Latest News

Wednesday, 17 June 2020

TESTIONI DARI KINTAL CAKRAWALA


TESTIONI DARI KINTAL CAKRAWALA
(Membaca Jejak Literasi dari Buku “Hanya Pikiran yang Tidak Pernah Tua”
 Karya Gusty Ricarno)

Oleh Marsel Robot
Dosen, Budayawan,  dan Penggiat Literasi

Abdul Kassen Ismael pembawa terang  literasi di atas punggung unta. Akhir abad kesepuluh,Abdul Kassem Ismael melakukan tur eksentrik. Ia seorang traveler  palingbijaksana  dan barangkali menjadi ikon gerakan literasi perpustakaan berjalan saat ini. Ismael bepergian membawa perpustakaannya. Seratus tujuh belas ribu buku di atas empat ratus unta membentuk karavan sepanjang satu mil. Unta-unta itu juga merupakan katalog: mereka diatur sesuai dengan judul buku yang mereka bawa, kawanan untuk masing-masing dari tiga puluh dua huruf abjad Persia (baca Galeano:Children of the Days,  A Calendar of Human History, 2013).

Perjalanan Abdul Kassem Ismael adalah perjalan membawa cahaya untuk mengubah peradaban dunia. Memang, tak ada  catatan hasil wawancara tentang Kassem untuk menanyakan ide  aneh  dan karnaval kolosal para unta yang dilakukannya demi buku, peradaban, dan kehidupan. Keadaan demikian menerima  Kassem sebagai  penampakan kesadaran. Kassem adalah rasul peradaban. Ihwal buku menjadi cahaya,  karena buku mengabadikan pikiran, melampaui sekadar yang dikatakan. Dari sanalah terhela seutas  diktum tentang entitas sebuah buku, Scripta manent verba voland (apa yang terucap akan berlalu, apa yang tertulis akan “mengabad,” dan “mengabadi. Buku semacam hardisc eksternal tempat menyimpan   pemikiran hasil pertengkaran manusia dengan semesta   yang terus merauang dalam ruang dan waktu. Sebab, manusia lahir untuk tak betah, ingin bepergian, dan mencari. Itulah sebabnya, di kota-kota,  perpustakaan dibangun di tengah kota sebagaimana katedral agar mudah diakses oleh siapapun yang membutuhkannya.  Iman dan Ilmu entitas manusia yang paling dasariah untuk bereksistensi.

Usaha gila yang dilakukan Kassem Ismael boleh jadi diilhami  oleh peperangan yang selalu menghancurkan dua hal penting  yakni manusia dan buku.Peristiwa tanggal 3 Januari tahun 47 SM, perpustakaan zaman dahulu yang paling terkenal terbakar habis. Setelah pasukan Romawi menyerbu Mesir, dalam salah satu pertempuran yang dilakukan oleh Julius Caesar melawan saudara lelaki Cleopatra, api melahap sebagian besar dari ribuan gulungan kertas papirus di Perpustakaan Alexandria.Jazirah Arab pernah menjadi  pusat ilmu pengetahuan dunia.Ketika bangsa Mongolia datang menyerang,   yang diserang bukan hanya   manusia, melainkan   juga buku-bukunya. Pada tahun 1684 di Jepang mendirikan sebuah badan khusus yang mempelajari dan meneliti buku buku keluaran barat. Dengan begitu, mereka tidak perlu menghabiskan uang untuk melakukan pengembaraan ilmiah di barat, tetapi cukup  mengembara dari halaman ke halaman buku barat tersebut. Milan Kundera  seorang sastrawan asal Ceko pernah berkata, jika ingin  menghacurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurlah buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.

Kassemlah sosok yang menginspirasi saya untuk   menulis prolog buku “Pikiran Tak Pernah Tua” karya Gusty Ricarno ini. Mari kita mulai bertengkar denganbuku yang sedang di pangkuan pikiran Anda. Judul “Pikiran Tidak Pernah Tua,” diambil dari salah satu artikel dalam buku ini. Judul terilham dari pernyataan Hannah Arendt (1906-1975), filsuf Jerman aliran Filsafat Kontinental. GustyRicarnomengutip Arendt: There are no dangerous thoughts thinking it self is dangerous(Tidak ada yang lebih berbahaya dari pemikiran selain pikiran itu sendirilah yang berbahaya).Seperti sebuah anekdot, ‘manusia berpikir,  Tuhan malah tertawa. Artinya,  manusia itu berusaha untuk mengerti, Tuhan  yang  serba  mengerti hanya  bilang”ngapain sih kamu gitu-gituan.”

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Gusty Ricarno selama menyusuri jalan terjal  gerakan literasi di Nusa Tenggara Timur. Gusty bersama grupnya Media Cakrawala Pendidikan (MCK)  yang sengaja dibentuknya sebagai markas bagi laskar  penggerak literasi merangsek jalan kelam literasi. MCK mempunya kantor kecil. Letaknya dikerumuni rumah penduk di Oebufu (Kota Kupang). Mengkases kantor itu mirip melewati jalan menuju literasi di daerah ini. Alur lorong kecil, kadang tersedak di tembok rumah penduduk. Jalan tanah, kelok,  becek di musim hujan, berdebuh di musim kemarau. Namun, di kantor kecil ini “dian literasi” tak pernah padam. Bayangkan, setiap pulang dari lapangan, meliput berita, membantu guru dan siswa menulis,  mereka berkumpul menelaah hasil perjalanan dengan mentor atau pakar di bidang pendidikan, bedah buku yang ditulis guru-guru, diskusi.Dansalah satu produk perjalanan itu ialah artikel yang ditulis secara konsisten oleh Gusty Ricarno.

Kumpulan tulisan yang bernaung di bawah judul “Pikiran Tidak Pernah Tua,” pada dasarnya artikel-artikel yang pernah dipublikasi di Media Cakrawala Pendidikan. Tulisan-tulisan itu tidak diaransem secara tematik. Karena artikel ini lahir  dari kondisi atau pengalaman yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya atau satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Tepatnya, artikel-artikel ini sangat situasional dan kontekstual. Sedangkan, raut-buku hanya memberikan isntitusi pada sejumkah artikel itu.

Keadaan demikian, meminta  pembaca untuk menerima buku ini dengan dua perspektif. Pertama, tulisan-tulisan ini diterima sebagai refleksi  kritis terhadap gerakan lietarasi, tantangan, dan pengalaman empirik. Cara itu pula sebagai usaha terselubung  mengetuk  pikiran semua orang untuk terlibat. Balam bahasa Gusty Richarno sebagai gerakan semesta. Kedua, buku ini semacam gerakan mental untuk mengakarkan tradisi membaca di Nusa tenggara Timur. Apa yang mendorong Gusty Ricarno dan Media Cakrawala pendidikan begitu hirau dengan pendidikan di provinsi kepualaun ini. Inilah pentingnya buku ini dibaca. Sebab, ia memberikan begitu banyak argumentasi dan gagasan untuk melakukan teter nera (bahasa Manggarai, menabur cahaya) dari sudut ke sudut pulau.  Ketiga, tulisan-tulisan ini merupakan testimoni akademik seorang Gusty Ricarno dan MCP  selama bergelut secara riil melahap realitas literasi di provinsi ini.

Satu hal yang membagakan dari grup anak muda ini  ialah optimisme. Tak ingin memgutuk gelap, tetapi menyalakan lilin. Tak ingin menanak opini di media massa dan media sosial, tetapi turun langsung memeriksa di lapangan. Gusty Richarno benar-benar jatuh cinta terhadap persoalan pendidikan. Ia menulis:
Saya menitikkan air mata saat kata-kata dalam baris puisi ini dibaca perlahan. Seperti halnya ribuan anak NTT lainnya, Echyk merindu. Ada jalan sepi bernama literasi yang harus dilintasinya sendiri. Sebuah kultur baru yang terasa sepat (asam) di hati dan pikiran banyak orang. Ia butuh beberapa orang atau bahkan cukup seorang untuk meneguhkan mimpi-mimpi kecilnya menjadi bintang melalui literasi. Anak NTT bisa. Jangan beri mereka mata kail apalagi beberapa ekor ikan. Tunjukan saja, di mana kolamnya maka ia bakal mengoptimalkan seluruh potensi dirinya untuk mendapatkan ikan (Hanya Pikiran yang Tak Pernah Tua).

Beberapa kali ritual ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan, saya selalu bertemu  dengan Gusty Ricarno. Ia selalu bicara cerdas, kadang  mencengankan,  lantaran  ia berargumentasi dengan eviden. Bukan hanya buah pikirannya yang bernas, tetapijuga didukung oleh episode-episode  realitas yang begitu melodramatis yang diperoleh dari  kintal-kintal sekolah yang dikunjunginya.  Ia tak ingin menjadi akademisi yang salonistik, berbicara tentang literasi dari ruang kampus yang wah dan memandang keadaan dari balik kaca mobil Pajero Dakar, atau berbusa-busa berbicara di gedung rakyat dengan hembusan sepoi  AC (air Conditionanin) yang melelapkan akan sehat dan mematikan jentik kemanusiaan dalam hati. Gusty Richarno berangkat menuju  kelam, melewati onak, koral. Kadang harus  menginap di rumah penduduk tanpa lampu, tanpa toilet. Kalaupun nginap di hotel, dicari hotel yang paling murah atau  ada kortingnya. Tetapi keadaan itu justru mebuat Gusty dan Grup MCP terus bergairah menaburkan cahaya literasi.  Betatapun hebatnya program pembangunan  dengan desain yang begitu canggih, toh jika sumberdaya penerima tidak memapu memaknai dan mengoperasionalkannya, maka semuanya adalah gerakan menggunting asap.  Dengan demikian, NTT Bangkit, NTT Sejahtera yangg dicanangkan Gubernur NTT Victor Laiskodat menjdi ironi abila segera kita konfirmasi  dengan tingkat literasi di NTT. Gusty menulis begini:

Hasil survei menemukan kemampuan literasi dasar anak-anak SD di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat rendah. NTT menempati posisi 81% dari jumlah siswa yang tidak lulus tes kemampuan literasi dasar. Berada jauh di bawah NTB, Kalimantan Utara dan Jawa Timur yang merupakan sekolah mitra Inovasi. Provinsi NTT sedang berada pada posisi dehidrasi (kritis) soal literasi, numerasi dan karakter.

Lalu? Apakah kita harus resah? Jawabanya jelas. Sangat bergantung seberapa besar jiwamu peduli dan ingin ikut berpikir mencari solusi untuk generasi muda daerah ini. Saya (kami) ingin peduli. Berjuang menata garis nasib generasi yang hidup di abad ini. Bersama, Viktor Bungtilu Laiskodat—gubernur NTT, kami hadir untuk berpikir (berkonsep) kemudian beraksi. Pemerintah dan seluruh stakeholders pendidikan NTT, harus mempunyai Peta Jalan (road map). Tujuan road map grand design pendidikan dan kebudayaan NTT 2020-2030 adalah merumuskan “Quick win/program terobosan) yang dapat mempercepat dan memiliki daya ungkit terhadap pembangunan NTT sekaligus menyusun tahapan dan target tahunan sesuai dengan yang disepakati. NTT harus bangkit pada satu cara yang rasional, professional dan elegan (bacara artikel: Lietrasi,  Jalan NTT Bangkit NTT Sejahtera).

Ini salah satu usaha paling penting,  mungkin juga genting. Provinsi NTT sedang berada pada posisi dehidrasi (kritis) soal literasi, numerasi dan karakter kata GustyRicarno.Jika dibiarkan, maka terjadi pendaharaan yang sangat lamah pemulihannya. Namun, keadaan ini bukan bahan untuk  membuat kita  resah lalu pasrah, melainkan mengolah tantangan itu menjadi jalan. Gusty memahami bahwa kereseahan dan kepasrahan jsutru menyumbangkan  kegelapan pada lorong literasi. Karena itu, turun gunung menghirup aroma realitas dan mengalami fenomena di sudut-sudut pulau menjadi jurus jitu melampiaskan kepedulian. Tak juga, mesti ada virus mentalitas kepahlawan, rela berkorban untuk banyak orang, bukan  banyak orang korban karena seorang. Karena itu, setiap kali   grup ini pergi dan pulang, selalu  membawah beban berbeda. Kala mereka pergi,  membawa beban pengetahuan yang dipikul oleh pikiran dan sejumlah buku referensi buat guru-guru di gunung. Jika mereka pulang membawa beban sejumlah masalah yang dihadapi siswa dan guru di sana.

Jika TVRI NTT menokohkan Gusty Ricarno sebagai penggerak literasi, sesungguhnya , karena dia begerakan dengan grup yang, terstruktur, masif, dan beraksi di kintal-kintal sekolah itu tadi. Tidak berarti di luar itu tidak ada tokoh atau grup penggerak literasi. Bahkan, jauh sebelum gerakan literasi dilakukan Grup Media Cakrawala Pendidikan telah banyak dilakukan oleh kelompok tertentu dan inisiasi individu. Ibu Laiskodat  misalnya, jauh sebelum menjadi Ibu Gubernur NTT, ia telah  mengirimkan seribu buku ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Belakangan muncul yang grup anak muda  Leko Kupang yang dikneal dengan “kencan buku.”Mereka  menggelar buku di taman Nostalgia (Kupang) dan dibaca secara geratis, disertai diskusi. Juga, kelompok Agupena (Flores Timur)  di bawah pimpinan Maksimus massan Kian dan Pion Ratuloli. Tentu masih banyak lagi yang dilakukan sekelompok orang yang amat peduli dengan pendidikan NTT LSM Save The Cghildren yang juga secara masif melakukan pendampingan literasi di sekolah-sekolah. 

Reaksi-rekasi Gusty Ricarno terhadap problem literasi di daeraha ini menjadi  passion yang tidak terletak pada besar kecil problem itu, tetapi pada seberapa besar kepekaan orang akan pentingnya literasi bagi kemajuan sebuah bangsa. Meski buku ini bukan satu-satunya kunci untuk membuka kotak hitam kualitas pendidikan di Nusa tenggara Timur, namun setidaknya ini adalah pendeteksi kotak hitam itu.  Buku ini ikut merawat  jejak peristiwa lietrasi di NTT  agar tidak terhapus oleh saputangan waktu.

Selain isinya yang bermutu, cara penyajian yang begitu renyah dengan diksi metaforis, logikanya yang kadang membanting-banting pikiran kita. Ricarno  pandai mendekap rasa dan menggamit pikir (pembaca). Pun pembaca mendapatkan makna melalui kenikmatan. Gusti amat paham,  dunia tidak digerakkan oleh pikiran tetapi oleh persaan. Kadang metaforanya menyergap kita, menggalaukan agar pembaca menjadi  cerdas. Dan kegaluan itu pula yang membuat pikiran tidak pernah tua.Gusty Ricarno bukan nakhoda yang berdiri di ujung geladak, menyantap senja tenggelam  dalam gambus-gambus pelaut. Ia, malah mengarahkan biduk menuju arus deras untuk mendapatkan kotak hitam pendidikan kita.  Toh  hujan di gunung, rintiknya tak pernah tiba di hati.






comments

No comments:

Post a comment