![]() |
| Pose bersama. |
Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Proses
mendampingi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan mental bukanlah
perkara mudah. Selain menghadapi kelelahan mental, keluarga juga dapat
mengalami tekanan ekonomi yang memengaruhi kemampuan mereka dalam memberikan
pendampingan. Di sisi lain, para penyintas terkadang merasa tidak memiliki
cukup ruang untuk menceritakan pengalaman dan perasaan mereka.
Pengalaman
tersebut menjadi salah satu perhatian Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Jiwa
Naimata Kupang dalam rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Tahun
2026. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah “Baku Dengar edisi Bulan
Kesehatan Mental Sedunia” di D’Art Café and Gallery, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real
Change” ini melibatkan berbagai organisasi dan komunitas untuk membuka
ruang berbagi pengalaman serta mengekspresikan diri melalui kegiatan kreatif.
Plt Direktur
RSKD Jiwa Naimata Kupang, Novy Enggelin Elim, S. Farm., Apt., menjelaskan bahwa
rangkaian peringatan tersebut telah dimulai sejak 8 Oktober 2026 melalui
kegiatan family gathering yang melibatkan komunitas pecinta kesehatan
jiwa, penyintas, dan keluarga penyintas.
“Kami ingin
mendengarkan suara mereka atau perspektif dari sisi mereka sebagai penyintas
atau keluarga penyintas,” jelas Novy.
Menurutnya,
dalam kegiatan tersebut, keluarga menyampaikan pengalaman tentang kelelahan
mental selama mendampingi anggota keluarga yang menjalani proses pemulihan.
Mereka juga mengeluhkan tekanan ekonomi yang dapat membatasi kemampuan untuk
memberikan pendampingan secara paripurna.
Sementara itu, para penyintas mengungkapkan bahwa tidak banyak orang yang bersedia mendengarkan atau memahami apa yang mereka rasakan. Sebagian orang cenderung langsung memberikan nasihat tanpa terlebih dahulu mendengarkan pengalaman mereka.
Pengalaman inilah yang menjadi salah satu konteks penyelenggaraan baku dengar, sebuah kegiatan yang memberi kesempatan kepada peserta untuk berbagi cerita tanpa harus merasa dituntut memberikan jawaban atau solusi atas setiap persoalan yang disampaikan.
Keluhan Kesehatan Mental Tidak Perlu Disembunyikan
Novy Enggelin
Elim, dalam sambutannya, mengatakan bahwa masalah kesehatan mental masih sering
diabaikan. Bahkan, sebagian masyarakat masih menganggapnya sebagai persoalan
yang memalukan sehingga enggan membicarakannya secara terbuka.
Menurutnya,
kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena masalah kesehatan mental yang
tidak dikenali dan ditangani dapat berkembang hingga mengganggu aktivitas
sehari-hari. Novy mengibaratkan persoalan kesehatan jiwa seperti fenomena
gunung es. Masalah yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan seluruh
persoalan yang dialami seseorang. Persoalan yang belum terungkap dapat
berkembang menjadi lebih besar apabila tidak segera ditangani.
Ia menjelaskan
bahwa ketika masalah kesehatan mental mulai mengganggu kemampuan seseorang
menjalankan aktivitas sehari-hari, dampaknya dapat meluas ke kehidupan sosial
dan ekonomi. Dalam kondisi tertentu, persoalan tersebut juga dapat berkaitan
dengan kekerasan dalam rumah tangga dan masalah lanjutan lainnya. Karena itu,
Novy mengajak masyarakat, terutama para penyintas, agar tidak merasa malu
menyampaikan keluhan yang berkaitan dengan kesehatan mental.
“Kita tidak
perlu malu untuk menyampaikan keluhan mental, itu sakit yang perlu diobati,”
ungkapnya.
Novy menilai, baku dengar merupakan salah satu
inisiatif untuk membangun kebiasaan mendengarkan pengalaman orang lain tanpa
terburu-buru memberikan penilaian.
“Kita semua
diajak menjadi pendengar yang baik bagi semua orang. Jadi pendengar saja, tanpa
harus berkata-kata banyak, tidak harus beri nasihat, apalagi saling menghakimi,”
katanya.
Lebih lanjut, ia
menjelaskan bahwa cerita dan keluhan yang disampaikan oleh penyintas maupun
keluarga dapat menjadi masukan bagi RSKD Jiwa Naimata Kupang untuk memahami
kebutuhan mereka dan menyesuaikan pelayanan kesehatan mental pada masa mendatang.
Novy juga mengapresiasi keterlibatan berbagai organisasi dan komunitas dalam
kegiatan tersebut. Ia mengakui bahwa upaya meningkatkan kepedulian terhadap
kesehatan mental selama ini mungkin masih banyak berlangsung sebagai kerja
senyap yang belum diketahui masyarakat luas.
Ia berharap
peserta dapat ikut menyebarluaskan pemahaman bahwa masalah kesehatan mental
bukanlah aib.
“Sampaikan
kepada khalayak luas bahwa masalah kesehatan mental itu bukan aib,” lanjutnya.
Novy turut
menyoroti peran anak muda dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap
kesehatan mental. Menurutnya, anak muda yang memiliki kesadaran terhadap isu
tersebut dapat menjadi teman sebaya yang bersedia mendengarkan pengalaman anak
muda lainnya.
“Mari kita
jadikan momen ini menjadi wadah saling mendengarkan tanpa menghakimi,”
tutupnya.
Mentalmate: Membicarakan Kesehatan Mental seperti Percakapan Sehari-hari
Founder
Mentalmate, Rinto Kaleka, menjelaskan bahwa komunitas tersebut dibentuk pada
2024 oleh dirinya bersama sejumlah rekan yang memiliki ketertarikan terhadap
isu kesehatan mental. Sebagai lulusan sarjana psikologi, Rinto melihat perlunya
ruang yang memungkinkan masyarakat berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait
persoalan tersebut.
Sejak dibentuk
di Kota Kupang, Mentalmate rutin mengadakan diskusi dan kegiatan berbagi
cerita. Komunitas ini juga melakukan edukasi melalui media sosial dengan
mengangkat berbagai topik seputar kesehatan mental.
Rinto
mengatakan, Mentalmate terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai instansi dan
komunitas. Mereka juga telah beberapa kali memperingati Hari Kesehatan Jiwa
Sedunia melalui kegiatan kolaboratif.
“Tahun ini, kami
sangat senang bisa berkolaborasi dengan RSKD Jiwa Naimata Kupang,” ujarnya.
Dalam kegiatan baku dengar, peserta diberi kesempatan
untuk mengekspresikan pengalaman melalui berbagai cara, baik dengan bercerita
secara langsung maupun melalui kegiatan kreatif seperti menggambar dan membuat zine.
Menurut Rinto, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat persoalan kesehatan
mental lebih mudah dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya
masalah kesehatan mental ini kita bisa bicarakan seperti biasa, sebagaimana
obrolan kehidupan lainnya,” tandasnya.
Dari Hospital Tour hingga Edukasi di CFD
Novy
menjelaskan, setelah kegiatan family gathering pada 8 Oktober, RSKD Jiwa
Naimata Kupang melaksanakan hospital tour pada 9 Oktober 2026 bersama
komunitas Mentalmate dan Tenggara Youth Community. Dalam kegiatan tersebut,
peserta diperkenalkan dengan pelayanan yang tersedia di rumah sakit. Selain
pelayanan kesehatan jiwa, RSKD Jiwa Naimata Kupang juga menyediakan pelayanan
kesehatan umum, antara lain pelayanan kesehatan gigi dan penyakit dalam.
Rangkaian
kegiatan berlanjut pada 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa
Sedunia. Pada hari tersebut, RSKD Jiwa Naimata Kupang bersama para mitra
melaksanakan kegiatan di arena Car Free Day (CFD) Kota Kupang. Kegiatannya
meliputi jalan sehat, pembagian stiker berisi kata-kata atau kalimat afirmasi
positif kepada masyarakat, edukasi kesehatan jiwa, dan skrining kesehatan jiwa.
Adapun kegiatan Baku Dengar pada 17 Oktober menjadi bagian lanjutan dari
rangkaian peringatan tersebut.
Kegiatan ini
diinisiasi oleh RSKD Jiwa Naimata Kupang bersama Global Village for Hope (GVH),
Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM), Ikatan Perawatan Kesehatan Jiwa
Indonesia (IPKJI) Provinsi NTT, Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kabupaten Kupang, Mentalmate, Tenggara Youth
Community, Dewanta Mental Healthcare, dan D’Art Café and Gallery.
Hadir dalam
kegiatan tersebut Novy Enggelin Elim, Ketua IPKJI Provinsi NTT Imakulata Bete,
Founder Mentalmate Rinto Kaleka, Publicist and Supervisor Global Village for
Hope Andreas Ayup, perwakilan mitra kolaborasi, serta peserta dari berbagai
komunitas.
Karya Seni Penyintas Dipamerkan di D’Art Café and Gallery
Selain
menyediakan ruang berbagi cerita, baku
dengar menghadirkan pameran lukisan, buku, dan berbagai karya kreatif yang
dihasilkan oleh para penyintas masalah kesehatan mental. Karya-karya tersebut
dipajang berdampingan dengan koleksi seni yang ada di D’Art Café and Gallery.
Novy menjelaskan
bahwa kegiatan berkesenian merupakan salah satu bentuk terapi yang difasilitasi
di RSKD Jiwa Naimata Kupang. Menurutnya, beberapa karya yang dihasilkan para
penyintas selama ini telah dibeli oleh masyarakat sehingga memberikan tambahan
pendapatan bagi pembuatnya. Ia berharap para penyintas dapat terus
mengembangkan kemampuan dan memiliki kesempatan untuk mencapai kemandirian
ekonomi, selain menjalani proses pengobatan.
Pameran tersebut
menjadi salah satu bagian kegiatan yang menampilkan hasil kreativitas para
penyintas kepada peserta dan pengunjung.
Imakulata Bete Pandu Latihan Butterfly Hug
Kegiatan baku dengar juga diisi dengan sesi stress release melalui metode butterfly hug yang dipandu oleh Ketua IPKJI Provinsi NTT, Imakulata Bete, S.Kep., Ns. Perawat yang sehari-hari bekerja di RSKD Jiwa Naimata Kupang tersebut mengawali sesi dengan menjelaskan pengaruh pikiran bawah sadar terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Imakulata mengajak peserta membangun pola pikir positif, meskipun ia mengakui bahwa hal tersebut tidak selalu mudah. Menurutnya, ada orang yang terlalu berfokus menyenangkan orang lain hingga lupa menyayangi dan menghargai diri sendiri.
Melalui metode butterfly hug, ia mengajarkan latihan sederhana untuk membantu peserta merasa lebih rileks dan tenang. Latihan tersebut juga diarahkan untuk membangun apresiasi positif terhadap diri sendiri, sehingga seseorang dapat merasa lebih berharga dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain sesi butterfly
hug, sesuai rundown kegiatan,
peserta juga mengikuti materi self-compassion dari JPM, sesi Baku Dengar
yang difasilitasi Mentalmate, dan kegiatan zine making yang melibatkan
Tenggara Youth Community bersama Mentalmate. Rangkaian kegiatan tersebut
berlangsung melalui kolaborasi berbagai organisasi dan komunitas dalam rangka
peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Tahun 2026 di Kota Kupang. (Saver Suhardin/MDj/red)







0 Comments