Latest News

Thursday, 30 June 2016

Catatan Seorang Guru SM-3T di Pedalaman Belu

“Dari Timur, Aku Belajar”

Sri bersama para siswa SMPN Raimanuk
SMP Negeri Raimanuk merupakan salah satu sekolah yang berada di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sekolah yang terletak tak jauh dari Gunung Mandeu ini, telah banyak menorehkan kisah untuk saya sebagai Guru SM-3T. Suka duka, tangis dan tawa telah saya rasakan. Semua tersaji begitu rapi setiap harinya, seolah menu rutin yang harus disantap.


            Tepat pada tanggal 1 September 2014, setelah acara penyambutan di Kantor Bupati Belu dan dilanjutkan dengan pembacaan sekolah penempatan untuk masing-masing peserta SM-3T, kami langsung dijemput oleh camat dan kepala sekolah untuk dibawa ke sekolah sasaran. Dengan tarian Likurai dan penyelempangan Tais (kain), saya beserta keempat peserta lainnya disambut oleh keluarga besar SMPN Raimanuk beserta warga Desa Mandeu Raimanus. Sungguh hal yang sangat berkesan bagi saya, tidak hanya acara penyambutan tetapi juga karena secara langsung juga dapat melihat ciri khas orang Timur yang berkulit hitam dan kebanyakan berambut keriting-pirang. Setelah acara ramah tamah oleh keluarga besar SMPN Raimanuk, selanjutnya saya bersama salah seorang teman (Ferry Adriansyah, S.Pd) yang juga bertugas di sekolah yang sama diantar menuju mes guru yang terletak di belakang lingkungan sekolah. Dan mulailah kisah ini.
            Menjadi seorang pendidik di bagian Timur Indonesia, menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya masih ingat saat pertama kali mengajar di SMPN Raimanuk. Wajah bingung sekaligus senyum sumringah dari anak didik menjadi kesan pertama yang tidak mungkin bisa dilupakan. Saat saya menjelaskan materi pelajaran, mereka memperhatikan dengan serius walau sekali-kali terlihat senyum malu-malu itu. Tidak banyak kata yang terucap dari bibir mereka, namun setiap kali saya bertanya tentang pemahaman mereka akan materi yang telah saya jelaskan, mereka hanya menjawab, “Mengerti, Ibu”. Meski Saya sempat ragu, mengingat dialek saya yang berbeda dengan mereka. Rasa penasaran membuat saya menceritakan hal ini kepada seorang guru. Dan ternyata, guru tersebut malah menanyakan langsung kepada anak didik yang bersangkutan, dan pengakuan yang saya dapatkan sempat membuat saya terdiam dan tersenyum. Ternyata mereka menyukai dialek saya, karena lembut dan mereka ingin saya mengajar mereka bahasa Jawa. Padahal, saya sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Mungkin karena dialek dan nama saya yang berbau Jawa ini, mereka mengira saya berasal dari Jawa. Dan hal itu memang saya rasakan, karena meski berulang kali saya katakan berasal dari Riau-Sumatera, mereka tetap mengatakan saya dari Jawa.
            Di balik keunikan mereka, tersimpan cerita lain yang patut dicontoh. SMPN Raimanuk merupakan salah satu sekolah yang berada jauh dari ibu kota kabupaten, jauh dari keramaian atau bisa dikatakan terpelosok. Untuk mencapai sekolah ini, kita harus melalui jalanan yang berbatu dan terjal. Debu menjadi teman setia yang menemani mereka jika musim kemarau. Lumpur mewarnai jalanan jika musim penghujan. Maka tidak heran jika banyak siswa yang datang terlambat ke sekolah, karena tidak semua siswa tinggal di asrama, sebagian dari mereka masih tinggal dengan orangtua. Untuk ke sekolah, mereka harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam; berjalan kaki. Jarak ini pula yang menjadi kendala bagi mereka jika guru mengadakan bimbingan belajar pada sore hari.
            Namun jalanan dan jarak bukanlah satu-satunya kendala yang harus mereka hadapi. Mereka harus tetap puas dengan penerangan seadanya seperti pelita, lilin atau obor. Karena memang belum adanya listrik di desa ini. Sebagian kecil warga menggunakan lampu tenaga surya dan sebagian kecil lagi memanfaatkan mesin genset sebagi sumber penerangan. Hal ini, membuat mereka kesulitan untuk belajar pada malam hari. Maka tak jarang Pekerjaan Rumah (PR) mereka kerjakan di sekolah atau tidak dikerjakan sama sekali. Karena bagi mereka, waktu yang tersisa hanya pada malam hari. Sore harinya setelah pulang sekolah, mereka harus membantu pekerjaan orangtua seperti memberishkan rumah, memasak, berkebun dan menggembalakan ternak.
            Tidak hanya itu, sumber air juga jauh. Kebutuhan akan air bersih membuat mereka rela menuruni dan menaiki bukit demi 2 – 5 jerigen air. Sore hari adalah watu bagi mereka untuk mengambil air guna keperluan memasak, mencuci dam mandi sebelum berangkat sekolah.
            Banyak di antara kita yang begitu menikmati masa-masa sekolah dengan segala fasilitas dari orang tua. Meski begitu, tidak jarang pula kita membolos dan tidak serius mengikuti pelajaran. Seandainya, kita yang menganggap sekolah hanya untuk mengisi waktu kosong saja, dapat melihat dan menghayati kehidupan teman-teman kita yang berada di pelosok. Dengan segala keterbatasan yang harus mereka hadapi, semangat  mereka untuk bersekolah begitu besar meski berjalan kaki sekian kilo meter. Maka tidak akan ada alasan bagi kita untuk bermalas-malasan menuntut ilmu dan mengeluh. (Sri Harya Ningsih, S.Pd; guru SM-3T Riau/Robert Fahik)
comments

No comments:

Post a Comment