Latest News

Wednesday, 17 June 2020

TINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA JERMAN MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING


TINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA JERMAN
MELALUI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

Oleh: Ludgardis Kara, S.Pd.
Guru Bahasa Jerman,  SMAK St. Petrus Ende, Kabupaten Ende

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang dalam proses perkembangannya masih membutuhkan kerja sama dengan negara-negara lain di dunia, baik negara-negara di Asia maupun di Eropa. Jerman merupakan salah satu negara di Eropa yang menjalin hubungan kerja sama dengan Indonesia terutama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Bahasa Jerman menduduki urutan pertama di benua Eropa. Karena itu, dalam menjalin hubungan kerja sama dengan negara- negara di Eropa khususnya Jerman, maka sangat dibutuhkan bahasa pengantar yakni Bahasa Jerman.

Pemerintah Indonesia dalam usaha menjalin hubungan kerja samanya dengan pemerintahan Jerman, bekerja sama dengan kedutaan besar Jerman di Indonesia, pusat kebudayaan Jerman (Goethe Institut), dan dinas pertukaran pelajar, setiap tahun menyelenggarakan olimpiade Bahasa Jerman tingkat nasional melalui seleksi olimpiade tingkat kabupaten dan provinsi. Seleksi ini bertujuan untuk mendapatkan peserta didik yang mahir berbahasa Jerman secara lisan dan tulis agar mendapatkan beasiswa belajar di Jerman, serta mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Kepedulian pemerintah Indonesia juga terlihat melalui ditetapkannya Bahasa Jerman sebagai bahasa asing ke-2 setelah Bahasa Inggris,  sebagai mata pelajaran peminatan pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pembelajaran Bahasa Jerman akan berhasil dengan baik apabila peserta didik dapat dibekali dengan pengetahuan berbahasa Jerman yang baik pula, melalui pembelajaran di sekolah, dengan mengggunakan model pembelajaran yang tepat sehingga penguasaan pembelajaran Bahasa Jerman menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami. Pembelajaran Bahasa Jerman sebagai bahasa asing ke-2 di SMA, dimulai dari kelas X sampai kelas XII.  Bahasa Jerman sering dianggap sebagai suatu hal yang sulit dipelajari. Hal ini terlihat pada awal pemberian motivasi kepada peserta didik. Ketika ditanya tentang minat terhadap Bahasa Jerman yang merupakan mata pelajaran baru bagi mereka, kebanyakan menjawab sulit, takut, dan berat. Hanya sedikit siswa yang menjawab senang dan ingin mempelajarinya. Hal tersebut diperkuat dengan anggapan yang sudah tertanam dalam diri peserta didik bahwa pembelajaran Bahasa Jerman pasti tak jauh berbeda dengan bahasa asing lainnya yang sulit untuk dipahami. Terutama ketika harus menghafal kosakata baru, merangkai kalimat, menguasai struktur kalimat Bahasa Jerman, serta rasa takut dan malu jika melakukan kesalahan saat berbicara. Realitas tersebut menunjukkan bahwa  pembelajaran bahasa asing masih dianggap sebagai hal yang sulit untuk dipelajari.

Mengatasi anggapan keliru tersebut, diperlukan pemberian motivasi serta pemahaman yang positif bagi peserta didik, bahwa sebenarnya belajar bahasa asing itu menyenangkan dan tidak sulit, apabila kita memiliki kemauan yang kuat untuk belajar dan mencoba. Memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik memberi banyak peluang bagi peserta didik, seperti bisa mendapatkan beasiswa dari luar negeri, dapat bekerja pada bidang pariwisata, serta berbagai keuntungan lainnya. Selain itu, penerapan model pembelajaran yang tepat dalam kegiatan pembelajaran akan sangat membantu proses tercapainya tujuan pembelajaran yang efektif.

Model Pembelajaraan Discovery Learning  dianggap efektif untuk kegiatan pembelajaran Bahasa Jerman di kelas X Bahasa, SMAK St. Petrus Ende. Adapun tahapan pembelajaran dengan Discovery Learning adalah sebagai berikut. Pertama, stimultion (stimulus/pemberian rangsangan). Pada tahap ini, peserta didik diberi rangsangan untuk menemukan sendiri  hal-hal yang mengarah kepada kondisi belajar peserta didik pada usaha persiapan pemecahan  masalah yang akan dipelajari dengan cara melihat, mengamati, membaca, menulis, mendengar, dan menyimak. Motivasi berfungsi untuk mengeksplorasi bahan pembelajaran. Kedua, problem statement (identifikasi masalah/pernyataan). Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, dengan mengajukan pertanyaan tentang materi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, serta kemampuan merumuskan pertanyaan-pertanyaan kritis dan logis. Ketiga, data collection (pengumpulan data). Terdiri dari kegiatan literasi dan kolaborasi (kerja sama). 

Pada kegiatan literasi terjadi eksplorasi, peserta didik diberi kesempatan oleh guru untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, untuk menjawab  pertanyaan yang telah didentifikasi melalui kegiatan seperti: (1) mengamati obyek atau kejadian secara saksama, tentang materi yang dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba untuk menginterpretasikannya, (2) membaca sumber lain selain buku teks dan secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi yang sedang dipelajari, (3) menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengamati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi yang dipelajari, (4) wawancara atau tanya jawab dengan nara sumber, dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari, yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru. Sedangkan, pada kegiatan kolaborasi (kerja sama), peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk berdiskusi. Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh soal sesuai materi yang dipelajari, mengumpulkan informasi dengan cara mencatat semua hal penting tentang materi yang dipelajari pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mempresentasikan ulang dengan cara mengkomunikasikan secara lisan dengan rasa percaya diri sesuai dengan pemahamannya tentang materi pembelajaran, saling menukar informasi, mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, dan menghargai pendapat orang lain, serta mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Keempat, data processing (pengolahan data). Hal yang dilakukan pada tahapan ini adalah pengolahan data dan informasi yang sudah diperoleh peserta didik, baik melalui kegiatan membaca, pengamatan obyek, dan lain-lain. Data-data tersebut diolah, diklasifikasikan, ditabulasi, dan dihitung berdasarkan pedoman materi yang dipelajari. Kelima, verification (pembuktian/ pengujian hasil). Pada tahap ini peserta didik  diberi kesempatan untuk melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan. Siswa-siswi diberi kesempatan untuk mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasilnya dengan data-data atau teori pada buku sumber. Proses verifikasi data dapat dilakukan dengan cara mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang sama atau bertentangan, untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, dan kemampuan mengkolaborasikan teori dan data. Proses belajar ini akan berjalan dengan baik dan kreatif,  apabila guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kelima, generalization (menarik kesimpulan). Tahap ini adalah tahap penarikan kesimpulan. Peserta didik diminta untuk menyampaikan hasil diskusi mereka, tentang poin-poin penting yang muncul  dalam kegiatan pembelajaran yang sudah dilalui.

Pada kegiatan penutup peserta didik diminta untuk mebuat resume terkait materi yang dipelajari, mengagendakan  materi, tugas, dll. Sebagai persiapan untuk pertemuan berikutnya. Guru harus memeriksa semua pekerjaan peserta didik, serta diberi paraf dan nomor urut berdasarkan skor nilai yang diperoleh. Kelompok yang memiliki kinerja dan kerja sama yang baik pada kegiatan pembelajaran akan mendapatkan reward (hadiah) dari guru.Pembelajaran dengan Model Discovery Learning membawa beberapa perubahan atau peningkatan pada prestasi belajar peserta didik. Hal tersebut terlihat dengan tingginya antusias siswa dalam mencari, menemukan, mengelompokan, membuktikan, dan menyimpulkan hasil pembelajaran dengan  baik. Selain itu, peserta didik juga nampak aktif bekerja sama dengan penuh disiplin, jujur, dan tanggung jawab.

Belajar bahasa asing, khususnya Bahasa Jerman sebenarnya tidaklah sulit. Asalkan peserta didik memiliki kemauan yang kuat untuk belajar serta tekun untuk berlatih. Karena itu, sebagai guru Mata Pelajaran Bahasa Jerman, hendaknya kita selalu memiliki semangat untuk mencari alternatif terbaik dalam membantu peserta didik yang  mengalami kesulitan belajar. Salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang menarik, kreatif, dan tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuannya pun dapat tercapai. Perjuangan itu memang tidak mudah, selalu saja ada rintangan dalam perjalanan. Seperti ungkapan bijak dalam Bahasa Jerman ini, “am Anfang sind die schritte klein, aber die Träume bleiben immer groβ” (pada permulaan langkah itu memang kecil, tetapi mimpi- mimpi selalu tetap besar).
               

comments

No comments:

Post a comment