Latest News

E-MAGAZINE
HERE WE ARE

NEWS

HERE WE ARE

ARTICLE

E-MAGAZINE

Recent Posts

Wednesday, 20 March 2019

2.004.437 GENERASI MILENIAL NTT

Kota Kupang, CakrawalaNTT.com - Generasi milenial di Nusa Tenggara Timur berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, tercatat mencapai 2.004.437 orang dari total penduduk di provinsi ini sebanyak 5.203.514 orang.
"Mereka sangat unik karena ketika lahir sudah berhadapan dengan televisi berwarna, handphone, dan internet sehingga sangat menguasai teknologi," kata akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr. Karolus Kopong Medan SH. M.Hum dalam sebuah seminar di Kupang, Selasa (19/3).
Untuk itu, lanjutnya, guru-guru sebagai pemimpin di sekolah maupun lingkungan masyarakat perlu meningkatkan wawasan dan keterampilan dalam menggunakan berbagai produk teknologi agar bisa masuk dalam pola atau kebiasaan hidup generasi milenial.
Dosen Fakultas Hukum Undana Kupang itu mencontohkan, ruang pertemuan fisik yang bisa beralih ke ruang pertemuan digital melalui berbagai jejaring media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Email, dan sebagainya.
"Pemanfaatan teknologi secara praktis seperti ini yang lebih diminati generasi milenial saat ini dibandingkan pola-pola birokratis yang cenderung lebih membosankan," katanya.
Kopong Medan menambahkan, karakter kepemimpinan milenial juga menuntut para guru untuk cerdas dan lincah dengan cara memperbanyak membaca buku, mengobservasi peristiwa dan melakukan kunjungan-kunjungan lapangan. (*/RZ)

Tuesday, 19 March 2019

GURU DITUNTUT MELEK TEKNOLOGI DIGITAL

Kota Kupang, CakrawalaNTT.com  – Para guru di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk memperkuat karakter kepemimpinan milenial. Sebab guru harus bisa beradaptasi dengan lingkungan peserta didik yang melek teknologi. Guru-guru sekolah harus mengubah pola kepemimpinan cara lama yang kental dengan pola birokratis menjadi pendekatan dengan mindset digital.
"Perilaku generasi milenial saat ini menuntut guru-guru sekolah untuk mengubah pola kepemimpinan cara lama yang kental dengan pola birokratis menjadi pendekatan dengan mindset digital," kata Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Karolus Kopong Medan, SH., M.Hum. dalam seminar akademik di Milenium Ballroom Kupang, Selasa (19/3).
Seminar Akademik bertema Kepemimpinan di Era Milenial, Tantangan dan Perspektif Baru Membangun NTT  ini dihadiri lebih dari 900 calon wisudawan dari Universitas Terbuka Kupang. Di hadapan peserta yang sebagian besar merupakan guru-guru dari berbagai daerah di NTT, Karolus berkata, generasi milenial atau kelompok demografi setelah Generasi X dengan usia berkisar dari 15-37 tahun merupakan generasi unik dibandingkan dengan generasi sebelumnya, terutama berkaitan dengan teknologi.
Di NTT sendiri, lanjutnya, jumlah penduduk generasi milenial berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, tercatat 2.004.437 orang. Sementara, total penduduk di provinsi itu 5.203.514 orang.
"Mereka sangat unik karena ketika lahir sudah berhadapan dengan televisi berwarna, handphone dan internet, sehingga sangat menguasai teknologi," kata Dosen Fakultas Hukum Undana itu.
Untuk itu, guru-guru sebagai pemimpin di sekolah maupun lingkungan masyarakat perlu meningkatkan wawasan dan keterampilan dalam menggunakan berbagai produk teknologi. Dengan begitu guru mudah mengetahui pola atau kebiasaan hidup generasi milenial.
Ia mengingatkan para guru untuk memanfaatkan ruang pertemuan yang saat ini bisa beralih ke ruang pertemuan digital melalui berbagai jejaring media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, dan email.
"Pemanfaatan teknologi secara praktis seperti ini yang lebih diminati generasi milenial saat ini dibandingkan pola-pola birokratis yang cenderung lebih membosankan," katanya.
Kopong menambahkan, karakter kepemimpinan milenial juga menuntut para guru untuk cerdas dan lincah dengan cara memperbanyak membaca buku, mengobservasi peristiwa, dan melakukan kunjungan-kunjungan lapangan. (NZ/RZ)

Thursday, 14 March 2019

SUKSESKAN UN 2019, DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI NTT GELAR RAKOR BERSAMA


Kota Kupang, CakrawalaNTT.com - Dalam rangka menghadapi Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2018/2019 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi  NTT menggelar rapat koordinasi (rakor) pelaksanaan UN bersama dengan semua kepala dinas pendidikan dan kebudayaan Kabupaten/kota tingkat provinsi. Kegiatan Rakor ini berlangsung di Hotel Pelangi , Jalan Veteran, Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT dan berlangsung sejak  tanggal 13 hingga 15 Maret 2019.

Albina Maria, SH, dalam laporan kepanitiaannya  mengatakan bahwa  rapat koordinasi  pelaksanaan ujian nasional ini untuk merumuskan prioritas penanganan UN dan selanjutnya menetapkan jadwal pelaksanaan untuk ditaati dan dipedomani dalam pelaksanaan selanjutnya. Ini bertujuan untuk melakukan sinkronisasi dan sinergitas pelaksanaan UN tahun 2019. Selain itu, guna menginformasikan berbagai kesepahaman terkait dengan mekanisme pelaksanaan ujian nasional tahun 2019 baik ditingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota.

Lebih lanjut , Rakor ini dihadiri oleh unsur  pemangku kepentingan bidang pendidikan yakni Kepala dinas pendidikan Kabupaten/Kota, Ketua panitia UN Kab/Kota, Koordinator pengawas SMA/SMK Kab/Kota, dan para Ketua MKKS.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, M.Pd., dalam sambutannya membuka kegiatan Rakor, mengapresiasi persiapan dalam menghadapi UN pada tahun ini dalam waktu yang cukup mepet di tengah berbagai perubahan mekanisme pelaksanaan ujian nasional.

“Kita sama-sama mengikuti perkembangan birokrasi di mana kita baru saja bentuk UPT  yang baru berjalan selama satu tahun tetapi bubar. Ini merupakan salah satu fenomena dalam kehidupan birokrasi pemerintahan yang sebenarnya biasa tetapi terjadi khusus pada dinas pendidikan dan kebudayaan maka ini merupakan sesuatu yang sangat menghentak. Untuk itu, mari kita semua  melihat fenomena yang terjadi dan bagaimana untuk menyikapinya, bersamaan dengan itu kita sambut dengan gembira bahwa pendidikan dan kebudayaan telah menjadi satu,” ungkap Benyamin.

Ia mengajak agar seluruh elemen mempersiapkan diri guna menyukseskan pelaksanaan UN 2019 ini. Menurutnya, UN merupakan hal penting yang harus dilaksanakan dalam rangka mengukur capaian belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas.

“Ujian nasional dilaksanakan sebagai alat untuk mengukur mutu secara nasional guna mendorong peningkatan mutu pendidikan. Hasil UN tentunya digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan dan juga untuk seleksi masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” kata Benyamin.

Benyamin mengatakan bahwa sukses dicapai jika pelaksanaan UN  jauh dari isu kebocoran soal, tingkat indeks integritas ujian nasional, sampai pendistribusian naskah soal yang tepat waktu. Semua itu dapat terjadi karena dukungan pemerintah, masyarakat, dan semua komponen  pendidikan sangat baik. Ia pun tak menyangkal bahwa seringkali  dijumpai berbagai kekurangan antara lain kekurangan amplop dan naskah pada satuan pendidikan. Menurutnya, dengan adanya ujian nasional berbasisi komputer (UNBK)  kesalahan tersebut dapat diminimalisir.

Ia menilai bahwa secara keseluruhan pelaksanaan ujian nasional SMP, SMA, dan SMK selama ini berjalan aman dan tertib. Ia berharap agar ujian nasional tahun 2019 ini  juga dapat berjalan sesuai dengan rencana dan harapan bersama. (LA/RZ)

Videos