Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

Mengatasi Stres Murid

Oleh: Tans Feliks

(Dosen FKIP Undana, Kupang)
 



CAKRAWALANTT.COM - Pada Kamis, 29 Januari, 2026 siang, kita tahu, tragedi ini terjadi: murid kelas IV SD, YBS (10 tahun), menghembuskan nafas terakhirnya atas pilihannya sendiri di pohon cengkeh.  Di Jerebuu, Ngada, NTT. Dalam  surat untuk ibunya, diketahui pemicunya masalah ekonomi. Ibundanya gagal mengabulkan permohonan YBS untuk membelikannya buku tulis. YBS stres dan, karena itu, memilih jalan tragis itu. 

 

Tragedi seperti itu, dengan alasan bervariasi, ternyata, terjadi juga di negara semaju Amerika Serikat (AS). Mesin pencari informasi Google, misalnya, menulis ini: “Angka bunuh diri di kalangan anak-anak dan remaja di Amerika Serikat (usia 10-19 tahun) menunjukkan tren yang memprihatinkan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian dalam kelompok usia tersebut.  Studi menunjukkan peningkatan masalah kesehatan mental, yang mencakup fungsi emosional, sosial dan perilaku, yang berkontribusi pada risiko ini” (Diunduh pada 8 Februari, 2026).

 

Informasi tersebut mengingatkan saya pada cerita dari AS itu beberapa waktu lalu – Maaf, saya lupa referensinya. Dalam cerita itu dikatakan bahwa kepada para muridnya, seorang guru Taman Kanak-kanak (TK) bercerita bahwa setelah kehidupan di dunia ini, yaitu setelah kematian, kita masuk surga. Tempat semua orang berbahagia. Sebab, di sana semua serba ada, termasuk, di atas segalanya, kasih yang kekal. Cinta abadi. Di situ, lanjut sang guru, Bapa yang mahabaik selalu ada bersama kita. Kesusahan, karena itu, sirna. Tiba-tiba, pada saat itu, kata sang penulis, seorang anak menyeletuk, “Kalau begitu, lebih baik kita mati saja, supaya masuk surga dan hidup berbahagia di sana.” 

 

Celetukan yang polos itu, lanjut penulis, lahir dari kenyataan bahwa di rumahnya, sang anak tidak berbahagia. Bagaimana dia bisa berbahagia? Ketika dia bangun di pagi hari, orang tuanya sudah di kantor; pada malam hari, ketika dia tertidur nyenyak, baru orang tuanya tiba di rumah. Sementara itu, kata sang guru, di surga lain sama sekali: Bapa penuh kasih hadir penuh waktu: 24 jam per hari; 7 hari per minggu – Itu, tentu, kalau surga masih punya ukuran waktu seperti di Bumi yang mortal ini.

 

Menyinggung tragedi tersebut – termasuk cerita sang guru kepada para murid TK-nya yang, jika tidak direspons secara tepat, bisa menimbulkan tragedi berikutnya – saya tidak bermaksud untuk menunjuk siapa yang salah pratragedi tersebut. Tidak. Nasi toh sudah membubur. YBS telah pergi. Seperti juga rekan seusianya di AS seperti yang diberitakan di atas. 

 

Walaupun demikian, perlu, bagi kita, untuk tetap menatap ke depan dan, ini yang terpenting, berbuat sesuatu untuk mencegah tragedi tersebut terjadi lagi. Iya. Kita. Semua. Secara khusus para guru di NTT. Tempat YBS bersekolah sebelum tanggal 29 Januari kelabu itu. 

 

Pada titik ini, guru, menurut saya, berperan penting dalam membantu para muridnya menghadapi masalahnya secara benar. Apapun masalah sang anak, seorang guru harus bisa membantunya mengatasinya dengan respons cepat dan tepat. Juga benar. 

 

Persoalannya bagaimana seorang guru mengetahui masalah setiap muridnya. Ada, sejatinya, banyak cara. Misalnya, via dialog. Via observasi. Via wawancara. Dan banyak lagi jalan lainnya (Bdk. Tans Feliks dkk. 2025. Pendidikan Pembebasan. Denpasar: Larasan).

 

Mengetahui apa masalah setiap murid menghantar seorang guru kepada cara yang pas untuk membantu muridnya mengatasi masalahnya. Cara yang pas itu, tentu, beragam. Konteks masalah, tentu, menentukan. Namun apapun caranya, cara itu bermuara, kurang lebih, pada empat kompetensi Abad XXI ini, yaitu kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif yang, menurut para pakar pendidikan, perlu diajarkan pada Abad XXI ini (dalam Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century.  2018, New York: Random House, hlm. 268). 

 

Mengutip Cathy N. Davidson (2017), Bernie Thrilling (2009), dan Charless Kivunja (2015), Harari menegaskan “… schools should downplay technical skills and emphasize general-purpose life skills.  Most important of all will be the ability to deal with change, learn new things, and preserve your mental balance in unfamiliar situations.  In order to keep up with the world of 2050, you will need not merely to invent new ideas and products but above all to reinvent yourself again and again” (hlm. 268).

 

Murid berusia sekitar 10 tahun, seperti FBS, sejatinya, bisa berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Sejak usia prasekolah, menurut para pakar pendidikan bahasa, anak-anak terbiasa mempraktikkan empat kemampuan itu. Dalam bermain bersama temannya, anak-anak seusia itu memiliki kemampuan komunikatif. Misalnya, ketika melihat temannya menangis, mereka akan bertanya mengapa dia menangis. Ketika dijawab, misalnya, bahwa dia menangis karena dipukul temannya saat bermain, mereka, biasanya, bisa menawarkan jalan keluar untuk membuat temannya berhenti menangis. Misalnya, menganjurkannya untuk tidak lagi bermain dengan teman yang suka memukul itu (berpikir kreatif).

 

Atau, mungkin, menawarkan kolaborasi, yaitu mengajaknya melawan si tukang pukul itu secara bersama-sama, jika “memukulmu lagi” (bdk. Marthin, J.R. 1985. Factual Writing: Exploring and Challenging Social Reality. Geelong: Deakin University Press). 

 

Respons anak TK dalam cerita guru TK di atas juga menunjukkan bahwa anak-anak TK sekalipun bisa berpikir logis, kreatif. Dengan catatan, tentu, gurunya membimbingnya untuk menjamin bahwa logikanya dipakai untuk kebaikan, bukan hal-hal yang salah dan merugikan. 

 

Karena anak-anak terbiasa dengan hal-hal yang bersifat kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif itu di lingkungannya, guru, saran Harari dan para pakar pendidikan di atas, sejatinya, mengajarkan itu lebih banyak di sekolah. Juga mengajarkan hal-hal yang bertautan dengan perubahan, hal-hal baru, menjaga keseimbangan mental dalam menghadapi hal-hal sulit/tidak biasa. Jadi, anak-anak, seperti saran para pakar pendidikan di atas, tidak hanya sekadar menemukan ide baru dan produk baru, tetapi juga, di atas segalanya, “menemukan kembali” (reinventing) dirinya secara benar dalam lingkungannya yang, dalam banyak hal, tidak selalu menguntungkannya.

 

Sekadar mengingatkan, reinventing itu berarti “menciptakan kembali, memperbarui, atau mengubah secara drastis sesuatu atau diri sendiri menjadi bentuk yang baru dan berbeda, seringkali dengan tujuan untuk perbaikan atau memulai jalan baru yang lebih baik. Ini bisa berarti menemukan kembali diri sendiri (reinvent oneself), membuat ulang sebuah produk, atau mengubah pendekatan terhadap sesuatu...” (AI Overview, 6 Februari, 2026).

 

Seandainya, itu diajarkan di sekolah YBS, dia pasti masih ada bersama kita kini. Sebab, ketika dia tidak memiliki buku tulis, dia akan berpikir kritis untuk menjawab masalahnya, seperti mengapa dia tidak memiliki buku itu dan mengapa ibunya tidak bisa membelikannya buku itu. Selanjutnya, kemampuannya berkomunikasi digunakannya, misalnya, meminta temannya untuk meminjamkannya buku tulis atau untuk menggunakannya secara bersama-sama (berkolaborasi).

 

Keempat kompetensi Abad XXI itu, sekali lagi, bisa diajarkan di sekolah. Misalnya, melalui diskusi untuk mengetahui jalan keluar terhadap masalah berikut: apa yang dilakukan jika tidak ada beras untuk dimasak di rumah; mengapa Anda, murid, harus bekerja membantu orang tua di kebun/sawah; dan/atau kalau Anda mengalami kesulitan ini dan itu, apa yang harus dilakukan. 

 

Mengajarkan hal-hal tersebut via diskusi atau pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), menurut pakar pendidikan di atas, akan membuat seorang anak didik bebas dari jalan keluar yang tidak wajar seperti yang dilakukan YBS atau yang lainnya (baca, mislanya, Sucipto, Kompas.id, 05 Februari, 2026, “Anak Bunuh Diri, Persoalan Struktural yang Harus Segera Diurai“). Itulah, antara lain, cara mengatasi anak stres di sekolah.

 

Persoalan stres yang dihadapi murid kita, tentu, tidak boleh dianggap enteng. Sebab, kata orang bijak, sepotong jerami terakhir bisa mematahkan punggung seekor keledai, “The last straw breaks the camel’s back.”  Hanya sepotong jerami, tetapi berujung maut. Sebab jerami-jerami sebelumnya telah bertumpuk-tumpuk, seperti yang, mungkin, dialami oleh YBS yang terkasih itu.

 

Jadi, betul, kita sangat bersedih dengan apa yang telah terjadi. Sayangnya, terhadapnya kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Terhadap YBS dan terhadap anak lainnya, seperti yang disampaikan di atas. Namun kita bisa lakukan, antara lain, ini agar hal serupa tidak terjadi lagi nanti: para guru kita mengajarkan hal-hal yang perlu diajarkan, bukan hanya sekadar mengajarkan hal-hal teknis yang jauh dari persoalan hidup seorang murid. Artinya, mengajarkan secara intensif kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif, dalam terang student-centered learning/teaching, sebuah keniscayaan. Mengapa tidak?

 

YBS, RIP! Doakanlah kami!

 

(MDj/red)


Post a Comment

0 Comments