkan bahwa orang NTT khususnya orang Timor dan orang Manggarai memiliki format yang sama tentang hidup dan bagaimana menikmatinya walau tidak efektif dan produktif. Mereka bersandar pada kata yang sama dan pada saat yang sama meruntuhkan nilai perjuangan dan optimisme dalam hidup. Kalimat ‘ta ‘tok fe ternyata mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku. Lebih lanjut, Pastor Petrus menulis. ”Duduk-duduk atau duduk santainya orang Timor sering dilanjutkan dengan aktifitas-aktifitas tak terduga seperti makan sirih pinang, minum sopi, minum kopi atau bahkan membicarakan orang lain yang memakan waktu lebih banyak dari pada waktu bersantai itu. Sebenarnya memang waktu. Duduk-duduk dulu. Bersantai dulu itu baik tetapi kadang-kadang aktifitas tak terduga itu terasa semakin nikmat sehingga lupa akan waktu, lupa akan tujuan”.

Lalu bagaimana relasi antara kata ‘ta’tok fe dengan pola pikir dan tingkah laku? Menurut Pastor Petrus Salu, kalimat ‘ta’tok ‘fe ini merambah ke segala bidang kehidupan. Kata ini sudah melekat dan mendaging menuju pola pikir hingga merambah pada pola tingkah laku. Tidak ada seorangpun yang luput dari pengaruh kalimat ini. Ada sekelompok guru yang masih bersantai di ruang guru walau lonceng untuk memulai pelajaran sudah dimulai. Tidak heran, anak murid bersikap yang sama. “bersantailah dulu, toh pak Markus belum datang. Lihat saja, motor Gl-Pro milikinya belum ada. Duduk-duduk dulu. Demikian halnya, jika hendak mengadakan rapat. “Bersantai dulu, toh semua belum hadir. Kalau kita pergi sekarang, nanti kita lama menunggu yang lain” dan seterunya. Pertanyaan tersisa, adakah acara yang lebih tepat untuk emutuskan mata rantai kata yang membius dan tidak produktif ini?

Mari kita bersepakat jika kata ini merujuk pada mental tidak menghargai waktu dan merelakan masa depannya berada dalam kekelaman. Kita seolah berada di masa lalu dengan masa depan yang tidak jelas. Orang Roma menegaskan situasi ini dengan istilah “carpe diem”. (nikmatilah hari ini/hidup hanya untuk hari ini) Orang-orang Belu-Kabupaten Belum menyebutnya dengan kalimat, “Han Kedas Mati La Hodi” (makan memang sekarang, mati tidak akan dibawa). Merubah paradigma ‘ta’tok fe ini butuh kesabaran dan komitmen yang kuat. Jika tidak, kita ikut terseret pada komentar yang biasa tetapi melemahkan nalar. Sebut saja, orang Manggarai. Jika ada yang berjuang, bekerja keras dan sangat disiplin, bakal ada yang berkomentar, “ata bora, ta lengge, mata kin (Baik orang kaya maupun orang mati, tetap mati. Tidak ada yang kekal/abadi). Atau bisa juga dengan narasi rendah diri tetapi sekan menyidndir. Misalnya, “hai a’monte (kami yang orang bodoh ini ….), “hai a’baute (kami yang kecil ini …).
……………………………………………
Saya berdiri. Meninggalkan kursi yang selalu membuatku terlelap. Bayangkan saja, kusi kayu itu, jika diduduki hingga satu jam rasanya nikmat. Apalagi kursi empuk seorang pejabat yang duduk hingga waktu lima tahun bahkan ada yng sepuluh tahun. Jika membutuhkan sesuatu, ia tinggal menekan tombol dan seseorang datang dengan badan sedikit terbugkuk siap melayani. Jika kemudian banyak otang yang ingin lebih banyak berbicara (bernarasi) daripada berkerja, mungkin inilah salah satu alasannya. Sebuah kata (kalimat) yang mendaging dan mempengaruhi pola pikir dan pola tingkah laku.

Dunia ini memang tidak selebar daun kelor. Dunia ini luas dan butuh kata (narasi) besar agar wawasan dibuka dan dicerahkan. Saya teringat satu kalimat yang lazim diulang-ulang oleh seorang Viktor Laiskodat. “Tidak ada lahan yang tidur. Yang sering tidur (tidur-tiduran) itu adalah manusianya”. Duduk dan tidur itu sama saja. Kaki dan tangan tidak bergerak. Kamar berukuran 4 x 4 meter itu atau kintal rumahku berukuran sedang, 25 x 50 meter itu harus “dibongkar”. Hanya dengan demikian saya menemukan kata (narasi) yang lebih luas yakni dari kata kintal ke kata kawasan. Saya cepat-cepat meneguk kopi hangat yang disuguhkan Mathilde, istriku. Malu pada waktu yang selalu menunggu untuk diisi untuk sebuah produktifitas. Ada kata yang harus ditulis, narasi yang mesti dihidupkan dalam aksi yang lebih nyata.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …


comments

No comments:

Post a comment