Latest News

Wednesday, 1 January 2020

EVOLUSI SMA KRISTEN KAPAN



Kepala SMA Kristen Kapan, Yerfiana Boimau (Foto: Lenzho)
SMA Kristen Kapan bergerak dari kondisi serba berkekurangan di masa-masa awal berdirinya. Namun, tekad yang kuat, ketekunan, dan kerja sama yang solid membawa sekolah ini menjadi salah satu yang terbaik di wilayah Kapan bahkan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Di ruang kerjanya, Kepala SMA Kristen Kapan Yerfiana Boimau mengisahkan perkembangan sekolah yang dipimpinnya sejak tahun 2012 silam. Raut wajah dan sorot matanya berubah seiring kisah sekolah swasta yang sempat mengalami pasang surut tersebut. Yerfiana menggambarkan kondisi sekolah itu sejak ia pertama kali ditempatkan sebagai PNS pada tahun 2005.

“Ketika saya datang, sekolah kami ini hanya punya 2 bangunan sederhana, bangunan semi permanen. Guru yang mengasuh ada 8 orang, sementara siswanya kurang lebih 75 orang dari kelas satu sampai kelas 3. Masing-masing tingkat punya satu kelas,” tuturnya. Karena keterbatasan sarana prasarana, siswa kelas 3 yang mengikuti Ujian Nasional ‘dititipkan’ di SMA Negeri 1 Molo Selatan dan SMA Negeri Kapan.

Di tahun pertama pengabdiannya sebagai guru, Yerfiana langsung dihadapkan pada kondisi sulit. Dari sekitar 75 siswa kelas 3 yang mengikuti ujian nasional hanya dua orang yang dinyatakan lulus. Kejadian serupa berulang di dua tahun berikutnya. Maka pada tahun 2007, pihak sekolah dipanggil oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Kami diminta membuat surat pernyataan. Kalau di tahun 2008 lulusan kurang dari yang diharapkan maka sekolah kita akan ditutup,” kenang Yerfiana.

Kenyataan pahit itu berdampak pada antusiasme para calon siswa baru. Karena dari situ merebak isu bahwa SMA Kristen Kapan hendak ditutup. Para orang tua yang hendak menyekolahkan anaknya di sekolah itu menjadi was-was. Akibatnya, tidak banyak siswa yang mendaftar.

Di tengah kondisi syok, para guru sepakat untuk bekerja ekstra keras. Para siswa kelas 3 di tahun itu ditambah siswa di tahun sebelumnya didampingi secara serius untuk belajar. Dan berkat kerja keras tersebut, semua siswa kelas 3, baik yang mengulang maupun yang baru, berhasil lulus Ujian Nasional.

Angin segar itu semakin menguatkan para guru untuk tetap bekerja keras demi eksistensi SMA Kristen Kapan. Dengan berbagai usaha, akhirnya dibangun lagi dua ruangan belajar dan satu laboratorium IPA. Karena itu, sejak tahun 2010 sekolah tersebut sudah mulai menyelenggarakan Ujian Nasional sendiri. Di tahun 2008, pihak sekolah sempat mengajukan proses akreditasi sekolah tetapi ditolak. Baru pada tahun 2009, SMA Kristen menjalankan akreditasi dan memperoleh kategori akreditasi B.

Sejak tahun 2012, Yerfiana dipercaya menjadi kepala SMA Kristen Kapan. Ia mengaku cukup kaget karena belum sampai sepuluh tahun menjadi guru. Namun, pihak yayasan punya pertimbangan dan penilaian sendiri.

“Ketika diwawancara oleh Yayasan untuk menjadi kepala sekolah, saya ditanya oleh pimpinan Yayasan, apakah saya pernah berpikir bahwa suatu saat akan jadi kepala SMA Kristen Kapan. Saya jawab bahwa tidak pernah sedikitpun saya berpikir menjadi kepala sekolah. Saya hanya bekerja secara sungguh-sungguh apa yang harus dan bisa saya kerjakan,” ungkap Yerfiana.

Rupanya, pihak Yayasan melihat ada aura kepemimpinan dalam diri Yerfiana. Kerja keras, tanggung jawab, dan kebersamaannya dengan para guru menjadi alasan yang cukup bagi pihak Yayasan untuk menyerahkan amanah memimpin SMA Kristen Kapan sepeninggal Almahrum Yakobus Natuna, kepala sekolah sebelumnya.

Yerfiana menyadari bahwa kepala sekolah adalah tugas yang berat. Apalagi di tengah situasi melemahnya kepercayaan masyarakat karena angka kelulusan yang rendah beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, Yerfiana mulai menyusun strateginya. Ia mencoba melakukan pembenahan dalam pola kerja dengan menguatkan para guru agar bekerja secara baik dan bertanggung jawab.

“Saya mulai mengumpulkan para guru dan memberi arahan. Saya katakan bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) itu harga mati. Saya tidak mau main-main dalam hal mengajar. Karena itu juga yang saya lakukan sewaktu masih menjadi guru biasa. Dan untungnya saya sudah dekat dengan guru-guru sejak masih sebagai guru biasa sehingga semuanya bisa berjalan sesuai harapan,” tutur Yerfiana.

Selain dengan para guru, ia juga segera mengadakan rapat dengan para orang tua wali begitu ia mulai bertugas sebagai kepala sekolah. Ia mengingatkan para orang tua/wali bahwa pendidikan adalah investasi yang paling penting dalam hidup agar seseorang bisa maju. Karena itu, orang tua wajib mendukung anak. Anak-anak harus dinasihati agar rajin ke sekolah dan tekun belajar. Orang tua juga harus menyediakan semua kebutuhan sekolah anak.

Sejak menjabat sebagai kepala SMA Kristen Kapan, Yerfiana juga mulai secara masif melakukan pembangunan fisik. Tahun 2012, mereka mendapat bantuan lima ruang kelas baru, dua di antaranya merupakan bantuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Lalu pada tahun 2013 diperoleh bantuan satu unit perpustakaan. Tahun 2014 dan 2015 lagi-lagi diperoleh bantuan satu gedung kelas baru.

Tahun berikutnya, SMA Kristen Kapan mendapat bantuan rehabilitasi satu ruang kelas. Tahun 2018, kembali mendaptkan bantuan dua ruang kelas. Dan tahun 2019 ini, diperoleh bantuan dua paket peralatan TIK, masing-masing dari Pemerintah Provinsi dan Kementerian Pendidikan.

Apa yang dilakukan Yerfiana itu secara perlahan mengubah wajah SMA Kristen Kapan. Pembelajaran yang dijalankan secara tertib dan teratur membuat mutu sekolah semakin meningkat. Sejak menjabat sebagai kepala sekolah persentase lulusan selalu di angka 100. Bahkan, sekolah tersebut selalu berada di urutan atas dalam hal rerata nilai ujian nasional di lingkup Kabupaten TTS. Di tingkat Provinsi, SMA Kristen Kapan pernah menjadi sekolah dengan rata-rata nilai IPS terbaik, yaitu pada tahun 2018 lalu.

Hal itu kemudian berdampak pada akreditasi sekolah. Sejak tahun 2016 SMA Kristen Kapan memperoleh akreditasi A. Terkait akreditasi A ini, Yerfiana berujar, “Yang terutama saya tekankan kepada para guru adalah kita berusaha melakukan tugas kita secara baik dan semua harus tertulis. Tidak ada istilah hanya omong-omong saja. Kita semua kerja kita apa yang kita tuliskan dan kita tuliskan apa yang kita kerjakan.”

“Jadi kalau orang berpikir untuk dapat akreditasi A itu sulit, saya kira keliru. Intinya adalah kita merencanakan visi misi dan tujuan kita secara baik, menjalankan dengan penuh tanggung jawab, dan mendokumentasikannya secara baik pula. Karena itulah yang akan dinilai,” lanjutnya.

Menurut Yerfiana, semua kemajuan yang dicapai SMA Kristen Kapan adalah berkat kerja sama semua komponen, terutama para guru. Masing-masing guru adalah elemen penting dalam sebuah sistem pendidikan di sekolah yang menentukan maju mundurnya sekolah. Ia sebagai kepala sekolah berfungsi sebagai konduktor yang mengatur irama pendidikan sehingga kontribusi dari setiap guru dan tenaga kependidikan bisa menghasilkan harmoni yang indah. Harmoni itu tak lain dan tak bukan adalah kualitas pendidikan sekolah yang bisa diukur melalui hasil ujian, keterampilan, maupun sikap para peserta didik.

“Saya selalu bilang ke para guru, kita tidak bersaing dengan siapa-siapa. Kita hanya perlu berusaha memberikan yang terbaik dalam menjalankan profesi kita. Sebagai guru kita harus jadi contoh dan teladan bagi murid dan juga masyarakat. Dan jika kita bersama-sama melakukan itu, dunia akan berubah menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Segala kemajuan yang telah diperoleh SMA Kristen Kapan tidak membuat Yerfiana berpuas diri lalu berpangku tangan. Ia mengakui, tantangan untuk mempertahankan status sekolah berakreditasi A bukan pekerjaan mudah. Selain itu, ia juga ingin agar sekolah yang dipimpinannya bisa terus berkembang.

“Di tingkat Provinsi NTT, sekolah kami ada di urutan 53. Kami akan terus berusaha sehingga tahun depan bisa naik lagi. Kami akan tetap mempertahankan pola kerja kami sambil mencari inovasi-inovasi baru supaya tetap ada perubahan dan peningkatan kinerja. Kami juga akan terus mengembangkan kegiatan kesiswaan sehingga siswa benar-benar bertumbuh dalam seluruh aspek kehidupan, baik pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), maupun sikap (afeksi),” ujar Yerfiana. (red/adv)

comments

No comments:

Post a comment