Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Dukung Program KKN Desa Binaan, Mahasiswa Unwira Gelar Pelatihan Pengolahan Pisang Menjadi Anggur Pisang di Desa Nekmese

Pose bersama usai pelatihan pengolahan pisang menjadi anggur pisang.


Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Dalam mendukung program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Binaan, kelompok mahasiswa yang berasal dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang menggelar pelatihan pengolahan pisang menjadi anggur pisang bagi warga Dusun 4 Tuamese, Desa Nekmese, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026, ini merupakan bagian dari program unggulan kelompok 4 KKN Desa Binaan Unwira.

 

Ketua Kelompok 4 KKN Desa Binaan Unwira, Aldo Jeranu, mengatakan, program tersebut digagas berdasarkan potensi lokal yang belum digarap secara maksimal selama ini. Salah satunya, sambung Aldo, adalah ketersediaan pisang yang cukup potensial.

 

“Salah satu potensi yang ada di kampung ini adalah pisang. Makanya, perlu ada intervensi agar potensi yang ada diolah menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Pisang yang ada bisa diolah menjadi anggur pisang,” ujar Aldo yang merupakan mahasiswa program studi kimia.

 

Aldo menjelaskan, Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat sebagai salah satu penghasil pisang yang cukup diperhitungkan secara  nasional dengan produksi mencapai sekitar 211.621 ton atau setara 1.69 juta kuintal. Potensi ini menempatkan NTT sebagai produsen pisang di Indonesia. Persoalannya, lanjut Aldo, hasil panen pisang mayoritas hanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah.

 

“Hasil panen yang dijual masih dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah. Jauh dari potensi nilai ekonominya bila diolah lebih lanjut,” tukas Aldo.

 

Sejumlah kajian agroindustri di berbagai daerah menunjukkan bahwa pengolahan pisang menjadi produk turunan, seperti keripik, sale, maupun minuman fermentasi, terbukti mampu menaikkan nilai jual secara signifikan dibandingkan penjualan bahan mentah, sekaligus memperpanjang daya simpan hasil panen. Praktik hilirisasi tersebut dinilai mampu membuka lapangan kerja baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi tingkat desa yang sejalan dengan temuan berbagai program pemberdayaan berbasis olahan pisang di sejumlah wilayah lain di Indonesia.

 

Kepala Dusun 4, Nomensen Baok, menyambut baik terobosan yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa tersebut. Baginya, pengolahan pisang menjadi anggur pisang merupakan gagasan baru yang bisa langsung diterapkan warga guna mengembangkan ekonomi desa.

 

“Kegiatan ini sangat baik karena membawa ide-ide baru dari kampus yang bisa diterapkan langsung di tengah masyarakat. Kami sebagai masyarakat dapat memperoleh ilmu baru untuk memberdayakan ekonomi masyarakat,” ungkap Nomensen.

 

Ia menuturkan, sebelumnya, pisang hasil panen dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang jauh dari kata layak. Misalnya, satu sisir pisang umumnya dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp10.000. Kini, sambung Nomensen, harganya bisa melonjak menjadi Rp100.000 hingga Rp200.000 setelah diolah menjadi anggur pisang.

 

Nomensen berharap, program tersebut tidak hanya berhenti pada satu kali pelatihan, melainkan berkelanjutan hingga ke generasi berikutnya. Dengan begini, hasil bumi Desa Nekmese dapat menopang peningkatan ekonomi keluarga, termasuk membiayai pendidikan.

 

Untuk diketahui, program anggur pisang ini turut menonjolkan semangat kolaborasi lintas disiplin ilmu. Selain pengolahan pisang, ada juga penguatan strategi promosi digital yang didukung oleh mahasiswa yang berasal dari program studi manajemen. Rencananya, produk anggur pisang ini akan dipamerkan pada 9 Agustus 2026 di Desa Nekmese. (Arnoldus Jansen Goru/MDj/red)


Post a Comment

0 Comments