Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

CATATAN PENDIDIKAN DARI WORKSHOP PENYUSUNAN KOSP DI SMPK FRATERAN NDAO

 



Oleh : Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK.,M.Pd

(Kepala SMPK Frateran Ndao, Ende)



Segala sesuatu di bawah kolong langit senantiasa berubah, kecuali perubahan itu sendiri”~ Herakleitos.

 


Pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnnya sesuai dengan alam dan zamannya” ~ Ki Hajar Dewantara.

 


Ende, CAKRAWALANTT.COM - Ungkapan Herakleitos dan Ki Hajar Dewantara di atas merupakan alasan dari pertanyaan mengapa kurikulum perlu diganti atau diubah. Pergantian kurikulum tidak harus berjalan seiring dengan pergantian Menteri Pendidikan, sebab semua perubahan di dalam dunia pendidikan harus disesuikan dengan kebutuhan peserta didik, serta bukan kepentingan tertentu. Hal tersebut tentunya membutuhkan sebuah proses evaluasi yang berkesinambungan dalam melihat kebutuhan dan prediksi-prediksi di dalam proses pendidikan.


 

Perkembangan pendidikan bergerak begitu cepat, fleksibel, dan dinamis. Semua stakeholder di setiap satuan pendidikan harus bersiap untuk menghadapi perkembangan tersebut beserta perubahannya. “Tempora mutantur et nos mutamur in illis”, waktu berubah dan kita pun turut berubah di dalamnya. Hal tersebut merupakan diktum yang benar untuk direnungkan, dan Ki Hajar Dewantara terus mengingatkan semua pihak untuk selalu melakukan pembaharuan di dalam dunia pendidikan. Untuk itu, segala kepentingan peserta didik, baik terkait kehidupan pribadi maupun sosial (masyarakat) harus didasarkan pada kodrat alam dan zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana peserta didik itu berada, sedangkan kodrat zaman merujuk pada isi dan irama.  


 

Jika dieja lebih jauh, maka Ki Hajar Dewantara juga selalu mengingatkan para guru selaku pendidik untuk menuntun peserta didik dalam mencapai kekuatan-kekuatan kodratnya. Hal itu bisa diwujudkan menggunakan azas Trikon yang terdiri dari kontinyu, konvergen, dan konsentris. Pertama, azas kontinyu. Azas ini merupakan pengembangan yang harus dilakukan secara berkesinambungan dan terus-menerus dengan perencanaan yang baik.


 

Kedua, azas konvergen. Azas ini merupakan pengembangan yang dapat dilakukan dengan mengambil dari berbagai sumber di luar, bahkan dari praktik pendidikan di luar negeri. Hal itu juga dilakukan oleh Ki Hadjar ketika mempelajari berbagai praktik pendidikan di dunia, seperti Maria Montessori, Froebel, dan Rabindranath Tagore. Praktik-praktik tesebut dapat dipelajari untuk nantinya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Saat ini, teknologi informasi telah sedemikian canggih sehingga guru atau kepala sekolah pun dapat mempelajari berbagai kemajuan pendidikan dari mana saja dan kapan saja.


 

Ketiga, azas konsentris. Azas ini adalah dasar pengembangan pendidikan yang harus tetap dilakukan berdasarkan kepribadian masing-masing. Tujuan utama pendidikan adalah menuntun tumbuh-kembang peserta didik secara maksimal sesuai dengan karakter kebudayaannya sendiri. Oleh karena itu, meskipun Ki Hadjar Dewantara menganjurkan kita untuk mempelajari kemajuan bangsa lain, tetapi semua itu ditempatkan secara konsentris dengan karakter budaya kita sebagai pusatnya.





Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP)


 

Salah satu kurikulum yang juga digunakan oleh satuan pendidikan di Indonesia adalah Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). KOSP memuat seluruh rencana dan proses belajar yang diselenggarakan di setiap satuan pendidikan sebagai pedoman dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. KOSP sangatlah penting sebagai panduan pembelajaran sehingga setiap satuan pendidikan atau stakeholder harus mampu memahaminya secara baik.


 

Berangkat dari uraian dan tujuan di atas, maka Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Frateran Ndao, Kabupaten Ende menyelenggarakan Kegiatan Workshop Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) selama 2 hari, yakni Kamis-Jumat (19-20/5/2022). Kegiatan yang berlangsung di SMPK Frateran Ndao tersebut didukung oleh PT Penerbit Erlangga Cabang Ende. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Dr. Sudayat, M.Pd selaku Narasumber; Kepala SMPK Frateran Ndao, M. Yohanes Berchmans, BHK.,M.Pd; perwakilan guru dari Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Frateran Ndao dan Sekolah Dasar Katolik (SDK) Ende 2.


 

Penyelenggaraan Kegiatan Workshop KOSP tersebut merupakan bagian penting dari terpilihnya SMPK Frateran Ndao sebagai salah satu Sekolah Penggerak. Sekolah Penggerak merupakan sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar peserta didik secara holistik, mencakup kompetensi (literasi dan numerasi), karakter, serta diawali dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul (kepala sekolah dan guru).  




 

Dalam pembelajaran paradigma baru, Pemerintah Pusat telah menetapkan kerangka dasar kurikulum sebagai acuan, yakni Tujuan Pendidikan Nasional, Profil Pelajar Pancasila, Struktur Kurikulum, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen, dan Capaian Pembelajaran. Berdasarkan kerangka tersebut, maka satuan pendidikan mempunyai kewenangan untuk merumuskan Kurikulum Operasional yang dimulai dengan merumuskan visi dan misi.  


 

Sebagai Kepala SMPK Frateran Ndao, penulis ingin menerangkan bahwa terdapat beberapa komponen di dalam KOSP, yakni 1) Karakteristik Satuan Pendidikan (keunikan sekolah dalam hal peserta didik,  sosial, budaya, guru, dan tenaga kependidikan; 2) Visi, Misi dan Tujuan; 3) Perencanaan Pembelajaran yang mencakup ATP, assesmen, modul ajar, media ajar, serta program prioritas pada satuan pendidikan; 4) Pengorganisasian Pembelajaran yang mencakup muatan kurikulum, beban belajar, program intra, program ekstra, dan projek penguatan profil Pancasila; 5) Sistim Pendampingan, Evaluasi, dan Pengembangan Profesional; serta 6) Lampiran.

 

Sementara itu, Narasumber Workshop KOSP, Dr. Sudayat yang juga merupakan Trainer Kurikulum dan Konsultan Pendidikan mengatakan bahwa KOSP adalah bagian penting (core) dari Kurikulum Merdeka yang diterapkan pada tahun ajaran baru 2022/2023. Kurikulum Merdeka sendiri merupakan penyederhanaan dan penyempurnaan dari Kurikulum 2013 (K-13) akibat adanya learning loss dan learning gap di masa pandemi Covid-19. Hal itu menyebabkan adanya perubahan pada sistem pengajaran saat pemberlakuan pembelajaran online dan penyesuaian terhadap perkembangan situasi dan kebutuhan terkini. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka dianggap lebih fleksibel dan dinamis dengan menyempurnakan dan menyesuaikan dengan pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan terkini. Kurikulum Merdeka juga terbukti efektif dalam mendongkrak capaian pembelajaran peserta didik (Paparan Kemendibudristek, 2021).

 

Lebih lanjut, Sudayat menjelaskan bahwa pengimplementasian Kurikulum Merdeka memerlukan pedoman teknis karena masih banyaknya keterbatasan yang ada. Selain itu, sambungnya, projek Profil Pelajar Pancasila juga masih terkendala dalam teknis penilaian dan penyusunan rencana projek, sehingga satuan pendidikan perlu menurunkannya dalam bentuk Lembar Kerja Projek termasuk membuat rubrik penilaian sikap.



“Berdasarkan hal tersebut, maka satuan pendidikan perlu membuat Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) sebagai pedoman teknis implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah. Dengan demikian, Workshop Pembuatan KOSP di SMPK Frateran Ndao Ende diharapkan mampu memudahkan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, serta membantu guru untuk memerdekakan dirinya dan menyiapkan guru sebagai pendidik yang kreatif, inovatif, kritis serta terampil memecahkan masalah. Oleh karena itu, mari kita songsong kehadiran Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum masa depan yang disusun sesuai dengan tuntutan kebutuhan zaman demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila,” tegas Sudayat.

 

Sementara itu, ASM PT Penerbit Erlangga Cabang Ende, Guntur Dian Harmiko, ST juga turut memberikan apresiasi bagi penyelanggaraan Kegiatan Workshop KOSP tersebut. Dirinya berharap agar para peserta yang terlibat di dalam kegiatan tersebut bisa memperoleh banyak hal untuk diterapkan di satuan pendidikannya masing-masing. (Jamil/MDj/red)


Post a Comment

0 Comments