Latest News

Friday, 14 February 2020

CERPEN OVAN SETU - VALENTINE: DOA KEPADA IBU

Ilustrasi. (Sumber: okezone.com)

SUDAH siang dan aku masih berteman dengan mendung yang kian memanggil ibu kembali. Seperti sebuah penyair aku duduk sambil merenung di emperan teras kantorku. Tidak mengubris pada sederetan suasana yang hilir-mudik di hadapan membentuk sebuah barisan rapih dalam bentuk huruf U. Beberapa saat sempat ku-mendulang senyum menjadi lebih rapih, seolah semuanya baik-baik saja.

Di mikrofon ruangan samping kantorku, diumumkan kesekian kalinya sejak seminggu ini, “Selamat siang para siswa/siswi sekalian. Mengingat sebentar lagi kita akan memperingati dan merayakan hari kasih sayang (Valentine day). Maka dari sekolah, kita akan mengadakan lomba tulisan dalam bentuk apapun baik antara siswa/siswi sendiri maupun antara para guru. Dengan tema “Valentine Day.” Batas akhir pengumpulan naskahnya paling lambat tanggal 12 Februari, sedangkan hasil perlombaan akan diumumkan pada tanggal 14 Februari 2020 mendatang. Atas perhatiannya, disampaikan terima kasih.

Di atas sana, tampak seorang ibu dengan gaun putih yang begitu kelabu mulai cemas “mungkinkah langit kembali jatuh?” tanyaku membatin. Selepas pengumuman siang itu, aku kembali merebahkan penatku dengan begitu nyaman di tempat dudukku. Hari ini aku ingin menulis, menulis sebuah puisi yang tidak untuk dilombakan, hanya saja untuk memenuhi suasana hatiku saat ini.

“Ibu, bagaimana kabarmu di desa/adakah hujan yang sama kau rindukan bagiku//mendung kala ini/mengubur diri ke dalam ingin//ibu/bagaimana kabarmu di kampung/adakah, kau mengandung dengan usia pernikahan yang begitu dini? Mengandung rintik dengan usia yang baru enam bulan//Ah ibu, baru saja ku-tanya kepadamu/apa kabarmu di kelahiranmu ini/sudah kau hujankan kelahiranmu dengan usia prematurmu//sayangnya, kabarku di sini sedikit lebih romantis dengan menanyaimu// bagaimana kabar ibu saat di kota//.

Beberapa saat mendulang senyum yang begitu berat, kupaparkan begitu banyak pertanyaan tentang pengumuman siang tadi. Valentine day? Tuhan, kau pernah membuatnya untuk mengenang kasih sayangmu selama ini atau sekadar memperingati besarnya cinta-Mu kepada Maria Magdalena? Bukankah, pengampunan yang kau berikan kepada seorang pelacur itu sebagai cinta-Mu yang begitu putih? Valentine day? Apa yang perlu dirayakan dari peringatannya? Semuanya bergemuruh dan mencambuk tubuhku. Sesak nafasku dibuatnya. Valentine day? Bukankah itu perayaan pesta tradisi pagan pada masa kekaisaran Romawi kuno sebagai upacara penghormatan kepada dewa kesuburan? Mungkinkah valentine day + festival Lupercalia tidak dapat dikenang secara bersamaan selain sebagai hari kasih sayang + hari penghormatan kepada dewa kesuburan? Semoga ada puisi yang sama untuk keduanya itu. Namun, bukankah valentine day itu berakar dari sejarah St. Valentinus, seorang pendeta yang hidup pada masa kekaisaran Romawi dengan sosok pejuang dalam melawan kaisar Claudius II yang melarang adanya pernikahan di dalam kuasa kekaisaran Romawi yang akhirnya menyeret pendeta Valentinus ke dalam penjara. St. Valentinus, sebuah puisi yang paling indah dari setiap deretan yang perlu dikenang adalah puisi yang ditulisnya untuk anak gadis dari seorang penjaga penjarannya “from your valentine.”

Valentine day? Sehabis merebahkan segala penat. Aku di ajak pikiranku sekadar berjalan keluar dari gerbang sekolah sambil mengendarai sepeda motorku dan pergi melintasi beberapa tikungan dan akhirnya berhenti di depan pelataran sebuah toko “Alam Indah Photo.” Di depannya, aku duduk membakar sebatang rokok surya yang harganya mulai naik. Kuseduh angin jadi kopi menemani asap demi asap yang kudesah keluar dari mulutku. Dengan mata menatap nanar pada trotoar-trotoar jalan dan menghitung beberapa merek motor dan mobil yang jadi incaran para remaja saat ini. Tiba-tiba sudut mataku menatap seorang bocah di emperan depan toko yang saat ini kududuk. Di tangan kanannya ia membawa setangkai kayu gamal kering dan di tangan kirinya ia memikul sekantong karung beras berukuran seratus kilo-gram (100 kg). Sungguh, mungkinkah anak ini kehilangan asuh atau ia sekadar ingin mengais remah-remah sabda yang terjejer tanpa ingin dipungut dengan hati? Melihatnya begitu kumuh, dengan baju dan celana yang mulai lapuk dan sobek, aku datang mendekatinya sambil bertanya tentang dirinya. “Maaf dik, siapa namamu.” Tanyaku kemudian. Namaku El, kak. “jawabnya dengan seringai tidak suka. Setelah begitu banyak pertanyaan yang kulantunkan kepadanya meski seputar berapa usiamu El, dimana kau tinggal, dimana kamu sekolah, tinggal dengan siapa, bapak dan mamamu bekerja sebagai apa dan pertanyaan lainnya.

Aku, seperti ingin menangis. Menangis pada jawaban polosnya. Menangis dengan nasib yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak-anak seusianya. Tapi sayang, Tuhan memegang nasib kita sekalipun kita berkeras kepala mempertahankan segala rencana yang menjadi asa untuk masa depan kita. Sambil merogoh kantong baju dan celanaku, aku mencoba mengingat kembali apa yang aku punya dari statusku sebagai satpam di salah satu sekolah menengah pertama di sekolah swasta ibu kota. Aku sadar, yang kupunya saat ini hanya kantongan saku baju dan celana berisikan uang tiga puluh ribu rupiah. “Maafkan kakak, dik. Saat ini kakak tidak bisa memberi sesuatu yang bisa berharga bagimu. Hanya itu yang kakak milikki saat ini. Kakak hanya bisa memberikan apa yang bisa kakak berikan dari apa yang kakak miliki. “Tuhanku, maafkan aku hamba-Mu ini.” Setelah memberi uang tiga puluh ribu rupiah itu dan sambil berkata El, jangan lupa gunakan uang itu untuk membeli makanan dan keperluan lain yang kau butuhkan. El, sekali lagi maafkan kakak, kakak hanya mampu memberikan apa yang bisa kakak berikan kepadamu.”

Selepas, membiarkan El pergi dengan bayangan yang tinggal jadi kenangan paling mesra dalam ingatanku. Kubaca ulang nama tokoh dimana aku duduk saat ini “alam indah photo.” Minggu lalu, Maria memintaku untuk membeli bingkai agar menyimpan foto keluarga yang telah ia print paling tidak bisa dipajangkan di ruang tamu rumah kami. Dan, aku telah berjanji untuk membelikan setangkai bunga mawar merah ranum dan mencuci foto keluarga kami serta membingkainya menjadi kado di valentine day. Namun sayang, aku bahkan tidak sempat mengingat kembali kalau-kalau uangku untuk semuanya itu telah kuberikan kepada El, seorang bocah yang kutemui mengais remah-remah sabda di depan tokoh di mana aku duduk mendesah nafas panjang usai rokok usai kuisap. Aku tidak menyesal pada apa yang kubuat. Aku hanya ingin berdoa semoga Tuhan memaafkan aku atas apa yang kuberikan kepada El, tadi.

El, nama seorang bocah pengemis. Ayah dan ibunya telah pergi merantau sekian tahunnya di Malaysia, meninggalkan ia sendiri di gubuk reyot rumah kakek dan neneknya. Di usianya yang ke 15 tahun saat ini, ia tak bisa berseragam, bahkan sekadar memiliki pena dan buku tulis, untuk menulis namanya saja ia tak paham apa itu huruf a, b, c, d dan lain sebagainya selain namanya El. El kemudian menjadi penghuni rumah pikiranku dan beberapa kali aku bertanya dalam batinku apakah El merayakan valentine day di hari yang akan datang? Valentine day seperti apa yang dirayakan oleh orang-orang seperti El? Atau pantaskah kita ber-euforia merayakan valentine day dengan mengadakan segala yang baru dan terbaru untuk dikadokan, sedang orang-orang seperti El, valentine harus dirayakan di jalanan berdebu, abu dandipenuhi dengan aroma-aroma jijik pada mata dan mulut para pejalan kaki yang ia jumpai. Tuhan, perkenankan aku merayakan valentine bersamanya?

13 Februari

Di ruangan kantorku kembali kudengar pengumuman yang sama dalam tema, hanya saja susunan kalimatnya mulai berbeda dari mikrofon besar samping ruanganku, “Selamat pagi bapak/ibu guru dan para siswa/siswi sekalian serta segenap karyawan sekolah. Mengingat esok adalah hari yang paling dinanti-nantikan baik untuk memberi ucapan kasih sayang sekaligus untuk mendengarkan siapa pemenang lomba tulisan bertema; Valentine day tahun ini. Maka, kami menghimbau kepada seluruh anggota keluarga sekolah ini untuk esok bisa membawa setangkai mawar dan membuat kartu ucapan valentine day dengan segala kreativitas yang dimiliki masing-masing untuk diberikan kepada siapa saja yang bagimu pantas mendapatkannya. Atas perhatian dan kerja samanya, kami sampaikan terima kasih.”

Kemarin, aku menulis sebuah puisi untuk dilombakan tulisanku entah dalam bentuk apa yang persis aku tidak tahu, hanya saja aku ingat judulnya “Valentine: Doa Kepada Ibu.”  Sekadar mencover kembali ceritanya dan kutemui inti dari ceritanya adalah perjumpaan dengan pertanyaan “Bingkai terakhir? Mungkinkah?”

14 Februari

Tuhan, aku ingin El di sini. Sedang di rumahku, Maria sedang asyik menyiapkan surprise bagiku dengan harapan bahwa aku akan memberi kado sesuai dengan permintaannya. Di sekolah, dari ruangan yang sama, aku lihat barisan-barisan rapih berpakaian dengan corak merah muda ranum berbentuk huruf U sambil menanti dan berharap di tangan mereka masing-masing ada bunga mawar, ada kartu besar-kecil dan ada bingkisan-bingkisan kecil bercorak gambar love dan bertuliskan I love you. Mikrofon itu mulai kembali terdengar. Nyaring dan keras, gemanya kuharap bisa memanggil El untuk mampir di ruanganku.

Selamat siang untuk kita semua. Selamat merayakan valentine day. Pada sesi pertama ini, kita semua diharapkan agar memberi hadiah kita kepada masing-masing sahabat, teman, guru dan siapa saja yang ingin kita berikan. Pada sesi yang kedua ini, hal yang paling kita nanti-nantikan kini tiba ‘pengumuman juara lomba menulis’. Pemenang lomba antara siswa diraih oleh Putry seorang siswi kelas XI dengan judul puisinya ‘Ibu, aku ingin memelukmu.’ Sedangkan diantara para guru dan karyawan diraih oleh Pak Rendy dengan judul puisinya “Valentine: doa kepada ibu.”

Tulisan sepanjang satu setengah halaman berangkat dari imajinasi akan El. El, pantaskah mereka merayakan Valentine day? Perayaan seperti apa yang El peringati dari Valentine day hari ini? Mengingat itu hati dan mataku terkejut ketika di rumah ada lilin dan corak love yang telah dihiasi sedemikian mungkin dengan warna-warna merah muda ranum sambil di sudut-sudut ruangan ada ucapan besar-besaran “selamat merayakan valentine day.”

Maria ibuku, maafkan aku yang belum bisa memberikan kado untukmu sebab kado yang ingin kuberikan kepadamu telah kuberikan kepada El, seorang bocah yang tak mengerti ‘apa itu valentine day?’ teruntuk bingkaimu. Kusebut saja telah menjadi bingkai terakhir dari perpisahan aku dengan El.

Mageria, 2020
Ovan Setu; nama pena dari RP. Octavianus T. Setu, O.Carm, S.Fil., M.Th. Seorang Imam Karmelit sekaligus Kepala SMPK Alvarez Paga – Maumere. Saat ini menetap di Rumah Ret-Ret Mageria-Mauloo.



1 comment: