Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Siapkan Generasi Berkarya, SMA Negeri 1 Sabu Timur Gelar Workshop Literasi bagi Guru dan Murid

Potret kegiatan workshop literasi bagi guru dan murid di SMA Negeri 1 Sabu Timur.


Sabu Raijua, CAKRAWALANTT.COM - Dalam mempersiapkan generasi berkarya, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sabu Timur, Kabupaten Sabu Raijua, menggelar workshop literasi bagi guru dan murid selama tiga hari, yakni Rabu-Jumat (22-24/7/2026). Kegiatan yang didukung oleh Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT ini dibuka secara resmi oleh Kepala SMA Negeri 1 Sabu Timur, Imanuel Mangngi, S.Pd., Rabu (22/7/2026). Menurut Imanuel, penguatan literasi sangat penting untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan capaian rapor pendidikan.

 

“Kami melihat kemampuan dan minat literasi murid masih perlu ditingkatkan. Nilai rapor pendidikan juga belum stabil, apalagi kerap mengalami fluktuasi beberapa tahun terakhir,” ungkap Imanuel saat membuka kegiatan.

 

Imanuel menegaskan, penguatan literasi berlangsung secara proporsional, baik bagi guru maupun murid. Pihaknya, ungkap Imanuel, terus memperkuat kemampuan membaca, berpikir kritis, dan keterampilan menulis di kalangan guru dan murid. Mereka, sambungnya, diberikan ruang dan kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensi diri di bidang literasi dan numerasi.

 

“Kami tidak ingin kemampuan literasi hanya berlaku di kalangan murid, sedangkan guru tidak ikut berkembang. Guru juga harus terus belajar, menulis, dan berkreasi sehingga mampu menjadi teladan dalam membangun budaya literasi,” tegasnya.



Membiasakan Literasi Berbasis Karya

 

Sementara itu, Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil., M.I.Kom., mengapresiasi langkah positif SMA Negeri 1 Sabu Timur dalam membangun budaya literasi. Menurutnya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pembiasaan literasi berbasis produk/karya. Melalui karya, ungkapnya, setiap orang bisa melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

 

“Penguatan literasi harus bermuara pada karya (nyata) sehingga bisa merangsang kemampuan berpikir kritis dan kreatif,” tukasnya.

 

Pada kesempatan tersebut, Gusty yang juga berperan sebagai narasumber menampilkan dua video inspiratif sebagai pemantik awal. Para guru dan murid diminta untuk menyimak dan menanggapi isi video tersebut ke dalam tiga paragraf narasi dengan gaya penulisan yang beragam. Menurut Gusty, aktivitas menulis bisa dimulai dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dipikirkan dari kondisi sekitar.

 

“Mulailah menulis dari apa yang dilihat, didengar, dipikirkan, dan dirasakan. Semua orang memiliki cerita. Pengalaman adalah sumber tulisan yang paling dekat dengan kita,” pesan Gusty.



Menulis Karya dari Hasil Asesmen

 

Lebih lanjut, sebelum memulai kegiatan menulis, para guru dan murid diminta untuk mengisi kuisioner yang berisi survei literasi dan pemetaan potensi. Survei dan pemetaan ini merupakan bagian dari proses asesmen. Narasumber lain, Debby Yunita Mada, M.Th., mengatakan bahwa asesmen ini menjadi acuan yang menentukan jenis karya tulis yang akan dibuat.

 

Menurut Debby, pendekatan berbasis asesmen ini menjadi langkah awal untuk membantu peserta mengenali potensi diri sebelum menulis. Nantinya, hasil asesmen akan menjadi dasar dalam memetakan minat, kemampuan, dan kecenderungan peserta dalam menulis, seperti karya ilmiah, artikel populer, karya sastra, dan lain-lain.           

 

“Setiap peserta memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, kami melakukan asesmen terlebih dahulu agar mereka dapat menulis sesuai karakter, potensi, dan minat masing-masing. Dengan demikian proses belajar menjadi lebih terarah dan hasil tulisannya lebih optimal,” jelas Dosen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang tersebut.



Menjadi Awal yang Baik bagi Penguatan Literasi

 

Imanuel kembali menjelaskan bahwa program tersebut telah masuk ke dalam rencana kerja tahunan sekolah sekaligus menjadi salah satu program prioritas kepala sekolah. Kolaborasi bersama Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, ungkapnya, dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman agar kegiatan literasi bisa berlangsung secara berkala.

 

Penguatan literasi di SMA Negeri 1 Sabu Timur, tambah Imanuel, tidak hanya memperkuat budaya akademik, tetapi juga menjadi komitmen sekolah dalam mempertahankan predikat akreditasi A melalui peningkatan mutu pembelajaran dan pengembangan kompetensi warga sekolah.

 

Salah satu guru yang menjadi peserta workshop, Bendelina Tudu, mengaku kegiatan tersebut mampu menjawab keresahan yang selama ini dirasakan oleh para guru dalam berkarya. Menurutnya, banyak guru yang memiliki ide untuk ditulis, tetapi terkendala dengan teknik, media, dan motivasi menulis itu sendiri.

 

“Melalui workshop ini, kami tidak hanya dilatih bagaimana caranya menulis, tetapi juga memiliki wadah publikasi yang dapat menunjang ide dan kemampuan kami,” ungkap guru mata pelajaran bahasa Indonesia tersebut.



Ia berharap, kerja sama yang telah dibangun bisa terus berlanjut sehingga memacu semangat menulis di kalangan guru dan murid. Sekaligus, tambah Bendelina, menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah.

 

Untuk diketahui, kegiatan tersebut diikuti lima puluh murid dan 51 guru. Para murid yang dipilih merupakan perwakilan dari kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas. Nantinya, hasil karya guru dan murid akan didorong ke proses penerbitan buku antologi. Melalui kegiatan ini, pihak sekolah berharap lahirnya generasi yang lebih kompetitif, kreatif, serta mampu menghasilkan karya yang berkualitas. (Debby Yunita Mada/MDj/red)


Post a Comment

0 Comments