Latest News

Friday, 3 November 2017

Pembelajaran yang Mengundang

Damianus D. Lelangaya, S.Pd - Guru SMAN 1 Nubatukan, Kabupaten Lembata
Mendidik merupakan sebuah proses kebudayaan yang bersifat sepanjang hayat. Mendidik tak kenal masa atau suasana, karena yang bicara adalah logika, rasa dan tauladan. Logika mengantarkan siswa mengetahui dan memahami hukum kekekalan energi atau ciri negara demokrasi bahkan teori inflasi dan deflasi. Struktur logika takkan bermakna jika tak dibingkai oleh rasa, yang mengantarkan guru dan siswa untuk menerima perbedaan, sikap toleran, jujur, transparan, empati pada yang lemah dan peka terhadap serba persoalan hidup di sekitar. Tentulah tak akan berdayaguna, jika logika dan rasa dikonstruksi dan dihadirkan tanpa model, contoh dan teladan. Inilah sejatinya pendidikan sepanjang hayat itu. Pembentukan suasana pembelajaran di sekolah adalah prasyarat wajib yang harus didesain oleh guru secara konsisten dan menyeluruh. “Menciptakan lingkungan pembelajaran yang mengundang”, demikian pedagog senior kita Conny R. Semiawan mengingatkan para guru. Konsekuensinya adalah guru wajib hukumnya menjadi kreator utama sekaligus pemain.
Suasana pembelajaran yang menarik, tak hanya menarik bagi guru yang terus asyik “berkhotbah” di depan para siswa. Suasana pembelajaran yang menarik itu tak berhenti pada ruang kelas, tetapi meresonansi ke ruang publik yang lebih luas lagi bernama lingkungan sekolah. Merencanakan dan mendisain ruang publik sekolah sehingga benar-benar terasa hidup dan menggeliat bagi warga sekolah adalah perkara yang tak mudah. Sebab mesti ada kesadaran dan kebijaksanaan dari warga sekolah tentang pentingnya partisipasi siswa secara jujur dan terbuka. Maksudnya adalah sekolah hendaknya memberi ruang terbuka bagi para siswa berekspresi, berkreasi, berinovasi dengan jujur dan tanggungjawab pastinya. Sekolah memberi ruang bagi siswa untuk berbuat. Ini poin utamanya.

Namun, yang tak diduga biasanya terjadi atas ruang partisipasi terbuka bagi para siswa tadi, di antaranya adalah bentuk ekspresi yang diungkapkan karena partisipasi siswa tak lagi berupa tuntutan kegiatan siswa yang banyak, pelibatan siswa dalam aktivitas sekolah dan lainnya. Partisipasi yang tak diduga-duga itu bisa berwujud perdebatan, penolakan bahkan protes dan kritik. Basis rasio para siswa jelas, sekolah telah memberikan ruang demokrasi yang berimplikasi terhadap terbukanya wadah partisipasi mereka.
********baca selengkapnya di Majalah Cakrawala NTT Edisi 56
atau download PDF File Cakrawala NTT Edisi 56
Klik link ini untuk download: CakrawalaNTT56
comments

No comments:

Post a Comment