Latest News

Saturday, 10 December 2016

Taman Daun; Merawat Imajinasi Anak-anak

Sebagian anak-anak Lembata menghabiskan waktu senggang mereka dengan menyantap berbagai bacaan di Taman Daun

Lewoleba, Cakrawala NTT

Taman itu tak seberapa luas. Hanya sekitar 40m x 60m. Namun, di situlah sebagian anak-anak Lembata menghabiskan waktu senggang mereka dengan menyantap berbagai bacaan yang disiapkan di rumah sang penggagas Taman Daun, Goris Ubas. Selain membaca, anak-anak juga mengekspresikan keterampilan mereka melalui berbagai karya seni dari bahan-bahan lokal seperti kerang, kayu, dsb. Di sana, imajinasi mereka dibiarkan bebas terbang melalui aneka macam buku bacaan, ceritera-ceritera dari Goris Ubas, dan kegiatan-kegiatan kreatif dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka.

Taman Daun yang terletak di Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata ini sebenarnya lahir dari sebuah ketaksengajaan. Begitu tutur Goris Ubas, penggagas sekaligus pengelolah taman tersebut.

“Pada tahun 1984 saya kembali ke Lembata setelah menghabiskan sebagian besar waktu di luar Lembata. Berbekal pelatihan teknologi tekstil tentang pewarnaan selama setahun di Bandung, pada tahun 1986 saya kemudian menggerakan beberapa ibu-ibu penenun untuk menghasilkan kain tenun dengan teknik pewarnaan yang saya dapatkan dalam pelatihan tersebut,” kenang Goris.

Namun karena ibu-ibu ini umumnya mempunyai anak-anak yang dibawa serta ke tempatnya, Goris lalu mencari cara agar anak-anak tersebut tidak mengganggu ibu mereka yang lagi serius menenun.

“Maka saya mengumpulkan anak-anak tersebut lalu membagi beberapa buku bacaan yang saya punya. Dengan begitu, mereka tidak mengganggu konsentrasi ibu mereka,” lanjut Goris.
Maka bersaman dengan kelompok penenun itu, Taman Daun, yang awalnya bernama Bintang Kejora sesuai nama kelompok tenun, juga berdiri. Jumlah awal mereka sekitar 20-an orang. Seiring berjalannya waktu, jumlah mereka pun bertambah.

Nama Taman Daun sendiri terinspirasi dari kerindangan berbagai pepohonan di taman tersebut. Ada pohon mangga, angsono, pinang dan aneka jenis pohon buah-buahan lain. Goris berceritera, awalnya, lingkungan itu hanya dipenuhi rumput alang-alang. Ketika pepohonan yang ditanamnya mulai rindang, lingkungan itu mulai dipenuhi oleh dedaunan hijau.

“Ada beberapa anak yang mengusulkan agar daun-daun yang jatuh tidak dibersihkan semuanya. Yang dibersihkan hanya sampah-sampah plastik. Daun-daun yang melindungi anak-anak dari teriknya mentari lalu menjadi sumber inspirasi nama komunitas yang sudah berusia 30 tahun ini,” kisah ayah tiga orang anak ini.

Anak-anak ini diajarkan membuat
berbagai kerajinan tangan dari barang-barang bekas dan kerang
Tidak hanya mengarahkan mereka untuk membaca, kepada mereka juga Goris membawakan dongeng dan cerita-cerita yang cukup menghibur. Di lain waktu, anak-anak ini diajarkan menggambar, membuat berbagai kerajinan tangan dari barang-barang bekas dan kerang. Bahkan beberapa anak-anak di komunitas tersebut berhasil mengikuti lomba menggambar tingkat nasional. Ada yang mendapat piagam penghargaan, ada yang mendapat beasiswa. Informasi tentang lomba itu sendiri diperoleh Goris melalui koran bekas yang dipungutnya.

“Waktu liat ada pengumuman tentang lomba tersebut dan kebetulan tanggalnya masih bisa, saya lalu mengirimkan empat orang anak mengikuti lomba menggambar di Jakarta,” ujar suami dari Brigita Bataona yang mengenyam pendidiikan dasar di Padang, Sumatera Barat dan Bogor, Jawa Barat ini.

Tentang informasi yang diperoleh melalui Koran bekas ini, Goris lalu mengungkapkan bahwa salah satu elemen penting dalam perkembangan masyarakat (terutam di desa) adalah akses informasi. Ia mengatakan, ada pegawai pemerintah yang diutus ke luar daerah untuk melakukan pelatihan atau studi banding. Namun ketika kembali, informasi (pengetahuan) yang mereka dapatkan tersebut tidak diteruskan ke masyarakat. Malah, ada yang lalu menjadikan informasi yang seharusnya disampaikan ke masyarakat itu menjadi sumber pendapatan (diperjual belikan).

Anak-anak dapat melecut imajinasi mereka dengan membaca
Padahal, menurut Goris, mengambil contoh kelompok tenun ikatnya, informasi tentang teknik pewarnaan, tren pasar, dan harga jual harus disampaikan ke masyarakat. “Masyarakat tidak butuh bantuan dalam bentuk uang, cukup dengan infromasi-informasi semacam itu mereka bisa berdaya,” ujar Goris. “Begitupun dengan anak-anak, pewaris masa depan bangsa ini. Mereka perlu mendapat akses pengetahuan dan informasi yang bisa melecut imajinasi dan energi kreatif mereka,” lanjutnya.

Sejak dua tahun lalu, komunitas ini mulai diangkat ke media sosial melalui beberapa anak-anak yang menjadi generasi awal komunitas tersebut. Ternyata, ekspos itu mendapat respons positif dari beberapa pemerhati pendidikan literasi bagi anak-anak. Beberapa diantaranya bahkan berasal dari luar negeri, seperti Ibu Hana dan Ibu Christine Dewbury dari Inggris. Sumbangan mereka pun beragam. Ada yang mengirimkan buku bacaan, buku tulis, alat menggambar, tas, dsb.

Saat ini, Taman Daun sedang menggerakan sebuah program yang diberi nama Sejuta Buku untuk Lembata. Program ini berupaya menggugah hati siapa saja yang mau menyumbangkan buku untuk anak-anak di Lembata. Nantinya, buku itu akan didistribusikan ke berbagai kelompok-kelompok kecil yang ada di Lembata.
Untuk sementara, kata Goris, sudah ada dua orang relawan yang mau menjadi pengelolah kelompok taman baca. Yang satu dari Riangdua, dan satunya lagi dari Tanatreket. Melalui cara semacam itu, Goris berharap semakin banyak kelompok di pelosok-pelosok Lembata yang bisa menjadi tempat anak-anak menghabiskan waktu senggang mereka untuk membaca atau berkreasi.

Dengan membaca Goris berharap anak-anak selalu merasa kurang dan selalu mau mencari tahu lebih banyak lagi. Karena membaca, terutama dari buku-buku bacaan membuat mereka bisa lebih fokus.

Goris Ubas bersama anak-anak di Taman Daun
“Kalau membaca melalui smartphone kan biasanya banyak iklan dan mereka tergoda untuk melakukan hal-hal lain misalnya bermain game sehingga tidak berkonsentrasi,” ujarnya.
Karena itu, melalui komunitas ini, Goris ingin membawa anak-anak Lembata menyelami indahnya membaca melalui buku, mendengarkan kisah dongeng, dan berkarya melalui karya-karya kreatif.

Salah satu generasi awal Taman Daun, John S Batafor, kini menjadi penggiat gerakan perpustaakaan alam. Bukan hanya di Lembata, John bahkan sudah melebarkan sayap ke beberapa daerah di NTT, seperti Malaka, Fatuleu, Amarasi, Bolok, dll.

Tentang kerja sosialnya itu, John pernah menulis dalam salah satu postingan di dinding Facebooknya, “Bukan Persoalan Laut masih bisa menghidupi kalian. Namun, pendidikan merupakan pondasi dalam membangun wawasan masyarakat sehingga terciptalah Sumber Daya Manusia yang akan memajukan dan membangun daerahnya berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan ketakwaan.”

Goris, John, dkk, sudah memulai sebuah usaha yang sedikit banyak telah membantu generasi muda NTT merawat imajinasi dan keingintahuan mereka. Mereka ingin lebih banyak orang terlibat dalam gerakan semacam ini sehingga anak-anak NTT bisa mempunyai bekal yang cukup dalam menggapai cita-cita dan mimpi mereka. (ens)




comments

No comments:

Post a comment