Oleh: Frumensius
Tarman, S.Pd.
(Kepala
SMA Negeri 3 Komodo)
Bom Waktu
di Balik “Kemurahan Hati”
Bayangkan
seorang nahkoda yang membiarkan kapal bocor tetap berlayar ke samudera luas
hanya karena merasa kasihan melihat penumpang menunggu di dermaga. Sang nahkoda
berkata, “Mante (mungkin), lubang itu
akan tertutup sendiri oleh air laut nanti.” Alih-alih menolong, sang nahkoda
sebenarnya sedang mengantar para penumpang menuju karam yang lebih menyakitkan.
Inilah
potret buram pendidikan kita hari ini. Di bangku SMA, kita masih menemukan murid
yang tergagap mengeja kata dan kelu menghitung angka. Literasi dan numerasi
dasar yang seharusnya menjadi fondasi kokoh di tingkat SD, justru menjadi “hantu”
yang membayangi remaja kita. Mengapa? Karena kita terlalu sering memelihara
filosofi Mante.
Anatomi
“Mante”: Sebuah Jebakan Rasa Kasihan
Dalam
kearifan lokal (Kempo), kita mengenal
istilah mante. Sebuah ungkapan yang
secara harfiah berarti “mungkin” atau “masa tidak”. Dalam konteks pendidikan, mante telah bergeser menjadi sebuah
pemakluman yang berbahaya.
Mante
adalah suara bisikan di ruang rapat kenaikan kelas, “Ah, naikkan saja, mungkin
nanti di kelas berikutnya dia berubah.” Atau, “Mante, di SMP nanti dia pasti bisa baca.”
Namun,
kenyataannya, mante bukanlah sebuah
harapan. Ia adalah bentuk pengabaian yang dibungkus dengan rasa kasihan. Ketika
seorang guru meluluskan murid yang belum berkompeten, ia tidak sedang memberi
kesempatan, melainkan sedang memindahkan beban dan kegagalan kepada guru di
tingkat berikutnya, dan yang paling fatal, kepada masa depan anak itu sendiri.
Estafet
Kegagalan: Dari SD hingga SMA
Praktik
paradigma mante menciptakan sebuah rantai estafet kegagalan yang sistematis.
Pertama, di tingkat SD, murid diluluskan dengan kemampuan baca-tulis yang rapuh.
Guru merasa kasihan bila anak tidak lulus. Kedua, di tingkat SMP, guru merasa, bukan
tugasnya untuk mengajar baca-tulis, sehingga kembali menerapkan prinsip mante agar anak bisa lanjut ke SMA.
Ketiga, di tingkat SMA, kita mendapati kenyataan pahit. Hasil TKA (Tes
Kompetensi Akademik) NTT yang kerap berada di urutan terbawah adalah cermin
retak dari akumulasi paradigma mante
selama bertahun-tahun.
Kita
tidak sedang mendidik manusia. Kita sedang melakukan cuci tangan massal.
Karakter murid pun ikut tergerus karena mereka belajar bahwa hasil bisa didapat
tanpa perjuangan dan ketuntasan hanyalah angka di atas kertas yang bisa
dimanipulasi oleh rasa iba.
Refleksi:
Mendidik dengan Kejujuran
Pendidik
yang hebat bukanlah mereka yang selalu berkata, “Iya.” Melainkan mereka yang
berani berkata, “Belum!” demi kebaikan murid. Menaikkan kelas murid yang belum
siap secara fundamental adalah tindakan membiarkan mereka menjadi buta di
tengah keramaian.
Mari kita
ubah paradigma ini. Pendidikan bukan sekadar formalitas perpindahan jenjang,
tapi soal memastikan setiap anak memiliki bekal untuk bertahan hidup. Berhenti
berkata, “Mante, nanti di kelas atas
dia berubah.” Perubahan itu harus dimulai sekarang, di kelas kita, dengan
kejujuran dalam penilaian.
Jangan biarkan
anak-anak kita menjadi lulusan formalitas yang kosong isi kepalanya. Mari kita
didik dengan serius karena cinta yang sesungguhnya tidak akan membiarkan
seseorang melangkah ke jurang hanya karena kita sungkan untuk menghentikannya. (MDj/red)





0 Comments