![]() |
| Para mahasiswa dan Pemuda GMIT Ebenhaezer Naimuti berpose bersama usai kegiatan di Kantor Desa Nekmese. |
Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Program Kuliah
Kerja Nyata (KKN) Desa Binaan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang
menggelar sosialisasi pengolahan tempurung kelapa menjadi briket arang, Senin
(27/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Nekmese, Kecamatan
Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah potensi lokal
melalui pemanfaatan limbah tempurung kelapa menjadi produk bernilai ekonomi
tinggi.
Pada kesempatan tersebut, kelompok mahasiswa yang
berasal dari lintas program studi tersebut membekali kelompok pemuda dari GMIT
Ebenhaezer Naimuti dengan keterampilan mengolah tempurung kelapa menjadi briket
arang sekaligus memperkenalkan strategi branding
dan pemasaran guna meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.
Ketua Kelompok 2 KKN Desa Binaan Unwira, Ando Mau,
mengungkapkan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut lahir dari keprihatinan
ketika melihat potensi tempurung kelapa di Desa Nekmese masih belum dimanfaatkan
secara optimal. Selama ini, sambung Ando, tempurung kelapa hanya ditimbang dan
dijual begitu saja kepada pengepul. Padahal, bahan tersebut, menurutnya,
memiliki potensi ekonomi yang tinggi bila diolah menjadi briket arang.
“Sebagai mahasiswa, kami memiliki tanggung jawab untuk
berbagi ilmu yang kami peroleh kepada masyarakat agar potensi lokal dapat diolah
menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi,” tutur mahasiswa program studi
teknik sipil tersebut.
Ando menjelaskan, setiap peserta yang berpartisipasi
dalam sosialisasi tersebut didampingi oleh para mahasiswa hingga mampu
menghasilkan produk briket arang yang siap digunakan maupun dipasarkan. Seluruh
alat dan bahan yang dibutuhkan, tambah Ando, telah disiapkan oleh mahasiswa
sehingga para peserta dapat mengikuti tahapan pembuatan briket arang dengan
baik.
Membangun Identitas Produk
Tidak hanya memberikan pelatihan terkait proses
produksi, para peserta juga didampingi untuk membangun identitas produk. Salah
satu mahasiswa, Stela Febrianti Katu, turut memperkenalkan pentingnya branding melalui pembuatan logo, desain
kemasan, pamflet promosi, serta edukasi mengenai strategi pemasaran produk.
Menurut Stela, kualitas produk harus didukung oleh identitas yang kuat agar
mampu bersaing di pasaran.
“Logo, kemasan, dan media promosi yang baik akan
memberikan nilai tambah pada sebuah produk. Dengan identitas produk yang
menarik, masyarakat dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus
menentukan harga jual yang tinggi dibandingkan bila hanya menjual tempurung
kelapa sebagai bahan mentah,” jelas mahasiswa program studi manajemen tersebut.
Stela menambahkan, pemasaran yang tepat menjadi salah
satu faktor penting dalam keberhasilan sebuah produk. Untuk itu, masyarakat
didorong untuk mulai memanfaatkan media digital sebagai sarana memperluas
jangkauan briket arang.
Menjadi Pengetahuan dan Pengalaman Baru
Antusiasme peserta selama kegiatan sosialisasi
berlangsung sangat tinggi. Para peserta aktif berdiskusi dan mengajukan beragam
pertanyaan terkait proses produksi dan peluang pemasaran briket arang. Bagi
mereka, briket arang bisa menjadi salah satu usaha yang dapat dikembangkan di
Desa Nekmese.
Feda selaku Ketua Pemuda GMIT Ebenhaezer Naimuti
mengapresiasi giat yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa tersebut. Melalui kegiatan
positif ini, ungkap Feda, banyak orang muda yang memperoleh pengetahuan dan
pengalaman baru.
“Terima kasih untuk kegiatan positif ini. Jujur, ini
merupakan pengetahuan dan pengalaman baru bagi kami. Hal ini tentu berguna
untuk memaksimalkan potensi yang ada di desa ini agar bisa menghasilkan manfaat
ekonomi,” ungkapnya.
Feda berharap agar program yang telah dimulai oleh
para mahasiswa tersebut bisa terus berlanjut dan berkembang menjadi peluang
usaha yang dikelola oleh kalangan pemuda di lingkup Desa Nekmese.
Untuk diketahui, kegiatan sosialisasi ini merupakan
bagian dari program kerja Kelompok 2 KKN Desa Binaan Unwira. Sesuai
kesepakatan, kegiatan ini akan terus berlanjut hingga tahap implementasi, di
mana seluruh peserta akan mempraktikkan tahapan-tahapan pembuatan briket hingga
menghasilkan produk siap digunakan maupun dipasarkan. Selain mengoptimalkan
potensi lokal, kegiatan ini juga berdampak bagi pengurangan limbah tempurung
kelapa dan terwujudnya produk ekonomi yang ramah lingkungan. (Stela Febrianti Katu/MDj/red)







0 Comments