Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Bingkisan Kebahagiaan dan Semangat Membaca Dunia

Rutinitas membaca dan menulis di TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT. Anak-anak didampingi langsung oleh relawan pada setiap akhir pekan.


Kupang, CAKRAWALANTT.COM - Gelak tawa dan sukacita anak-anak memenuhi sebuah tempat membaca di pelosok Dusun Dendeng, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang, pada Sabtu sore (16/5/2026). Beberapa relawan tampak duduk lesehan sambil mendampingi kegiatan membaca dan menulis anak-anak. Belakangan ini, banyak mahasiswa yang berkunjung dan berpartisipasi dalam kegiatan akhir pekan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Plus Rumah Literasi Cakrawala Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka datang bukan sekadar mengisi waktu luang, tetapi mendukung program penguatan literasi bagi anak-anak.

 

Selain itu, dibantu relawan lainnya, anak-anak diberikan ruang pengembangan potensi diri. Tidak heran, kebahagiaan yang menyelimuti anak-anak menggema dalam tawa dan sukacita. Bersama tim relawan yang solid, anak-anak bisa belajar membaca dan menulis selama satu jam, yakni mulai pukul 15.00 hingga 16.00 Wita. Kemudian, waktu sejam sisanya, yakni mulai pukul 16.00 hingga 17.00 Wita, digunakan untuk mengembangkan minat dan bakat. Ada yang berlatih sepak bola, menari, membaca puisi, menggambar, dan lain-lain.

 

“Tidak terasa hampir setahun. Anak-anak selalu datang. Bahkan, jumlahnya terus bertambah. Semoga semangat ini terus menyala dalam diri mereka,” ucap Bernadeta Bui Timu, ketua relawan yang hampir setahun mendampingi anak-anak di TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT.

 

Sejak tahun 2025, kami menggagas lahirnya TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT. Melalui Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, taman baca ini meneguhkan visinya untuk menyambut generasi emas NTT dengan membangun budaya literasi. Kami percaya bahwa keberlangsungan negeri ini hanya bisa terwujud apabila benih-benih sumber daya unggul ditabur sejak dini, dirawat dengan asupan pengetahuan yang matang, serta dijaga dengan pendidikan karakter yang kuat. Semuanya terintegrasi dalam kecakapan literasi yang kami pupuk melalui taman bacaan masyarakat.



Ketakutan Bila Tertinggal

 

Awalnya, kami memulai semuanya dengan apa yang ada. Tidak ada kemewahan, hanya tumpukan buku yang terkumpul dari yayasan. Bernadeta Bui Timu atau akrab disapa Mama Deta bersama ibu-ibu rumah tangga lainnya saling bekerja sama untuk mendampingi anak-anak. Mereka bekerja tanpa dibayar dan rela memberikan diri secara tulus.

 

Anak-anak yang datang dan belajar di TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT berasal dari latar belakang pendidikan yang beragam. Rerata mereka berusia lima hingga tujuh belas tahun. Artinya, dalam jenjang pendidikan formal, mereka adalah murid taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.

 

Pertemuan perdana kami terjadi pada bulan Juni 2025 lalu. Pada masa awal ini, anak-anak berkumpul dan membaca secara bebas. Mereka menikmati suasana akhir pekan dengan penuh bahagia. Namun, di antara anak-anak itu, ada yang hanya berdiam diri, membolak-balikan lembaran tanpa dibaca, serta menyaksikan teman-teman sebayanya membaca. Salah seorang relawan menghampirinya dan menuntunnya agar membaca secara perlahan.


Beta (saya) belum bisa membaca lancar. Beta harus eja (mengeja) sedikit-sedikit (pelan-pelan). Beta malu. Beta takut tertinggal dari dong (mereka) yang su (sudah) bisa membaca,” bisik anak tersebut kepada salah satu relawan.

 

Sonde (tidak) apa-apa. Nanti, mama (ibu) ajar supaya ade (kamu) bisa membaca lancar,” ucap relawan kepada anak tersebut sambil mengukir senyum di wajahnya.

 

Tanpa disadari, kejujuran anak tersebut membuka kenyataan lain yang telah lama disimpan dalam diam. Ternyata, banyak anak yang belum bisa membaca dengan lancar. Bahkan, di antaranya masih mengenal huruf dan membaca suku kata. Akhirnya, dengan dukungan mitra pembangunan pendidikan, kami mulai melakukan intervensi dengan membagi setiap anak ke dalam beberapa kelompok. Pembagian ini sesuai dengan hasil asesmen dan pemetaan.



Bingkisan Kebahagiaan itu Bernama Buku      

 

Seiring berjalannya waktu, anak-anak mulai membaca sesuai pembagian kelompok. Ada kelompok mengenal huruf, membaca suku kata, membaca kata, membaca lancar, serta membaca pemahaman. Kondisi baru ini semakin memperkuat komitmen kami. Komitmen kami sudah bulat, anak-anak harus terbebas dari belenggu buta aksara, sebab peradaban dan masa depan negeri ini berada di tangan mereka.

 

Namun, di balik semua usaha yang kami upayakan, masih ada satu hal yang kurang, yakni buku. Kami belum memiliki cukup buku yang sesuai dengan beberapa kategori kelompok. Bagi kami, ketersediaan buku yang sesuai dengan level kemampuan membaca sangat penting mengingat kondisi anak-anak yang berbeda satu sama lain. Di tengah kekurangan ini, salah satu pengelola TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT menerima kabar gembira dari para mitra kami.

 

“Kami akan segera mengirimkan buku-buku bagi anak-anak di sana.” Sebuah pesan tertera di layar gawainya. Tidak hanya satu, ada beberapa pesan yang masuk. Semuanya berasal dari luar Kabupaten Kupang dan bahkan dari luar wilayah NTT. Kami mulai memikirkan cara dan prosedur pengirimannya. Meskipun kami hanya menerima, tetapi rasa cemas akan kelancaran dan keselamatan pengiriman barang turut menghantui benak dan pikiran.

 

“Semoga buku-buku yang dikirim bisa tiba dengan aman. Kadang, beberapa jasa pengiriman tidak bisa memastikan kondisi barang bisa tiba dengan baik dan tanpa kerusakan,” celetuk salah satu relawan dengan nada was-was.

 

Selang beberapa hari, kabar gembira yang kami tunggu akhirnya datang setelah salah satu pengelola menerima pesan pemberitahuan. Kardus yang datang ke TBM Rumah Literasi Cakrawala NTT masih mulus tanpa kerusakan apapun. Di atas kardus tersebut tertera nama dan logo JNE, salah satu jasa pengiriman barang terbaik di Indonesia. Kami menghela napas lega. Kondisi kardus yang baik menandakan buku-buku di dalamnya tidak mengalami kerusakan.

 

Jasa pengiriman barang, termasuk JNE, memang berperan penting bagi ketersediaan buku-buku di taman bacaan. JNE atau PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir merupakan salah satu perusahaan ekspedisi barang terbesar di Indonesia. Berkat jaringan dan jangkauan area distribusinya yang mencakup lebih dari 83 ribu titik tujuan, termasuk kabupaten, desa, dan pulau terluar, JNE turut berpartisipasi dalam menghubungkan kebahagiaan (connecting happiness) masyarakat Indonesia.

 

Uniknya, barang-barang yang dikirim tidak pernah rusak atau kurang dan selalu datang tepat waktu. Tidak hanya itu, proses pengiriman juga dapat terpantau melalui aplikasi atau komunikasi langsung dengan gerai dan kurir tertentu. Hal ini sangat memudahkan pengirim atau penerima barang yang berada di pelosok atau lokasi yang sulit dijangkau. Keunggulan ini menjadi bagian dari nilai-nilai yang diemban oleh JNE, yakni jujur, disiplin, tanggung jawab, dan visioner.

 

“Akhirnya, bingkisan kebahagiaan yang ditunggu telah datang. Sudah saatnya kita berbagi kebahagiaan dengan anak-anak,” ucap salah satu relawan yang awalnya sempat meragukan jasa pengiriman barang.



Semangat Membaca Dunia

 

Pengalaman kami di TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT selalu menuai kenangan indah. Perjalanan yang kami mulai di tempat ini belum dan tidak akan pernah selesai. Setelah hampir setahun berjalan dengan cerita suka dan dukanya, taman bacaan ini bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi anak-anak yang kelak menjadi penerus bangsa. Gelak tawa dan sukacita mereka selalu menggema di ruang belajar sederhana ini.

 

Mama, beta su bisa membaca,” ucap gadis kecil yang dulu hanya duduk diam di pojok ruangan.

 

Kini, ia tidak lagi hanya berdiam diri, membolak-balikan lembaran tanpa dibaca, atau menyaksikan teman-teman sebayanya membaca. Ia sudah naik dari level mengenal huruf menjadi level membaca kata. Ia berani membaca dengan lantang dan dengan bangga menunjukkan kemampuan membacanya. Buku-buku yang dulu dikirim melalui bingkisan kebahagiaan kini menjadi santapan pengetahuannya pada akhir pekan.

 

“Mantap. kalo (kalau) su bisa membaca, nanti cita-citanya apa kalo su besar (dewasa)?” tanya ibu relawan yang dulu melatih dan menuntunnya membaca.

 

Beta mau jadi guru,” ungkap gadis kecil itu sambil tersenyum.

 

Cita-cita yang diutarakan oleh gadis kecil itu memang terdengar sederhana. Namun, proses panjang yang dilaluinya hingga mampu mengucapkan cita-citanya dengan lantang adalah pencapaian awal yang patut diapresiasi. Semuanya tidak terlepas dari bingkisan kebahagiaan yang datang di taman baca ini lewat jasa pengiriman yang terpercaya. Kami percaya bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, setiap orang bisa membaca dunia. Membaca buku, bagi kami, adalah cara paling elegan untuk merawat ingatan, langkah terbaik untuk membentuk generasi, dan strategi terampuh untuk menjaga peradaban. (red)

 

Penulis: Gabriel Mario T. Djegho (Salah satu pengelola TBM Plus Rumah Literasi Cakrawala NTT. Sehari-hari bekerja sebagai jurnalis pendidikan dan penulis)   


#JNE #ConnectingHappiness #JNE35BergerakBersama #JNEContentCompetition2026 #JNEBeragamCerita


Post a Comment

0 Comments