Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PANDEMIK COVID-19, “VIRUS” KETIDAKPEDULIAN DAN “VAKSIN” SOLIDARITAS

 



Oleh : Siprianus Kantus, S. Fil

(Staf Pengajar di SMK Swakarsa Ruteng)


Sejak virus covid-19 diumumkan oleh WHO (2020) sebagai pandemik, rasa aman sudah sangat mahal harganya bahkan tak terbeli. Setiap hari publik diteror oleh berbagai informasi yang berisikan fakta maupun hoax yang timbul dari kegelisahan yang tidak tersalurkan akibat pelbagai penerapan pembatasan aktivitas. Setiap orang juga seolah dipaksa untuk sedapat mungkin mencerna data perkembangan pandemik dalam istilah-istilah yang tak lazim.
 
Hari ini dan bahkan setiap saat, orang-orang terjaga dari rutinitas karena sejumlah kasus kematian yang menimpa keluarga, tetangga atau tokoh-tokoh publik akibat keganasan virus ini. Pandemik memang telah membawa manusia pada sebuah titik krusial berkenaan dengan pertanyaan tentang hidup. Apakah hidupnya berakhir di masa pandemi ini?
 
Di samping kegelisahan eksistensial itu, pandemik covid-19 juga sangat menyita persepsi publik terkait virus. Tidak sedikit ahli, tokoh agama, tokoh politik dan aktivis memberikan perhatian yang intens kepada pandemik dan lalu menghubungkannya dengan fenomena perilaku manusia dari sudut pandang yang jamak. Hampir semuanya dikaitkan dengan virus. Bahkan, ketika seseorang, entah dihormati atau dilecehkan netizen karena terlibat dalam suatu peristiwa tertentu di media sosial hingga menjadi viral, yang bersangkutan juga disebut terinfeksi. Terinfeksi oleh virus digital (viral).
 
Dunia kini diliputi virus. Virus covid-19 hanya satu dari berseliwernya virus yang tak kelihatan atau terbungkus rapi dalam berbagai bentuk modus, seperti; virus ekosida (penghancuran terhadap alam secara terstruktur, sistematis dan massif). Virus ini disinyalir sebagai sebab dari kebangkitan pandemi virus yang hari ini mengobrak-abrik sistem kekebalan tubuh manusia dan merenggut jutaan nyawa.
 
Hubungan causalitas antara virus dan kerusakan lingkungan membawa kita untuk mengeksplorasi lebih jauh terkait penyimpangan terhadap batasan perilaku manusia, baik kepada sesamanya, alam maupun kepada obyek kepercayaannya-khusus untuk orang beragama-yakni Tuhan sendiri. Inilah gambaran manusia yang terinfeksi sejak lama oleh virus yang sangat besar yakni “virus” ketidakpeduliaan.
 
 
“Virus” Ketidakpedulian          
 
Dorongan untuk peduli dan terlibat dalam persoalan dunia-khususnya persolan ekologi-tidak hanya diteriakan oleh para aktivis lingkungan hidup. Dalam satu bagian dari ensiklik laudato Si, Paus Fransiskus menuliskan keprihatinannya atas tanggapan-tanggapan yang lemah dari para pemimpin politik dunia terhadap kerusakan alam. Di sana, Paus menyoroti lemahnya tanggapan dunia internasional akan masalah lingkungan yang mengancam bumi akibat tunduk pada logika ekonomi global seperti kegagalan KTT (konferensi tingkat tinggi) Global tentang masalah lingkungan (LS. 53.54).
 
Terakhir (2019), konferensi tingkat tinggi PBB yang membahas perubahan iklim, yakni; the 25th Session of the Conference of the Partie (COP25) yang diselenggarakan di Madrid Desember 2019 berakhir mengecewakan. Konferensi tersebut tidak menghasilkan komitmen yang kuat dari berbagai negara dalam rangka menghambat krisis iklim (Anih Sri Suryani, 2020: 14). Komitmen yang lemah dari para pemimpin dunia memperlihatkan fakta pertarungan kepentingan dalam menguasai berbagai sumber daya di bumi.
 
Kerusakan lingkungan yang menimbulkan berbagai penyakit dan bahkan pandemik hari ini tidak terlepas dari egoisme segelintir orang yang disebut pemilik modal dan didukung oleh rezim politik untuk menguasai sumber daya alam di bumi. Kartel yang kuat pada level atas ini berupaya memonopoli semua pasar untuk kepentingan mereka, sehingga tidak jarang media menginformasikan beberapa orang kaya dunia dengan jumlah harta yang mengagumkan tanpa peduli apakah cara-cara memperoleh kekayaan itu berbias diskriminasi atau pun juga ketidakadilan.
 
Di tengah kompetisi pasar bebas inilah negara-negara berkembang yang miskin mengalami dilema sekaligus tak berdaya karena harus memikirkan pengembalian atas tumpukan pinjaman yang diberikan dengan motif donor atau bantuan kemanusiaan. Kartel-kartel ini, dengan orientasi penguasaan berbagai sumber daya alam telah terbentuk mulai dari level global, regional, nasional bahkan hingga ke daerah, seperti; ketimpangan perjalanan roda birokrasi imbas praksis politik otonomi daerah.
 
Sistem ekonomi global dengan pasar bebasnya telah menciptakan kesenjangan dan melanggengkan konflik kelas antara yang kaya dan miskin, kuat dan lemah. Di hadapan kita sedang ditampilkan hasil pertarungan bebas ini. Kemiskinan merajalela, pengungsi kian tak terhitung, gelandangan bermunculan, korupsi menjamur, tingkat kekerasan semakin tinggi, dan hari-hari ini kerusakan lingkungan yang berujung pada pandemik menimbulkan korban jutaan jiwa.
 
Merespon ini, Paus Fransiskus mengatakan bahwa “sekarang ini segala hal bermain dalam hukum kompetisi dan the survival of the fittest, di mana yang kuat menguasai yang lemah. Akibatnya, sebagian besar masyarakat menemukan diri mereka sendiri tersisih dan tersingkir: tanpa pekerjaan, tanpa kemungkinan, tanpa jalan keluar dari itu semua. Untuk mempertahankan gaya hidup yang menyingkirkan sesama, atau untuk mempertahankan antusiasme demi cita-cita egois itu, telah dikembangkan globalisasi ketidakpedulian (EG. 53-54).”
 
Sejalan dengan Paus, Slavoj Žižek (2020) dalam bukunya pandemic!: Covid-19 mengguncang dunia menyitir tanggapan yang murah dan remeh dari beberapa orang kaya yang sarat ketidakpedulian karena sangat tergantung pada pasar saham atau logika ekonomi kapitalis. Mereka itu-menurut testimoni Žižek-dengan remeh dan latah menyebarkan informasi dan himbauan “jangan takut” terhadap pandemik sambil melindungi diri mereka sendiri dengan infrastruktur kesehatan yang mapan.
 
Hal yang sama telah terjadi pada beberapa dekade silam ketika pejabat berwenang di Rusia mengatakan tidak ada yang perlu ditakutkan dari bencana nuklir yanag terjadi di Chernobyl, tetapi secara diam-diam mengevakuasi keluarga mereka sendiri. Begitu juga beberapa elit papan atas yang secara terbuka menyangkal pemanasan global, tetapi ternyata telah membeli rumah di negara-negara yang mapan bahkan sampai menggali bungker di beberapa pegunungan (hal. 80-81).
 
Itulah logika berpikir orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak pernah peduli dengan keselamatan orang lain yang rentan karena kemiskinan dan ketiadaan akses ke berbagai sumber-sumber perlindungan. Dalam konteks Indonesia, kita berharap bahwa beberapa pejabat yang terlanjur mengeluarkan pernyataan kontroversial atau yang tidak percaya akan fakta virus-sambil tetap memakai masker- tidak terkait dengan logika kapitalis yang mengabaikan opsi terhadap kemanusiaan itu.   
 
Dengan itu, Paus Fransiskus pun Žižek sebenarnya mau menyampaikan bahwa pandemik yang hari ini sedang kita rasakan dampak destruksinya hanyalah satu bagian yang tersembul dari kompleksitas permasalahan sebenarnya. Masalah yang paling kompleks adalah tentu terkait dengan penguasaan sumber daya alam dan distribusinya yang tidak mencerminkan keadilan sosial. “Tanggapan atas pandemik, karenanya, rangkap dua. Di satu sisi, sangatlah penting menyembuhkan dari virus yang kecil namun mengerikan ini, yang telah menjadikan seluruh dunia terpuruk. Di sisi lain, kita mesti pula mengobati virus yang lebih besar, yakni ketidakadilan sosial, kesenjangan kesempatan, marginalisasi, dan langkanya perlindungan bagi mereka yang paling lemah.” (ASG Di masa Pandemik, hal.13)
                  
“Vaksin” Solidaritas
 
Kita masih berada pada titik krusial karena pandemik. Namun pandemik Covid-19 yang hari ini sedang kita rasakan sebenarnya juga menjadi kesempatan di mana manusia harus merefleksikan kebergantungan yang niscaya dengan orang lain. Segala upaya untuk melemahkan virus lalu menyembuhkan dunia tidak bisa dilakukan hanya oleh sebagian orang. Semua orang harus menyadari dan mengambil tanggung jawab untuk menyelamatkan bumi.
 
Pada titik krusial ini, semua bentuk tanggung jawab harus dipertaruhkan, terutama tanggung jawab sosial dan ekologis, bahkan pula teologis. Tanggung jawab ini menyadarkan kita kembali sebagai makhluk yang bergantung satu dengan yang lain namun juga terikat secara alamiah dengan lingkungan tempat hidup-sebuah tempat yang diciptakan-di mana manusia menemukan kodrat dirinya yang terberi. Dengan kesadaran itu, kita-semua orang di kolong langit ini-harus merasa sebagai satu keluarga. Paus Fransikus menyebutnya sebagai satu keluarga umat Allah di mana bumi sebagai rumah bersama.
 
Dalam konteks pandemik covid-19, Slavoj Žižek menyebutkan paralelisme yang lain yaitu “kapal yang sama.” Dengan mengatakan bahwa “kita semua berada di kapal yang sama,” Žižek menyegarkan kembali optimisme Paus bahwa seperti Covid-19 yang tidak mengenal perbedaan, semua orang berada dalam potensi penularan dan terinfeksi tanpa memandang buluh, tanpa memandang Amerika, China, Rusia atau Inggris. Covid-19 meruntuhkan klaim adikuasa dan kelas. Karena berada dalam “kapal yang sama,” tidak ada golongan manusia yang tidak merasakan hempasan dan guncangan ombak dan dahsyatnya badai covid-19. Rasa senasib dan sepenangungan ini kirannya menjadi peluang untuk berpikir dan mengambil tindakan alternatif dan salah satunya adalah solidaritas dan kerja sama global (hal. 38-39 dan 61).
 
Dunia sebagai satu keluarga umat Allah kiranya menjadi basis teologis dari solidaritas, sebuah istilah, tapi terlebih sebagai sebuah gerakan yang memainkan peran vital dalam situasi pandemi hari ini seperti yang diungkapkan oleh Paus Fransiskus, “Pandemi ini telah menggarisbawahi saling ketergantungan kita: kita semua terhubung satu sama lain, untuk yang lebih baik atau lebih buruk. Oleh karena itu, agar kita keluar dari krisis ini lebih baik daripada sebelumnya, kita perlu melakukan bersama-sama; bersama-sama, bukan sendirian. Bersama-sama. Jangan sendirian, sebab tak ada sesuatu yang bisa dibuat. Entah itu dikerjakan bersama-sama, atau sama sekali tidak dikerjakan. Kita musti mengerjakannya bersama-sama, kita semua, dalam solidaritas. Saya sekarang ingin menekankan kata ini: solidaritas. (ASG, hal.14).”
 
Tidak ada pesimisme dalam mewujudkan solidaritas ini, sebaliknya solidaritas ini sangat mungkin bisa diwujudkan-seperti berbagai tanggapan/gerakan pada masa pandemi ini-sebab dunia sekarang ini terhubung satu dengan yang lain. Perkembangan teknologi sudah membuat dunia semakin kecil (baca: kampung global) dan sangat mungkin terjangkau untuk tujuan mengkonsolidasi semua bentuk gerakan bersama dalam menanggapi berbagai krisis yang dihadapi dunia.
 
Persoalannya ada pada tanggapan serta prioritas. Sejauh mana orang bisa memberi diri dan menjadi bagian dari orang lain yang menderita baik oleh pandemi maupun sebab krisis lainnya, antara lain karena ketidakadilan sosial, perang, kelaparan, kemiskinan, pengangguran dan bencana lingkungan. Semua bentuk krisis ini ada kaitan satu dengan yang lain yang hari ini sedemikian mendesak untuk segera ditemukan jalan keluarnya, dan itu butuh solidaritas yang lebih luas serta komitmen yang kuat.       
 
Jalan keluar untuk masalah pandemik dan semua bentuk krisis yang lain adalah bekerja sama dalam semangat solider. Solidaritas merupakan vaksin untuk semua krisis. Solidaritas dalam berbagai wujud sekiranya menjadi sangat mungkin, sebab tidak ada seseorang yang terlampau kaya, hingga tidak membutuhkan sesuatu dari orang lain, begitu pula sebaliknya, tidak ada orang yang terlampau miskin, sehingga tidak bisa memberikan sesuatupun bagi yang lain.
 
Penularan Virus covid-19 mungkin akan segera melemah seiring ditemukannya beberapa jenis vaksin, tetapi tidak untuk virus-virus yang lebih besar yang berakar pada ketidakpedulian. Virus ketidakpedulian memang membutuhkan vaksin, namun bukan Sinovac, Pfizer, AstraZeneca, Sinopharm ataupun Moderna. Vaksin untuk virus ketidakpedulian hanya satu yaitu solidaritas.*
 
Editor : Mario Djegho (red)

Post a Comment

0 Comments