Latest News

E-MAGAZINE
HERE WE ARE

NEWS

HERE WE ARE

ARTICLE

E-MAGAZINE

Recent Posts

Wednesday, 21 August 2019

MERIAHKAN HUT KE-74 RI, RIBUAN PELAJAR TTS IKUT LOMBA SENI DAN BUDAYA



TTS, CAKRAWALANTT.COM – Dalam rangka memeriahkan HUT ke-74 RI, ribuan pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengikuti Lomba Seni dan Budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten TTS. Kegiatan bertema ‘Melalui Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Daerah Kita Tingkatkan Apresiasi Seni dan Budaya Menuju SDM Unggul, Indonesia  Maju’ tersebut berlangsung di SoE, Senin (19/8/2019) hingga Sabtu (24/8/2019). Dalam kegiatan tersebut peserta terlibat dalam berbagai jenis lomba yakni lomba tarian Ma’ekat, tarian giring-giring, tarian daerah biola, dan lomba cerita rakyat, serta lomba tenun ikat.

Dalam acara pembukaan yang berlangsung di Lapangan Puspenmas SoE, Bupati TTS, Egusem Piether Tahun, S.T., M.M., mengatakan, perkembangan teknologi tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga memiliki efek negatif yang perlu diantisipasi. Salah satu efek negatifnya adalah memudarnya nilai budaya lokal. Karena itu dirinya menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Atas nama pemerintah daerah saya memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini karena memiliki arti penting dan bermakana strategis dalam upaya menjaga, melestarikan dan sekaligus mewariskan seni budaya Kabupaten TTS kepada generasi penerus dan juga menanamkan semangat sportifitas dan persaudaraan dalam hidup kita sehari-hari,” kata Piether Tahun.

Menurutnya, masyarakat Kabupaten TTS memiliki kekayaan budaya yang sangat tinggi. Budaya-budaya itu antara lain Sen hau, Lau kiu, Sene, Heo boil, Bobbin. Ada juga tarian Makosu, Ma’ekat, Sbo bano, Sbo teo dan Bonet yang diiringi Sen o, atau Sene, Tufu, Knobe, Feku, Leku, Knit, dan Betas.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Drs. Benyamin Lola, M.Pd., menuturkan, Provinsi NTT memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam yang tersebar di berbagai wilayah. Kekayaan budaya tersebut memiliki keunikan sendiri-sendiri yang dipengaruhi oleh tradisi masyarakat pendukungnya. Seni dan budaya yang dikemas secara baik, lanjut Benyamin, dapat menjadi sarana membangun karakter bangsa, pengenalan jati diri dan menumbuhkan rasa bangga sebagai putra daerah dan semakin menebalkan rasa nasionalisme.

“Melalui penyelenggaran kegiatan pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah Kabupaten TTS, harapan kami kiranya akan muncul banyak generasi muda yang setia dan konsisten menggeluti dunia kebudayaan baik itu seni tari, musik daerah, seni lukis, pahat, ukir, sastra, dan pengrajin tenun ikat. Lahirnya budayawan-budayawan muda merupakan modal peningkatan pengetahuan dan kreativitas sehingga proses pembangunan kebudayaan bergerak dinamis dan secara terus-menerus menjadi alat  siar kekayaan seni budaya NTT dalam arus perkembangan peradaban dunia,” ujar Benyamin.

Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan Lomba Seni dan Budaya, Drs. Seperius Edison Sipa, M.Si., mengatakan, seni dan budaya merupakan sarana untuk mengekspresikan keadaan serta perasaan seseorang. Melalui seni dan budaya orang dapat mewujudkan kehidupan sosial yang berkembang di kehidupan masyarakat, kondisi alam, budaya dan menemukan kepuasan serta keindahan dalam hidup.

 “Kegiatan ini berangkat dari kesadaran bahwa kebudayaan lokal kita kian terdesak oleh pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Karena itu, melalui kegiatan ini kita ingin generasi muda memiliki rasa cinta dan bangga memiliki serta menghidupi kebudayaan lokal kita,” ujar Edison Sipa.

Dirinya berharap, generasi muda dapat menjaga dan melastarikan nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang dalam tatanan kehidupan masyarakat TTS. Ditambahkannya, generasi muda perlu membangun kebersamaan, rasa memiliki dan mencintai budaya sendiri.

Kegiatan lomba tersebut diawali dengan Parade Budaya yang diikuti oleh seluruh pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK, sanggar, dan perwakilan dari setiap OPD Kabupaten TTS. Parade Budaya yang dimulai dari GOR Nekamese dan berakhir di Lapangan Puspenmas tersebut diikuti oleh ribuan peserta yang tergabung dalam berbagai kelompok. Dalam parade tersebut masing-masing kelompok menampilkan berbagai atraksi menarik.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, selain kegiatan lomba seni budaya, masih dalam semarak HUT ke-74 RI, Pemerintah Kabupaten TTS akan menggelar gerak jalan 45 kilo meter yang direncakan berlangsung pada tanggal 25—26 Agustus 2019. Selai itu akan digelar juga Jambore Pariwisata yang direncanakan berlangsung pada tanggal 27 Agustus—1 September 2019. (Lenzho/red)




Tuesday, 20 August 2019

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI NTT BANGUN ‘RUMAH PENDIDIKAN’



Kota Kupang, CAKRAWALANTT.COM – Peningkatan sumber daya manusia meliputi dua hal yakni aksesibilitas dan peningkatan mutu. Dalam konteks tersebut ada kebijakan pendidikan menengah berbasis daerah tertinggal. Karena itu Dinas Pendidikan Provinsi NTT berupaya membuat sebuah grand design yaitu membangun sebuah ‘rumah pendidikan’. Hal ini disampaikan Koordinator Pengawas (Korwas) Dikmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Maklon O. Takubesi, S.Pd., M.M., dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Model Proses Kebijakan Pendidikan Menengah Berbasis Daerah Tertinggal. FGD tersebut digelar oleh peneliti Fredrik Abia Kande, M.Pd., Kamis (8/8/2019) di Hotel Amaris Kupang.  
“Membangun rumah pendidikan sangat kompleks, di dalamnya memuat pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi. Kami terus berupaya untuk menyatukan semuanya itu menjadi satu hal yang terintegrasi. Ada satu hal yang perlu kita sadari bersama, ketika kita berbicara soal konteks daerah tertinggal belum tentu penddikannya juga tertingal,” terang Maklon Takubesi yang pada kesempatan tersebut mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.
Pada kesempatan tersebut, Fredrik Abia Kande, menguraikan, karateristik daerah tertinggal di NTT merupakan suatu fenomena yang bersifat multi-variabel jika dilihat secara geografis (terisolasi dan sukar di jangkau), terserak sebagai konsekuensi daerah kepulauan, tertinggal karena rendahnya kemampuan ekonomi (pada level PDRB dan PDRB per kapita), ketergantungan keuangan daerah yang tinggi dan tingkat produktifitas yang rendah), politik-pemerintahan yang sulit dan kompleks dan vulnerable (rawan bencana). Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, implementasi proses kebijakan pendidikan mengengah berbasis daerah tertinggal bukan dalam bentuk rekomendasi atau saran-saran tetapi dalam bentuk produk.
“Saya akan mulai dengan menyampaiakan dulu posisi daerah kita NTT. Kalau kita lihat 22 kabupaten/kota data dari Bapenas itu menunjukkan bahwa ada 18 kabupaten kota yang masuk kategori daerah tertingal, minus Kabupaten Sikka, Ngada, Flores Timur dan Kota Kupang, tetapi data terakhir Permen 79 tahun 2019, sudah ada penambahan kabupaten yang keluar dari daerah tertinggal yaitu Manggarai, Manggarai Barat, Ende, Nagekeo, dan TTU. Jadi sudah 9 yang diretaskan dari status daerah tertinggal,” jelasnya.
FGD ini diadakan oleh peneliti sebagai sebuah metode pencarian dan pengumpulan data penelitian dalam Program Doktor Manajemen Pendidikan yang sedang peneliti geluti di Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini dimaksud untuk menggali pemahaman praktisi kebijakan pada tingkat pemerintahan dan satuan pendidikan serta pemangku kebijakan mengenai model yang sedang dikembangkan dalam bidang pendidikan oleh Pemerintah NTT saat ini.
Hadir sebagai undangan dalam FGD tersebut anggota DPRD Provinsi NTT, Jimmy Sianto, Wilson Neli Rondo, dan Yohanes Rumat. Hadir pula perwakilan Biro Organisasi Setda Provinsi NTT, Dewan Pendidikan Provinsi NTT, Badan Akreditasi Sekolah, LPMP Provinsi NTT, Akademisi, Ombudsman Perwakilan Provinsi NTT, Lembaga Swadaya Masyrakat, dan pers. (Nia/Alex/red)

Monday, 19 August 2019

TUJUH PULUH SISWA SMA PGRI WAINGAPU IKUT BIMBINGAN TEKNIS LITERASI


Sumba Timur, CAKRAWALANTT.COM – Sebanyak tujuh puluh siswa SMA PGRI Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, mengikuti Bimbingan Teknis Literasi Baca-Tulis yang digelar di sekolah tersebut, Senin (19/8/2019). Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menghadirkan narasumber dari Media Pendidikan Cakrawala NTT yakni Nimrot Ndjukambani, S.Pd (Ketua MKKS SMA Kab. Sumba Timur, Koordinator/Formator Cakrawala NTT Wilayah Sumba) dan Robert Fahik, M.Si (Pemimpin Redaksi Cakrawala NTT).   

Dalam sambutannya ketika membuka kegiatan, Kepala SMA PGRI Waingapu, Rambu Mbangi Rawambaku, S.Pd., mengatakan, Bimbingan Teknis Literasi Baca-Tulis merupakan kegiatan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu peserta didik. Dalam kegiatan dimaksud, lanjutnya, peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan terkait literasi sehingga mampu menyalurkan bakat dan kreativitas yang dimiliknya terutama dalam membaca dan menulis.

“Tema HUT ke-74 RI berkaitan dengan pembangunan SDM unggul, salah satu jalan menuju arah itu adalah melalui literasi baca-tulis. Tidak bisa membaca, tidak bisa belajar secara baik, tidak mungkin Anda cerdas. Generasi emas Indonesia tahun 2045 bisa tercapai melalui literasi baca-tulis. Kegiatan ini jangan dianggap sepele, ini penting sekali. Hal ini sudah masuk kontrak kinerja kami dengan pemerintah provinsi dalam hal ini dinas pendidikan dan kebudayaan, untuk bagaimana meningkatkan prestasi peserta didik. Karena itu Anda yang terpilih harus ikuti proses ini dengan baik, sehingga bisa menjadi pelopor bagi tema-teman lain,” tegasnya.

Sementara itu dalam arahannya, Nimrot Ndjukambani, S.Pd., menuturkan, MKKS SMA Kabupaten Sumba Timur sudah bekerja sama dengan Media Pendidikan Cakrawala NTT sejak tahun 2014 dalam kegiatan literasi baik bagi guru maupun bagi siswa. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan SDM unggul.

“Membangun SDM unggul, dasarnya adalah literasi khususnya literasi baca-tulis. Karena itu selaku Ketua MKKS, saya selalu mendorong sekolah-sekolah untuk melakukan kegiatan seperti ini. Di sisi yang lain, bagi para guru, kegiatan ini sangat membantu dalam proses menulis dan melakukan publikasi ilmiah sebagai bagian dari syarat kenaikan pangkat. Sementara bagi siswa apa yang didapat dari proses ini penting sebagai bekal di kemudian hari terutama dalam hal menulis. Media Pendidikan Cakrawala NTT sejauh ini sudah banyak memuat tulisan kita, baik guru maupun siswa,” tuturnya. (rf/red)   


Videos