Latest News

Thursday, 2 June 2016

AKU HARUS MEMILIH

Agustin Palmarista Bela
Siswi SMAK Baleriwu Danga, Mbay

Ilustrasi
Rino. Inilah sapaan manis buatku, di kalangan teman-teman frater. Aku adalah salah satu  mahasiswa di fakultas filsafat yang mengusung cita-cita ingin bekerja diladang Tuhan. Kekhasan kami jika kami berpergian selalu diiringi sapaan yang tak kunjung henti. Namun, dilorong kumuh tak bertuan ini ada yang beda. Tampak sosok wajah ayu, indah, dan menawan yang sesaat membuatku terperangah. Detik ini aku pun terhipnotis hingga tak sadar kakiku terbentur pada tapak keras lorong. Rasa sakit dan malu menjeratku. Tak ada kata lagi yang dapat terucap, hanya senyuman yang menjadi ekspresi tunggal saat itu. Di saat aku terdiam seketika itu juga tangan lembutnya menghampiri. Inginku menolak tapi keinginan itu pupus tanpa alasan. Perlahan kuraih tangannya. Tangannya kuat menggegamku agar aku bisa berdiri. Rupanya aku terlalu berat sehingga ia pun tak mampu mengangkatku. Ia pun akhirnya kehilangan keseimbangan akibat high sepatu miliknya patah. Rapuhnya tumpuannya membuat tubuhnya jatuh tepat dipelukanku. Tak hanya itu, bibir manis miliknya pun mendarat dengan sempurna di pipi kiriku. Rasa malu pun menyelimuti tragedi romantis saat itu.
“Tidak apa-apa kan?,” tanyaku berusaha mencairkan suasana. “Iya, tak apa-apa,” jawabnya lembut.
Inilah prolog cintaku. Di sini percikan cinta tertambat direlung hatiku. Cinta yang tumbuh lewat tatapan, senyum dan satu kecupan hangat tanpa alasan.
“Eh……, terimakasih sudah membantuku. Kenalkan, namaku Rino,” kataku dengan penuh percaya diri.
“Oh iya, namaku Fanny,” katanya sambil sambil mengulas senyum manisnya.
Pertemuan yang tak terduga. Bagiku ini adalah awal dari cinta. Sebuah awal yang indah untuk kisah kami selanjutnya.

****

Hari pun terus berlalu tak sedikit pun memudarkan kisah kami.
“Frater Rino!,” Suara yang tak asing lagi itu terdengar dari pojok ruangan kampus sembari melambai-lambaikan tangannya. Ternyata Fanny. Ia pun mendekatiku.
“Frater sebentar ada kegiatan tidak?,” tanyanya penuh harap.
“Tak ada, memangnya kenapa Fan?,” tanyaku balik.
“Aku ingin ajak Frater ke pantai.”
Tawaran ini langsung kusambar dengan anggukan penuh semangat. Tak berpikir panjang lagi kami pun bergegas. Tepat jam dua siang kami tiba di pantai. Dengan hati girang, aku membawa Fanny ke tempat yang indah, yang mungkin belum pernah dilihatnya. Ternyata benar keindahan alam yang kutunjukkan kepadanya membuatnya terkesimah. Sesekali Fanny berdiri, ia mengambil kameranya dan mulai memotret. Aku pun tak luput dari bidikan lensa kamera kesayangannya. Saat memotret mata kami saling beradu pandang. Cintanya pun makin larut dalam perhatianku. Getaran cinta yang mendominasi ini menuntunku untuk terus menatapnya semakin dalam. Rasa untuk memilikinya semakin kuat dan memaksaku untuk mengatakan yang sejujurnya.
“I Love you, Fanny.” Kalimat spesial ini pun terucap. Mendengar kata-kataku ini Fanny pun jadi tersipu malu. Namun mataku terus memaksanya agar bisa membalas. Fanny hanya terdiam. Perasaanku pun akhirnya jadi tak karuan dan serba salah.
“Aku juga mencintaimu.” Kalimat ini langsung membuyarkan perasaanku.
“Hore, akhirnya harapanku terjawab,” gumanku dalam hati. Tak berselang lama kuhampirinya dan kudekapkan dia dalam pelukanku. Kami pun terbuai dalam dekapan mesra. Inilah awal dari pertualangan cinta kami.

*****

Waktu kian menua, terus merangkak menggapai bulan. Tak terasa lima tahun sudah hubunganku dengan Fanny terjalin. Saat ini pikiranku melayang. Aku dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang kian menjajah pikiran ini, “manakah yang harus kupilih?” Panggilanku atau Fanny?.” Pertanyaan ini kian bergema dan menyiksaku. Aku pun makin rapuh dan tak berdaya memikirkan pergolakan rasa ini.
“Tuhan, aku bosan menunggu. Saat ini aku harus memilih. Aku tak bisa mundur maupun menjauh. Pilihan ini, harus secepatnya aku putuskan,” keluhku. Waktu pun terus berganti. Malam terus menjemput kesendirianku sembari merenung jawaban yang pasti. Semua ini adalah jalanTuhan, apapun resikonya. Ini merupakan tantangan yang harus aku hadapi.
Keesokan harinya aku melangkah menuju rumah Fanny dengan hati gundah gulana. Aku siap menerima apa yang ia katakan padaku. Entah itu amarah, cacian, ataupun tangisan. Dalam relung hatiku terbingkai satu kata “maafkan aku.” Lagi-lagi air mataku menetes. Aku dilema. Bagiku ini adalah salah satu hal yang tersulit yang aku alami. Sesampainya di rumahnya, Fanny langsung menatapku heran. Mungkin karena ia melihat raut mukaku yang tampak galau. Kuraih tangannya, kupeluknya dalam dekapan yang mendalam.
“Fan maafkan aku. Sepertinya kisah kita harus berakhir di sini. Aku mau fokus dengan panggilanku. Kuharap engkau dapat memahaminya,” tuturku pedih.
 Kulihat matanya berbinar seolah menahan peri yang amat menyayat hatinya. Tanpa kata ia meninggalkanku dan menuju kamarnya. Duniaku saat itu serasa hampa. Aku berusaha menguasai perasaanku sambil menunggu jawaban Fanny. Tak lama kemudian Fanny keluar dan menghampiriku. Mata kami pun saling beradu pandang. Tatapannya terlihat begitu tajam menelusuri setiap lekukan wajahku. Aku tak berdaya.
“Aku selama ini selalu berdoa agar kita bisa bersama di masa depan. Namun, jika itu tidak terjadi aku hanya bisa berharap dapat memilikimu lagi di kehidupan kita yang akan datang,” kata-kata ini tiba-tiba terucap dari mulutnya. Aku pun tersentak dengan kebesaran jiwa Fanny. Dalam hati ku berguman Tuhan punya rencana yang terbaik bagi setiap orang yang berani menata masa depan dengan segala konsekuensinya. (*)

(Sumber: Majalah Pendidikan Cakrawala NTT Edisi 48)
comments

No comments:

Post a Comment