Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Deep Learning: Inovasi Pendidikan atau Sekadar Daur Ulang Istilah Lama? - (Mendukung Pendidikan Unggul dan berkualitas dari Asta Protas Kemenag RI)

 


Oleh: Dr. Hendrik A. E. Lao, M.Pd.

(Dosen IAKN Kupang)



Pendahuluan

 

CAKRAWALANTT.COM - Istilah deep learning (pembelajaran mendalam) dan surface learning (pembelajaran permukaan) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976 oleh dua peneliti dari Universitas Gothenburg, Swedia, yaitu Ference Marton dan Roger Saljo. Melalui studi pionir mereka, kedua pakar ini mengidentifikasi adanya perbedaan mendasar pada cara individu menyerap dan mengelola informasi yang mereka terima.

 

Dalam penelitian tersebut, Marton dan Saljo secara khusus mengamati bagaimana siswa memproses isi dari sebuah teks bacaan. Fokus utama mereka adalah membedakan antara siswa yang hanya sekadar menghafal fakta di permukaan dengan siswa yang berusaha menggali makna mendalam serta esensi dari materi yang sedang dipelajari. Oleh sebab itu, pembelajaran mendalam mampu membangun suasana kelas yang inklusif dengan memberikan ruang bagi setiap siswa untuk bersuara dan menyampaikan perspektifnya dalam proses diskusi.

 

Melalui pendekatan inkuiri ini, interaksi di kelas menjadi lebih hidup dan demokratis, sehingga setiap individu merasa dihargai dan terlibat aktif dalam membangun pemahaman bersama. Praktik tersebut secara langsung mewujudkan ekosistem pendidikan berkualitas yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini selaras dengan visi pendidikan ramah anak dari Kementerian Agama (Kemenag) yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang suportif, memanusiakan manusia, dan menghargai keberagaman identitas setiap peserta didik.

 

Isi

 

Pembahasan mengenai pembelajaran mendalam memiliki dua sisi kontroversi yang berbeda, tergantung apakah kita melihatnya dari sudut pandang kebijakan pendidikan terbaru atau dari sudut pandang teknologi. Di Indonesia, penerapan deep learning sebagai kelanjutan atau penyempurnaan kurikulum sering memicu perdebatan.

 

Pertama, ganti menteri, ganti istilah. Fenomena pergantian kebijakan seiring pergantian pejabat sering kali dipandang oleh para pendidik sebagai sekadar pelabelan ulang kurikulum lama, seperti CBSA atau Kurikulum Merdeka. Kebijakan ini dikritik karena cenderung memperberat beban administratif guru tanpa memberikan esensi perubahan yang signifikan.

 

Kedua, kesiapan SDM vs. konsep ideal. Implementasi deep learning menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan gagasan ideal dengan realitas kompetensi pendidik. Mengingat metode ini menuntut kemahiran fasilitasi yang tinggi, muncul skeptisisme mengenai pemerataan penerapannya di wilayah tertinggal yang memiliki disparitas kualitas guru cukup tajam.

 

Ketiga, pengurangan materi (mindful vs. target). Kebijakan pengurangan volume materi demi mencapai esensi deep learning memicu perdebatan terkait standar kompetensi. Terdapat kekhawatiran bahwa fokus pada kedalaman materi akan mengorbankan luasnya wawasan siswa, sehingga mereka berisiko kalah bersaing dengan standar literasi global.

 

Keempat, kesenjangan digital. Implementasi deep learning, baik sebagai metodologi pedagogis maupun infrastruktur AI, memerlukan investasi modal yang signifikan. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperparah stratifikasi pendidikan, di mana institusi elit mampu mengadopsi teknologi tersebut sementara sekolah di wilayah marginal semakin teralienasi dari kemajuan digital.

 

Namun, ada beberapa hal yang menjadi masalah utama, yakni rendahnya kesadaran belajar di kalangan siswa, maraknya ketimpangan akses terhadap fasilitas digital, luasnya gap literasi digital di kalangan guru dan siswa, gangguan gawai di kalangan siswa, serta banyaknya lembaga pendidikan yang masih kaku terhadap perubahan sehingga sulit menyesuaikan diri dengan metode pengajaran modern.

 

Dari kacamata akademisi, fenomena deep learning merupakan perubahan paradigma yang sangat penting tetapi penuh tantangan di tengah derasnya arus digitalisasi. Upaya mengalihkan fokus dari sekadar hafalan (surface learning) menuju pemahaman mendalam adalah langkah mendesak untuk memperbaiki sistem pendidikan tradisional yang mulai usang. 


Saat informasi dapat diakses seketika, institusi pendidikan tidak boleh lagi hanya menjadi penyalur data, melainkan harus bertransformasi menjadi fasilitator yang mengasah kemampuan siswa dalam berpikir kritis, menghubungkan konsep-konsep kompleks, serta memecahkan persoalan nyata secara solutif.

 

Namun, penerapan metode ini terganjal oleh “budaya instan” yang dipicu oleh teknologi. Kehadiran AI generatif ibarat pedang bermata dua; ia mampu mempermudah pemahaman visual, tetapi pada saat yang sama berisiko memanjakan siswa untuk mengambil jalan pintas intelektual. 


Tantangan akademis bagi kita adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat daya analisis, bukan justru melemahkan kemampuan reflektif. Tanpa kesadaran belajar yang utuh (mindful learning), kecanggihan digital hanya akan menciptakan jarak antara kemahiran menggunakan alat dan pemahaman substansi ilmu itu sendiri.

 

Dalam ranah riset teknologi, perkembangan deep learning pada kecerdasan buatan memang sangat efisien, tetapi masih terbentur masalah akuntabilitas. Sifat algoritma modern yang seperti “kotak hitam” (black box) membuatnya sulit dijelaskan secara logika, yang kemudian memicu kekhawatiran etis terkait bias data dan perlindungan privasi. 


Oleh sebab itu, fokus penelitian saat ini tidak boleh berhenti pada akurasi teknis semata. Kita perlu mengarahkan pengembangan teknologi menuju sistem yang lebih transparan dan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan agar kemajuannya tidak merusak tatanan sosial yang ada.

 

Penutup

 

Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran mendalam di era digital sangat bergantung pada keselarasan antara kurikulum yang adaptif dengan literasi teknologi yang kuat. Kita membutuhkan ekosistem pendidikan yang menyeimbangkan kecakapan teknis dengan ketahanan mental serta etika yang kokoh. 


Di sinilah peran penting akademisi untuk memastikan bahwa transformasi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi mandiri yang mampu bernalar secara jernih di tengah membanjirnya informasi tanpa batas. (red)


Post a Comment

0 Comments