Latest News

Tuesday, 17 March 2020

GUSTY RIKARNO DAN GURU-GURU YANG TER(DI)HINA


Ibarat seorang anak, usia tujuh tahun sudah cukup untuk diantar ke sekolah untuk mendapat wawasan baru. Orang tua merasa perlu memberi kepercayaan berekspresi di luar pengawasan mereka. Tercipta sebuah relasi saling percaya antara orang tua, anak, dan guru. Seperti itulah Media Pendidikan Cakrawala NTT. Pada usianya tujuh tahun, media ini telah bergerak aktif memenuhi kepercayaan banyak orang. Bagi sekolah-sekolah di NTT, Media Pendidikan Cakrawala NTT bukan sekadar anak yang baru lahir. Anak ini telah berjalan jauh, memberi edukasi kepada mitra-mitra kerjanya. Ada sebuah visi bersama sama-sama mejadi pelita menuju pendidikan NTT yang lebih bermartabat. Wajar bila perjalanan-perjalanan itu menjadi renungan tak berkesudahan.

Perjalanan-perjalanan itu pula telah mengubah Gusty Rikarno—Pimpinan Media Pendidikan Cakrawala NTT menjadi pria gelisah yang merenung dan terbangun di malam hari. Sejatinya sebagai pejalan, tentu ada udara yang terhirup, ada pula aroma yang tercium, ada perasaan yang memburu. Maka di suatu ketika, perjalanan yang melahirkan banyak gelisah itu berubah menjadi catatan-catatan penting tentang pendidikan. Siapa yang berani menolak? Bukankah setiap yang dihasilkan dari perjalanan dan renungan adalah ilmu?

Gusty dan Buku “Jangan Menghina Guruku Lagi”

Saya sulit mencerna tulisan-tulisan dalam buku Jangan Menghina Guruku Lagi (JMGL). Itu adalah kegagalan pertama yang membuat frustrasi. Jelas hal itu tak sehat untuk melanjutkan tujuan utama saya—menulis ulasan buku. Tapi baiklah, frustasi jangan sampai menguasai hati. Menjaga pikiran tetap waras dalam keadaan rumit merupakan satu-satunya solusi. Apalagi buku ini banyak menyinggung dunia pendidikan di NTT yang ‘katanya’ mengkhawatirkan. Maka buku catatan perjalanan Gusty Rikarno sebagai pemimpin Media Pendidikan Cakrawala NTT perlu diulas lebih jauh. Ya, sejauh jejak yang pernah ditinggalkan Cakrawala di bumi Flobamora.

Gusty Rikarno bukan sosok asing di dunia pendidikan NTT. Dapat dikatakan dari grass roots sampai pejabat—siswa sampai kadis mengenal Gusty. Kontribusi  pria kelahiran Manggarai di dunia pendidikan terlihat pada keseriusannya menjadi penggerak literasi bagi guru dan siswa di seluruh NTT. Bersama tim MP-Cakrawala NTT, Gusty menjelajahi kota hingga pelosok NTT untuk mendampingi warga sekolah menulis. Buku Jangan Menghina Guruku Lagi adalah sekumpulan catatan yang merahim dari perjalanan literasi itu. Membaca buku ini kita ‘terpaksa’ ikut gelisah membayangkan setiap cerita yang diramu Gusty. Mengapa saya katakan ‘terpaksa’, karena tidak semua orang serius memikirkan pendidikan. Bagi kebanyakan orang proses pendidikan adalah rutinitas—hal biasa, yang tak perlu dimaknai. Pendidikan bagi mereka adalah sebuah syarat. Banyak orang berbondong-bondong mengejar hasil tapi melupakan proses. Hal itu diperparah dengan para pemegang kebijakan yang memiliki otoritas tapi tak mampu menjalanlan tugasnya. Maka tak heran, banyak kegiatan asal-asalan muncul sekadar menggugurkan kewajiban—tak bermakna. Bila buku ini sampai ke tangan orang-orang ‘terpaksa’ ini, saya yakin mereka akan menyimpannya di sudut ruang dan dibiarkan berdebu sampai pensiun. Golongan-golongan itu lebih banyak jumlahnya, tapi itu tak jadi soal. Masih ada golongan lain. Meski sedikit ada segelintir orang yang memimpikan perubahan dan bergerak untuk berubah. Tentu orang-orang itu tak akan terpaksa membaca buku catatan ini.

Saya mengingat Soe Hoek Gie ketika membaca buku ini. Aktivis Indonesia Tionghoa itu menulis catatan-catatan penting selama hidupnya. Setelah ia meninggal di gunung Semeru pada 16  Desember 1969, beberapa kawan dan saudaranya membukukan catatan-catatannya dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Gie mengajarkan sebuah ketelatenan dalam mendokumentasi perjalanan. Saya menemukan itu pada catatan-catatan Gusty. Bagi saya orang-orang yang selalu merenungkan kembali aktivitasnya adalah orang-orang beruntung. Mereka selalu memberi ruang pada diri untuk bermuhasabah (introspeksi, red). Kita perlu mengangkat topi pada penulis yang berhasil mendokumentasikan perjalanannya dalam sebuah buku. Kehadiran buku ini menjadi role mode para penggerak literasi di mana pun bahwa setiap perjalanan penting untuk diberitakan kepada orang lain.

Buku Jangan Menghina Guruku Lagi  terbit Februari 2020 dengan tebal 153 halaman. Buku ini memuat 23 catatan pengalaman penulis selama mejalankan Cakrawala. Ada beberapa hal yang dibahas Gusty berulang-ulang dalam buku ini, seperti Ujian Nasional (UN), guru, sekolah, literasi, kebijakan, moral, AIDS dan lainnya. Perjalanan telah mempertemukan penulis dengan berbagai problem. Hal ini terlihat ketika membaca daftar isi buku. Hampir dua puluhan judul menarik terpampang di sana. Ada beberapa yang provokatif seperti Ayam Kampus di Kota Kasih juga UN Rendah, Kita Harusnya Resah, juga Jangan Menghina Guruku Lagi. Selain itu buku terbitan Moya Zam-Zam ini diperkaya dengan sampul abu-abu yang simpel dan manis.

Gusty Rikarno dan Guru-Guru yang Terhina

Sembilan puluh persen buku Jangan Mengina Guruku Lagi membahasa dunia pendidikan. Judul buku ini cukup provokatif untuk dibaca. Ketika pertama kali membaca judul buku di akun facebook penulis, ada ketertarikan. Tentu ini sebuah keberhasilan penulis dan penerbit, memilih judul yang tepat untuk sebuah buku. Beberapa hari setelah postingan penulis di facebook, saya kemudian dihubungi karena akan ada peluncuran dan diskusi buku itu. Sebuah berkah luar biasa, karena saya diberi buku itu. Tentu tak sekadar diberi, ada pesan lain yang disampaikan, “Tolong diulas ya.” Saya bukan pengulas buku yang baik, tapi bagi orang-orang yang kenal, saya berusaha menuliskan catatan-catatan pendek untuk karya mereka. Tak ada alasan khusus, ini aksi ‘baku dukung’ kata orang Kupang. Literasi seperti sistem jaringan. Maka saling mendukung dipercaya dapat memperkuat sistem jaringan.

Mari kita masuk pada judul buku yang provokatif itu. Meski penasaran saya coba membaca secara runut. Memulai dari perjumpaan penulis bersama Lanny, seorang alumni dari sekolahnya pernah didatangi tim Cakrawala. Entah  apa alasan penulis menempatkan tulisan berjudul Akh Lanny ini sebagai pembuka. Sedikit megganggu. Saya pikir buku dengan judul seserius ini membutuhkan tulisan yang energik, bukan suatu cerita naratif yang mendayu-dayu. Namun saya tetap lanjut pada tulisan kedua, Ayam Kampus di Kota Kasih. Penulis menuangkan kegelisahannya terkait tindakan asusila yang dilakukan generasi muda di kota Kupang. Ada tarif-tarif tertentu yang dapat dibayar bila ingin ‘bermain’ dengan perempuan. Ada sebuah kekhawatiran juga upaya melindungi diri yang disampaikan penulis lewat tulisannya. Ada sebuah kutipan di akhir tulisan ini yang patut direnungkan seperti yang saya kutip di bawah ini.

Menulis kisah ini adalah caraku merawat kita yang nampak indah secara kasat mata tetapi sebenarnya jorok, berbau amis. Jika tidak mampu menjadi pelita, jadilah lilin. Hal pertama dan utama yakni terangilah diri, pikiran, dan hati nuranimu.”

Selanjutnya saya kemudian fokus pada tiga judul tulisan yang dirasa menjadi pokok keresahan penulis. Tiga tulisan itu berujudul Bunuh Saja Kambing Hitam Itu, Jangan Dicari Lagi, Hasil UN Rendah, Kita Harusnya Resah, dan Jangan Menghina Guruku Lagi. 

Tulisan Bunuh Saja Kambing Hitam Itu, Jangan Dicari Lagi. Pada bagian ini penulis menceritakan sebuah estafet kesalahan yang sering terjadi di sekolah. Apabila ada permasalahan, pemimpin melirik wakilnya, wakilnya melirik seksinya, seksinya melirik anggotanya dan seterusnya. Begitu juga di sekolah. Kepsek mengestafetkan kesalahan pada wakasek, tak terima wakasek melirik guru, tak mau terima juga guru mengestafetkan lagi pada siswa. Maka permasalahan itu tak pernah akan selesai, masalah itu akan tumbuh terus, seperti virus corona, bila tiba-tiba menyerang, seisi sekolah mengalami kelumpuhan. Penulis mengajak semua orang berefleksi bahwa mencari kambing hitam atau mengkabinghitamkan orang lain bukan solusi. Sekolah sebagai lembaga pendidikan bukan tempat memelihara kambing. Bila ada kambing hitam, maka baiknya dibunuh saja. Artinya bila ada kesalahan, selesaikan. Bukan mencari siapa yang salah dan melemparnya kesana-kemari. Penulis meresahkan aksi mengkambinghitamkan orang lain yang berujung pada buruknya managemen sekolah. Tentu ini berdampak pula pada kualitas pendidikan. Tak heran bila nilai UN siswa selalu rendah. Guru harus kreatif dalam memandang persoalan.

Selajutnya, Hasil UN Rendah, Kita Seharusnya Resah. Pada bagian ini penulis berusaha menceritakan kejadian Kepala Dinas Provinsi NTT dan para Kadis Kabupaten ketika harus menelan pil pahit atas hasil UN NTT yang mengkhawatirkan. NTT harus menerima keunggulan Papua. Penulis juga menyinggung UNBK yang nilainya rendah, namun hasil UNKP nilai siswa tinggi. Bahkan tidak ada yang memperoleh angka 6. Terdapat perbedaan nilai yang cukup mencolok di antara UNBK dan UNKP. Ada sikap ketidakjujuran yang dikhawatirkan memperparah pendikan di NTT. Pemerintah melalui para kadis harus berupaya serius dalam mendongkrak mutu pendidikan di daerah.

Sementara pada judul Jangan Hina Guruku Lagi, menggambarkan fenome ‘joki’ penulis karya ilmiah yang sering ‘membantu’ para guru. Dalam tulisan ini, sang Joki digambarkan sebagai orang yang menuliskan karya ilmiah dengan bayaran yang lumayan mahal. Ya, guru menggadaikan kedudukan dan kehormatannya untuk berbuat curang demi pangkat. Inilah yang penulis anggap sebagai wajah pendidikan kita yang dilukai (melukai) hingga bernanah dan berbau busuk. Sebelum membaca buku ini secara utuh, saya berpikir hanya ada satu pihak yang berusaha menghina guru. Namun ketika membacanya, saya menemukan ada dua subjek yang berusaha menghina guru. Guru bertindak sebagai subjek petama, juga sebagi objek. Sedangkan orang yang bertindak sebagai joki adalah subjek kedua. Pada kasusnya, sesungguhnya guru seharusnya mengendalikan diri untuk tidak berbuat sesuatu yang membuatnya hina. Namun apa daya, krisis literasi pada guru menyebabkan ia putus asa dan membayar saja. Sesungguhnya saya tak setuju bila para joki dianggap menghina guru. Ibarat manusia dan setan, apakah wajar kita menyalahkan setan atas kesalahan manusia? Bila demikian, malaikat tak perlu mencatat amal baik dan amal buruk. Bukankah semua kesalahan adalah milik setan? Penulis menganggap peristiwa joki itu sebagai wajah bopeng dunia pendidikan. Guru adalah garda terdepan. Menemukan fakta bahwa budaya literasi para guru masih rendah adalah potret kualitas pendidikan kita. Bagaimana mungkin siswa melek-literasi sementara gurunya santuy? Mendidik bukan sekadar proses transfer ilmu. Pendidik dituntut mampu memotivasi dan memberi teladan. Maka para guru, berhentilah mencoreng arang  ke wajahmu sendiri. Setiap datang keinginan berbuat demikian, ingatlah bahwa ada siswa yang merekam dalam memorinya. Siswa adalah peniru yang baik. Jangan wariskan ilmu berbohong terlalu banyak pada siswa.

Buku ini memuat begitu banyak permasalahan pendidikan di NTT. Tak banyak yang bisa dibahas dalam ulasan ini. Penulis mengahdirkan banyak orang yang menghina diri sendiri dengan tak serius belajar. Sebagai penggerak literasi, secara garis besar penulis ingin menyampaikan bahwa membaca dan menulis adalah aktivitas sehat yang dibutuhkan manusia. Tujuh tahun Gusty bersama Cakrawala tekah berkeliling, merekam cerita guru-guru yang terhina oleh tindakannya sendiri. Mereka ditemukan bukan untuk terus dihina. Ada sebuah janji kehidupan berliterasi yang lebih baik melalui Media Pendidikan Cakwala NTT. Pendampingan Media Pendidikan Cakrawala adalah sebuah jalan sunyi yang terang benderang. Bukankah setiap manusia boleh salah, sebab ia punya banyak kesempatan belajar. Buku ini cocok sebagai bahan refleksi kita. Meski saya cukup terganggu dan frustrasi karena kesalahan penulisan yang cukup banyak dan gaya menulis yang melompat-lompat, tapi buku ini tetap layak dibaca. Salam literasi.

Penulis: Sayyidati Hajar --- Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang, Penulis Buku Kumpulan Cerpen “Menyudahi Kabair”.



comments

No comments:

Post a comment