Latest News

Sunday, 14 June 2020

RENUNGAN HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS MINGGU, 14 JUNI 2020 (YOHANES 6: 51-58)

RP. Ovan, O.Carm
Imam Carmelit, tinggal di Komunitas
Rumah Retret Nabi Elia Mageria-Mauloo

Tubuh secara esensial merupakan wujud dari keseluruhan badaniah. Tubuh adalah bahasa isyarat yang tak bisa disampaikan dalam berbagai kalimat yang panjang dari bibir-bibir mulut. Namun usaha membahasakannya terkadang runyam dan sulit. Sedangkan Darah merupakan cairan yang berada dalam tubuh manusia. Darah menjadi sangat signifikan dalam menentukan hidup dan matinya manusia. Sebab darah berfungsi untuk mengangkut oksigen, mengedarkan sari makanan dan lain sebagainya. Secara biologis manusia dalam esensinya sebagai tubuh tidak bisa dilepaspisahkan dengan darah.

Sama saudara yang terkasih dalam Kristus...
Esensi tentang Tubuh seringkali menjadi dilematis moral dalam kehidupan sehari-hari kita. Ketika kita berbicara dan mengenang tubuh terkadang kita tidak bisa untuk mengelak dari berbagai macam kecacatan yang diakibatkan oleh diri kita sendiri. Tubuh jika dipahami secara religiositas iman Kristiani merupakan gambaran dari citra Allah. Sebagai gambaran dari citra Allah, tubuh menjadikan manusia sebagai bagian dari partner (rekan kerja) Allah.

Dalam realitas iman kita sebagai orang beriman tak jarang kita menyaksikan, membaca dan mendengarkan berbagai kasus imoralitas tentang tubuh. Hal lain yang sering menjadi sedikit resah dalam setiap benak kita ketika berbicara mengenai tubuh ialah perempuan, tentunya. Ketika berbagai hal imoralitas berkaitan dengan tubuh, perempuan selalu menjadi salah satu ciptaan Tuhan yang selalu disoroti. Tubuh perempuan seolah menjadi pelampiasan hasrat bahkan tubuh perempuan selalu dilihat dan dibaca sebagai nafsu sensual.

Sama saudara yang terkasih dalam Kristus...
Pada hari ini Gereja sejagat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Perayaan tubuh dan darah Kristus yang dirayakan pada hari ini bukan sekadar seremonial iman yang perlu untuk dikenang dan dirayakan begitu saja. Gereja memberikan satu hari khusus untuk mengenang dan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan sekadar ingin agar umatnya menyadari tentang Kristus sebagai Manusia sekaligus Allah itu, namun dalam perayaannya itu, Gereja ingin membukakan kesadaran iman kita dalam membongkar segala prasangka dan kemapanan diri yang didedikasi oleh egoisme mengenai tubuh. Egoisme ini lahir dari berbagai sudut perspektif terkadang melalui mata yang bening membongkar seluruh pakaian, pikiran yang selalu merangsang nafsu birahi yang tak bertuan, mulut yang turut melucuti dan mengkuliti seluruh tubuh. Ego manusia selalu mengangkat kemapanan dirinya lebih dari orang lain. Terkadang melampaui akal budi bahkan melampaui hati nurani atau dalam dunia etika keutamaan disebut dengan kesadaran praktis.

Kitab Ulangan hari ini secara gamblang menyadari bangsa Israel atas kebaikan Allah kepada mereka. Allah selalu hadir dalam realitas iman umat-Nya. Kehadirannya memberi peluang bagi siapa saja untuk datang kepada-Nya dengan sebuah jawaban iman yang bebas dan tanggung jawab. Ulangan membuka kesadaran iman bangsa Israel bahwa manusia tidak saja hidup dari roti melainkan dari sabda yang diucapkan oleh Allah. Kebergantungan akan hal-hal duniawi membuat kita terjerumus dalam kemapanan ego akan diri sendiri. Allah merendahkan hatimu dan membiarkan engkau lapar, serta membiarkan engkau makan manna (Ul. 8:3). Dengan begitu kita akan paham bahwa pada dasarnya Allah melampaui apa yang tidak bisa kita pikirkan tentang-Nya. Sehingga, Ulangan menyadari bangsa Israel tentang kemapanan akan hidup yang kita miliki di dunia saat ini bukanlah jaminan atas hidup kita diakhirat nanti; namun Allah memberikan peluang atas jawaban bebas dari kita umat-Nya akan iman yang kokoh dalam menyadari bahwa segala kemapanan yang kita miliki hendaknya kita saling berbagi dan bukannya untuk memupuk dalam ego akan diri sendiri.

Rasul Paulus dalam surat pertamanya kepada Jemaat di Korintus melukiskan tentang persatuan dalam tubuh dan darah Kristus. Yesus Kristus sebagai penggenapan akan janji Allah dalam Kitab Suci Perjanjian Lama merupakan gambaran persatuan. Paulus meyakini bahwa darah yang diucapkan sebagai ucapan syukur dan roti yang dipecah-pecahkan merupakan persatuan dalam tubuh dan darah Kristus yang diberkati secara langsung oleh Allah melalui para Imam. Dengan demikian kepada Jemaat di Korintus, Paulus menyadarkan seluruh jemaat bahwa dalam ekarisiti kita dipersatukan langsung dengan Allah melalui konsekrasi saat roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Dan karena iman akan Kristus yang bangkit itu, kita semua dipenuhi dalam kehidupan kekal dengan persatuan dalam Allah dan para kudus. Sedangkan dalam injil, Yohanes memberi penekanan khusus pada beberapa ayat yang tentunya menyadari bahwa esensi tubuh adalah nilai yang terkandung dalam setiap insani. Setiap tubuh manusia padadasarnya adalah nilai atas kasih dan cintanya kepada sesama.

Membayangkan cinta, sebenarnya tubuh adalah tempat suci yang perlu dijaga, dirawat dan selalu disejukkan dalam rasa kasih dan cinta. Bukankah, ketika kita dilahirkan ke dunia setiap manusia berada dalam tubuh yang telanjang? Dan tidakkah kita ingat dan mampu merasakan betapa deritanya Ibu ketika mengandung dan melahirkan kita? Telanjang, dalam konteks ini sebenarnya menggambarkan kebersihan diri kita dari segala rentetan duniawi (meski kita tetap berada dalam dosa asal), namun telanjang dalam konteks kelahiran ke dunia itu tentu masih memiliki keterikatan duniawi dengan ayah dan ibunya. Dalam ketelanjangan itu, manusia dibersihkan dalam sebuah sakramen pembaptisan. Saat itu dalam konteks iman Kristiani diartikan sebagai kesiapan batin untuk berada dalam persatuan dengan Allah.

Sama saudara yang terkasih dalam Kristus...
Yesus telah menyatakan diri-Nya dihadapan bangsa Israel bahwa Dia-lah roti yang telah turun dari sorga (bdk. Yoh 6:51). Pernyataan Yesus ini melukiskan esensi dari diri-Nya sebagai penggenapan akan janji Allah kepada bangsa Israel. Sekaligus Yesus membuka jalan bagi hidup dan kebenaran dengan mempersatukan seluruh umat-Nya ke dalam kasih dan cinta akan Allah. Pernyataan lain yang juga mempertegas esensi dari diri Yesus adalah kekita Ia menyatakan bahwa barangsiapa yang tidak makan daging anak manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu (lih. Yoh 6:53). Hal ini sekaligus menjadi kecaman Yesus bagi orang-orang kafir dan juga bangsa Israel yang cenderung memprioritaskan hal-hal duniawi sebagai sumber dari kehidupan yang mereka jalani. Ketakutan pada kemapanan seolah menutupi ruang atas diri sendiri. Kemapanan seolah menjadi gambaran utama yang harus diperjuangkan, sehingga praktis realitasnya cenderung memelihara ego tanpa memberi dan saling berbagi kasih terhadap satu dengan yang lainnya.

Dilematis pernyataan Yesus di atas tentu menghantar kita kepada realitas tubuh kita. Dalam hidup tubuh kita perlu diisi dengan makanan dan minuman. Bahkan Yesus tidak mempersalahkan eksistensi dari tubuh kita. Namun, dalam hal ini Yesus sebenarnya ingin meluruskan bahwa dalam realitas hidup kita, tubuh tidak saja hanya membutuhkan makanan dan minuman (fisik) namun tubuh juga memerlukan kekuatan jiwani (rohani), dan dalam hal itu Yesus menyatakan bahwa manusia tidak saja hidup dari roti melainkan dari sabda yang diucapkan Allah.

Sama saudara yang terkasih dalam Kristus...
Dengan demikian, pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang kita rayakan hari ini sebenarnya Yesus hadir untuk membuka kembali kesadaran iman kita akan Allah. Yesus ingin mengetok pintu kita dengantidak saja bertamu, namun tetap tinggal di dalam hati kita.Keberadaan Yesus dalam diri kita, mempersatukan seluruh iman kita dalam sebuah perjamuan ekaristi yang sedang dan akan kita rayakan terus menerus. Allah tidak pernah meninggalkan umatnya atau menjauhkan umat-Nya. Hanya saja kita sebagai umat-Nya kerap meninggalkan Ia dan memelihara kemapanan diri kita. Oleh karena itu, tubuh hendaknya dipelihara tidak saja secara fisik namun diperkaya oleh jiwa yang kaya akan pengalaman iman dan kesadaran iman.

Hemat saya, bahwa tinggallah selalu dalam persatuan dengan Allah melalui ketulusan, partisipasi aktif dan kesetiaan dalam ekaristi yang kita rayakan setiap saat. Dengan demikian, kita akan melihat kemapanan yang Allah berikan sebagai jaminan atas hidup kita kelak sekaligus menjadikan kita lebih kerasan untuk selalu dipersatukan dalam cinta dan kasih akan Allah kepada sesama.

comments

No comments:

Post a comment