Latest News

Wednesday, 17 June 2020

MASIH PERLUKAH ANAK NTT KE SEKOLAH?


MASIH PERLUKAH ANAK NTT KE SEKOLAH?
(Dunia Pendidikan Jelang New Normal)

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

Saya baru selesai berbicara. Pegawai perusahaan telkomsel (indihome) khususnya dari bagian marketing memberi kabar. Permintaanku untuk memasang perangkat wife di rumah dikabulkan dengan syarat. Pertama, saya harus bersabar. Di masa pandemi begini, petugas lapangan keteteran melayani banyaknya permintaaan yang sama dari masyarakat. Waktunya belum pasti. Intinya, saya diminta bersabar entah sampai kapan. Kedua, saya diminta untuk “mengerti”. Orang lapangan butuh sedikit pengertian dari kelebihan keringat yang mereka keluarkan. “Sebagai orang lapangan, saya sangat yakin Pak Gusty mengerti dengan mereka. Silahkan komunikasi dan atur sedikit uang rokok dan sirih pinang mereka. Mereka tidak tentukan angkanya. Silahkan kakak atur sesuai kemampuan”, pinta Adelia, marketing indihome itu datar.

Saya orang lapangan dan tidak mengerti dengan hal begitu. Namun untuk sebuah nilai kebutuhan (kepentingan), maka saya menyangupinya. Tanpa sadar saya bertanya lagi, kira-kira kapan tiang kabel itu diantar dan ditanam. Sekali lagi, Adelia mengulangi syarat di nomor satu itu. Memintaku bersabar. Saya segera memotong pembicaannya saat hendak mengulangi lagi syarat nomor dua. Begitulah saya di akhir-akhir ini. Selalu saja bertemu dan berinteraksi dengan orang yang tidak biasa yang kadang tidak rasional dan profesional. Tidak lama berselang saat hendak meraih handuk menuju kamar mandi, handphon-ku kembali berdering. Untuk sesaat kubiarkan saja. Bayangan wajah dan suara Adelia masih membekas. Bisa saja ia ingin menegaskan kembali syarat point nomor dua. Untuk kedua kalinya, handphon android bermerek oppo itu bordering. Pada layarnya tertulis jelas nama seseorang dari stasiun TVRI Kupang. Ia menanyakan kabarku sebelum mengutarakan maksudnya. Mungkin sekadar memastikan saya sehat dan belum terserang virus corona. Ia memintaku untuk berbicara di TVRI sebagai pemerhati pendidikan. Katanya, Kadis Pendidikan Provinsi NTT juga turut diundang. Temanya tunggal. Dunia Pendidikan Jelang “new Normal”.

Saya langsung meng-iyakanya. Hitung-hitung untuk mengubur rasa kecewa dengan dua syarat dari marketing indihome itu. Benar. Di masa pandemi covid 19 ini, kebutuhan terhadap informasi sangat terasa. Jujur, saya jenuh dan sedikit alergi dengan pemberitaan dari berbagai chanel televisi. Semuanya menyiarkan kabar yang membuat batin tersiksa. Padahala sudah lama saya menunggu ada pemberitaan atau semacam testimoni mantan pasien corona untuk berbagi kisah perjuangan hingga akhirnya dinyatakan sembuh. Yah, masyarakat butuh rasa nyaman dan optimis. Bayangkan. Pemberitaan tentang lubang kubur yang digali melebihi jumlah pasien corona yang sementara dirawat. Serem kan? Seakan ada kepastian bahwa pasien corona itu meninggal dan menunggu giliran untuk kita yang lain. Sudahlah. Lebih baik, saya membaca kisah inspiratif atau menonton film yang memberi rasa bangga dan optimism. Namun semua itu hanya bisa didapat melalui jaringan internet (wife). Saat ini, jika mau hemat gunakan indihome. Hemat, efektif dan memuaskan. Komplit. Hmmm, mengertilah kita mengapa saya harus rela meng-iyakan syarat nomor dua dari Adelia, si marketing itu.
---------------------------------------------
Tidak bermaksud membuat kalian iri, hadir dan berbicara di studio TVRI, untuk saya bukanlah hal baru. Toh, biasa saja. Duduk dengan santai, tatap host-nya dan jangan lupa mengangkat muka melihat kamera yang memang disediakan khusus untukmu. Itu saja. Berbicaralah dan jangan terkesan kaku dan tidak mengerti persoalan. Satu hal lagi. Usahakan untuk menghidari perdebatan sesama narasumber. Beda ceritanya, jika memang diundang ke studio untuk berdebat.

Ruangan studio TVRI sangat sederhana jika tidak mau dibilang memprihatinkan, Disebelahnya berdiri megah gedung berlantai tiga, tempat pimpinan dan stafnya bekerja. Gambar dan suara yang muncul di layar hanyalah permainan warna dan cahaya. Aslinya, studio itu sangatlah sederhana. Tidak ada yang mampu mengenakkan mata jika berada di dalamnya. Kita (narasumber) sedikit dihibur dengan kehadiran beberapa orang staf perempuan yang cantik, manis dan seksi. Jika kemudian mereka juga merasa dan menilai pematerinya kaku, tidak menguasai materi dan (maaf) muka buruk, saya sangat yakin mereka juga tidak ingin berlama-lama berada di studio itu. Begini dan begitulah yang terjadi.

Hmmmm, syukurlah saat ini tema yang diusung cukup segar dan aktual. Dunia pendidikan jelang “new normal”. Saya sangat antusias. Pihak dinas pendidikan dihadiri oleh seorang Adelino Soares yang hemat saya, mampu membahasakan teks pada konteks (situasi) siaran langsung begini. Beberapa lembar teks dipegang hanya sebagai rujukan untuk berbicara. Dalam hal ini, ia sungguh menguasai persoalan dan mengerti apa solusi terbaik yang ditawarkan. Semisal bagaimana langkah strategis pemerintah yang dalam hal ini dinas pendidikan Provinsi NTT di saat new normal di sekolah. Ada beberapa protokol kesehatan yang sudah dirancang pihak dinas mulai dari protokol kesehatan saat anak menuju ke sekolah, saat tiba di sekolah, saat berada di sekolah dan saat meninggalkan sekolah. Selain itu ada protokol sarana dan prasarana kesehatan yang disiapkan pihak sekolah. Pointnya, dinas pendidikan sudah sangat siap termasuk jam belajar anak dan strategi belajar yang dipakai. Akan ada pemberlakuan pembelajaran shift dan silang. Dengan demikian, sebenarnya pihak dinas pendidikan sudah, sedang dan akan meminimalisir resiko dan kecemasan (keraguan) masyarakat khususnya orangtua murid.

Saya menarik nafas lebih dalam saat hendak berbicara. Tugasku adalah menjawab pertanyaan dari host tentang pandangan atau komentar saya selaku pemerhati pendidikan terhadap situasi ini. Benarkan masyarakat dan pemerintah sudah siap menghadapi “new normal” di bidang pendidikan? Ataukah situasi dan kondisi terkini NTT belum stabil dan tidak siap menghadapinya? Jujur saya berbicara. Jika ditanya apakah siap, jawabanya tunggal. NTT belum siap tetapi harus siap. Ada kondisi riil yang terjadi di mana virus corona ini masih ada dan data menunjukan penambahan jumlah pasien cukup signifikan. Tetapi apakah situasi itu membuat kita patah arang, kehilangan kendali dan menyerah pada situasi? Tentu tidak. Kita butuh sedikit energi lebih untuk menghadapi situasi ini. Ada sikap waspada, teliti dan disiplin mengikuti protokol kesehatan tetapi tidak boleh takut atau cemas berlebihan. Yah, masyarakat di ini NTT butuh alat pelindung diri sekaligus iman yang membara dan imun yang stabil. Walau demikian, kondisi new normal ini, janganlah diberlakukan untuk anak TK dan SD juga para guru yang sakit-sakitan dan hendak pensiun. Mereka butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan diri karena keterbatan kemampuan berpikir dan stok imun yang kian menipis.

Kami tersenyum saja, saat ada yang menanyakan tentang ketidaksesuaian protokol kesehatan yang dirancang dinas pendidikan dengan situasi riil yang ada di NTT. Semisal, belajar dalam jaringan yang menuai kendala seperti kekurangan biaya membeli paket data, jaringan internet yang “lelet”, ketiadaan fasilitas hp android dan sebagainya. Tiba-tiba host memintaku menanggapinya. Begitulah kalau di depan layar. Host adalah segalanya. Narasumber “diobok-obok” dan dianggap mengetahui semua hal. Tiba-tiba saya mengingat sebuah narasi yang ditulis seorang sahabat sekaligus guru di SMAN 4 Kupang. Dia adalah Riang Seong, S,Pd, MM. Menurutnya, belajar di masa sulit ini adalah seni meramu kenyataan, narasi dan hasil yang diharapkan.

Di saat begini, penilaian untuk seorang siswa, jangan lagi berpotak pada standar baku yang disiapkan. Utamakan karakternya. Dengan demikian, kreatifitas, inovasi, daya juang, kemampuan berkomunikasi dan sebagainya dinilai dan harus diprioritaskan. Semisal seorang anak tidak ke sekolah tetapi ia menyibukkan diri untuk menyiram sayur, membersihkan kandang babi dan belajar bermain gitar. Berilah point karena ia sudah belajar bagimana nantinya ia berusaha untuk mendapatkan koin.

Masih banyak hal yang harus dibiacarakan dan begitu banyak masyarakat yang mau bertanya. Begitulah di studio televisi. Waktu sudah diatur sedemikian ketat. Ceritanya bakal beda, kalau tema ini didiskusikan di pondokku. Bakal seru dan terkupas tuntas walau memakan waktu berjam-jam. Pendidikan jelang “new normal” sungguh menelan energi. Ada resiko atau situasi lain yang dipikirkan. Namun menurut saya, jauh lebih rumit membayangkan syarat nomor dua pengusulan pemasangan tiang indihome itu. Bayangkan, kita diminta untuk mengerti dan dengan “paksa” mempercayakan angka atau nominal uang pengertian itu. Bagaimana kalau nominalnya berada di bawah standar pengertian orang lapangan pemasang tiang itu? Jika itu yang terjadi, untuk apa menyibukkan diri sekolah? Mari kita saling mengerti saja dan selesai.

Provinsi ini atau mungkin Indonesia lazim mengadapi situasi dan manusia yang pikirannya sulit diprediksi. Virus corona masih bisa dideteksi dengan rapit/swab test. Kalau virus itu meracuni pikiran? Saya pastikan, masyarakat bekerja dengan berbagai syarat bahkan ketidakpastian. Mungkin itulah alasan pentingnya pendidikan. Tidak untuk serta-merta menghilang virus pikiran yang bisa disebut bodoh (goblok), minimal menguranginya. Maka yang diharapkan untuk tetap hidup adalah mereka yang masih bisa berpikir sendiri. Jika tidak, ia pasti tetap menanti jaringan wife (indihome) agar menjawab seluruh pertanyaan sekaligus menutupi kebodohannya oleh “om geogle”. So, selamat memasuki masa “new normal” untuk para guru (dosen) dan siswa/i (mahasiswa) di ini NTT. Salam sehat untuk kita semua.

Salam Cakrawala, Salam Literasi …


comments

No comments:

Post a comment