Latest News

Wednesday, 26 February 2020

MENGINGAT JALAN PULANG (REFLEKSI PRA-PASKAH)

RP. Octavianus T. Setu, O.Carm, S.Fil., M.Th
Imam Karmelit, Kepala SMPK Alvarez Paga

MANUSIA dalam pertumbuhan serta perkembangan hidupnya, tak luput dari usaha yang terus-menerus dilakukan agar dapat bertahan hidup. Kendati kebahagiaan merupakan tujuan akhir dari perziarahannya di dunia ini, sebagai suatu bentuk pelepasan dari belenggu kesengsaraan, dari berbagai kabut pekat yang mengancam eksistensinya, toh manusia pun sampai pada suatu titik batas tertentu dimana ia mengalami situasi dilematis. Dilema yang kian mendesak, membuat insan manusia bingung, resah bahkan kesulitan untuk menjatuhkan pilihan serta menentukan keputusan di antara sekian banyak tawaran yang dihadapi.

Saratan ambiguitas yang memolesi wajah klasik manusia menyiratkan sebuah luka yang mendalam mengiringi tapak demi tapak langkah menuju indahnya sang rembulan yang menyajikan sekian pesona penyejuk jiwa. Fajar pagi yang kian menorehkan kesan-kesan terindah bagi mata makhluk insan berbudi yang sedang mengamatinya, sekian saat pun kan terbenam ketika sang senja mulai beraduh kisah dalam suatu penantian akan datangnya malam. kejadian dan fenomen ini akan terulang terus seiring dengan waktu yang terus berganti. 

Demikian pun dengan manusia sebagai ciptaan yang secitra dengan-Nya. Setiap pribadi bergerak di dalam kebebasannya dan setiap kebebasan itu menyaratkan berbagai kemelut hidup, entah itu kebahagiaan, sukacita, kesengsaraan, ketakberdayaan akan hilangnya harapan untuk menggapai asa serta beragam hal lain yang selalu ada dan berjalan bersama dengan manusia dalam setiap waktu. Ada bahaya ketika orang terbuai di dalam kebebasan, sampai-sampai mendewakan kebebasan sebagai jiwa dirinya, orang akan lupa untuk kembali kepada keadaan awal dimana ia sedang berdiri sendiri dalam kekosongan yang sedang menunggu sebuah jawaban tentang arti dari hidupnya di atas panggung dunia yang serba plural.

Mengingat Jalan Pulang merupakan sebuah seruan simpel yang kaya akan makna. Secara logis dapat dilihat bahwa tidak mungkin ada kata finis jika tidak ada kata star, tidak mungkin ada kata akhir jika orang tidak memulainya dari awal. Dengan demikian sekalipun manusia itu selalu bergerak ke depan untuk mendapatkan kebahagiaan, toh pada suatu saat ia akan kembali untuk berada pada titik awal sebagai suatu bentuk instropeksi diri yang membangkitkan spirit dalam hidupnya. 

Kenyataan bahwa akan adanya perubahan yang terjadi di dalam diri pada waktu mendatang, pun tidak dapat terlepas dari kenyataan pengalaman di masa lampau, saat-saat dimana seorang pribadi itu  mulai mewujudkan dirinya untuk menjadi pribadi yang tak teralienasi dari dunia kehidupannya, melainkan lahir sebagai pribadi yang senantiasa terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Kenyataan akan sesuatu serta perubahan yang terjadi atas diriku hari ini sebetulya sesuatu hal yang mengafirmasi kenyataan tentang masa lalu dan masa depan. aku tidak dapat terlepas dari kenyatan masa lampau, saat ini dan masa depan.

Dalam meyongsong perayaan Paskah, gereja telah menyediakan suatu masa khusus bagi umat-Nya untuk sejenak mengambil nafas segar dalam masa pertobatan (Pra-Paskah) sembari mengintrospeksi diri, membuat berbagai perubahan baik sikap maupun perbuatan dalam hidup agar dapat menyambut Kristus yang bangkit dengan suatu kesiapan hati yang total. Manusia tidak sekedar berdiam diri saja, tetapi lebih dari itu radikalitas dari masa prapaskah sebetulnya suatu momen pembalikan dimana manusia benar-benar menghayati sekaligus merenungi  peristiwa salib Tuhan lewat peristiwa sengsara dan wafat-Nya. Pra-Paskah yang dilatari dengan warna liturgi yang serba ungu merupakan simbol dan lambang pertobatan. 

Berhadapam dengan situasi ini, manusia mesti dengan kerendahan hati mengatakan kekecilannya serta kesederhanaannya di hadapan Tuhan sebagai makhluk yang rapuh. terbatas dan berdosa. Setiap pribadi yang hidup di dunia ini tidak pernah luput dari kecenderungan untuk berdosa atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa manusia sedang dan secara terus menerus dilanda oleh suatu krisis akan hal-hal yang baik. Hal ini penting sebab bagaimanapun juga manusia itu tetaplah makhluk yang terbatas. Hanya dalam kekecilan dan kerendahan hati itulah, manusia menemukan jalan untuk kembali membina relasi serta dialog dan komunikasinya secara intim dengan Allah.

***

Suara dari Lembah Penyesalan

Tertatih lelah langkahku menyusuri hari
Menimbun tetesan demi tetesan keringat membasahi wajah
Tercebur lebur dalam buaian rasa
Kian menyatu menusuk hingga ruang sukma keabadian

Semilir angin berhembus lembut
Kantuk sekejap sirna terlarut lelap
Hening dalam sepi menilik makna
Merangkai kisah dari kasih nan menyarat
Menanti indahnya saat demi saat
Menorehkan lembaran demi lembaran usang tak berharga
Terlampau murah untuk dimiliki
Berat untuk dibagikan
Aku… Aku…
Aku insan malang, rapuh nan bercacat

Sejenak kisah menyajikan potret buram
Untaian kata serasa tak mampu terucap dari bibir manis sang insan
Canda tawa seketika buntu dalam angan tuk menggapai asa
Sederetan makna luntur kian tak berujung
Suratan takdir membuka tabir kehidupan
Haruskah aku terus melangkah…

Wajah penuh darah memerah merasuk
Lukisan pribadi berubah serentak
Seluruh tubuh tersobek tikaman penuh siksa
Tatapan pilu mengabadikan luka
Luka… luka dan luka
DIA manusia sempurna
Membongkar tabir realitas
Anak zaman nan terobsesi arus modernisasi

comments

No comments:

Post a comment