Latest News

Thursday, 2 June 2016

ARTI SAHABAT

(Petra Maro)

Ilustrasi
Pagi telah tiba, aku bangun dari tidurku. Aku begitu bersemangat di pagi ini karena  aku akan kembali ke negara tercintaku, Indonesia. Pesawat yang kutumpangi pagi yang sama mendarat di bandara Soekarno-Hatta.  Sekarang aku di Jakarta, ibukota negaraku. Bergegas kuambil bagasiku dan menuju ruang tunggu. Dari pandangan  sekilas ku melihat dari seberapa  meter berdiri seorang wanita tua dengan wajah agak keriput, seorang  gadis yang bertumbuh dengan baik, dan seorang pria tua dengan uban yang telah menutupi rambut hitamnya dan keriput wajah seolah telah menutupi ketampanannya. Mereka adalah ibuku, adikku Lia, dan ayahku, orang-orang terhebat dalam hidupku. Segera kuhampiri mereka. Aku sudah sangat merindukan mereka. Kerinduan yang bertubi-tubi akhirnya terangkum dalam pelukan yang begitu kuat dan mengharukan. Setelah itu kami pun segera bergegas ke rumah karena mendung hitam mulai menutupi cakrawala, pertanda hujan lebat mungkin akan mengguyur.
Malam pun tiba, aku dan Lia, adikku berada di dalam kamarnya.
“Kak, kapan pergi mengunjungi kak Ranni,” tanya adikku.
“Mungkin besok,” jawabku sambil memandang wajah adikku dengan mata berkaca-kaca. Pikiranku pun  menerawang jauh. Aku teringat kembali kejadian di lima tahun yang lalu. Saat itu adalah tahun terakhir kami di SMA. SMA Harapan namanya. Seperti biasanya, di tahun terakhir SMA, kami disibukkan dengan berbagai kegiatan belajar yang padat, PR yang menumpuk, dan kami juga harus mengikuti kegiatan bimbingan belajar yang dilaksanakan seminggu dua kali.
“Ranni, ayo ke kantin,” ajakku.
“Memangnya sekarang sudah  waktunya istirahat?  ” tanya Ranni.
“Iya.  Makanya, kalau mengerjakan tugas jangan terlalu serius. Bel istirahat saja sampai tidak didengar,” kataku.
“Lebih baik mengerjakan tugas  sampai bel  istirahat  tidak  didengar.  Dari pada  serius menunggu waktu istirahat sampai lupa mengerjakan tugas,” balas Ranni dengan nada bercanda.
“Hahahahahaha  baiklah profesor Ranni. Mulai sekarang saya akan rajin mengerjakan tugas-tugas,” jawabku  dengan penuh tawa.
Kami segera meninggalkan kelas dan pergi ke kantin. Siang itu kami memesan bakso. Tapi aku lihat Ranni hanya  memandang makanannya.
“Ran, makanan itu untuk dimakan, bukan untuk dipandangin. Ayo cepat  dimakan, sebentar lagi waktu istirahat selesai,” tegurku.
“ Ah, iya. Ini mau dimakan,” jawabnya.
Saat Ranni  akan menelan makanannya, tiba-tiba saja ia batuk.  “Ranni, kamu kenapa?,” tanyaku.
“Ahh, tidak kenapa-kenapa,” jawabnya.
Ia segera berlari meninggalkanku dan menuju ke toilet. Aku juga mengejarnya  menuju toilet.
“Kamu kenapa, Rann?” tanyaku.
“Tidak,” jawabnya singkat dan langsung pergi meninggalkan aku.
Sekilas aku seperti  melihat bekas  darah  di pipinya. Rasa heran pun hadir tentang hal itu. Saat aku akan kembali ke kantin, pandanganku langsung tertuju pada tisu yang dipenuhi darah yang berada di tempat sampah. Aku segera mengambil tisu itu dan melihatnya.
“Darah segar. Darah ini masih baru,” kataku dalam hati.
Segera aku berlari menuju kelas untuk mencari Ranni, namun temanku mengatakan kepadaku bahwa Ranni sudah pulang. Aku sebenarnya mau menyusul Ranni karena kukira tidak ada pelajaran. Namun ternyata tiba-tiba ada guru mata pelajaran masuk.
“Kalau begitu setelah pulang sekolah baru aku langsung menuju ke rumah Ranni,” kataku dalam hati.
*************
“Permisi, Ranninya ada?”
“Ranninya sudah ke rumah sakit bersama orang tuanya,” jawab penjaga rumah Ranni.
“Memangnya Ranni kenapa,” tanyaku.
“Tadi waktu sampai dirumah, Ranni  mimisan dan pingsan. Sekarang mereka sudah berada  di Rumah Sakit Hosana,” jawabnya.
Langsung saja aku pamit dan menuju ke rumah sakit yang sudah diberi tahu. Aku menelepon ibu Ranni untuk menanyakan ruangan Ranni. Sesampai aku di depan  ruangannya  Ranni, aku membuka pelan pintu. Mataku langsung tertuju pada Ranni yang terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan hidungnya ditutupi masker oksigen. Aku segera menuju ibunya dan bertanya,
 “Tante, Ranni sakit apa? Kenapa sampai harus pakai masker oksigen?,” tanyaku penuh  heran.
“Ranny  diserang kanker otak, dan sekarang telah mencapai stadium akhir. Mungkin usianya tinggal menghitung bulan,” jawab ibu Ranni dengan penuh kepedihan.
Seketika seluruh tubuhku menjadi sangat lemah. Tanpa  kusadari air mataku mengalir begitu saja. Dengan langkah gontai aku meninggalkan ruangan itu dan pergi tanpa sempat berpamitan.
*************
Ujian Nasional (UN) telah tiba. Walaupun  tanpa Ranni,  aku tetap  bersemangat  mengikuti ujian nasional. Setelah UN berakhir,  aku segera menuju ke  rumah  sakit untuk menemui Ranni.  Terlihat rambut yang seharusnya sebagai mahkota wanita itu kini sudah tidak ada lagi akibat dari kemoterapi yang harus ia jalani.
“Rann, bagaimana soal-soal ujian nasional? Kamu  bisa mengerjakannya atau tidak?,” tanyaku dengan antusias.
“Puji Tuhan, bisa. Walaupun ada beberapa nomor yang tidak bisa kukerjakan,” jawab Ranni sambil tersenyum.
“Oh, iya, ini aku bawakan untukmu buku kesukaanmu, novel horor. Ada yang terbaru, judulnya cerita hantu tanpa  kepala.  Aku sudah  membacanya dan ternyata sangat mengagumkan. Tentang dua sahabat yang berpetualangan ke rumah hantu untuk mencari hantu,” jelasku panjang lebar.
Pertemuan kami terasa lamanya. Sepanjang hari aku menemani dia bermain kartu. Dan tak terasa hari sudah sore. Aku harus pamit pulang.
Selama menunggu hari pengumuman kelulusan, aku sengaja untuk tidak pergi berlibur agar aku bisa menjaga dan menemani Ranni di saat-saat terakhirnya. Aku tidak pernah mau seharipun untuk tidak pergi menjenguknya, karena bagiku setiap saat itu terlalu berharga untuk dilewatkan.
Hari pengumuman kelulusan telah tiba. Seluruh siswa SMA Harapan telah berada di sekolah untuk mendengarkan pengumuman kelulusan. Begitu juga dengan aku. Kami  semua begitu antusias. Walaupun begitu, pikiranku tetap pada Ranni. Aku benar-benar terus berpikir tentangnya. Setelah lembaran pengumuman kelulusan ditempelkan oleh guru di papan informasi, kami semua serentak berlari menuju papan informasi. Aku pun tidak ketinggalan. Ternyata aku dinyatakan lulus. Yang lebih membanggakan lagi, aku mendapatkan untuk memberitahu Ranni bahwa dia mendapatkan peringkat ke-3 untuk umum.
“Ranni, selamat untuk peringkat 3 umumnya. Aku sebagai sahabat kamu benar-benar bangga dengan kamu,” kataku sambil memeluk Ranni.
 “Terima kasih,  Emyl. Kamu juga selamat untuk peringkat 4 umummu,” balas Ranni.
Aku melihat seragam SMA miliknya tergantung di dekat jendela. Aku segera mengambil seragam itu dan  pelan-pelan  aku mengenakannya pada Ranni.
“Kita harus merayakan kelulusan kita dengan mencoret-coret baju seragam. Aku yang duluan yang mencoret,” kataku sambil membuka spidol dan mencoret baju seragam yang sudah dikenakan Ranni.
“Sekarang  giliranku,” kata Ranni.
Saat Ranni akan mencoret  baju  seragamku, tiba-tiba saja spidol itu terjatuh. Ranni merintih kesakitannya sambil memegang kepalanya. Melihat posisinya Ranni, aku benar-benar  sangat panik. Sesegera mungkin aku berlari keluar dan memanggil dokter. Saat dokter sampai di ruangan, Ranni telah dalam keadaan  pingsan. Dokter menyuruhku untuk keluar dan  menelepon  kedua orang tua Ranni. Beberapa saat kemudian dokter keluar. Aku langsung saja menanyakan kondisi Ranni. Dokter mengatakan bahwa kondisi Ranni telah stabil dan masker oksigen telah dilepaskan. Aku sangat lega mendengar hal itu. Aku segera masuk ke ruangan dan menanyakan kondisi Ranni.
“Rann, bagaimana kondisimu? Sudah baikkan?,” tanyaku.
“Iya, syukurlah sudah lebih baik sekarang,” jawab Ranni.
“Oh iya, setelah lulus ini kamu akan melanjutkan pendidikan kamu dimana?,” tanya  Ranni lanjut.
“Entahlah, aku belum memikirkan tentang itu. Aku benar-benar bingung dengan kemampuanku,” jawabku.
“Kalau menurutku sebaiknya kamu mengambil jurusan seni saja. Kamu benar-benar berbakat di bidang seni, Emyl,” ujar  Ranni  penuh  harap.
“Aku tidak yakin dengan kemampuan seniku. Tapi demi kamu aku akan mengambil jurusan itu. Lalu nanti kamu kuliah di mana?,” tanyaku.
“Setelah penyakit ini menyerangku, aku tidak lagi berani bermimpi untuk kuliah. Lulus SMA saja sudah  bersyukur. Apalagi  umurku yang sudah  diprediksikan tinggal menghitung bulan,” jawab Ranni. Aku sangat sedih dengan jawaban  Ranni.
“Aku tidak pernah memikirkan hal bodoh seperti  itu. Apakah dokter-dokter itu Tuhan sehingga mereka tahu bahwa usiamu tinggal menghitung bulan? Tidak!!,” Kataku sambil menahan tangis tapi akhirnya pecah di pelukkan Ranni.
“Hiduplah dengan baik, dengan bahagia. Aku benar-benar akan marah jika kamu tidak hidup dengan baik,” kata Ranni sambil menangis.
Malam telah tiba. Aku pun harus pamit pulang. Sesampai aku di rumah, aku langsung menuju kamar dan tidur.  Hari ini aku begitu capek sehingga tidak sempat  untuk makan malam. Pagi  harinya, aku terbangun dan melihat di hp ku lima panggilan tak terjawab dari ibunya Ranni. Mendadak perasaanku menjadi tidak  enak, seperti mendapat firasat. Langsung saja tanpa mandi terlebih dahulu aku menuju rumah sakit. Saat akan keluar dari rumah, ibuku menahan aku.
“Kamu mau kemana pagi-pagi begini?,” tanya ibu.
“Mau ke rumah sakit, menjenguk Ranni,” jawabku.  Mendadak wajah ibuku menjadi sedih  saat mendengar  jawabanku.
“Dia sudah meninggal, pagi tadi sekitar pukul 03.00,” kata ibuku dengan pilu.
“Apa????? Tidak mungkin, bu. Baru kemarin kami bermain bersama, tertawa bersama. Dia tidak mungkin sudah  meninggal,” kataku sambil menangis.
“Pagi  tadi, kondisinya memburuk dan  terus menurun. Dan akhirnya dia meninggal.”
Mendengar cerita ibuku, tubuhku menjadi begitu lemah dan seperti tidak sanggup untuk berjalan. Aku hanya dapat terus memandangi fotonya. Aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. Aku tidak akan pernah bisa untuk melupakan sahabat terbaikku. (*) 

(Sumber: Majalah Pendidikan Cakrawala NTT, Edisi 47)
comments

No comments:

Post a comment