Update

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

UNWIRA KUPANG

CURICULUM VITAE USKUP LARANTUKA - MGR. YOHANES HANS MONTEIRO


  

Larantuka, CAKRAWALANTT.COM - Yohanes Hans Monteiro, yang akrab disapa Hans, lahir di Larantuka pada tanggal 15 April 1971, dalam keluarga Larantuka dengan latar budaya yang beragam: ayah Yakobus Monteiro berasal dari suku Monteiro, sedangkan ibu Rosa Daton dari suku Daton. Konstelasi budaya ini membentuk identitas awal yang kaya akan nilai tradisi. Ia memiliki empat saudara: Bartholomeus Nara Monteiro, Fransiskus Monteiro (alm.), Katharina Yetty Monteiro, dan Fransiskus Sevi Monteiro.

Pendidikan dasar dilaluinya di SDK Larantuka III di Lokea- Larantuka pada tahun 1977-1983. Sementara Sekolah Menengah Pertama dijalaninya di SMPK Mater Inviolata–Larantuka pada tahun 1983-1985. Pendidikannya sebagai calon imam diawalinya di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng-Larantuka dari tahun 1985 hingga tahun 1988.

Setelah kurang lebih empat tahun mengenyam pendidikan di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, Hans memilih jalur Imam Projo Keuskupan Larantuka dengan menjalani Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lela pada tahun 1989. Setelah setahun menjalani Tahun Orientasi Rohani, Hans melanjutkan proses pendidikan di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret dan studi Filsafat di STFK Ledalero dari tahun 1990 hingga tahun 1994. 

Setelah menyelesaikan studi S1 Filsafat, Hans menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yosef Lewotobi, Keuskupan Larantuka dari tahun 1995 hingga tahun 1997. 

Selanjutnya, kembali ke Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret, Hans semakin mantap meneguhkan jalan imamat. Dua tahun terakhir di Ritapiret (1997-1999) dipenuhi dengan refleksi mendalam dan pendalaman Teologi. Meski kesehatan tetap rapuh, ia memilih sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam kerentanan itu, ia menemukan kekuatan rohani yang menegaskan bahwa imamat adalah panggilan untuk mengandalkan Allah, bukan diri sendiri

Setelah dua tahun menjalani studi Teologinya, Hans ditahbiskan sebagai Diakon pada 9 Mei 1999 di Ritapiret dan kemudian sebagai imam pada 14 Juli 1999 di Katedral Larantuka. Penempatan pertamanya sebagai formator di Seminari San Dominggo Hokeng menegaskan panggilan imamat yang berorientasi pada pendidikan dan pembinaan generasi baru. Dalam peran ini, Hans belajar bahwa imamat tidak hanya berhubungan dengan pelayanan liturgis, tetapi juga dengan tugas mendidik, membentuk karakter, dan menanamkan nilai rohani pada calon imam

Pada tahun 2004, Uskup Darius Nggawa memintanya untuk melanjutkan studi ke Wina, Austria. Di Wina, Hans mendalami Teologi Liturgi secara intensif hingga akhirnya meraih gelar Magister dan Doktor Teologi pada tahun 2018. Sambil menekuni studi, Hans terlibat aktif dalam pelayanan pastoral di paroki kota maupun desa. Selain itu, Hans dipercaya memimpin komunitas Katolik Indonesia di Wina

Sepulang dari Austria, Hans segera ditugaskan sebagai Dosen dan kemudian menjadi Wakil Rektor III di IFTK Ledalero, sekaligus formator di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Hidup dalam dua medan karya, seminari dan perguruan tinggi, menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi serta kepekaan terhadap tanda zaman. Hans belajar bahwa seorang imam sekaligus pendidik harus mampu menjembatani kebutuhan rohani dan tuntutan akademik, sehingga keduanya saling memperkaya. Dengan cara ini, imamat dipahami sebagai panggilan yang dinamis: berakar pada tradisi iman, tetapi terbuka pada perubahan sosial dan regulasi modern, demi memastikan Gereja tetap hadir secara relevan dalam masyarakat.

Pada tanggal 22 November 2025, Paus Leo XIV, melalui Nuncio Apostolik menunjuk Hans menjadi Uskup Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah memasuki usia pensiun. Beliau akan ditahbiskan menjadi Uskup di gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka hari Rabu, tanggal 11 Februari 2026 dengan motto episkopalnya Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes(Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan) yang diambil dari surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus, 4:4. Misa Pontifikal akan dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 12 Februari 2026 di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. (Komsos Keuskupan Larantuka/red)

 

Post a Comment

0 Comments