Latest News

Wednesday, 10 April 2019

YOSEPH BLIKOLOLONG: PEDULI SESAMA ADALAH BUDAYA KITA


Lembata, CAKRAWALANTT.COM - Peduli sesama adalah budaya asli masyarakat kita. Membantu orang lain adalah salah satu dari bentuk kepedulian. Hal tersebut merupakan sikap terpuji yang patut diacungi jempol. Apalagi orang yang dibantu adalah mereka yang benar-benar membutuhkannya.

Hal di atas berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini. Membantu sesama saat ini sangatlah langka. Kalaupun membantu, bantuan tersebut bukanlah tanpa pamrih. Fenomena ini hampir terjadi di berbagai daerah. Budaya abai cenderung menonjol dibandingkan peduli.

Adalah Yoseph Orem Blikololong, pria berdarah Lembata ini menampakkan kembali budaya asli masyarakat, budaya peduli sesama. Menjalani hari-harinya sebagai seorang pemulung, tidaklah menyurutkan semangatnya dalam membantu sesama.

“Kita tahu kita sedang susah penuhi kebutuhan ini itu, namun saat membantu sesama dan mereka bahagia, kesusahan hidup terasa berkurang,” ungkap Yoseph.

Menurutnya, tak perlu menunggu kaya untuk bisa berbagi dengan sesama. Suatu yang luar biasa bisa dirasakan jika orang yang dibantunya bahagia dengan apa yang ia lakukan. Membantu sesama adalah perbuatan yang sangat mulia kalau dilakukan dengan keikhlasan hati dan tidak mengharapkan apa pun.

BANGUN DUA SEKOLAH GRATIS
Berawal dari perjumpaannya dengan anak-anak di sepanjang jalan saat memulung, keprihatinan pria kelahiran Lembata, 30  Oktober 1959 ini muncul. Ia prihatin karena anak-anak tersebut justru tidak bersekolah pada masa di mana mereka harus mengenyam bangku pendidikan.

Alasan utama yang ia temukan dari hampir semua anak adalah kurang mampunya orang tua mereka membiayai sekolah. Hal inilah yang menyebabkan pemulung yang memulai karirnya di Kupang sejak 2004 ini bertekad bulat untuk mendirikan sekolah gratis.

“Saya prihatin dengan mereka, mereka masih anak-anak,” ungkap Sarjana Hukum lulusan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang tahun 2017 ini.

Tekad tersebut kemudian dibicarakan bersama istri tercintanya, Tervina Yuningsih Maakh. Awalnya sang istri menolak saat tahu suaminya hendak mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), mengingat sulitnya kehidupan mereka.

Dengan tetap sabar dan terus memberikan pengertian, ayah enam anak ini akhirnya mampu membuat Tervina luluh. Di tahun 2008, bermodalkan  ruang tamu berukuran 4,5 m x 3 m yang dibagi menjadi dua ruang kelas, PAUD Peduli Kasih yang beralamat di KM 6 Jalan Timor Raya, Kompleks STIBA Mentari, RT. 10/RW.04, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang berhasil dibangun. Tervina pun menjadi salah satu guru PAUD tersebut.

Keinginannya untuk terus membantu sesama semakin tampak saat ia mendirikan sebuah SMP di tahun 2012. Pendirian SMP yang diberi nama SMP Surya Mandala ini pun tidaklah mudah, semuanya melalui perjuangan ekstra.

“Awalnya juga sulit, tapi untuk membantu sesama, pasti ada jalan,”  kata Yoseph.

Dengan menggadaikan sertifikat rumah, Yoseph bisa membeli perlengkapan operasional dan menyewa satu gudang untuk ruang belajar SMP.  Berkat doa dan perjuangannya, pemerintah akhirnya menaruh perhatian. Tahun 2014 SMP Surya Mandala mendapat Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan dipergunakan untuk membayar sewa gedung. Sementara itu, anak-anak tetap gratis bersekolah.

MEMBAGI BERKAT TUHAN BAGI SESAMA
Hingga kini, Yoseph tetap bergelut dalam memulungnya. Tiap pagi ia masih dengan rutinitas yang sama. Bangun dari tidurnya, pergi ke jalan-jalan Kota Kupang untuk memungut sampah yang akhirnya dapat menjadi berkat untuk sesama.

Baginya, memulung adalah pekerjaan halal. Hasil dari memulung adalah berkat dari Tuhan. Berkat tersebut haruslah pula disisihkan walaupun sedikit untuk kebahagiaan sesama yang membutuhkan.

“Siapapun orangnya jika memperoleh berkat dari Tuhan, gunakanlah itu untuk membahagiakan sesama, terutama mereka yang membutuhkannya. Saya hanyalah pemulung yang mencoba membagi berkat Tuhan. Jika diberi lebih saya akan gunakan untuk kebahagiaan sesama,” tutup Yoseph. (RZ)
comments

No comments:

Post a Comment