Latest News

Saturday, 2 May 2020

TIANG BENDERA – REFLEKSI HARDIKNAS 2020

RP. Ovan, O.Carm
Kepala SMPK Alvarez Paga

Ibuku, seorang penenun. Suatu sore, senja sedang menari riang di barat. “Siapa namamu?” Tanya seorang lelaki kepada tubunya yang sedang bermain di bawah siluet senja. Aku tak ingin menjawab pertanyaanmu. Satu dari sekian banyak alasannya ialah karena kau telah mengganggu kebahagiaanku.

“Tidak-kah kau lihat, betapa tawaku bercinta dengan senja dan oleh karena tanyamu, kau mencurinya dari kegirangan yang baru saja ingin menghapus berbagai penat dari segala rasa yang jatuh – luluh – lantak – dikibar aroma keringat dan daki pada kerak-kerak bajuku,kata anak itu.

Ibuku seorang penenun. Di teras, lonceng yang saban hari bertalu semenjak ayahku mengenakan bolpoin dan buku-buku tulis yang kakekku pernah bercanda tentangnya bahwa lonceng itu telah uban persis seusia kakekmu ini, Nak. Aku mengelak, canda kakekku.

Kataku, “Tidak kek, lonceng itu baru seusiaku.” Bukankah, aku tahu lonceng itu bernama lonceng ketika seluruh tubuhku menyadari bahwa itu lonceng dan hal itu terjadi ketika aku mulai mengenakan seragam merah – putih ini.

Nak, bangun. Sudah jam enam pagi. Jangan sampai kamu telat ke sekolah,” panggil ibuku dari depan pintu kamarku yang berukuran sekitar dua kali tiga dengan lapisan-lapisan halar pada dinding yang mulai diraup rayap-rayap nakal nun centil.

Seperti biasa dengan bercerita pada rutinitasku, aku membasuh seperlunya tubuhku, mengenakan pakaian kebanggaanku, mengambil satu dua buku yang tak tahu berisi catatan-catatan ngawur, kupoles sedikit tubuhku biar terlihat lebih keren dan gaul. Mengucapkan selamat pagi pada ibu sambil berjabatan tangan memberi salam, sebelum berangkat ke sekolah. “Bu, saya berangkat ke sekolah dulu,ucapnya dengan lembut.

Hari ini, hari Senin. Merah - putih membungkus tubuhku. Dipadukan dengan warna hitam pada alas kakiku dengan putih yang membungkus hangat jemari-jemari kakiku hingga tumit pun jadi riang diselimuti kaus kaki. Pak Thomas, seorang pegawai sekolah kami. Terlihat sedang mengamati satu per satu jarum jam di tangannya. Menghitung maju dengan besi yang berukuran 5 cm di genggam tangannya. Lima, empat, tiga, dua dan teng…teng…teng…teng… jawaban manis yang bertalu itu berhamburan memadati halaman sekolah yang luas bak lapangan sepak bola di ibu kota kecamatan kami, hehehehe…..

Ibuku seorang penenun. Pada teriknya senduh, di bawah tiang tinggi, ratusan anak mengamati mimpinya yang diterjang angin mengibar bendera merah putih dengan sigap memberi hormat, dengan siap tunduk mengheningkan cipta. Ibuku sedang menggantungkan benangnya pada jarum-jarum kecil, berhenti menyulam satu per satu helai baju yang ingin dan akan ditambal sambil memberi hormat yang sama dari depan teras rumah kami.

Ibuku seorang penenun. Tat kala, dua kali kaki dari ratusan tubuh yang berjingkrak naik – turun tangan sambil yang lain berdiam menatap sejarah yang berkibar, yang lainnya berlari tanpa beban. Dan aku, dari ruangan kelasku menatap tiang bendera itu tajam, berkhayal dalam cerita-cerita sejarah yang bersinar di dada, membusungkan dada menggantungkan harapan dengan harapan cita-cita itu terpenuhi dalam tekun.

****

Ibuku seorang penenun. Baru saja, ingin mengatakan siapa hari Senin nanti yang menjadi pengibar bendera. Ruangan kelas jadi kacau – gadu – ribut – suara teriak antara senang – sedih – haru – polos – dan tidak tahu apa-apa membiarkan ribuan euforia terbentang dalam pameran senyum-senyum gigi yang lupa disikat.

Ibu Marry, kepala sekolah Kami, mengumumkan dengan resmi perihal liburan tanpa tanggal merah pun tanpa batasan hingga waktu yang belum ditentukan. Meskipun demikian, kegiatan belajar mengajar tetap terjadi melalui online maupun dengan berbagai cara seturut guru pelajaran masing-masing. Berbagai mulut berkata dengan satu pertanyaan polos “Bu, mengapa kami diliburkan?”

Penjelasan panjang lebar keluar begitu saja dengan cepat, lantang, padat dan jelas dari mulut berlipstik merah pada bibir si Ibu Merry. Dan dari sekian banyak ucapannya itu dan atas keheninggan tanpa isyarat yang teringat dalam otakku hanyalah satu kata Covid-19.

Beberapa waktu lalu, ibuku pernah bilang, “Nak, hati-hati saat bermain di luar rumah pun di sekolah usahakan untuk tetap jaga jarak dan usahakn untuk selalu mencuci tangan. Ibu hanya ingin kita berjaga-jaga dari wabah Covid-19.” Dan untuk kesekian kalinya lagi kudengar kata itu berkeliaran di telingaku.

Ibuku seorang penenun. “Bagaimana belajarmu hari ini, Nak,” tanya ibu.
Ah ibu, aku pusing dengan kegiatan belajar seperti ini. Tugas banyak dan banyak pula bahan yang perlu dipelajari tanpa penjelasan,” jawabku dengan nada sedikit manja.”

Ibuku dahulu hanya tamatan SMA. Meskipun demikian, bagiku ia termasuk orang yang cerdas dan pandai. Dan dalam berbagai kebingunganku, ibuku selalu menemaniku dalam menyelesaikan tugas melalui proses layaknya seorang guru bergelar sarjana pendidikan. Kadang, ibuku selalu menasehati diriku untuk tidak kelewatan waktu bermain, dan pada masa-masa seperti ini, ibuku lebih begitu, sering memberi arahan dan menemaniku dalam setiap tugas dan permainan. Kehadiran ibu dari waktu ke waktu begitu syarat kerinduan yang tak sempat dipikirkan. Bahkan ibu sering mengatakan, “Nak, ternyata kau sudah dewasa dan pintar. Ibu baru sadar betapa dewasanya kamu saat ini. Waktu itu aku baru duduk di bangku kelas V SD.

Kehadiran ibu dalam segala kesulitan memberi ruang proses perkembangan pun ketekunan dan semangat atas niat ingin tahu semakin terasah. Asa demi asa mulai muncul satu per satu. Beriringan tugas demi tugas satu per satu mulai terselesaikan.

Ibuku seorang penenun. Kau tahu mengapa ibu seorang penenun? Sederhana saja, karena ibuku adalah guru yang meramuh waktu, memintal kata dan menenun mimpi agar sedapat mungkin membingkis puisi dalam doa indah. Kau tahu mengapa aku tak menjawab pertanyaanmu “siapa namamu?”. Namaku adalah tiang bendera yang kau tatap setiap pagi dari rumahmu.

Ibuku seorang penenun. Hari ini hari Senin dan kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Lonceng Pak Thomas, mati dalam bendanya yang pasrah. Ia berdering, diam – sunyi – hampa dan terdengar bekas-bekas pagi dalam desiran air embun yang jatuh di atas atap rumah.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Covid-19 sebuah doa agar lekas hengkang dan pergi dengan damai. Bukankah, kau rindu pada lonceng Pak Thomas pun pada halaman tempat kita sigap memberi hormat. Ibuku seorang penenun dan kau tiang bendera itu.



comments

No comments:

Post a comment