Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Theresia Danga Gelar Workshop Literasi, Kadis Pendidikan NTT Tekankan Literasi Berbasis Karya

Suasana workshop literasi yang diselenggarakan oleh SMK Gonzaga Mbay dan SMAS St. Theresia Danga.


Nagekeo, CAKRAWALANTT.COM - Dalam mendukung upaya peningkatan literasi, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Gonzaga Mbay dan Sekolah Menengah Atas Swasta (SMAS) St. Theresia Danga, Kabupaten Nagekeo, menggelar workshop literasi bagi guru dan murid selama tiga hari, yakni Rabu-Jumat (29-31/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di SMK Gonzaga Mbay ini didukung oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT serta diapresiasi oleh Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M..

 

Melalui sambungan daring, Ambrosius menyampaikan apresiasi kepada dua sekolah tersebut yang berani mengambil langkah positif dalam mendukung upaya peningkatan literasi. Literasi dasar, seperti menulis, menurutnya, dapat merangsang kemampuan berpikir kritis dan kreatif di kalangan guru dan murid. Hal ini, sambung Ambrosius, senada dengan Program Genta Belis (Gerakan NTT Membaca-NTT Menulis) yang digaungkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

 

Guna menjadikan literasi sebagai budaya di lingkungan pendidikan, Ambrosius menekankan pentingnya pembiasaan literasi berbasis karya. Pembiasaan ini, ungkapnya, harus didasari oleh hasil asesmen minat dan bakat setiap orang. Dengan memulai kegiatan menulis dari apa yang disukai atau diminati, guru dan murid dapat menghasilkan karya tulis yang beragam.

 

“Semoga langkah positif ini dapat berkembang menjadi budaya yang lestari di lingkungan sekolah. Kami senantiasa mendukung setiap terobosan dan inovasi dari sekolah,” ujar Ambrosius.



Memulai dengan Asesmen sebagai Dasar Pengembangan Potensi

 

Kegiatan workshop literasi tersebut menghadirkan dua narasumber dari Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, yakni Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., dan Mustakim, S.Pd., M.M.. Keduanya memulai seluruh rangkaian kegiatan dengan asesmen dan pre-test awal. Para guru dan murid dipetakan berdasarkan minat dan bakatnya di bidang menulis. Selain itu, ada juga pemantik awal guna mengobservasi dan menganalisis kemampuan menulis di kalangan guru dan murid.

 

Salah satu narasumber, Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., mengatakan bahwa asesmen dan pre-test awal sangat penting bagi keberlanjutan kegiatan hingga mencapai luaran berupa karya dan outcome berupa budaya literasi di lingkungan sekolah. Hal ini, terangnya, merupakan salah satu ciri khas Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT.

 

“Kita mulai menulis dari apa yang disukai dulu. Makanya, kita harus mencari tahu dan memetakan minat dan bakat setiap peserta. Dengan begitu, pembiasaan literasi berbasis karya bisa dilakukan tanpa paksaan, tetapi dengan keinginan untuk menulis,” ungkap Gusty yang merupakan Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT.

 

Gusty menyampaikan apresiasi bagi kedua sekolah yang telah membuka ruang kolaborasi bersama Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT. Baginya, senada dengan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, peningkatan literasi tidak sekadar memberikan ruang bagi pengembangan minat dan bakat, tetapi menyiapkan sumber daya manusia yang kritis dan kreatif di kemudian hari.  



Menghidupkan Budaya Literasi

 

Selaras dengan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Kepala SMK Gonzaga Mbay, Bruder Drs. Viktor London, CSA., mengatakan bahwa workshop yang didukung oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT tersebut merupakan sebuah terobosan baru. Para guru dan murid, sambungnya, diberikan ruang dan kesempatan untuk mengembangkan diri di bidang menulis sesuai minat dan bakat masing-masing.

 

“Mereka bebas berkreasi sesuai minat dan bakat masing-masing. Hal ini sangat menarik untuk diikuti,” ujar Bruder Viktor.

 

Sementara itu, Kepala SMAS St. Theresia Danga, Suster M. Hildegardis, KFS., menilai kegiatan tersebut bisa menjadi landasan kokoh bagi pengembangan ekosistem sekolah yang berkarya. Ekosistem ini, menurutnya, bisa berkembang dengan dukungan budaya literasi yang baik, terutama literasi berbasis karya.

 

“Tentu, yang diharapkan adalah keberlanjutan dari kegiatan ini. Kita akan terus menghidupkan semangat literasi berbasis karya dengan memfasilitasi wadah publikasi, seperti penerbitan karya melalui majalah dinding, buletin sekolah, maupun buku antologi karya guru dan murid,” tegas Suster Hildegardis.

 

Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, diharapkan lahir generasi yang tidak sekadar membaca dan menulis, tetapi juga menghasilkan karya tulis yang berkualitas secara produktif. Dengan begitu, budaya literasi bisa tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan di lingkungan sekolah. (MDj/red)  


Post a Comment

0 Comments