Latest News

Thursday, 27 February 2020

“KAMI BUTUH MITRA PROFESIONAL” – (KETIKA PEMERINTAH NAGEKEO MEMBUKA DIRI MENGAKARKAN GERAKAN LITERASI)



Gusty Rikarno, S.Fil
Pemimpin Umum Cakrawala NTT
Menyusuri jalan bertikungan tajam dari Ende menuju Mbay, kita ditawarkan pada dua situasi atau rasa yang saling membutuhkan. Ada rasa takut akan resiko terburuk dari kondisi jalan berliku tajam tetapi juga rasa kagum akan keindahan alam yang indah memukau. Suara mesin perahu dan deburan ombak pantai selatan dan pantai utara bergantian bersahutan memanggil peziarah untuk kembali. Pulang ke rahim semesta dan bermadah dalam syair-syair kerinduan yang tak bertepi. Ende dan Mbay memang berjarak pendek. Hanya butuh waktu tempuh 120 menit dengan kendaraan roda dua. Di sepanjang perjalanan ini, kerinduan itu menjadi jamak. Di satu sisi, ingin lebih lama di taman permenungan Soekarno tetapi di sisi lain, angin pantai utara (Mbay) dalam aroma daging domba datang memanggil. Kamu adalah seorang yang paling berbahagia jika mengalami kerinduan jamak seperti ini.  Pada matamu keindahan itu datang sekaligus. Ada gumpalan batu berwarna dan butiran garam bersih yang siap dipasarkan.

Hujan dalam gerombolan awan hitam membawa kabar yang tidak biasa.  Mobil avanza putih membawaku berlari mengejar paragraf terakhir dari cerita yang belum selesai. Imajinasiku terasa sempurna dalam hentakan lagu Gawi dan Ja”i. Ada canda dalam kata yang tak terucap. Mungkinkah,  tiga gugus pulau bernama Flores, Alor dan Lembata (Floresta) berikrar pada rasa yang sama untuk berdiri menjadi sebuah provinsi baru dan Mbay bakal menjadi Ibukotanya? Akh, tidak urgen untuk diperjuangkan. Setidaknya untuk saat ini, Flobamorata akan tetap berdiri kokoh dan Floresta hanya tetap menjadi wacana. 

...................................    

Pukul 08.00 pagi. Kami tiba di pelataran Kantor Bupati Nagekeo. dr. Johanes Don Bosco Do, yang adalah orang nomor satu di Kabupaten ini sedang menunggu. Paragraf terakhir dari cerita itu dituntaskan sudah. Katakan saja, kami adalah tamu istimewanya di pekan ini. Betapa tidak, untuk bertemu kami (Tim Inovasi dan Media Pendidikan Cakrawala NTT), ia (Bupati Don) harus didampingi oleh kepala bapeda, Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan serta kepala badan perpustakaan. Istimewa bukan? Lalu, ada apa dengan semua ini? Adakah ini bahasa semesta untuk menegaskan pentingnya kata sinergisitas dan kolaborasi?

Arus pikirku belum terurai, seorang staf bupati menyelinap sambil menyodorkan sebuah wadah lokal yang antik. Handphone (hp) kami dikumpulkan. Dalam seluruh kisah perjalananku bertamu, baru kali ini seorang tuan rumah bersikap di luar kewajaran.  Situasi ini persis ketika kita berpergian mengunakan pesawat terbang. Selalu ada komentar klasik pramugari yang membuat jenuh. “Perhatian, semua hp dan segala jenis peratan elektronik lainnya harus dimatikan karena dapat menggangu navigasi pesawat”. Pesannya satu. Kelancaran dan kejelasan komunikasi sang pilot dan pihak bandara jauh lebih penting dari jenis komunikasi lainnya. 

Bupati Nagekeo mengajar satu hal yang baru dan elegan. Komunikasi itu bersifat dua arah dan saling mengandaikan. Tuan rumah ingin fokus berbicara dengan tamunya lebih dekat. Demikian sebaliknya. Sang tamu diundang (meminta) untuk berbicara dengan tuan rumah tanpa diganggu atau disibukkan oleh orang lain yang ada di balik layar hp tersebut. Bayangkan saja. Saat bupati berbicata, tamu yang diundang itu sedang menciptakan dunia sendiri dan berselancar ria di dunia maya. Ia menatap sambil mengangguk setuju sementara tangan dan pikirannya bergerak di tempat lain. Apa yang diharapkan dari model diskusi semacam ini. Terkadang saya berpikir, metode ini bisa diterapkan di mana saja. Saat berdiskusi semua hp dikumpulkan atau di-non-aktifkan.

Dalam situasi yang diciptakan demikian, kami mulai berbicara, berdiskusi dan berencana. Ada tawa dan canda yang membuat suasana makin hangat dan renyah. Dokter Don yang kini duduk sebagai Bupati Nagekeo memang seorang yang sangat kreatif dalam hal berpikir. Terkadang untuk seorang yang berpikir manual, ia (bupati) dinilai “gila” karena tidak takut melawan arus. Dalam aksi dan karya nyatanya terlihat jelas.  Ia berani menerobos situasi atau kondisi yang ada jika itu untuk kebenaran dan kebaikan orang banyak. Ia berpikir “gila” walau tetap konsisten untuk bertindak waras. Untuknya, kerja nyata jauh lebih berarti dari sebuah wacana dan diskusi yang terkesan hangat tetapi sesungguhnya hanya memamerkan keahlian mencari muka. Beliau adalah seorang pemikir dan pekerja. Baginya, bekerja adalah bagian dari berpikir itu sendiri. Atau dengan kata lain, berpikir bakal mendapat bentuknya jika seorang bekerja dan menemukan bentuk atau indikator keberhasilan yang tertukur - teruji.

Beginilah kami memulai. Tim Inovasi yang berada dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam konsep kerja yang terukur telah membuktikan diri. Mereka bekerja dari level pendidikan terendah. Ratusan Sekolah Dasar (SD) di wilayah daratan Sumba dapat dijadikan contoh keberasilan dari aneka inovasi yang diterapkan dalam konteks literasi dan numerasi. Para guru ditempa dan diarahkan dalam satu model dan metode mengajar yang khas. Guru akhirnya hadir sebagai sosok yang mampu memberi inspirasi dan dengan metode mengajar yang gampang, asik dan menyenangkan. Mereka bercerita dari satu kerja nyata. Mimpi dan harapannya satu. Keajaiban yang terjadi dan dialami para guru dan siswa/i di daratan Sumba juga terjadi sini. Di Kabupaten Nagakeo.

Bupati, Kepala Bapeda dan Kadis pendidikan mengangguk setuju. Sejumlah anggaran siap digelontorkan untuk mendukung program yang terencana, terukur dan teruji ini. Begitulah beliau (Bupati Nagekeo) yang selalu ingin bermitra dengan seorang atau lembaga profesional. Ia ingin para guru dan generasi muda Negekeo dituntun, dibantu dan diarakahkan oleh mereka yang “sehat” dalam hal berpikir dan bekerja. Seorang atau lembaga yang bekerja dalam satu cara yang berbentuk, terukur dan memiliki orientasi pada hasil.

“Jangan hadirkan pada saya, seorang atau lembaga yang pandai beretorika dan berwacana. Saya butuh ,mitra yang profesional di bidangnya. Kegagalan dalam hidup bermula dari kegagaglan berpikir. Bagaimana mungkin ia berkonsep tetapi tidak tahu atau tidak mampu menajalankan konsep itu. Saya adalah bupati, sang konseptor. Tugas mitra adalah menjalankan konsep itu dalam bentuk yang nyata terlihat. Saya ingin apa yang dibicarakan itu rasional dan bisa dimplementasi dalam satu cara”, tandas Bupati Nagekeo ini.

Ia (Bupati Don) menatapku dalam senyum. Ada perjumpaan dari narasi yang sempat terucap di dunia nyata dan maya. Benar. Sudah lama, kami saling mengenal, menyimak dan menyelidiki. Perjumpaan ini adalah perjumpaan konsep dari paragraf akhir gerakkan literasi yang harus terkrista dalam aksi nyata. Pemerintah Nagekeo melalui dinas pendidikan dan kebudayaan siap bergerak, bersinergi dan bergiat bersama Media Pendidikan Cakrawala NTT. Mitra yang diakui dan dipandang  profesional. Kabupaten Nagekeo telah dideklarasikan sebagai kabupaten Literasi.

Pertanyaan tersisa, apakah indikator sebuah kabupaten disebut kabupaten literasi? Jawabannya tunggal. Sejauh mana akar gerakan  literasi itu menggangu pikiran banyak orang (masyarakat) dan melihat literasi itu sebagai keharusan (kebutuhan) primer. Semisal, para guru dan peserta didik melihat kegiatan membaca dan menulis sebagai kebutuhan.  Kami sudah dan ingin terus bergerak. Pada diskusi dalam durasi 120 menit ini, sebuah terget dibentangkan. Pada tanggal 2 Mei (Hari Pendidikan Nasional) enam buah buku harus dilounching. Keenam buku ini merupakan karya nyata para guru dan siswa/i di daerah ini.

“Kraeng. Saya selalu ikuti gerakanmu. Luar biasa. Kepada Bapa Kadis pendidikan saya perintahkan untuk datangkan manusia (kamu) ini ke Nagekeo. Saya bilang, kita butuh tim Media Pendidikan Cakrawala NTT. Mari ta Kraeng, kita sama-sama bergerak. Para guru dan peeserta didik harus bergerak dalam satu cara yang sama sebagaimana yang dipikirkan (dikonsepkan) bupati mereka. Saya ingin Kabupaten ini terdepan dalam segala hal. Kabupaten Nagaekeo yang nyaman, sejahtera dan bermartabat. Terima kasih. Walau diam-diam sudah berkarya di daerah ini sejak beberapa tahun silam. Mari kreang, kita bergerak bersama. Saya minta dinas pendidikan untuk panggil semua kepala sekolah agar bicarakan tindaka lanjut kegiatan literasi ini. Tanggal 2 Mei nanti saya mau kita launching buku karya guru dan siswa”, tandas dr. Don.

.........................................

 Lembaga Inovasi dan Media Pendidikan Cakrawala NTT bernarasi dalam diskusi bersama pihak Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Paragraf terakhir itu tuntas. Nagekeo bisa berubah. Waktu tempuh Ende – Aegela – Mbay, hanya dalam waktu 120 menit. Demikian halnya waktu yang kami pakai untuk duduk dan berdiskusi. Ribuan bahkan jutaan menit tersisa kami ingin habiskan dalam aksi (kerja nyata) yang profesional, terukur dan teruji. Media Pendidikan Cakrawala NTT dan Inovasi telah meletakkan jangkarnya di ini Nagekeo. Ruang (lahan) telah diberi untuk digarap dan sewajarnya mendapatkan hasil yang maksimal.

Pemerintah dan masyarakat Nagekeo butuh mitra profesional. Lembaga yang ingin peduli dan bekerja dengan hati. Harus disadari, di jalan sepi literasi ini ada banyak tikungan tajam yang siap menanti dan menikung setiap konsep dan aksi. Beragam kendala bakal hadir dari situasi atau pihak yang hendak membawa awan hitam berkabut. Satu hal yang pasti, kami (kita) adalah empunyanya cakrawala. Nagekeo bisa berubah adalah tagline kita dan bahasa semesta.

Mbay – Aegela – Ende, masih seperti itu. Butuh sekian banyak hati untuk mengabarkan bahasa yang sama. Nagekeo bisa berubah dalam aksi nyata. Mungkin bukan seberapa besar aksi itu terlihathk tetapi konsep yang terkristal itu mampu membangkitkan rasa optimis, jiwa pantang menyerah dan sikap selalu ingin bekerja dalam nafas sinergisitas dan kolaborasi dari seluruh komponen masyarakat Nagekeo.

Salam Cakrawala, Salam Literasi ...

comments

No comments:

Post a comment