Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

KEMBALI

Kumpulan Puisi

 

Ilustrasi. 



MEREKA YANG PERGI

Karya: Maria Leony Putri Monelo

 

Berjuang demi masa depan yang cerah.

Tanpa keluh kesah, kau kerahkan tenaga.

Silau mentari tak menjadi penghalang cita-cita,

demi merdeka, hidup anak cucu.

 

Patah semua tulang, rontok semua gigi.

Luka di badan, bukan masalah lagi.

Menginjak ranjau, mungkin sudah takdir.

Dilempari granat, bukan mati sia-sia.

 

Kukenang bunyi senjata para penjajah,

menembak mati tubuh kaku.

Lubang buaya, tempat terakhir,

tengah medan perang, tempat naasmu.

 

Berbekal semangat juang,

kau bertarung demi harga mati NKRI.

Badan tak kembali, tak apalah

sekalipun yang pulang hanya nama.

Pertiwi basah oleh darahmu,

Nusantara merdeka karena peluhmu.

 

Di pusara tak bernama kubersujud memohon,

 semoga Nuca Lale tenteram selalu.

 

SENJA

Karya: Arini N. S. A. Soebaba

 

Kutatap langit ternyata bukan lagi mendung,

tetapi penuh warna.

Kau begitu memesona,

Tuhan menciptakanmu dengan sempurna.

Warna indahmu selalu memanjakan mata,

memancarkan aura kasih,

membuatku berteman dengan syukur,

hingga berdetak kagum penuh berkat.

 

Tetaplah menjadi pesona

untuk selalu aku tatap,

menulis cerita menetap,

hingga satu atap.

 

BULAN TINGGAL SEPOTONG

Karya: Kornelia Matilda Fatima

 

Udara dingin menusuk tubuh,

ditemani cahaya bulan dan sekumpulan bintang-bintang.

Dalam kegelisahan hati,

sulit untuk memejamkan mata,

sekalipun selimut malam kini telah dibentangkan ke muka bumi.

Suasana malam kini kian lenggang,

namun tak cukup mampu meredakan

gemuruh dalam dada.

Semua terasa kelam.

Keletihan tanpa sadar akhirnya berhasil

memaksa mata terpejam walau hanya sesaat.

 

LEONARDUS

Karya: Yohana Oktaviani Nice

 

Samar-samarmu masih terbayang

dalam ingatan kami.

Menyakitkan! Itu yang kami rasakan.

Orang-orang yang mencintaimu merasa kehilangan,

menelan air matanya sendiri

karena bumi sudah terlalu basah

untuk menelan kucuran air mata yang meluap hari itu.

 

Semesta terlalu kejam untuk kami.

Semuanya hanya sia-sia!

Untuk membayangkannya saja, masih tak sanggup.

Kini, semesta memanggilmu pulang.

Ah! Rasanya waktu terlalu singkat untuk pertemuan kita.

Entahlah, kami tak tahu apa rencana Sang Pencipta.

 

Kamu dipanggil dalam pangkuan-Nya,

menghilang begitu saja, bagaikan ditelan ombak.

Jiwamu berpulang dalam sunyi.

Tidak ada pelukan perpisahan,

tidak ada kecupan selamat tinggal.

Bahkan, tangan pun tak saling menggenggam.

Tangis kehilangan bergemuruh seperti guntur.

Pintu kematian terbuka memeluk jasad

yang tumbang tidak bernyawa oleh wabah yang melanda.

Leonardus…. Berbahagialah dalam keabadian.

 

KEMBALI

Puisi: Maria Leony Putri Monelo

 

Matahari pagi menyapa ramah

kepada insan penghuni desa.

Sayup-sayup berkumandang panggilan hidup

memikat hati para pendengar

agar dapat kembali tegar

dari semua segi kehidupan.

 

Tak pernah desaku pergi dari hati.

Riuh kendaraan tak menghalangi ingatan

pada kampung tempat aku kembali.

Nusa bunga memanggil kembali,

merayu hati melepas gundah.

 

Tak terbayang, bagaimana aku kembali

menemani ibu yang membakar ubi?

“Enu, nana, kole ga. Mai hang tete cama-cama.”

Seperti pepatah lama berkata,

“Hujan emas di negeri orang,

hujan batu di negeri sendiri.”

Tak apa merantau jauh, lepas tanah air,

asal jangan lupa kembali ke tanah sendiri.

 

IBU

Karya: Kornelia Matilda Fatima

 

Detakan jantungmu adalah detik berharga bagiku.

Wajahmu selalu ada dalam lubuk hatiku.

Suaramu yang lembut, selalu terdengar di telingaku,

menasihati aku untuk menjadi anak yang baik kelak.

 

Engkau adalah cermin hidupku

dan surga ada di telapak kakimu.

Kutatap dirimu, kulihat rambutmu yang dulu hitam gemilang,

kini mulai memutih seperti pasir di tepi pantai.

Kulitmu yang dulu kencang kini mulai keriput.

Kutatap matamu samar-samar,

ada sebuah harapan yang engkau inginkan.

Kebahagiaanku adalah mimpi terbesarmu.

Kesuksesanku adalah tonggakmu untuk berdiri kokoh.

 

Waktu terus berjalan tak usai.

Kini aku tumbuh dewasa.

Engkau menatapku dengan penuh harapan dan kebahagiaan.

“Jadilah anak yang sukses!”

Kata-kata itu dilontarkan dari mulutmu

yang selalu terngiang di telinga dan kepalaku

Kan kubawa selalu dalam hati.

Aku berjanji akan membahagiakanmu.

Aku mencintaimu, ibu.

 

ELISABETH

Karya: Maria Leony Putri Monelo

 

Di sini kutulis cerita tentangmu.

Nafas yang tak pernah terjerat dusta,

tekad yang tak koyak oleh masa,

seberapa pun sakitnya kau tetap penuh cinta.

 

Elisabeth....

Tanpa lelah kaulayani kami

dengan segenap rasa di hati.

Tak terjerat sejenak pikiran lelahmu,

kau terus berjalan di antara duri-duri.

 

Elisabeth....

Tak pernah kuharap kau cepat tua dan renta,

tak pernah kuingin kau lelah dalam usia.

Selalu kuharapkan kau terus bersamaku

dengan cinta berikan petuahmu.

 

Elisabeth....

Kaulah malaikatku,

penyembuh luka dalam kepelikan,

penghapus dahaga akan kasih sayang.

Sampai kapan pun....

Aku akan tetap mencintaimu.

 

GURU

Karya: Regina Yohana Diu

 

Engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa.

Kau didik hingga aku bisa,

memahami arti dan makna sesuatu,

memiliki harapan dan cita-cita.

 

Setiap hari di bangku sekolah,

engkau mengajariku banyak hal,

walaupun kadang aku tak mengerti,

kau tetap sabar tuk membuatku paham.

 

Guru....

Jasamu akan kukenang seusia hidupku,

meski tak ada sesuatu yang spesial untukmu.

Aku akan terus berdoa

agar engkau menua dan menyaksikan kesuksesanku.

Terima kasih, guru.

Terima kasih pahlawanku.

 


*Penerbitan karya ini merupakan hasil kerja sama antara Media Pendidikan Cakrawala (MPC) NTT dan Kantor Bahasa Provinsi NTT.

 

Redaksi MPC NTT menerima karya sastra berupa cerpen, puisi, resensi buku dan sebagainya untuk dipublikasikan di Media Daring cakrawalantt.com dan Majalah Cakrawala NTT (khusus bagi peserta didik dan mahasiswa). Bagi penulis yang karyanya lolos akan diberikan apresiasi berupa honor. Karya dapat dikirim ke email redaksimpcntt@gmail.com beserta data diri, nomor Whatsapp, dan nomor rekening.  

 


Post a Comment

0 Comments