![]() |
| Suasana pemaparan materi oleh salah satu narasumber di Gedung Rektorat IAKN Kupang. |
Kota Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Program Studi (Prodi) Kepemimpinan Kristen, Institut
Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, menggelar kegiatan pelatihan dasar
kepemimpinan, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di gedung rektorat
ini mengusung tema “Character, Competence, and Calling: Membangun Pemimpin Kristen yang Relevan dan Berdampak”.
Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa, tetapi juga perwakilan
beberapa Gereja mitra.
Pada kesempatan tersebut, pihak prodi menghadirkan dua
narasumber, yakni Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, Gusty Rikarno,
S.Fil., M.I.Kom., dan Dosen IAKN Kupang, Debby Yunita Mada, M.Th.. Dalam
pemaparannya, Gusty mengajak para peserta untuk mengembangkan diri menjadi
pemimpin yang memiliki visi kepemimpinan. Pemimpin, menurutnya, harus berawal
dari kemampuan memimpin diri sendiri agar bisa memimpin orang lain.
“Pemimpin menjalankan fungsi. Kepemimpinan adalah
instrumen untuk mencapai tujuan. Jika ingin menjadi pemimpin, maka harus mampu
memimpin diri sendiri awalnya,” ujar Gusty.
Gusty menekankan pentingnya menjadi pemimpin yang
mampu berpikir dan beriman. Pikiran dan iman, jelasnya, merupakan dua sayap
yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan pikiran, seorang pemimpin
bisa berhadapan dengan realita dan memecahkan persoalan yang melibatkan
kepentingan bersama. Sedangkan, dengan iman, pemimpin bisa memiliki keteguhan
eksistensial dan keberanian rohani untuk melangkah dalam ketaatan kepada
kedaulatan Kristus.
“Pemimpin harus memiliki dua sayap, yakni sayap iman
dan sayap pikiran, agar bisa terbang tinggi, mengatur roda organisasi, serta
mencapai kebaikan dan tujuan bersama,” tegasnya.
Gusty menambahkan, sayap pikiran memiliki dimensi
logika dan strategi. Sedangkan, sayap iman memiliki dimensi moral dan
keputusan. Hal ini, sambungnya, memungkinkan seorang pemimpin mengambil
keputusan dengan keyakinan nilai-nilai luhur, etika, dan tanggung jawab
kemanusiaan. Dengan mengoptimalkan kedua sayap tersebut, setiap orang bisa
bertransformasi menjadi pemimpin yang otentik, empati, dan inspiratif.
Usai memperoleh penjelasan materi, para peserta
diberikan kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Para peserta tampak
berantusias ketika diberikan kesempatan berdiskusi.
Belajar Menjadi Pemimpin dalam Tanggung
Jawab
Salah satu mahasiswa, Olivia Kasse, mengatakan bahwa
dirinya memperoleh pemahaman baru terkait pemimpin dan kepemimpinan dalam
kegiatan tersebut. Menurutnya, pemimpin dan kepemimpinan tidak terlepas dari
tanggung jawab. Tanggung jawab ini, sambungnya, berkaitan dengan banyak hal,
termasuk urusan perkuliahan dan organisasi.
“Saya semakin memahami pentingnya menjadi pemimpin
yang mampu menerapkan kepemimpinan dalam tanggung jawab, termasuk urusan kuliah
dan organisasi,” ujar mahasiswa semester delapan ini.
Sementara itu, salah satu perwakilan Gereja mitra,
Joshua Rano, mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh prodi
kepemimpinan Kristen tersebut. Ia memperoleh banyak hal positif dari setiap
pemaparan materi. Ia berharap agar pemahaman yang telah diterima tersebut bisa
diimplementasikan oleh setiap peserta dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan pelayanan.
“Semoga apa yang sudah diberikan ini bisa
diimplementasikan oleh setiap peserta di tempat masing-masing, baik dalam
kehidupan sehari maupun kegiatan pelayanan,” pesan peserta yang berasal dari
Gereja Bait’El Naimata.
Menjadi Luaran Mata Kuliah dan Berdampak
Lebih lanjut, dosen pengampu mata kuliah “Pelatihan
Dasar Kepemimpinan”, Yusmina Elisye Bahau Omni, Ph.D., menjelaskan, kegiatan
tersebut merupakan salah satu luaran dari mata kuliah yang diasuhnya. Dalam
proses perkuliahan, tambahnya, mahasiswa tidak hanya berkutat pada penguatan
teori di dalam kelas, tetapi juga mendalami praktik nyata. Salah satunya adalah
melatih diri menjadi pemimpin Kristen yang relevan dan berdampak.
“Di era modern ini, mahasiswa harus membentuk diri
menjadi pemimpin yang berkarakter, memiliki kompetensi, dan bernilai. Ia harus
berintegritas dan bertanggung jawab sehingga layak menjadi pemimpin di tengah
masyarakat,” ungkapnya.
Yusmina berharap, ke depannya, mahasiswa bisa memiliki
kompetensi dan karakter sebagai pemimpin. Setiap mahasiswa, harapnya, bisa
meneladani Yesus sebagai pemimpin yang melayani agar bisa memahami panggilan
dan berdampak bagi banyak orang.
Untuk diketahui, Prodi Kepemimpinan Kristen berada di
bawah naungan Jurusan Ilmu Keagamaan Kristen, Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan
Kristen. Prodi ini berkomitmen menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan
profesional berbasis pendekatan teologi dan kepemimpinan Kristen kontemporer
sehingga mampu berkarya di tengah masyarakat. (MDj/red)








0 Comments