![]() |
| Pose bersama. |
Kota Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Kelompok mahasiswa dari Program Studi (Prodi)
Bimbingan dan Konseling (BK), Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira)
menggelar kegiatan seminar kesehatan mental bagi remaja, Sabtu (17/10/2026).
Seminar yang berlangsung di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik Adisucipto
Kupang ini juga didukung oleh tim guru BK dari sekolah setempat. Seminar ini
menyasar para pelajar yang menyandang status sebagai remaja.
Salah satu perwakilan mahasiswa, Agustina Firmin
Towary, menuturkan bahwa seminar tersebut mengusung tema “Benteng Diri, Sahabat
Rasa: Strategi Pertolongan Pertama Kesehatan Mental bagi Remaja Pionir”.
Melalui seminar ini, remaja, terutama pelajar, bisa memahami pentingnya
kesehatan mental, mengenali dan mengelola emosi, serta mengenal tanda-tanda
kesulitan yang menimpa diri sendiri maupun orang lain.
“Pelajar diharapkan dapat mengembangkan sikap empati,
kepedulian, dan kemampuan menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi orang
lain,” tambahnya.
Mengenal Diri dan Menjadi Pendengar yang
Baik
Dalam seminar ini, ada dua narasumber yang terlibat,
yakni Theodora Takalapeta, M.Psi., Psikolog. sebagai pemateri pertama dan
Gracianus Edwin Tue P. Lejab, S.Pd., M.Pd., sebagai pemateri kedua. Pada
kesempatan pertama, Theodora memaparkan materi “Be Real, Be You! – Kenali
Diri, Pahami Emosi, Jaga Kesehatan Mental”. Menurutnya, setiap orang perlu
mengenal diri dan memahami emosi.
“Emosi boleh dirasakan dan itu bukanlah sesuatu yang
salah,” ujarnya.
Theodora menambahkan, setiap orang juga perlu memahami
tanda-tanda ketika diri sendiri atau orang lain sedang mengalami kesulitan.
Jika diri sendiri atau orang lain menghadapi situasi yang sulit, maka setiap
orang wajib mendengarkannya dengan serius dan menunjukkan kepedulian. Tidak
hanya itu, bila risiko yang ditimbulkan membahayakan keselamatan, maka
keterlibatan orang dewasa sangat diperlukan.
Sementara itu, pada kesempatan berikutnya, Gracianus
menekankan pentingnya menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang baik,
jelasnya, merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental
sesama. Sama seperti anjuran pemateri sebelumnya, Gracianus juga menyarankan
keterlibatan orang dewasa, dalam hal ini guru, bila menghadapi masalah dengan
risiko yang serius.
“Sebagai pendengar, kita perlu mendengarkan tanpa
menghakimi, menunjukkan empati, menghargai privasi, serta tidak meremehkan perasaan
orang lain,” tegasnya.
Menjadi Pelopor Kesehatan Mental
Kepala SMP Katolik Adisucipto Kupang, Romo Yonas
Kamlasi, Pr., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar kesehatan
mental tersebut. Materi yang diberikan oleh para narasumber sangat bermanfaat
bagi para murid (pelajar). Melalui seminar ini, ungkapnya, para murid bisa
menyadari pentingnya kesehatan mental serta memahami upaya pencegahan dan
penanganannya.
“Kesehatan mental, termasuk pikiran dan perasaan,
perlu dijaga. Terutama, bagi para murid, seminar ini sangat bermanfaat. Mereka
diharapkan membagikan pengetahuan ini kepada murid lainnya agar bisa menjadi
remaja pionir (pelopor) kesehatan mental,” ungkap Romo Yonas.
Sementara itu, salah satu murid yang menjadi peserta
seminar, Eleonora Silta Fernandez, mengaku senang bisa berpartisipasi dalam
seminar kesehatan mental tersebut. Materi yang disampaikan oleh para narasumber,
menurutnya, sangat mudah dipahami dan bermanfaat.
“Seminar ini membuka pandangan saya bahwa kesehatan
mental itu juga penting seperti menjaga kesehatan fisik. Saya belajar bahwa
semua perasaan bisa dirasakan. Serta, mencari bantuan bukanlah tanda bahwa diri
ini lemah, tetapi menjadi tanda keberanian,” tambah Eleonara.
Untuk diketahui, seminar yang dirancang oleh para
mahasiswa Prodi BK Unwira ini diharapkan bisa menghasilkan outcome berupa meningkatnya pemahaman murid tentang kesehatan
mental sekaligus melahirkan remaja yang peka terhadap kondisi mental sendiri
dan orang lain. Dengan begitu, seminar ini bisa menjadi langkah awal dalam
membangun lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan nyaman. (Vini Towary/MDj/red)





0 Comments