Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Mengubah Paradigma “Mante”: Berhenti Mewariskan Luka Pendidikan - Bagian Pertama


Oleh: Frumensius Tarman, S.Pd.

(Kepala SMA Negeri 3 Komodo)



Bom Waktu di Balik “Kemurahan Hati”

 

​Bayangkan seorang nahkoda yang membiarkan kapal bocor tetap berlayar ke samudera luas hanya karena merasa kasihan melihat penumpang menunggu di dermaga. Sang nahkoda berkata, “Mante (mungkin), lubang itu akan tertutup sendiri oleh air laut nanti.” Alih-alih menolong, sang nahkoda sebenarnya sedang mengantar para penumpang menuju karam yang lebih menyakitkan.

 

Inilah potret buram pendidikan kita hari ini. Di bangku SMA, kita masih menemukan murid yang tergagap mengeja kata dan kelu menghitung angka. Literasi dan numerasi dasar yang seharusnya menjadi fondasi kokoh di tingkat SD, justru menjadi “hantu” yang membayangi remaja kita. Mengapa? Karena kita terlalu sering memelihara filosofi Mante.

 

Anatomi “Mante”: Sebuah Jebakan Rasa Kasihan

 

​Dalam kearifan lokal (Kempo), kita mengenal istilah mante. Sebuah ungkapan yang secara harfiah berarti “mungkin” atau “masa tidak”. Dalam konteks pendidikan, mante telah bergeser menjadi sebuah pemakluman yang berbahaya.

 

Mante adalah suara bisikan di ruang rapat kenaikan kelas, “Ah, naikkan saja, mungkin nanti di kelas berikutnya dia berubah.” Atau, “Mante, di SMP nanti dia pasti bisa baca.”

 

​Namun, kenyataannya, mante bukanlah sebuah harapan. Ia adalah bentuk pengabaian yang dibungkus dengan rasa kasihan. Ketika seorang guru meluluskan murid yang belum berkompeten, ia tidak sedang memberi kesempatan, melainkan sedang memindahkan beban dan kegagalan kepada guru di tingkat berikutnya, dan yang paling fatal, kepada masa depan anak itu sendiri.

 

Estafet Kegagalan: Dari SD hingga SMA

 

​Praktik paradigma mante menciptakan sebuah rantai estafet kegagalan yang sistematis. Pertama, di tingkat SD, murid diluluskan dengan kemampuan baca-tulis yang rapuh. Guru merasa kasihan bila anak tidak lulus. Kedua, di tingkat SMP, guru merasa, bukan tugasnya untuk mengajar baca-tulis, sehingga kembali menerapkan prinsip mante agar anak bisa lanjut ke SMA. Ketiga, di tingkat SMA, kita mendapati kenyataan pahit. Hasil TKA (Tes Kompetensi Akademik) NTT yang kerap berada di urutan terbawah adalah cermin retak dari akumulasi paradigma mante selama bertahun-tahun.

 

Kita tidak sedang mendidik manusia. Kita sedang melakukan cuci tangan massal. Karakter murid pun ikut tergerus karena mereka belajar bahwa hasil bisa didapat tanpa perjuangan dan ketuntasan hanyalah angka di atas kertas yang bisa dimanipulasi oleh rasa iba.

 

Refleksi: Mendidik dengan Kejujuran

 

​Pendidik yang hebat bukanlah mereka yang selalu berkata, “Iya.” Melainkan mereka yang berani berkata, “Belum!” demi kebaikan murid. Menaikkan kelas murid yang belum siap secara fundamental adalah tindakan membiarkan mereka menjadi buta di tengah keramaian.

 

Mari kita ubah paradigma ini. Pendidikan bukan sekadar formalitas perpindahan jenjang, tapi soal memastikan setiap anak memiliki bekal untuk bertahan hidup. Berhenti berkata, “Mante, nanti di kelas atas dia berubah.” Perubahan itu harus dimulai sekarang, di kelas kita, dengan kejujuran dalam penilaian.

 

Jangan biarkan anak-anak kita menjadi lulusan formalitas yang kosong isi kepalanya. Mari kita didik dengan serius karena cinta yang sesungguhnya tidak akan membiarkan seseorang melangkah ke jurang hanya karena kita sungkan untuk menghentikannya. (MDj/red)

 


Post a Comment

0 Comments