Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

MERINTIS JALAN PENGETAHUAN DI ATAS TABUR DEBU VULKANIK

Sebuah Kisah dari Tanah Lembata

 


Oleh Paulus Geradus Hurint, S.T., Gr

Staf Pengajar SMK Negeri 1 Ile Ape, Lembata

 

Kurang lebih selama 10 bulan di tahun 2020 yang lalu seluruh aktivitas manusia dibatasi karena adanya wabah Corona Virus Disease (COVID-19). Penyebaran Virus Corona yang drastis dan massif telah mengubah seluruh lini kehidupan, bahkan telah melahirkan sebuah tatanan kehidupan sosial baru yakni Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSPB). Dalam situasi sulit dan krisis seperti ini manusia dituntut untuk tetap aktif dan kreatif mencari peluang dan menemukan inovasi baru agar aktivitas manusia di atas planet bumi tetap berjalan meski dalam format yang berbeda dengan memanfaatkan media daring.

 

Hal yang sama juga dialami oleh lembaga pendidikan SMK Negeri 1 Ile Ape yang berada di Kabupaten Lembata, NTT. Kami yang mengabdi sebagai guru pada lembaga pendidikan tersebut  “terpaksa” beradaptasi secara tiba-tiba untuk melakukan pembelajaran dari rumah melalui media daring karena aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah terpaksa dihentikan untuk membatasi penyebaran virus tersebut. Protokol kesehatan yang ketat sebagai rambu-rambu baru dengan mewajibkan penggunaan masker dan jaga jarak (physical distancing) dalam setiap arus lalu lintas kehidupan menjadikan aktivitas pembelajaran di sekolah macet dan bahkan terkesan berjalan di tempat. Pemberlakuan kebijakan tentang jaga jarak menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi informasi merupakan sebuah instruksi yang dipaksakan secara tiba-tiba bagi kami sebagai guru, siswa dan orang tua wali siswa.

 

Di tengah terpaan pandemi Covid-19 yang belum berakhir, di penghujung tahun 2020 tepatnya hari Minggu, 29 November 2020, warga Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur diguncangkan dengan meletusnya gunung merapi Ile Lewotolok. Ratusan ribu penduduk yang bermukim di lereng gunung tersebut lari berhamburan meninggalkan rumah dan mengungsi ke daerah yang aman. Dalam kepanikan dan situasi krisis seperti ini kerumunan massa tidak bisa dihindari.


 

Lantas bagaimanakah nasib anak-anak sekolah di tenda-tenda pengungsian? Kondisi ini tidak mudah bagi kami sebagai guru, siswa maupun orang tua/wali siswa karena lembaga SMK Negeri 1 Ile Ape juga berada tepat di bawah kaki gunung merapi Ile Lewotolok. Kami merasa belum siap menghadapi situasi di tengah pandemi Covid-19 dan erupsi gunung merapi Ile Lewotolok.

 

Menghadapi situasi ini maka dibutuhkan lompatan sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi di wilayah bencana karena sebagian siswa/siswi telah mengungsi ke rumah-rumah penduduk di Kota Lewoleba (keluarga atau kerabatnya) dan juga ke posko-posko pengungsian yang telah disiapkan oleh pemerintah Kabupaten Lembata. Selain itu ada keterbatasan alat elektronik seperti perangkat gawai, komputer, laptop, dan juga jaringan listrik serta akses internet yang belum memadai turut memperumit keadaan.

 

Berbagai kendala dan problem pasti ini kami temukan apabila diterapkannya proses belajar mengajar secara daring maupun luring. Lalu, apakah kita hanya memilih diam, menunggu saatnya tiba, kapan semuanya kembali normal seperti sediakala? Presiden Jokowi dalam sebuah kesempatan pernah bersuara lantang di tengah situasi pandemi: “Kita harus bergerak serentak, mendobrak semua tantangan dengan melakukan langkah-langkah yang extraordinary untuk melakukan lompatan kemajuan”. Optimisme daya pikir dan militansi perjuangan inilah yang juga memotivasi kami para guru untuk “bergerak” ketika wabah Corona dan letusan vulkanik hampir menghentikan semua aktivitas.

 

Melihat situasi dan kondisi ini, kami sebagai guru dan siswa dituntut untuk melatih kemampuan dalam bidang teknologi pembelajaran agar dapat memanfaatkan teknologi dalam dunia Pendidikan sebagai jalan pengetahuan mesti dirintis kembali. Dalam situasi serba keterbatasan dan himpitan dua krisis yang melanda, kami berusaha menerapkan format pembelajaran daring. Sudah pasti bahwa ada banyak kekurangan yang mesti dibenahi seperti soal keterampilan dalam penguasaan media dan alat elektronik. Namun perjuangan dalam keterbatasan, baik dalam fasilitas maupun ilmu, telah membawa hikmah besar bagi kami dalam penguasaan terhadap teknologi pembelajaran yang semakin bervariasi dan menjadi tantangan tersendiri.

 

Kebijakan pemerintah tentang Work From Home (WFH) juga telah memaksa dan mempercepat kami untuk dapat menguasai teknologi pembelajaran secara digital sebagai suatu kebutuhan meskipun kami harus meminjamkan perangkat gawai tersebut dari orang lain (keluarga atau kerabat di tempat pengungsian). Tuntutan tersebut membuat kami dapat mengetahui dan mempelajari secara mendalam tentang media daring sebagai penunjang untuk menggantikan kegiatan pembelajaran di kelas secara langsung tanpa mengurangi kualitas materi pembelajaran dan target pencapaian pembelajaran. Sebagai pendidik, kami harus mampu membangun kreativitas, mengasah keterampilan siswa, dan peningkatan kualitas diri siswa dengan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi siswa dengan sesama di tempat pengungsian agar dapat meminjamkan peralatan elektronik yang menunjang proses pembelajaran siswa.


 

Sudah 3 bulan lebih kami dirumahkan. Tekanan fisik maupun psikis (mental) terkait pembelajaran secara daring sudah mulai berkurang. Selain dapat membantu untuk memutuskan rantai penyebaran pandemi dan menghindarkan diri dari abu vulkanis akibat erupsi gunung merapi Ile Lewotolok, kami berusaha untuk mencoba sendiri dalam keterbatasan sarana yang kami gunakan sebagai media pembelajaran online tersebut seperti e-learning, aplikasi zoom, google classroom, youtube, maupun media sosial whatsapp.

 

Sarana-sarana tersebut dapat kami gunakan secara maksimal sebagai media dalam melangsungkan pembelajaran secara daring seperti layaknya pembelajaran tatap muka di kelas. Dengan menggunakan media daring tersebut, maka secara tidak langsung kemampuan kami dalam menggunakan serta mengakses teknologi semakin hari semakin baik sehingga terciptalah pemikiran inovatif dari guru terkait metode dan model pembelajaran yang lebih bervariasi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Guru dapat membuat konten berupa video kreatif sebagai bahan pengajaran sehingga siswa semakin tertarik dengan materi yang diberikan. Dengan sendirinya siswa akan memahami apa yang dijelaskan oleh guru melalui video kreatif tersebut dan tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran secara daring dari tempat pengungsian, sekaligus dapat memberikan mutiara terbesar bagi kami sebagai guru, siswa maupun orang tua akan manfaat sekaligus peningkatan kesadaran kami dalam menguasai kemajuan teknologi saat ini meskipun dalam keterbatasan.

 

Kami tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi permasalahan pembelajaran siswa secara daring di lembaga SMK Negeri 1 Ile Ape selama masa pandemi Covid-19 dan erupsi gunung merapi Ile Lewotolok ini, karena mereka adalah generasi yang telah mempertahankan eksistensi lembaga ini dengan mutiara terindah di balik serpihan abu vulkanik gunung merapi Ile Lewotolok. Dalam usaha merintis kembali jalan pengetahuan ini saya pernah terdiam dalam permenungan; terkadang untuk mencapai lompatan-lompatan perubahan yang jauh, kita perlu tantangan. Tinggal dalam zona nyaman dan mengurung diri dalam rasa percaya diri yang berlebihan bahwa ”saya sudah tahu semuanya” atau ”itu saja sudah cukup”, akan menjadikan kita mandek dalam bergerak maju, kalah sebelum tanding dan mati sebelum layu.

 

Foto: Dokumentasi Penulis

Editor: R. Fahik/red 

Post a comment

2 Comments

  1. Good job my brother lanjutkan ... tunas bangsa perlu kalian.. pahlawanku salam I Nyoman Sumierawan S.

    ReplyDelete
  2. Good job my brother lanjutkan ... tunas bangsa perlu kalian.. pahlawanku salam I Nyoman Sumierawan S.

    ReplyDelete