Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

MENDALAMI PELAJARAN AGAMA DI SEKOLAH

 

Oleh : Maria Teresia Bebhe Ruma, CS.Ag

(Guru  SDN Wangatoa Lembata)

 

CAKRAWALANTT.COM - Dalam pelayanan sabda, pelajaran agama memiliki hubungan yang erat dengan katakese. Hubungan keduanya perlu memperoleh perhatian istimewa, terutama di lingkungan pendidikan, semisal sekolah. Kegiatan katakese sebenarnya merupakan pelengkap dari pendidikan agama, meskipun secara mutlak harus dibedakan.

 

Pelajaran agama memiliki kekhasan tersendiri karena mampu menghadirkan Injil dalam sebuah proses personal dari asimilasi kultural, sistematis, dan kritis. Dalam pelajaran tersebut, para peserta didik dituntun untuk tetap menjaga hubungan antar ilmu pengetahuan. Injil dalam praktiknya bertujuan untuk menyuburkan mentalits peserta didik dalam bidang pelajaran agama sekaligus menyelaraskan budaya dalam terang iman.

 

Kedudukan pelajaran agama tentunya harus harus bisa menyampaikan pesan dan peristiwa Kristiani dengan kesungguhan dan kedalaman yang sama terkait apa yang disajikan oleh displin-disiplin lain. Hal tersebut tentunya bisa menjadi wadah dialog interdisipliner guna membentuk kepribadian peserta didik.

 

Dengan cara tersebut, penyajian pesan-pesan Kristiani bisa mempengaruhi cara memahami peserta didik tentang asal mula dunia, pengertian sejarah, dasar nilai-nilai etis, fungsi agama dalam budaya, tujuan manusia dan hubungannya dengan alam. Melalui dialog interdisipliner, pelajaran agama di sekolah mampu mendasari, menggerakan, mengembangkan dan menyempurnakan kegiatan pendidikan di lingkungan sekolah.

 

Konteks Sekolah dan Pelajaran Agama

 

Pelajaran agama dikembangkan dalam konteks sekolah yang berbeda-beda dengan tetap mempertahankan sifatnya yang khas, serta memperoleh penekanan-penekanan yang berbeda. Hal ini bergantung pada situasi legal dan organisatoris, teori-teori pendidikan, pandangan pribadi masing-masing guru, serta hubungan antara pelajaran agama di sekolah dengan katekese keluarga atau paroki.

 

Tidaklah mungkin mereduksi berbagai bentuk pelajaran agama di sekolah-sekolah yang telah dikembangkan sesuai dengan persetujuan antara negara dengan Majelis Uskup. Namun demikian, perlu diupayakan agar pelajaran agama di sekolah-sekolah dibuat sedemikian rupa sehingga menanggapi tujuan dan sifatnya yang khas.

 

Para peserta didik berhak mempelajari dengan benar dan pasti tentang agama yang dipeluknya. Hak untuk mengenal Kristus dan pesan penyelamatan yang dimaklumkan-Nya tidak boleh diabaikan. Sifat pengakuan dari pelajaran agama di sekolah-sekolah yang diberikan oleh Gereja di berbagai negara merupakan jaminan yang tidak dapat dilepaskan untuk dipersembahkan kepada keluarga-keluarga dan para peserta didik yang memilih pendidikan tersebut.

 

Bagi sekolah Katolik, pelajaran agama merupakan bagian atau bentuk lain dari pelayanan sabda (katekese, homili, perayaan-perayaan liturgis, dan sebagainya). Pelajaran agama tidak dapat dipisahkan dari fungsi pedagogis dan dasar eksistensinya. Dalam konteks sekolah negeri atau swasta, dimana wewenang sipil atau situasi lain memaksakan pelajaran agama umum, baik bagi peserta didik Katolik maupun non Katolik, hendaklah pelajaran agama bersifat ekumenis dan memiliki kesadaran antar agama yang lebih besar.

 

Dalam situasi lain, pelajaran agama lebih bersifat kultural dan mengajarkan pengetahuan tentang agama-agama, termasuk agama Katolik. Dalam hal ini, pelajaran agama mampu mempertahankan dimensi yang sejati dari “persiapan Injil”. Hidup dan iman para peserta didik yang menerima pelajaran agama di sekolah ditandai oleh perubahan yang terus menerus.

 

Pelajaran agama harus memperhitungkan fakta-fakta untuk dapat mencapai tujuannya sekaligus memahami dengan lebih baik pesan Kristiani dalam hubungannya dengan keprihatinan-keprihatinan besar terkait agama dan kemanusiaan. Selain itu, pelajaran agama juga harus mendalami berbagai pandangan tentang hidup yang nyata dalam budaya dan pada persoalan-persoalan moral yang lebih besar di luar lingkungan pendidikan.

 

Peserta didik yang sedang mencari dalam keraguannya dapat juga menemukan dalam pelajaran agama kemungkinan tentang arti iman yang tepat kepada Yesus Kristus, apa tanggapan Gereja terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mereka buat, dan memberikan mereka kesempatan untuk menguji pilihan mereka sendiri secara lebih dalam. Di sini, pelajaran agama bersifat pewartaan misoner Injil dan ditujukan untuk sampai pada keputusan iman, dimana katekese akan menyuburkan dan mendewasakan.

 

Katekese dan Pendalaman Iman

 

Pendidikan Kristen dalam keluarga, katekese dan pelajaran agama di sekolah-sekolah berhubungan erat dengan pelayanan pendidikan Kristiani bagi anak-anak, orang dewasa, dan kaum muda. Akan tetapi dalam praksisnya, harus diperhitungkan faktor-faktor yang berbeda-beda agar dapat maju secara realistis dan dengan kebijaksanaan pastoral bisa menerapkan petunjuk-petunjuk umum.

 

Adalah kebijaksanaan setiap keuskupan atau daerah pastoral untuk membeda-bedakan situasi yang dapat muncul sehubungan dengan ada atau tidaknya inisiasi Kristen bagi anak-anak dalam konteks keluarga. Selain itu, sehubungan dengan kewajiban-kewajiban mendidik yang secara tradisional dijalankan oleh Paroki, sekolah dan sebagainya, Gereja Partikular dan Majelis Para Uskup hendaknya menyusun petunjuk-petunjuk umum untuk berbagai situasi dan memajukan kegiatan yang berbeda-beda tetapi saling melengkapi.

 

(red)


Post a Comment

0 Comments