Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MEMAHAMI DAN MELESTARIKAN SENI


 


(Pandangan Seorang Guru Seni di SMKN 3 Komodo Terhadap Dunia Seni)


Manggarai Barat, CAKRAWALANTT.COM - Perbincangan hangat seputar seni tidak pernah terbatas. Seni adalah bagian dari kebudayaan, sehingga bersifat universal. Universalitasnya terletak pada unsur keindahan (estetik) yang terkandung di dalamnya. Sebagai bagian dari kebudayaan, seni tentunya dihasilkan dari sebuah proses budaya yang teratur, baik dari sisi cipta, rasa, karsa, serta karya. 


Semuanya termanifestasi ke dalam ekspresi, kreasi, dan imajinasi yang terlampir pada gerakan, tari, pikiran, visualisasi, suara, dan sebagainya. Seni selalu berproses hingga menghasilkan kesenian sebagai hasil karya yang kemudian melengkapi sisi universal sebagai konsumsi kolektif guna saling mempengaruhi. Hal tersebut tentunya akan melahirkan begitu banyak penafsiran (interpretasi) atas seni itu sendiri, hingga mampu mendorong sebuah peradaban masyarakat. 

 

Padangan serupa tentang seni tersebut juga dipaparkan oleh Angelina Ayuni Praise, seorang guru pengampu Mata Pelajaran Seni di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Komodo, Manggarai Barat. Guru yang akrab disapa Yuni tersebut mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi secara terbuka bersama penyiar Yusfidayanti dalam saluran Online RRI Pro 4 FM, Kamis (09/09/2021). Pada diskusi tersebut, Yuni mencoba menggambarkan pandangannya sebagai seorang seniman tentang seni dan karya-karyanya, terutama di lingkup SMKN 3 Komodo dan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium.

 

Mempelajari dan Mengeksplorasi

 

Pada bagian awal diskusi, Yusfidayanti meminta pandangan Yuni selaku guru dan seniman tentang perkembangan seni di dalam dunia pendidikan, terutama pada kegiatan belajar dan mengajar (KBM). Menurut Yuni, pola pembelajaran seni di kalangan peserta didik, khususnya seni tari masih berada pada ranah mempelajari. Para peserta didik, imbuhnya, belum mampu mengenal dan menguasai semua jenis tari karena keterbatasan pengetahuan serta referensi. Salah satu upaya untuk mengembangkan seni tari, ungkapnya, adalah dengan mendalami budaya dan tradisi sendiri.

 

Namun persoalannya, terang Yuni, terletak pada minimnya pemahaman peserta didik akan budaya dan tradisi tersebut. Maka dari itu, dirinya lebih mendorong peserta didik untuk menghasilkan karya dengan memahami budayanya terlebih dahulu, sehingga karya seni tari yang dikreasikan murni berasal dari tradisi budayanya sendiri. 


“Saya berusaha mendorong peserta didik untuk menghasilkan karya. Namun, pemahaman mereka akan budaya masih kurang, sehingga langkah awalnya adalah dengan mempelajari budaya sendiri, kemudian mengembangkan karya baru dari budayanya sendiri,” ujarnya.   

 

Di sisi lain, Yuni juga mengungkapkan bahwa mempelajari dan mengeksplorasi seni dalam berbagai kreasi adalah dua hal penting yang harus diperhatikan. Para peserta didik, katanya, harus mampu mempelajari semua aspek budaya sebagai referensi utama dalam mendalami seni. Sementara itu, ujarnya, para seniman atau pelaku seni di daerah Labuan Bajo harus mampu mengeksplorasi budayanya secara lebih luas sambil mengamati perkembangan budaya lain. Hal tersebut, tuturnya, berguna dalam proses modifikasi budaya ke dalam bentuk seni yang estetik. 


“Perkembangan seni daerah masih terpaku dan para pelaku seni belum berani mengeksplorasi lebih jauh tentang ide dan kreasi yang bisa dihasilkan dari tradisi dan budayanya. Mereka belum mampu memodifikasi,” ungkapnya. 

 

Melestarikan Seni

 

Lebih lanjut, terang Yuni, kesadaran kolektif terhadap dunia seni harus mulai dipupuk. Para seniman harus berani mengambil resiko dalam menghasilkan sebuah karya karena semua imajinasi yang diaktualisasikan sarat akan interpretasi para penikmat seni. Selain itu, imbuhnya, para seniman tidak boleh menitihberatkan karyanya sebagai sebuah komiditi semata, tetapi lebih daripada itu, para seniman harus bisa merasa puas ketika karyanya terkesan indah dan bermanfaat. 


“Seniman harus terus berkarya karena karya seni tidak pernah salah. Para seniman tidak boleh hanya berorientasi pada uang, tetapi pada kepuasan akan keindangan karya seninya,” tuturnya.

 

Di sisi serupa, Yuni sangat mengharapkan agar pemahaman dan ketertarikan terhadap seni di kalangan peserta didik bisa terus lestari. Dalam semangatnya, guru sekaligus seniman tersebut ingin menuntun anak-anak di daerah Labuan Bajo dan sekitarnya untuk masuk serta mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah seni. 


Sumber daya manusia (SDM) pada dunia seni, paparnya, masih tergolong minim di tengah hiruk pikuk promosi (branding) Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super premium. Oleh sebab itu, dengan dijadikannya Labuan Bajo sebagai lahan baru pariwisata, generasi mudanya dituntut untuk berani masuk ke dalam dunia seni sebagai wadah utuk mempromosikan budayanya agar lebih dicintai oleh orang lain pula.

 

Dilansir dari cakrawalantt.com, dalam tulisannya yang berjudul “Kisah Seorang Seniman Dengan Karya dan Budayanya”, Yuni dengan tegas menyatakan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk lahir sebagai seniman, maka dia telah memutuskan untuk masuk ke dalam dunia seni. Dia harus dan wajib menghasilkan berbagai karya seni. 


Pengetahuan dan keterampilan seni tersebut harus didasari oleh pemahamannya terhadap kebudayaannya. Dengan kata lain, dunia pendidikan juga berperan penting dalam mewujudkan aspek seni dalam diri setiap individu, terutama dalam konteks seni dan budaya.

 

Selain itu, bagi Yuni, semua seniman yang telah berdedikasi dalam hidup dan karyanya harus mampu bertahan dengan terus mencintai dunianya. Semua pihak, imbuhnya, harus bisa melihat berbagai hal lain di dalam seni secara lebih bernilai, bangga dengan kebudayaannya, serta saling mengapresiasi setiap karya seniman. 


Semua harus saling bersinergi dan berkolaborasi untuk bisa hidup di sekitar panggung pertunjukan. Karya tanpa panggung dan panggung tanpa karya tidak akan hidup tanpa orang yang cinta akan seni. Pada akhirnya, pungkas Yuni, dengan adanya pendidikan dan sekolah seni, aspek serta nilai pariwisata Labuan Bajo bisa terkenal dan dicintai oleh banyak orang.     

 


Sumber dan Foto : Youtube smkn3komodocreative / Laurensius Sandrio

Editor : Mario Djegho (red) 


Post a Comment

0 Comments