Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Unika St. Paulus Ruteng Gelar Pembekalan KKNT bagi Mahasiswa, Dukung Pencegahan Stunting dan Peningkatan Literasi di Manggarai Timur

Sebagai tanda dimulainya rangkaian KKNT tahun 2026, Rektor Unika Indonesia St. Paulus Ruteng secara simbolis memukul gong di hadapan mahasiswa, dosen, dan para tamu undangan. 


Manggarai, CAKRAWALANTT.COM - Universitas Katolik (Unika) Indonesia St. Paulus Ruteng, Kabupaten Manggarai, menggelar pembekalan kuliah kerja nyata tematik (KKNT) tahun 2026 bagi 1.450 mahasiswa dari empat fakultas sebelum diterjunkan ke 164 desa di Kabupaten Manggarai Timur. Kegiatan yang berlangsung di Aula GUT, Selasa (23/6/2026), ini menjadi langkah awal pengabdian mahasiswa dalam mendukung program pencegahan stunting dan peningkatan literasi masyarakat.

 

‎Rektor Unika Indonesia St. Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Teol., menegaskan bahwa KKNT tahun ini merupakan wujud nyata kolaborasi multidisiplin ilmu untuk menjawab kebutuhan pembangunan masyarakat.

 

“KKN Tematik ini adalah langkah konkret sinergi empat fakultas dalam mendukung pencegahan stunting dan peningkatan literasi di Manggarai Timur,” ujar Manfred.

 

‎Menurutnya, mahasiswa dari fakultas ilmu kesehatan (FIKES), fakultas pertanian dan peternakan (FPP), serta fakultas teknik (FT) akan berfokus pada program perbaikan gizi, sanitasi lingkungan, dan ketahanan pangan lokal sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. ‎Sementara itu, mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) akan menggerakkan berbagai program peningkatan literasi masyarakat, mulai dari literasi baca-tulis, numerasi hingga literasi digital.

Manfred juga menilai persoalan stunting dan rendahnya tingkat literasi masih menjadi tantangan serius yang harus mendapat perhatian bersama karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi masa depan. ‎Ia juga mengingatkan mahasiswa agar hadir di tengah masyarakat dengan semangat belajar dan menghargai kearifan lokal.

‎”Datanglah untuk berdialog dan belajar bersama masyarakat, bukan untuk menggurui,” tegas Imam Keuskupan Ruteng tersebut.

 

‎Melalui program KKNT ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga membangun kepemimpinan, kepekaan sosial, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

‎Sebagai tanda dimulainya rangkaian KKNT 2026, Manfred secara simbolis memukul gong di hadapan mahasiswa, dosen, dan para tamu undangan. Prosesi tersebut menjadi simbol pelepasan sekaligus peneguhan komitmen mahasiswa untuk mengabdi di 164 desa wilayah Kabupaten Manggarai Timur.



‎Sementara itu, Ketua Pelaksana KKNT Tahun 2026, Dr. Yuliana Wahyu, S.Si., M.Pd., menjelaskan bahwa pembekalan merupakan tahap penting untuk mempersiapkan mahasiswa secara mental, akademik, sosial, dan spiritual sebelum terjun ke masyarakat.

 

“Pembekalan bukan sekadar rutinitas akademik, tetapi bekal penting agar mahasiswa mampu melaksanakan KKN secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

‎Yuliana menyebutkan KKNT tahun ini diikuti oleh 1.450 mahasiswa dari FKIP, FIKES, FPP, dan FT dengan fokus utama pada pencegahan stunting serta peningkatan literasi sesuai kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan daerah.

‎Dalam arahannya, ia menekankan enam bekal utama yang harus dimiliki mahasiswa peserta KKN, yakni sikap rendah hati dan siap belajar, menjaga etika dan perilaku, menghormati budaya lokal, menyusun program kerja berdasarkan kebutuhan masyarakat, menjaga kekompakan kelompok, serta aktif berkoordinasi dengan dosen pendamping dan pemerintah setempat.

‎Ia juga mengungkapkan, mahasiswa akan menghadapi berbagai kondisi nyata yang tidak selalu sama dengan teori yang dipelajari di bangku kuliah sehingga diperlukan kesiapan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi.

Sesi yang berbeda, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, mengajak mahasiswa untuk memahami persoalan stunting secara komprehensif sekaligus mengambil peran aktif dalam mendukung program pembangunan daerah.

 

Menurutnya, stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia dan masa depan daerah. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganannya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

 

“Mahasiswa KKN memiliki posisi strategis sebagai agen edukasi di tengah masyarakat. Kehadiran mereka di desa-desa dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan, serta pola asuh yang baik dalam mencegah stunting,” ujarnya.



Stunting Masih Menjadi Tantangan Pembangunan Daerah

 

Dalam paparannya, Pranata menjelaskan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Manggarai Timur masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Meskipun menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, angka stunting masih berada di atas target nasional maupun target yang ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Manggarai Timur.

 

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Manggarai Timur pada tahun 2024 tercatat sebesar 38,8 persen atau menurun sekitar 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 

“Penurunan ini menunjukkan bahwa berbagai intervensi yang dilakukan mulai memberikan hasil. Namun, pekerjaan kita masih panjang karena target yang harus dicapai hingga tahun 2029 masih cukup besar,” jelas Pranata.

 

Ia menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting memerlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga pemerintah desa.



Mahasiswa KKN Diharapkan Menjadi Mitra Pemerintah

 

Pranata juga mengajak mahasiswa KKNT Unika Indonesia St. Paulus Ruteng untuk menjadi mitra pemerintah dalam mengedukasi masyarakat terkait pencegahan stunting. Menurutnya, mahasiswa dapat berkontribusi melalui berbagai kegiatan penyuluhan, pendampingan keluarga berisiko stunting, edukasi kesehatan reproduksi remaja, kampanye hidup bersih dan sehat, serta peningkatan literasi masyarakat.

 

“Program KKN Tematik yang mengusung isu stunting sangat relevan dengan kebutuhan Kabupaten Manggarai Timur saat ini. Kami berharap mahasiswa dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar dan membangun kesadaran masyarakat,” katanya.

 

Selain persoalan gizi dan kesehatan, ia juga mengingatkan pentingnya pemenuhan hak-hak dasar anak, termasuk kepemilikan dokumen administrasi kependudukan seperti akta kelahiran dan kartu identitas anak (KIA) yang menjadi bagian dari upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak.



Menggerakkan Perubahan dari Desa

 

Pembekalan tersebut menjadi bagian dari persiapan mahasiswa sebelum diterjunkan ke lokasi KKN di berbagai desa di Kabupaten Manggarai Timur. Melalui materi yang diberikan, mahasiswa diharapkan mampu memahami kondisi riil masyarakat sekaligus menyusun program kerja yang selaras dengan kebutuhan daerah.

 

Menutup pemaparannya, Pranata mengajak seluruh mahasiswa untuk menjadikan KKN sebagai ruang pengabdian yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

 

“Mari kita bersama-sama menutup keran stunting. Ketika anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas, maka kita sedang membangun masa depan Manggarai Timur yang lebih baik," pungkasnya.

 

‎Panitia juga mengingatkan seluruh peserta agar mengikuti pembekalan secara serius karena kehadiran dan partisipasi selama enam hari kegiatan menjadi bagian dari penilaian KKN. (red)


Post a Comment

0 Comments