Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Elegi Si Bocah Nelayan Arubara

 

(Foto: Kompas.com)


Puisi Zulkasim Achmad Abu Umairo*



Gulungan ombak memecah di pinggir pantai

Bersahut-sahutan ria saling berlomba ‘tuk menepi

menemani perahu kecil si bocah nelayan Arubara

pulang melaut menuju darat membawa berkah.

 


Terik panas matahari terus menyengat kulit si bocah,

kapalan telapak tangannya semakin kasar

‘tuk mengais rupiah dari samudera luas

tak peduli hadangan ombak sering menghantam.

 


Oh. . .Rabb, sungguh nelangsa nasib si bocah

hidup penuh kenastapaan sedari kecil.

Ayah bundanya jauh merantau entah kemana

mencari hidup agar tak dihina manusia durjana.

 


Air mata dan tangisan jadi teman setia

merenung meratapi nasib yang kian tak pasti

hanya bergantung pada pundak yang telah rapuh

mungkin tak lama lagi akan patah berkalang tanah.

 


Rasa rindu, kasih sayang, cinta tulus dan pelukan hangat

hanyalah impian semu dalam dunia khayalan

telah lama terus mendendam tak pernah dirasakan

sampai saat ini menjelang remaja mungkin hingga dewasa.

 


Semangat menuntut ilmu tak pernah padam

meraih bekal demi secercah harapan merubah nasib

bergantung penuh haqqul yakin pada Sang Ilahi

meraih berkah dan ridho-Nya demi kejayaan hakiki.

 


*Guru Madrasah Aliyah Negeri Ende

 

(red)


Post a Comment

1 Comments