Oleh: Feliks Tans
(Guru Besar Undana)
CAKRAWALANTT.COM - Desentralisasi kekuasaan, termasuk desentralisasi
pendidikan, sejatinya memberi ruang kepada sekolah untuk menghasilkan produk,
material dan/atau immaterial sekaligus, seberagam mungkin sesuai dengan passion setiap murid yg ada di sebuah
sekolah. Mengabaikan keberagaman itu sama dengan mengabaikan potensi besar
setiap murid dengan dalih “satu produk unggulan” itu.
Katakanlah, sekolah A menghendaki produk unggulan
berupa kemampuan menghasilkan buku kumpulan cerpen berkelas, tetapi bagaimana
dengan murid yang potensi besarnya menyanyi atau menari atau berhitung atau
melukis atau bermain bola kaki atau voli atau tenis atau berbisnis dan lain
sebagainya di sekolah itu, walaupun hanya satu orang, misalnya? Apakah mereka
disebut sebagai produk nonunggulan? Sejatinya tidak.
Sebab, apapun kecerdasan seorang anak, itu harus
dilihat sebagai keunggulan, walaupun itu, misalnya, tidak lain tidak bukan,
hanya kecerdasan spiritual, seperti kecerdasan kognitif dan psikomotoriknya
jelek, tetapi karakter terpuji. Bukankah bangsa ini (lebih) membutuhkan
orang dengan karakter seperti itu daripada otaknya dan keterampilannya top,
terhebat, tetapi kemudian menjadi teroris atau koruptor?
Dalam konteks itu, ide One School One Product (OSOP) itu menyalahi ide freedom to learn dari Carl R. Rogers (1983)
atau merdeka belajarnya Nadiem Anwar Makarim (2019), mantan Menteri Pendidikan
kita. Juga berseberangan dengan ide Paulo Freire (1972) tentang pendidikan yang
membebaskan berdasarkan dialog yang sarat makna antara pendidik dan anak
didiknya.
Masalahnya di mana? Seorang anak masuk sebuah sekolah
sejatinya dengan kebutuhan belajar, bakat/talenta, dan minat tertentu. Dengan
demikian, ketika sebuah sekolah mengatakan bahwa produk unggulannya lain
daripada bakat, minat, dan kebutuhan belajar sang anak, maka pada saat itu, si
anak terpinggirkan dari sekolah itu.
Padahal sebuah sekolah, sejatinya, harus siap menerima
dan mendidik setiap murid yang masuk ke sekolahnya dengan bakat/potensi, minat,
dan kebutuhan belajarnya yang tidak selalu seragam dengan murid yang lainnya,
bukan? Karena itu, yang sekolah butuhkan bukan satu produk unggulan, tetapi
bagaimana sekolah menjamin bahwa apapun mimpi atau imajinasi masa depan atau
cita-cita seorang anak sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajar yang
masuk ke sekolah itu akan tercapai atau setelah mengenyam pendidikan di sekolah
itu.
Bagaimana cara mengetahui mimpi itu? Bagaimana cara
mengetahui bakat/minat/kebutuhan belajar seorang murid? Perlu dialog
pendidikan, kata Freire. Perlu observasi intensif. Tentu, perlu kerja
keras/cerdas sekolah untuk itu. “Perlu freedom
to learn,” kata Carl R. Rogers.
Apapun, dalam konteks itu, produk unggulan sebuah
sekolah bukan hanya satu atau dua, tetapi seribu satu, sebanyak murid yang ada,
kecuali kalau kecerdasan utama mereka satu dan sama. Namun, satu sekolah dengan
seribu orang anak didik, misalnya, hanya punya bakat, minat, dan kebutuhan
belajar yang sama agaknya aneh, terutama pada level, misalnya, kelas IV SD ke
atas. Di situlah, menurut saya, ide OSOP, tampaknya, tidak logis. (MDj/red)





0 Comments