Latest News

Thursday, 26 November 2020

GURU DAN TANTANGANNYA DI ERA GLOBALISASI (CATATAN HGN 2020)

 


Oleh: Ledwina Eti Wuryani, S.Pd

Guru SMA Negeri 2 Waingapu, Sumba Timur

 

Berbicara tentang guru. Ini adalah topik yang tidak pernah habis untuk dibahas. Dari zaman nenek moyang kita dulu hingga sekarang, tak akan hilang ditelan waktu, sampai kapan pun. Kita berbicara sekurang-kurangnya sepuluh tahun terakhir saja. Selalu menarik. Selalu kompleks dan selalu seru.  Walau guru-guru sudah banyak yang berlalu (pensiun). Muncullah guru-guru baru, dengan semangat baru, sebagai guru penggerak untuk Indonesia terus maju.

 

Ada ketidakpuasan masyarakat terhadap guru. Tidak sedikit orang tua yang merasa kecewa pada guru. Mungkin karena ada yang anaknya tidak lulus ujian. Bisa juga karena nilai ujiannya jelek. Ada juga yang kecewa karena anak kesayangannya tidak  diterima di perguruan tinggi yang diharapkan. Pemandangan semacam ini akan terlihat setiap  akhir tahun. Setelah penerimaan bukti kelulusan dan kenaikan kelas. Mereka kecewa, karena seolah-olah  guru tidak bisa mengajar. Guru kurang bisa melatih dan mendidik siswa.

 

Keberhasilan seorang peserta didik sebenarnya tidak sepenuhnya karena guru. Tidak serta merta  keberhasilan murid itu karena ketidakmampuan guru dalam mengajar. Benar. Guru tetap harus berinovasi, tapi tanpa peserta didik yang  pro aktif, ya sama saja bohong. Tak ada seorang pun sukses  tanpa sentuhan  guru. Jadi, apapun kita saat ini, guru-guru kita pasti ikut mewarnai dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan peserta didik.

 

Gelaja yang ‘kurang’ bagi guru  untuk saat ini. Ketika ada guru yang tak mau belajar. Guru tidak mau menggerakkan siswanya untuk terus belajar dan membuka pikiran. Guru tidak berani mengajak siswa untuk kreatif dan tidak pandai berkolaborasi dengan tuntutan kemajuan zaman seperti saat ini.

 

Apalagi  pada jaman  milenial seperti saat ini. Guru harus belajar untuk mengikuti kemajuan teknologi yang semakin pesat. Selain  mempelajari iptek, kita juga harus membangun pendidikan karakter. Membangun karakter agar kelak tidak hanya unggul dalam sumber daya manusia tetapi   juga kuat dalam karakternya. “Mayoritas  mengatakan, intelektual yang membuat seseorang hebat, mereka salah, yang membuat hebat adalah karakter,kata Albert Einstein.

 

Kita saat ini sudah memasuki era globalisasi. Era ini dapat dipandang sebagai era pengetahuan dan teknologi. Tugas guru mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi setiap peserta didik. Diharapkan guru untuk selalu meningkatkan kualitas agar memiliki  kompetensi yang sesuai dengan  perkembangan zaman.

 

Apalagi program utama Mendikbud yang akan ditingkatkan demi menghadapi revolusi industri 4.0 adalah sumber daya  manusia, salah satunya  guru. Membangun karakter sebuah keharusan. Guru  menjadi pintu  lahirnya generasi muda. Guru harus berani beradaptasi dengan teknologi. Guru tidak lagi berjibaku berpegang teguh  dengan kapur dan berkotor-kotor dalam sistem mengajarnya. Namun  guru  harus  menggunakan teknologi demi menciptakan sistem pembelajaran yang up to date dan semakin menarik.

 

Ada beberapa perubahan kecil yang bisa guru lakukan mulai dari sekarang yakni, mengajak  siswa untuk berdiskusi daripada mendengar. Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas (pesentasi aktif). Mencetuskan proyek bakhti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Menciptakan karya atau produk, keterampilan, portofolio dan praktek. Menemukan bakat dalam diri  peserta didik. Siswa harus mandiri. Siswa juga harus berinovasi.

 

Menurut Indra Djati Sidi dalam bukunya Menuju Masyarakat Belajar, guru mempunyai dua permasalahan eksternal yaitu, tantangan krisis etika dan moral anak bangsa (manusiakan manusia) dan tantangan masyarakat. Guru diharapkan bisa menjawab tantangan itu. Guru harus memiliki kepribadian yang kuat dan matang untuk dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Guru mampu memberi bekal kepada peserta didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi juga menanamkan sikap disiplin, kreatif, inovatif dan kompetitif. Tentunya supaya masyarakat juga bisa melihat bahwa peserta didik mempunyai bekal yang memadahi. Mempunyai karakter dan kepribadian yang kuat sebagai warga negara, sebagai anak bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

 

Adanya tuntutan peserta didik yang harus terus  berinovasi dan berkreasai. Guru harus lebih  menguasai teknologi. Menguasai IPTEK.  Mengendalikan siswa dengan kemajuan yang pesat seperti saat ini. Ketika guru mempunyai ikhtiar dalam budaya literasi, membaca berbagai buku, dia akan mampu merespon setiap perubahan. Guru mampu menjawab tantangan jaman yaitu lahirnya  inovasi-inovasi di dunia pendidikan. Tentunya berawal dari membaca, numerik, menganalisa dan kemudian menciptakan. Perubahan dimulai dari atas, semua berawal dan berakhir dari guru itu sendiri.

 

Jauh rasanya ketika kita berharap dalam meningkatkan kualitas guru hanya menunggu adanya program seminar, pelatihan tanpa dibarenagi mencari ilmu sendiri yaitu membaca. Guru Ideal hari ini harus ‘tangguh’ dalam karakter unggul dalam skill  dan oke dalam teknologi. Ketika guru tidak cakap  dalam teknologi, yang mana setiap perannya digantikan teknologi. Kita harus siap menjadi pengguna teknologi, bahkan kalau mungkin bisa ‘menciptakan’. Siap untuk membuat inovasi dan kreasidalam dunia pendidikan.

 

Menjadi guru berarti ikut dalam perjuangan. Berjuang untuk selalu memenangkan di setiap proses pembelajaran. Berjuang  untuk mengentaskan setiap kesulitan pembelajaran. Berjuang untuk selalu membangun iklim positif  ketika menghadapi kesulitan. Seorang guru akan merasakan puas jika kita sudah bertanggung jawab akan keberhasilan peserta didik. Bukan hanya  sekedar mengajar.Inilah  kemenangan dalam dunia pendidikan. Karena mendidik  itu kepuasan batin.Jika kita mendidik dengan penuh tanggung jawab, kita akan merasakan suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri.

 

Pendidkan karakter, bukan hanya teori tapi perlu dibarengi dengan aksi dan diekspresikan dengan keteladanan. Karena itu  peluang  membangun karakter dan sumber daya manusia dalam revolusi industri 4.0  harus mulai sejak  duduk di bangku SD. Tentunya dari guru  yang memiliki dedikasi  tinggi  dan jiwa yang tulus. Tentunya  guruyang setia menerima tantangan. Guru yang menjemput peluang. Guru yang  bisa menjadi teladan, yang selalu  di hati dan dinanti oleh setiap peserta didik, wali murid dan masyarakat.

 

Guru tak akan bisa tergantikan oleh kemajuan teknologi. Guru  harus menjadi penggerak untuk terus maju. Keberlangsungan generasi dan masa depan anak bangsa ditentukan oleh guru. Ayo, sebagai guru teruslah kita berinovasi. Apalagi guru seperti saya, yang sudah tua, ya harus tahu diri, tetap terus belajar supaya tidak tinggal tetap di landasan. Ada pepatah mengatakan ‘Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya  belajar, maka  kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan’ (Imam Syafi’i). Salam untuk para guru. Semangat. Selamat Hari Guru Nasional 2020, semoga semakin maju, berinovasi dan berkreasi.

 

4 comments:

  1. Kereeeen... semangat ibu guru cantik, terus berbenah ya buu... akhirnya bisa juga khan... sukses terus bu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ibu ...yg selalu memotivasi saya

      Delete
  2. Mntpp..ibu so good..mg guru makin berkualitass

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih pak Nengah...
      Pingin belajar lagi lewat yg senior

      Delete