Latest News

Friday, 9 December 2016

Penjual Kemiri Sekolahkan 3 Anak Hingga Raih Sarjana


Ester Lanmai (paling kiri) bersama Nataniel Lanmai, S.St (kedua dari kiri) dan beberapa kerabat lainnya saat syukuran wisuda pada Senin (5/12/2016) lalu di Naikolan.

Kupang, Cakrawala NTT

Kisah menarik datang dari salah satu wisudawan Politeknik Negeri Kupang yang diwisuda pada Sabtu (3/12/2016) lalu. Nataniel Lanmai, S.St namanya. Salah satu dari 705 wisudawan ini berasal dari keluarga yang sederhana. Ibunya, Ester Lanmai adalah seorang janda yang telah berjuang keras mendidik Nataniel dan dua saudaranya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan di janjang Strata I. Selain Nataniel, dua saudaranya yang lain telah menamatkan pendidikan mereka di kampus yang berbeda di kota Kupang.

Sosok Ester Lanmai adalah sosok ibu yang sangat peduli dengan masa depan anak-anaknya. Tanpa didampingi oleh suami, ia bekerja keras, membanting tulang demi menyekolahkan anak-anaknya. Diungkapkan olehnya bahwa biaya pendidikan untuk anak-anaknya hanya ia peroleh dari hasil menjual kemiri. Maka tidak heran jika ia tampak haru dan bangga saat menghadiri acara syukuran wisuda anak bungsunya, Nataniel yang digelar di Naikolan beberapa waktu yang lalu.

Nataniel sendiri mengungkapkan kebanggannya terhadap ibunya yang berjuang tidak kenal lelah dalam menyekolahkan dia dan dua kakaknya. Nataniel yang sejak kecil telah ditinggalkan oleh ayahnya ini berkisah bahwa ibunya berjuang membiaya pendidikan mereka dengan cara menjual kemiri di kota Kalabahi.  

“Hanya dengan kemiri, mama bisa sekolahkan saya dan kedua kakak saya hingga bisa meraih gelar sarjana. Mama dibantu oleh kakak sulung kami yang rela meninggalkan bangku sekolah untuk mengurus kami,” tuturnya.

Nataniel menambahkan bahwa perjuangan menjual kemiri di Alor bukanlah hal yang mudah bagi ibunya. Hal ini disebabkan karena mereka berdomisili di desa Manetwati yang sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor. Ibunya harus berjalan kaki memikul kemiri yang harga per-kilonya ± Rp 13.000 hingga kota Kalabahi. Berjalan kaki dengan memikul kemiri merupakan pilihan utama bagi ibunya, sebab jika menggunakan kendaraan beroda dua (ojek), maka biaya yang harus dikeluarkan untuk perjalanan pergi-pulang mencapai Rp 150.000.

Yulio A. Letma, SH bersama orang tua
Keadaan wilayah yang sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor tidak menyurutkan semangat Ester Lanmai dan masyarakat di daerah tersebut untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Terbukti, pada bulan ini (desember 2016), selain Nataniel, ada 3 mahasiswa lainnya dari desa ini yang berhasil meraih gelar sarjana di beberapa kampus di kota Kupang; yakni Yulio Alberto Letma, SH; Milka Lanmai, SS dan Rode Mabileti, S.Kep.

Kisah mereka yang lainnya pun mirip dengan kisah Nataniel dan ibunya. Yulio A. Letma, SH misalnya, mengakui bahwa keberhasilan mereka merupakan buah kerja keras dari orang tua mereka di kampung yang pada umumnya berprofesi sebagai petani dan penjual kemiri serta sirih. “Dengan menjual kemiri dan sirih, bapak dan mama bisa mengurus kami bersekolah. Selain saya, kedua adik saya saat ini masing-masing mengenyam pendidikan di tingkat universitas dan di tingkat SMA. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Untuk itu, tekuni apa yang ada di depan kita, sebab jika tekun maka yang kita tekuni pasti berhasil,” tutur Julio. (AnisAtamai/JKo)

Nataniel Lanmai dan Yulio A. Letma bersama orang tua dan kerabat lainnya pada saat syukuran wisuda

Nataniel Lanmai dan Yulio A. Letma

comments

No comments:

Post a comment