Latest News

Thursday, 2 July 2020

PENTINGNYA PEMBERIAN MP ASI PADA BAYI TEPAT WAKTU


Rosina Hurek, S.Tr. Kep, M.KM
Dosen Universitas Citra Bangsa - Kupang
Salah satu sumber daya manusia yang harus dilindungi dan dijaga adalah anak. Anak merupakan generasi muda yang memiliki peran penting untuk menjaga dan meneruskan cita-cita bangsa. Agar peran anak ini dapat terwujud secara optimal, maka tumbuh kembang anak perlu diperhatikan. Dua tahun pertama merupakan periode terpenting dalam kehidupan anak termasuk dalam hal pemberian nutrisi. Pola asuh pemberian makan yang salah pada periode ini dapat menimbulkan masalah bagi anak yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa.

Situasi gizi balita di dunia saat ini  sebanyak 158 juta balita mengalami pendek (stunting), 52 juta balita kurus (wasting) dan 41 juta balita gemuk (overweight). Di Indonesia, berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 diketahui bahwa 17,7% balita mengalami gizi buruk dan gizi kurang, 30,8% balita sangat pendek dan pendek, 10,2% balita sangat kurus dan kurus serta 8% balita gemuk. Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi paling sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Selanjutnya untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal ASI perlu diberikan secara ekslusif sampai umur 6 bulan dan dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun. Pemberian ASI ekslusif artinya pemberian ASI kepada bayi tanpa diberikan makanan atau minuman apapun termasuk air. 

Pemberian ASI sangat erat kaitannya dengan masalah gangguan pertumbuhan pada usia dini yang terjadi pada anak di Indonesia. Pemberian ASI dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, mengurangi resiko penyakit infeksi akut seperti diare, pneumonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran kemih. Selain itu pemberian ASI dapat memberikan kepuasan dan mendekatkan hati ibu dan bayi sebagai sarana menjalin hubungan kasih. Menurut penelitian bayi yang tidak diberi ASI akan rentan terhadap penyakit infeksi yang berulang yang dapat mengakibatkan balita mengalami gizi buruk dan kurus, juga dapat meningkatkan resiko terkena alergi maupun penyakit kronis.

Odilia Esem, S.ST, M.H
Dosen Universitas Citra Bangsa- Kupang 
World Health Organization (WHO) sebagai organisasi kesehatan dunia telah merekomendasikan standar emas pemberian makan pada bayi yaitu menyusui secara ekslusif sejak lahir sampai dengan bayi berusia 6 bulan dengan didahului oleh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada satu jam pertama setelah bayi lahir, dilanjutkan dengan pemberian makan (MP ASI) sejak bayi genap berusia 6 bulan dan diteruskan sampai dengan 2 tahun. Sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap rekomendasi WHO, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Ekslusif. Namun, dalam pelaksanaannya masih banyak ibu yang memberikan makanan tambahan pengganti ASI (MP ASI) kepada bayi kurang dari 6 bulan.

Fenomena ini tentu sangat memprihatinkan mengingat besarnya manfaat ASI bagi kehidupan anak. Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukan proporsi pola pemberian ASI pada bayi umur 0-5 bulan di Indonesia,  sebanyak 37,3% bayi mendapatkan ASI ekslusif, 9,3% bayi mendapatkan ASI parsial dan 3,3% bayi mendapatkan ASI predominan. ASI predominan artinya bayi diberikan ASI tetapi pernah diberikan sedikit air atau minuman berbasis air misalnya teh sebagai makanan/minuman bayi sebelum diberikan ASI sedangkan ASI parsial merupakan pemberian ASI dengan ditambahkan makanan buatan seperti susu formula, bubur atau makanan lain sebelum bayi berusia 6 bulan baik diberikan sebelum menyusui atau secara kontinyu.

Pemberian MP ASI yang terlalu dini meningkatkan resiko kontaminasi yang sangat tinggi yaitu terjadinya gastroenteritis dan resiko alergi terhadap makanan yang sangat berbahaya bagi bayi serta mengurangi produksi ASI lantaran bayi jarang menyusui. Gastroenteritis merupakan infeksi saluran pencernaan seperti muntah dan diare atau yang lebih dikenal dengan muntaber. Hal ini terjadi karena bayi usia kurang dari 6 bulan memiliki system imun yang belum sempurna, sehingga apabila diberikan MP ASI terlalu dini bayi akan rentan terkena penyakit. Selain itu tidak ditemukan bukti yang mendukung bahwa pemberian makanan tambahan pada bayi berusia 4-5 bulan lebih membawa dampak positif. Sebaliknya, hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian MP ASI dini dapat meningkatkan angka kesakitan 10-20 kali dan angka kematian 7 kali dibandingkan anak yang tidak diberikan MP ASI dini. Pada kasus yang lebih ekstrim, pemberian MP ASI dini dapat menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan dan harus dilakukan pembedahan. Disamping itu, pemberian MP ASI juga mempengaruhi tingkat kecerdasan otak setelah dewasa seperti memicu terjadinya penyakit obesitas, hipertensi dan jantung coroner.

Peran ibu dalam mengambil keputusan dalam memberikan ASI eksklusif tanpa makanan pendamping sampai usia bayi 6 bulan memiliki pengaruh yang sangat besar. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah pengetahuan. Beberapa ibu tidak mengetahui manfaat ASI eksklusif yang dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi. Ibu beranggapan bahwa bayi yang kecil dan kurus harus diberikan MP ASI karena ASI saja tidak akan cukup untuk memenuhi zat gizi bayi selama 6 bulan. Ibu menyakini tambahan MP-ASI diperlukan untuk meningkatkan kebutuhan gizi bayi.

Pengetahuan para ibu juga berhubungan dengan sumber informasi yang di dapatkan dari mitos dan media massa. Ibu mengatakan bahwa penyebab pemberian MP-ASI dini pada bayi mereka dikarenakan adanya kebiasaan ibu dalam memberikan MP-ASI turun temurun dari orang tuanya seperti pemberian bubur nasi dan bubur pisang pada bayi yang telah berusia tiga bulan. Tidak hanya itu, ibu juga mengatakan factor utama memberikan MP ASI karena tertarik dengan iklan susu formula maupun MP ASI yang sekarang banyak sekali beredar di televisi maupun di media sosial yang diperkenalkan sehingga ibu terpengaruh dan memiliki sikap bahwa susu formula juga baik untuk bayi.

Pada situasi krisis seperti bencana non-alam yang dialami negara saat ini, bayi dan balita menjadi  salah satu kelompok rentang yang perlu perhatian lebih. ASI menjadi pilihan makanan teraman bagi bayi saat situasi krisis ketika akses terhadap air bersih dan pelayanan kesehatan terbatas. Penting bagi ibu untuk memberikan MP ASI pada bayi sesuai dengan anjuran yang ada yaitu usia 6 bulan. Dalam pemberian MP ASI juga perlu memperhatikan beberapa hal seperti MP ASI tersebut haruslah mudah dicerna bayi, harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhan bayi. Harus mengandung kalori dan mikronutrien yang cukup, ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis MP ASI, jumlah porsi makanan dan cara pembuatan. Hal ini perlu diperhatikan ibu mengingat pola asuh pemberian makan yang salah dapat berdampak buruk bagi kesehatan anak. Semoga bermanfaat. (*)


3 comments:

  1. Mantap ibu dosen Rosalina, semoga sukses terus. Memang ASI adalah makanan yang paling sempurna untuk bayi.

    ReplyDelete