Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

INOVASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

 


Oleh : Fipson Erianus Lahal, S.Pd. Gr.



CAKRAWALANTT.COM - Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia masih ditetapkan sebagai salah satu pelajaran wajib di sekolah pada semua jenjang dimulai dari taman kanak-kanak (kindergarten), Sekolah Dasar (Elementary School), Sekolah Menengah Pertama (Junior High School), Sekolah Menengah Atas (Senior High School) maupun pada jenjang Perguruan Tinggi (College/University).

 

Pendidikan Bahasa Inggris juga berlaku pada SMP Negeri Satu Atap (Satap) Tamburi, Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Semua ketentuan, syarat dan perangkat pembelajaran telah termuat di dalam kurikulum pendidikan. Pentingnya pendidikan Bahasa Inggris adalah prioritas utama yang harus diperhatikan oleh semua guru sebagai tenaga pendidik.

 

Untuk itu, dalam menunjang proses pembelajaran Bahasa Inggris yang efektif, dibutuhkan model pembelajaran yang menarik dan sederhana guna membangkitkan minat dan semangat belajar para peserta didik.

 

Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan di dalam proses Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) adalah model bermain peran (the role playing model). Model yang dipelopori oleh George Shaftel tersebut merupakan model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam menemukan makna diri (jati diri) di dunia sosial guna memecahkan dilema dengan bantuan kelompok.

 

Artinya, melalui model pembelajaran bermain peran, peserta didik bisa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda, dan memikirkan perilaku dirinya dan perilaku orang lain. Dengan demikian, proses bermain peran ini dapat memberikan contoh yang baik tentang kehidupan dan perilaku manusia yang pastinya berguna sebagai sarana belajar.

 

Dikutip dari Sahabat Guru, Mansur (dalam Sagala 2011 :2013) mengemukakan bahwa model bermain peran (role playing) adalah model mengajar yang dalam pelaksanaannya mampu mendorong peserta didik untuk mendapat tugas dari guru dan mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problema. Hal itu bertujuan agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dalam sebuah situasi sosial.

 

Dalam penerapan terdapat begitu banyak langkah yang harus dibuat oleh seorang guru untuk melaksanakan model pembelajaran ini, seperti mempersiapkan silabus, menyampaikan apersepsi materi pelajaran, menyampaikan materi pelajaran, membentuk kelompok bermain peran, bermain peran, mengisi lembar observasi (lembar pengamatan) dan mengadakan evaluasi dan penilaian (https://wawasan pengajaran.blogspot.com).

 

Secara umum, penerapan model pembelajaran bemain peran (role playing model) memiliki beberapa langkah konkrit yang harus dilakukan oleh para guru. Pertama, guru menyiapkan materi pelajaran Bahasa Inggris yang diambil dari bahan ajar yang telah disesuaikan dengan kompetensi dasar tertentu, serta kemudian menyusun skenario yang akan dimainkan oleh peserta didik.

 

Kedua, guru menetapkan kelompok peserta didik dan membagikan skenario, serta menetapkan peran masing-masing peserta didik. Skenario tersebut dibagikan dengan tujuan untuk dipelajari dan dilatih secara berulang-ulang kali (drill), sehingga dikuasai oleh peserta didik dengan baik dalam batasan waktu yang telah disepakati.

 

Pemain peran dibatasi minimal dua orang peserta didik saja atau maksimal empat orang peserta didik untuk memudahkan pengontrolan, perbaikan pelafalan, intonasi dan ekspresi dan penilaian secara langsung oleh pengajar pada saat pementasan. Dalam hal ini, guru berperan sebagai motivator.

 

Ketiga, sebelum peserta didik melakonkan tokoh-tokoh sesuai dengan skenario yang telah dibagikan dan dipelajari, guru akan menyampaikan penjelasan singkat tentang kompetensi yang ingin dicapai. Masing-masing video role play yang dibuat oleh peserta didik harus mampu mencakup semua kompetensi dasar, tujuan pembelajaran dan semua perangkat pembelajaran.

 

Keempat, setiap kelompok mendapatkan giliran pementasan yang dividiokan menurut urutan yang telah disepakati. Untuk menjamin hasil yang lebih baik, setiap kelompok akan diasingkan sesuai kostum dan setting yang telah dipilih.

 

Kelima, evaluasi bisa dilakukan oleh guru melalui observasi dan juga bisa dilakukan bersama peserta didik. Peserta didik juga dapat menilai dan berkomentar tentang dirinya sendiri, sehingga secara tidak langsung self assesment peserta didik yang jujur bisa terlaksana.

 

Pada akhir penerapan model bermain peran, peserta didik harus mendokumentasikan semua kegiatan tersebut di dalam Video Role Play (VRP). Dokumentasi role playing dalam bentuk video (VRP) bisa dilakukan di luar kelas dalam kostum yang disesuaikan dengan cerita untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

 

Sepanjang pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah yang telah penulis lalui, bermain peran (role playing) merupakan salah satu metode yang sudah lama dikenal. Namun, model tersebut telah dikemas di dalam teks dan kostum, sehingga metode pengambilan VRP dapat memberikan manfaat yang lebih besar.

 

Bagi peserta didik, VRP akan memberikan masukan dan koreksi kritis bagi performa dan penampilan peserta didik menyangkut artikulasi dan penggunaan tata bahasa (grammar). Sedangkan, bagi guru sebagai tenaga pendidik, VRP akan memberikan masukan bagi perbaikan dan peningkatan yang lebih diharapkan lagi.

 

Di akhir kata, semua pemangku kebijakan di lingkungan pendidikan sekolah harus mampu memenuhi kebutuhan yang diusulkan oleh tenaga pendidik dan peserta didik. Hal tersebut berguna untuk memperbaiki dan meningkatkan fasilitas penunjang pembelajaran melalui penggunaan VRP di semua tahap penerapan model pembelajaran bermain peran. (MDj/red)


Post a Comment

0 Comments