Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI : APA YANG BERBEDA?



 Oleh : Kamsudin Ridwan, S.Pd.I., M.Pd., Gr

(Staf Pengajar di SMP Negeri 1 Adonara Timur)


CAKRAWALANTT.COM - Saat ini yang gencar dilakukan oleh Guru Penggerak bekerja sama dengan para Pengawas Sekolah adalah melakukan sosialisasi terkait pembelajaran berdiferensiasi. Hampir seluruh sekolah pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Flores Timur sudah terjamah oleh Guru Penggerak dan para Pengawas Sekolah. Lantas, apa yang menarik dengan istilah “Pembelajaran Berdiferensiasi”? Apa yang baru dari istilah tersebut? Pentingkah pembelajaran berdiferensiasi diterapkan dalam kegiatan pembelajaran?

 

Istilah pembelajaran berdiferensiasi berasal dari kata different yang artinya berbeda. Sesuai dengan judul tulisan di atas, maka muncul sebuah pertanyaan “Apa yang Berbeda?”. Apa yang menjadi perbedaan mendasar antara pembelajaran yang digelar sebelumnya dengan pembelajaran berdiferensiasi yang saat ini populer dan muncul ke permukaan? Hal ini yang menarik perhatian penulis untuk membahas topik terkait pembelajaran berdiferensiasi.

 

Pembelajaran adalah usaha sadar yang dilakukan oleh guru untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Hal penting yang menjadi perhatian guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik. Karena, disadari bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

 

Dalam pembelajaran, ada satu prinsip pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh setiap guru, yakni prinsip perbedaan individu. Dengan memahami perbedaan individu berdasarkan perbedaan karakter dan keunikannya masing-masing, maka akan memudahkan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

 

Terdapat lima hal yang menarik perhatian penulis untuk membahasnya dalam tulisan ini, khususnya yang terkait dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pertama, dalam pembelajaran berdiferensiasi, pada setiap aktivitas pembelajaran, mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, sampai pada kegiatan penutup, penekanannya lebih pada penanaman budaya positif. Hal ini penting, karena aktivitas belajar bukan sekedar transfer of knowledge (transfer pengetahuan) semata, tetapi lebih dari itu, yang terpenting adalah transfer of value (pewarisan nilai-nilai atau karakter positif) kepada generasi berikutnya.

 

Kedua,  dalam pembelajaran berdiferensiasi, terdapat istilah IPK Pengantar atau IPK Pendukung, IPK Kunci, dan IPK Pengayaan. Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) Pengantar atau IPK Pendukung berarti bahwa peserta didik mesti dibekali dengan pengetahuan dasar atau pengetahuan awal sebelum memasuki pengetahuan inti atau pengetahuan kunci yang akan dipelajarinya. Hal ini dapat dilakukan oleh guru saat kegiatan awal atau dalam hal ini adalah kegiatan appersepsi, yakni menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan yang akan dibelajarkan.

 

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) Inti merupakan indikator pencapaian kompetensi yang menjadi konsentrasi atau pusat pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa dibekali pengetahuan dasar atau IPK Pengantar, maka dipastikan peserta didik akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

 

Dalam Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) Pengayaan, bila peserta didik telah mencapai standar ketuntasan dalam pembelajaran, maka perlu diberikan muatan materi dengan tingkat kesukaran yang lebih tinggi, sehingga dapat memacu peserta didik untuk memperkaya pengetahuan dan wawasannya.

 

Ketiga, dalam pembelajaran berdiferensiasi, terdapat perbedaan dari sisi konten atau materi yang disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik. Maka, dalam merencanakan pembelajaran, seorang guru perlu memperhatikan perbedaan karakter belajar peserta didik antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, bila peserta didik lebih suka menonton video, maka konten atau materi pembelajaran yang perlu disiapkan adalah berupa video pembelajaran. Jika peserta didik lebih menyukai aktivitas membaca, maka konten pembelajaran yang perlu disiapkan adalah berupa modul. Serta, jika peserta didik memiliki kegemaran dalam menggambar, maka konten atau materi pembelajaran yang perlu disiapkan adalah berupa gambar atau komik.

 

Keempat, dalam pembelajaran berdiferensiasi, terdapat perbedaan dari sisi proses. Setelah guru menyiapkan konten atau materi pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik, maka selanjutnya dalam proses pembelajaran juga peserta didik difasilitasi untuk dapat belajar sesuai dengan karakter belajarnya masing-masing. Peserta didik yang hobinya adalah suka menonton video akan dikelompokkan menjadi satu kelompok dalam proses pembelajaran, begitu juga peserta didik yang suka membaca dan menggambar akan dikelompokkan menjadi dalam kelompok masing-masing. Dengan demikian, proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.

 

Kelima, dalam pembelajaran berdiferensiasi, terdapat pula perbedaan dari sisi penilaian atau tagihan yang dikenal dengan istilah produk. Dilihat dari sisi konten atau materi pembelajaran serta proses yang berbeda, maka tentunya tagihan berupa produk yang dihasilkan oleh peserta didik pun akan berbeda. Hal demikian terjadi karena gaya belajar masing-masing peserta didik yang berbeda-beda.

 

Peserta didik yang memiliki hobi menonton video akan diberikan tagihan berupa pembuatan video, begitu pula peserta didik yang suka membaca, maka bentuk tagihannya bisa berupa pembuatan ringkasan materi atau resume, serta peserta didik yang memiliki hobi suka menggambar akan diberikan tagihan untuk membuat bagan atau sejenis perta konsep. (MDj/red)


Post a Comment

0 Comments