Latest News

Monday, 13 July 2020

IBU! AKULAH ANTING BULAN: KEDIPAN CINTA DARI HALAMAN SMPN 6 NEKAMESE

Dr. Marsel Robot
Dosen, Sastrawan
Membaca puisi, siapapun penciptanya, (sastrawan kawakan atau sastrawan cilik) adalah bergadang dalam aula rahasia. Di sanalah pembaca terlibat dalam pertengkaran teramat romantik nan syahdu itu. Sebab, puisi bukanlah teks siap santap, seperti halnya risalah, makalah atau buku teks.  Teks ilmiah tergolong  teks harafiah yang bersifat low context text (teks konteks rendah)  karena mudah dipahami isinya. Teks puisi merupakan “teks setengah jadi. Teks puisi berkelindan dengan metaforis, konotasi,  analogis, dan simbolis. Itulah pula sebabnya,  puisi  tergolong teks yang bersifat hight context text (teks yang diinterpretasi secara  intensif dan masif). Sifat teks demikian yang meminta kepekaan dan kreativitas penerimanya  untuk  melakukan perlawanan kreatif terhadap sebuah puisi. Itulah bentuk cicilan kenikmatan yang didapatkan dari sebuah puisi.

Ada semacam keruwetan dalam urusan menikmati puisi.  Semisal, seorang penyair menulis selarik puisi, “air mata ibu beraroma mawar.”  Mulailah pembaca  kerepotan. Sebab, ia terus-menerus dirong-rong oleh  pertanyaan, apakah  makna “air mata  ibu beraroma mawar”  dalam larik puisi itu? Dalam pertengkaran yang nikmat itulah, pembaca diperlakukan sebagai orang cerdas dan  kreatif. Karena itu, pembaca puisi  tidak hanya mempunyai tumpukan  pengetahuan, tetapi lebih dari itu, mempunyai radar (kepekaan) estetik yang dapat  mengonstruksi pengalaman puitik dengan karya puisi yang dibacanya.  Radar  estetik dapat  melipat jarak antara pencipta dan  pembaca. 

Antologi puisi berjudul “Terima kasih untuk Cintamu” merupakan kumpulan puisi  karya  siswa-siswi  SMP Negeri 6 Nekamese Kabupaten Kupang. Tetesan tangan mungil dari jagat hati yang bening  dengan tema dan diksi yang melampaui usia siswa-siswi ini. Antologi ini memberkaskan secara estetik rasa rindu, cinta para penyair cilik ini terhadap Ibu, Ayah, Sahabat, Guru. Puisi-puisi  ini tak lain adalah  titian untuk  memulangkan rindu dan cinta kepada Ibu, Ayah, atau Sahabat. Sebab, cinta kepada  Ibu, cinta kepada  Ayah, dan cinta kepada Sahabat kadang tersedak di tenggorokan pengalaman. Sebab, sulit untuk  membalasnya. Itulah yang menyebabkan merindu itu luka yang membahagiakan, dan mencintai itu adalah sayatan yang menyedapkan.

Begitu banyak metafora tentang Ibu atau Ayah yang tumbuh dalam puisi-puisi siswa-siswi ini. Terasa dekapan cinta dan jamaan kasih Ibu dan Ayah menembus lambung, lalu mengalir dalam nadi kehidupan mereka.   Ibu bagai bulan yang membagikan purnamanya dengan tenang, dan membuat kita memahami gelap. Sang anak adalah anting pada bulan itu yang seakan bertugas merindu dan mencinta. Demikianlah kualitas cinta antara  ibu dan anak yang tak mengenal angka pembilang dan penyebut. Dalam puisi Esra M. Baliaut berjudul “Kasih Ibu” menuturkan hal itu dengan jujur.

Wahai ibu
Engkau pelitaku dalam gelap
Kau terangi hidupku
Penuh kasih luar biasa kau merawatku
Kau belai dengan tangan putih nan lembut

Dengan tanganmu kau usap air mataku
Dengan tangan kau belai rambutku
Dengan tangan engkau memelukku
Di doa tulusmu
Kakiku tertatih melangkah
Tak pernah kau biarkan kuterjatuh
Karena tanganmu jualah yang memapah

Hanya terima kasihku ibu
Mewakili segala yang kurasa
Karena tidak ada satupun di dunia ini
Yang bisa menggantikan kasihmu
Cuma kasihmu ibu.

“Tangan putih Ibu”  yang mengusap rambut, mengusap nasib, mengusap hidup adalah simbol kesucian dan ketulusan dalam mengantar Sang Anak  menuju bintang. Anak adalah busur-busur yang melesat jauh yang ditembakkan oleh Ayah dan Ibu dari kintal hatinya. Karena itu, titah, petatah, atau nasihat adalah lilin-lilin yang dinyalakan di tepi jalan setapak menuju bintang itu. Lilin-lilin itu adalah Ibu itu sendiri, yang demi cahaya pada jalan, ia melulukan dirinya  (mengorbankan dirinya).  Sebuah wantian dari Ibu atau Ayah  adalah sabda. Serli S. Tasey berucap lugu dalam puisinya berikut ini.

Ibu ...
Di saat malam gelap
Aku belaian kasihmu
Akan pelukan hangatmu

Ibu ...
Satu kata nasihatmu
Bagaikan butiran-butiran mutiara
Yang manyinari jalan hidupku

Ibu ...
Kuucapkan terima kasih untukmu , ibu
Karena engkau sudah mengorbankan dirimu
Untuk aku anakmu


Puisi lahir dengan cara dan sejarahnya sendiri. Personalitas dalam memilih diksi, metafora, idiom atau tamsil apapun justru menjadi sebuah telaga perpisahan yang paling indah antara pencipta  dan pembaca.  Romantika  persahabatan menjadi energi tambahan dalam merengkuh ilmu di masa muda seperti ini, atau menjadi inspirator, motivator untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Tanpa persahabatan, kehidupan demikian susut, dan harapan bisa saja  tersangkut. Maria Tanenofunan dalam puisi “Rindu Bersamamu Lagi”  menulis:

Oh....sahabat
Saat sepi dalam kesendirian
Mataku menerawang jauh
Menembusi kegelapan malam
Dalam rindu

Oh....sahabat
Kukenang masa-masa kita bersama
Semakin kenang semakin merindukanmu

Oh....sahabat
Aku rindu tawamu
Aku rindu candamu
Aku rindu kebersamaan
Kebersamaan kita yang dulu

Rindu kadang menyiksa, tetapi rasanya nikmat.  Dalam tawanan rindu itu muncul refleksi. Atau setidaknya membilang atau menyebut budi baik  sahabat yang pernah disumbangkan  kepada kita. Sebab, rindu selalu menggenangkan  kenangan dalam buku memori yang tak mudah dihapus oleh tangan zaman. Rindu itu menyakitkan  seperti terucap Amsal Leli dalam puisi pendeknya berjudul “Rindu.”

Rindu...
Rasa yang mendalam
Rindu...
Menyakitkan
Rindu...
Hanya dapat diobati
Oleh apa yang dirindukan

Saling mencintai, saling menghargai dan turut merasakan (solider) sesungguhnya  merupakan penampakan sikap religius dalam hubungan antarmanusia. Teringat  ucapan  Chuang Tse, “Dirimu adalah satu tubuh yang dipinjamkan padanya oleh alam semesta. Hidupmu  bukan milikmu. Ia adalah suatu harmoni yang dipinjamkan kepadamu oleh alam semesta....engkau tidak memiliki hidupmu” (Anh, 1985 : 18).

Setelah sebulanan suntuk  mengembara  (keluar –masuk)  puisi-puisi siswa-siswi SMP Negeri 6 Nekamese ini, saya malah terlempar di sebuah pojok perenungan. Betapa kagum,  anak-anak milenial yang  tumbuh di atas serat-serat optik ini berpuisi. Mereka tidak terlahir  di antara dongeng, mitos, atau legenda, tetapi  lahir di antara jempol dan tombol (telepon genggam android).  Dibesarkan oleh Facebook, Instagram, Youtube dan Google. Kaki mereka terperosok dalam selokan tanpa nostalgia. Terlihat apatis dan autis,  terlantar di padang-padang peradaban, jauh dan sendirian. Begitu tergantung hingga martabat ditentukan oleh android yang digunakannya. Namun, siswa-siswi ini masih menabung waktu untuk mencari jalan pulang ke dalam diri dan ke dalam kehidupan melalui perenungan-perenungan yang mewujud   dalam puisi.

Putra-putri ini sesungguhnya sedang  mencari  alamat-alamat kerinduan dan cinta agar dapat dipulangkan kepada si pemberinya. Mungki hanya sekerat doa atau seutas ucapan terima kasih. Puisilah yang menyediakan alamat itu. Totalitas rasa dan rasio, serta pengalaman menggenapi dunia puisi yang penuh sesak dengan makna. Karena itu, buat saya,  lebih dari sekadar  identitas geografis, Nekamese adalah entitas  yang menyuburkan imajinasi, baik siswa maupun guru-gurunya untuk beternak kata-kata. Mereka  bercanda dengan dunia khayalan, sesekali kembali membuka jendela dan memandang “ke dalam,” lalu bertanya “siapakah aku  ini selama di sini?” Padahal, generasi digital ini tak mempunyai kesempatan untuk bernostalgia atau bernarasi tentang hidup yang sedang dijalaninya. Nyaris tak ada dongeng, mitos dan ceitera-ceritera yang mengaktifkan memori imajinatif dan membuatnya lebih manusiawi. Mungkin juga tak ada lagu untuk sesekali melegokan hasrat cinta dan rasa rindu antara sesama insan. Puisi-puisi inilah semacam kedipan cinta dari halaman  sekolah Nekamese  buat mengusap  hidup yang  terasa karatan, romantisme yang  mulai bangkrut, memori tak  merekah dalam buku  album.

Beberapa tahun lalu, saya pernah ke sekolah ini untuk urusan yang  satu ini. Sejumlah guru menuliskan puisi dan dibuatkan dua buku antologi  masing-masing berjudul: “Bumantara Cinta”  dan “Kuingin Goresan Cinta dalam Daifan.”  Yulianti Pulungtana, Sang Kepala Sekolah itulah yang menjadi mata air inspirasi guru dan siswa di sekolah itu. Dialah yang menurunkan gerimis di bukit Nekamese buat membibitkan dan membobotkan imajinasi  guru dan siswa. Langka memang,  dan memang langka. Seorang Kepala Sekolah dengan setumpuk tugas yang menimpuknya, toh masih saja ingin bersekongkol dengan  kesunyian.   Yulianti Pulungtana begitu hirau  dengan urusan rasa ini. Hemat saya, Yulianti sedang menata peradaban di etalase pendidikan melalui tradisi bersastra di sekolah.

Puisi-puisi yang menghuni antologi ini adalah jalan indah untuk kembali “ke dalam diri,” setelah kembali dari luar sana sekadar bertengkar secara romantis  dengan realitas. Puisi adalah meja perjamuan kemanusiaan.Toh, dunia ini cuma tempat pembuangan buat kita menyadari diri bahwa kita bukan siapa-siapa, dan tidak mempunyai apa-apa, dan untuk apa mempunyai apa-apa kalau tidak lebih dari sekadar apa-apa. Tugas kita ialah merindu mencintai sepanjang perjalanan menuju sebutir debu. Namun, matamu mulai purnama di geladak, lantas kehilangan segalanya dari dompet,  terutama nostalgia. Di sanalah rindu tak ada alamat  untuk kembali.

   









comments

No comments:

Post a comment