Latest News

Saturday, 25 May 2019

BERLARILAH HINGGA FINIS - Kisah di Balik Kegiatan O2SN SMA Se-Kabupaten Kupang


Pernah kutulis tentang Menabur Benih Literasi di Pelipit Telaga Raknamo. Beberapa pembaca setia, memberi kabar dan pesan. “Tulisanmu baik, saya suka. Sangat khas”, kata seorang. Yang lain ikut menambah, “Mungkin inilah akhir dari inti seluruh ziarah perjalananmu di dunia literasi. Kamu menemukan gayamu sendiri. Lain dari sudah ada dan tentunya sangat berbeda dari penulis lain. Sebuah ulasan jurnalistik yang dipadukan dalam bentuk investigasi dan sastra. Jujur, untuk pertama kalinya saya menemukan gaya tulisan unik seperti ini. Terima kasih. Saya (kami) menunggu tulisanmu yang lainnya”.

Beginilah saya menulis. Sebuah pengantar, yang awalanya dinilai tidak relevan. Butuh sedikit kesabaran untuk mencari benang merahnya antara judul, isi dan kesimpulan tulisan. Ijinkan saya menulis dulu hingga selesai. Kisah ini, diulas dari halaman sekolah SMAN 3 Kupang Timur-Kabupaten Kupang, tempat diselenggaranya kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkap SMA se-Kabupaten Kupang. Kegiatan O2SN adalah kegiatan rutin setiap tahunnya. Peserta lomba diseleksi dari tingkat sekolah, Kabupaten hingga tingkat nasional. Untuk perlomabaab kali ini, tiga jenis olahraga yang dipertandingkan yakni karate, silat dan atletik. Olahraga attletik yang meliputi lari dan lompat jauh, selalu diminati banyak peserta. Rumusnya sederhana. Lari atau lompat sekenvang dan sejauh mungkin. Itu saja. Tidak perlu banyak gaya, strategi dan teknik. Lalu mengapa dari 64 jumlah SMA  yang ada dalam lingkup wilayah Kabupaten Kupang, hanya 32 sekolah yang mengajukan diri dan siap ikut berkompetisi. Kemanakah sekolah yang lain. Kendalanya apa? Butuh sebuah investigasi mendalam. Apakah kendala dana?, Jarak yang jauh, kendala di bagian distribusi informasi dan komunikasi atau belum adanya iklim berkompetisi di tingkat sekolah?

Lelaki tua namun berenergik meraih mikrofon dan memberi sambutan. Tiga menit ia berbicara, baru disadari jika ia adalah Drs. Markus Ke Lomi, coordinator pengawas SMA se-Kabupaten Kupang. Ia tampak serius dan sedikit kesal ketika “menyentuh” soal kedisiplinan. Kegiatan yang direncanakan mulai tepat pukul 08.00 pagi harus bergeser hingga 150 menit. Jika ia marah dan menekankan kedispilinan untuk para kepala sekolah guru dan siswa adalah tugasnya sebagai seorang Kordinator Pengawas (Korwas). Ia adalah “ayah” para kepala sekolah dan guru. Tugas yang tidak ringan untuk kondisi wilayah Kabupaten Kupang yang luas dan sulit.

“Kita harus berani jujur sekaligus selalu membenah diri. Jangan bicara prestasi jika kedisplinan selalu dinomorduakan. Disiplin waktu adalah penentu (arah) untuk kita menegakkan sekian banyak bentuk kedisiplinan lainnya seperti displin berpakaian, bekerja dan berbicara. Saya berharap, dalam event selanjutnya, tolong perhatikan sikap kita dalam menghargai waktu. Saya harus sampaikan ini, untuk kebaikan kita bersama.”, ujar Markus penuh smangat.

Hari makin siang. Sang fajar datang menembus cakrawala dan memberi energi untuk generasi bangsa yang haus berkompetisi.  Ada rasa haru ketika mereka (peserta lomba) berbaris dan menyanyikan lagu Indonesia raya. Mereka hadir mewakili ribuan generasi muda yang berseragam putih-abu lainnya dalam lingkup wilayah Kabupaten Kupang. Wajah optimis terlihat jelas pada mata mereka. Sesekali mereka bertepuk tangan saat sang Korwas menekankan soal spotifitas dalam sambutannya di beberapa menit yang lalu. Juara adalah hal yang memang esti diperjuangkan dan diraih. Namun perlu diketahui, sang juara adalah ia selalu menjunjung tinggi kedisiplinan dan spotifitas. Ia akan bergerak dan bertindak dalam aturan. Dengan demikin, sang juara adalah ia yang mampu memadukan pikiran, hati dan fisik. Ki Hajar Dewantaro, telah menekan hal ini. Hidup ini adalah serangkain proses mengolah. Olah pikir, olah rasa dan olah raga. Undang-undang no. 20- Tahun 2003 mengamatkan itu. Pembinaan olahraga menjadi sangat strategis untuk mewujudkan generasi bangsa yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan tanggung.

Agustinus Maboy, SH datang mendekat. Ia memilih duduk disamping kiri dan berbisik tentang kerinduannya yang terdalam sebagai orangtua. “Saya ketua komite di SMAN 3 Kupang Timur. Saya datang mewakili seluruh orang tua siswa (peserta) kegiatan O2SN ini. Kami rindu agar anak-anak kami diberi banyak ruang dan peluang untuk mengembangkan diri. Kami memiliki keterbatasan dalam hal strategi dan waktu untuk mendampingi mereka sesuai bakat dan minatnya. Lembaga pendidikan (sekolah) adalah harapan kami satu-satunya. Kepada pemerintah terkait khususnya kepaa Bapa/Ibu guru, kami percayakan untuk mempersiapkan masa depan anak-anak kami. Kegiatan O2SN ini adalah salah satu jalan agar mereka bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri, dan berkarakter”, tandas anggota komisi A, DPRD Kabupaten Kupang ini.

***
“Berlarilah hingga finis”. Kalimat itu melintas di telinggaku. Sebuah kalimat motifasi dari seorang guru pendamping lomba lari. Sayangnya, saya tidak sempat menemukan pemilik suara yang khas dan menggugah itu. Ia memotifasi anak didiknya yang kini tampil sebagai peserta lomba lari agar percaya pada diri sendiri. Ia menyuruh lari hingga finis. Tidak perlu menoleh apalagi berbalik. Ini bukan tentang juara tetapi tentang api semangat yang harus tetap menyala. Garis finis adalah tujuan yang harus dijadikan target untuk berjuang. Teringat kembali akan kata-kata motivasi Soekarno, puluhan tahun silam. “Bermpilah setinggi langit”. Langit adalah finis yang harus dituju.

Hatiku berdebar ketika beberapa orang guru memeluk erat siswanya yang gagal dan tidak mampu meraih finis. Ada kata hiburan yang terucap saaat air mata kekecewaan menetes. Di arena ini, sorak riang kesuksesan dan air mata kegagalan berpadu mesra. Angin terus berhembus membawa asa yang tidak pernah selesai. Berlariklah anakku. Jangan ragu. Ada kegagelan, kekecewaan bahkan suara hinaan saat kembali ke sekolah nanti. Kamu bakal dituding sebagai utusan yang gagal membawa misi dan kerinduan warga sekolah untuk juara. Tapi ketahuilah, saat kamu berlari, alam telah memberimu nilai. Kamu berhasil bukan karena kamu lebih cepat meraih garis finis tetapi karena kamu telah menjalankan tugasmu dengan sungguh-sungguh.

Merlin Maya Ufi, S.Pd selaku ketua panitia kegiatan O2SN tahun ini, menceritakan tentang harapannya. Ia dan teman-teman panitianya telah berlelah-lelah menyiapklan arena dan segala kebutuhan peserta lomba. Dari sekian banyak harapan yang ada, entah kenapa saya mendengar jelas tentang kata iklim kompetisi. “Selaku panitia, saya berharap iklim kompetisi yang sehat tercipta sejak dari sekolah hingga di tempat ini. Kegaitan ini jangan hanya sebagai kegiatan tahunan semata. Harus ada kegitan lain agar iklim kompetisi itu selalu terbentuk. Iklim kompotesi harus diciptakan. Artinya, ke depan semua sekolah berpikir dan berkreasi menciptakan moment perlombaan lainnya agar iklim itu tetap terjaga dan terawat baik”, tutur Merlin.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kabupaten Kupang, Drs. Nikson Tanesib datang memanggil. Mengajakku ke ruang sebelah barat sekolah itu untuk berdiksui dengan para kepala sekolah yang hadir. Temanya focus pada topic olah pikir. Literasi adalah salah satu cara untuk pikiran itu dilah dan dibentuk dalam satu cara yakni menluis. Para kepala  sekolah sudah mendapat informasi tentang Cakrawala dalam surat himbauan Kadis P&K, nmr 421/I1011/PK/2019.

“Bapa/ibu sekalian, selamat datang. Hadir di hadapan kita Pak Gusty, Pimpinan Umum Media pendidikan Cakrawala NTT. Sekarang kita langsung mendengar Pak Gusty tentang sepak terjang Cakrawala mengakarkan literasi di ini NTT dan bagaimana kita bisa ikut mengambil bagian di dalamnya”, ujar Pak Nikson penuh semangat.

Menarik nafas diawal pembicaraan adalah caraku merayakan kehadiran di tengah para guru. Rasa bangga dan kagum boleh berdiri di hadapan para laskar pendidikan, penentu arah ke mana generasi bangsa hendak dibawa. Pengalaman baik di beberapa daerah dan prodak kegiatan literasi diceritakan sudah. Sebut saja, para guru Manggarai Timur yang telah mencetak buku karya guru. Beberapa kabupaten bakal menyusul seperti Nagekeo, Sumba Timur, Ngada dan Manggarai Barat. Ada juga cerita miris tentang banyaknya generasi bangsa khususnya yang berada di bangku kuliah yang sulit menulis. Ada kisah kelam akan banyaknya guru yang sulit mengusulkan kenaikan pangkat. Ini cerita kita, inilah jalan sepi literasi di NTT. Tidak ada kata terlambat untuk berbenah dan memulai. Jika mau bangkit bersama dan sejehatera maka mari kita benahi mutu pendidikan kita. Kegiatan O2SN kita sedang selenggarakan. Benar, jika pada  badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Namun itu belum cukup. Olah pikir dan olah rasa mesti dikembangkan dan dihidupkan. Literasi adalah salah satu cara mengolah pikiran dan rasa menuju pribadi berkarakter.

Berlarilah anakku. Berlarilah sekencang mungkin. Jika kamu tidak mampu mencapai garis finis, ambillah pena dan buatlah garis finis untuk dirimu sendiri. Jalani hidupmu dan kembangkan talentamu. Suatu saat nanti alam dalam logikanya yang bijak akan memberimu piala kejuaraan. Buah dari segala perjuanganmu. Selamat dan profisiat untuk para juara O2SN SMA tingkat Kabupaten Kupang. Maju bersama hebat semua. Salam cakrawala, salam Literasi. 


Gusty Rikarno, S.Fil -- Jurnalis Cakrawala NTT

comments

No comments:

Post a Comment